Hutang 2

1373 Kata
    Apa yang dilihat Puti memang benar. Itu adalah Tahani yang kini masuk ke dalam kamar kecil di SPBU, untuk mengganti pakaiannya. Meskipun sudah mengganti pakaiannya, Tahani masih membalut tubuhnya yang sudah berganti pakaian menggunakan jaket panjang yang tentu saja bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya. Tahani menyempatkan diri untuk memoles wajahnya dengan bedak tipis, dan menggunakan pemerah bibir yang benar-benar menggoda bagi para kaum adam yang melihatnya. Tahani menatap wajahnya yang sudah terlihat begitu menarik saat ini.     Tahani memang memiliki rupa yang menawan. Dengan kulit mulus, bibir tipis, hidung bangir, serta netra yang indah, tentu saja Tahani adalah paket komplit bagi para kaum adam yang haus akan wanita cantik. Namun, tentu saja Tahani tidak bisa dibandingkan dengan nona mudanya yang memang memiliki aura dan pesona yang lebih daripada dirinya, dan tidak akan bisa ia samai. Hanya saja, Tahani tidak terlalu peduli dengan hal tersebut. Ia malah berpikir jika dirinya bisa lebih cantik daripada nona mudanya yang menurut Tahani sangat aneh itu, jika dirinya berdandan sedikit saja.     Tahani tersenyum pada pantulan dirinya dan segera membereskan tampilannya sebelum ke luar dari kamar mandi tersebut. Tahani sama sekali tidak membuang waktu untuk menuju tempat di mana dirinya sudah membuat janji dengan temannya. Tahani memang izin ke luar dari kediaman Risaldi dan meminta izin untuk bertemu dengan temannya ini. Kini, Tahani menelan ludah kelu saat dirinya tiba di depan gedung di mana dirinya akan bertemu dengan temannya itu. Setelah berusaha menenangkan diri beberapa saat, Tahani pun melangkah dengan penuh percaya diri menuju gedung tersebut.     Tahani melepas jaket yang ia kenakan, saat penjaga pintu menahan dirinya. Sudah menjadi peraturan bagi siapa pun yang akan masuk untuk melepas jaket atau mantelnya. Jika pakaian yang digunakan oleh pengunjung tidak sesuai dengan peraturan, tentu saja pengunjung tersebut tidak diizinkan untuk memasuki gedung yang tak lain adalah tempat hiburan malam. Tempat di mana sebagian besar para p****************g, dan para wanita malam yang menjajakan kenikmatan dunia berlalu lalang dengan bebasnya.     Ya, tempat di mana Tahani memiliki janji dengan temannya, tak lain adalah tempat hiburan malam ini. Tahani lolos dalam pemeriksaan dan diizinkan untuk masuk. Begitu masuk, Tahani mengetatkan rahangnya saat kepalanya agak pening karena serangan suara music yang menghentak gila-gilaan. Namun, Tahani sama sekali tidak membuang waktu dan segera mencari keberadaan temannya. Tidak membutuhkan waktu lama, Tahani pun menemukan keberadaan temannya yang memang terlihat mencolok.     Tahani mendekat pada temannya yang bernama Santi tersebut. Santi yang memiliki rambut yang sengaja dicat merah tersebut terlihat begitu cantik dengan gaun malam yang begitu ketat memeluk tubuhnya. Santi yang melihat kedatangan Tahani, segera pamit pada para pria yang sebelumnya asyik menonton liukan tubuh menggoda Santi yang memang tengah menari di atas meja. Keduanya berpelukan beberapa saat sebelum Santi membawa Tahani menuju tempat di mana keduanya bisa berbicara dengan santai dan nyaman. Setelah sampai di tempat itu, Santi tidak bisa menahan diri untuk memuji, “Wah, aku sudah lama tidak melihatmu berpakaian seperti ini.”     “Aku harus berpakaian seperti ini untuk datang ke tempat ini, bukan?” tanya Tahani penuh arti.     Santi yang mendengar hal tersebut tak bisa menahan diri untuk tertawa dengan renyah. Namun, tawa itu tak bertahan lama, saat dirinya mengingat alasan mengapa Tahani bisa berada di sini. Santi menghentikan tawanya dan menatah Tahani dengan begitu serius. “Aku ingin bertanya, apa kamu serius dengan apa yang kamu rencanakan?” tanya Santi.     Tahani tersenyum dan mengangguk. “Jika aku tidak serius, aku sama sekali tidak akan datang dengan penuh persiapan seperti ini, bukan?” tanya balik Tahani dengan memainkan ujung rambutnya yang ikal alami.     Santi mengangguk dan menghela napas panjang. “Kalau begitu, aku doakan yang terbaik. Semoga rencanamu berjalan dengan lancar. Hanya saja, aku tidak bisa membantumu lebih dari ini. Aku hanya bisa membantumu untuk mencari tahu, di mana, kapan, dan bagaimana Theo menghabiskan waktunya di club malam ini. Ah, aku sungguh tidak menyangka jika kamu sudah menargetkan Theo,” ucap Santi sambil mengerlingkan matanya pada Tahani.     Tentu saja Tahani mengerti dengan kode yang diberikan oleh Santi tersebut. Tahani tersenyum dengan pipi yang memerah. “Bukankah dia adalah pria yang sangat sulit untuk dilepaskan? Selain tampan, ia juga memiliki aura yang sangat menarik. Latar belakangnya juga sangat kuat. Ia adalah pria yang sempurna,” ucap Tahani tanpa bisa menahan diri memberikan semua pujian yang ia miliki terhadap pria yang bahkan baru pertama kali ia temui.     Santi mengangguk-angguk. Apa yang dikatakan oleh Tahani memang benar. Semuanya benar, tidak ada satu pun yang salah. Sejak awal bertemu dan melihat sosok Theo, Santi bisa menyimpulkan jika Theo akan menjadi incaran para wanita malam di sini. Karena selain terjamin memiliki dompet tebal yang bisa membayar mereka dengan harga tinggi, Theo juga terlihat seperti tipe pria yang garang dan memuaskan di atas ranjang. Bukankah itu namanya menyelam sambil minum air? Selain mendapatkan uang, mereka juga akan mendapatkan kepuasan yang akan mereka ingat sepanjang hidup mereka.     “Kalau begitu, ini adalah kesempatan yang sangat baik. Jadi, kamu harus benar-benar memanfaatkannya dengan baik. Hanya saja, seperti yang aku katakan tadi, aku sama sekali tidak bisa membantumu lebih daripada ini. Hari ini, adalah hari terakhir kerjaku. Setelah ini, kamu harus mengurus semuanya sendiri, Tahani.” Santi mengatakan hal yang sejujurnya. Hari ini memang adalah hari terakhir dirinya bekerja di tempat ini. Ia sudah menemukan tempat baru di mana dirinya bisa bekerja dengan lebih bebas dan mendapatkan pengalaman baru. Santi memang bekerja bukan hanya untuk mendapatkan uang, melainkan untuk mendapatkan pengalaman baru yang menarik baginya.     Tahani tersenyum dan menggenggam kedua tangan Santi dengan erat. “Tidak apa-apa. Aku malah sangat berterima kasih atas bantuan yang kamu berikan ini. Ah, jika saja kamu tidak mau membantuku, aku sama sekali tidak akan mendapatkan info seperti ini. Ini adalah hutang yang aku miliki padamu. Nanti, aku berjanji akan mentraktirmu makan siang atau makan malam yang enak.”     “Ei, tidak perlu berjanji sampai seperti itu. Hanya saja, pastikan jika kamu benar-benar bisa menjerat sang bos besar itu. Setelah mendapatkan ikan kakap, jangan lupakan aku yang sudah menyediakan lahan penangkapan ini,” ucap Santi dengan guyonan yang terdengar jelas bagi Tahani. Namun, Tahani mengangguk dengan penuh keseriusan. Tahani memang tidak akan melupakan jasa yang sudah dilakukan oleh Santi ini. Suatu saat nanti, Tahani akan membalas jasa Santi dengan sebaik mungkin. Namun, saat ini Tahani harus fokus dengan masalah Theo dulu.     Santi memberikan kode pada Tahani saat melihat sosok Theo dan beberapa orang rekannya yang kini memasuki club malam tersebut dengan penuh percaya diri. Tahani yang sudah menyiapkan rencana tentu saja segera beranjak. Dengan beberapa gerakan dan drama yang memang sudah dipersiapkan oleh Tahani, kini Tahani dan Theo secara lansgung bersentuhan dan bertataan dengan lekatnya. Theo memang menabrak Tahani hingga hampir saja membuat gadis satu itu hampir saja jatuh dari posisinya. Beruntung sekali bagi Tahani, karena Theo memang sama sekali tidak paham dengan wajah Tahani, hingga dirinya sama sekali tidak mengenali sosok pelayan yang sebenarnya baru beberapa hari yang lalu ia temui.     Theo dengan lembut melepaskan tangannya dari tubuh Tahani. Tentu saja, Theo melakukan hal tersebut setelah memastikan jika Tahani sama sekali tidak mendapatkan luka. Theo pun memastikan dengan bertanya, “Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?”     Tahani pun menggeleng. “Aku sama sekali tidak terluka. Terima kasih karena sudah menolongku,” ucap  Tahani dengan lembut. Tentu saja, kelembutan yang ditunjukkan oleh Tahani, membuat teman-teman Theo yang melihatnya terpukau. Berbeda dengan Theo yang sepertinya sama sekali tidak tergerak atau bahkan tertarik dengan kelembutan dan kecantikan yang ditunjukkan oleh Tahani.     Theo sendiri sebenarnya sudah akan beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut, tetapi Tahani sudah lebih dulu mengulurkan tangannya mengajak Theo untuk berkenalan. Tentu saja demi kesopanan Theo menerima uluran tangannya dan berkata, “Oh, maafkan aku karena melupakan sopan santun. Namaku, Theo. Dan siapa nama namamu, nona cantik?”     Tahani tentu saja merona saat mendapatkan pujian dari Theo tersebut. Dirinya merasa begitu senang karena mendapatkan pujian dari sosok pria yang sangat ia sukai tersebut. Karena itulah, Tahani tidak bisa menahan diri untuk menyunggingkan senyum manis. Senyuman manis yang lagi-lagi sanggup memukau teman-teman Theo dengan mudanya. Hanya saja, pesona tersebut dengan mudah terpental bagi Theo, sebab itulah Theo terlihat tidak terpesona. Tahani menjawab dengan lembut, “Hani, panggil aku Hani.”     Lalu pembicaraan ringan berlanjut begitu saja. Theo dan teman-temannya bahkan mengajak Tahani untuk menikmati malam serta minum bersama. Tentu saja Tahani sama sekali tidak membuang kesempatan baik tersebut begitu saja. Malam itu, jelas menjadi malam yang penuh keberuntungan bagi Tahani. Dan tentu saja, dirinya semakin memiliki hutang budi yang besar pada Santi. Ia tidak akan pernah melupakan jasa Santi ini. Ia akan benar-benar membalas kebaikan Santi yang sudah membuatnya mendapatkan keberuntungan sebesar ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN