Alfa dan Tengku tampak gaduh dan rebutan saat akan memasuki ruang perpustakaan Puti yang terasa nyaman dengan ribuan buku bacaan serta puluhan—ah, ratusan piala serta piagam penghargaan milik Puti. Sementara keduanya masih tampak berdebat dengan apa yang akan mereka lakukan, maka Puti masih tampak santai memilih buku bacaraan dari rak tertinggi, dengan duduk di tangga yang memang disediakan untuk menggapai sisi yang sulit dijangkau olehnya. Puti yang mendengar kegaduhan, tentu saja menoleh dan menghela napasnya saat melihat kedua pembuat onar yang sering kali membuat kepalanya pening bukan kepalang.
Puti mendapatkan buku yang ingin ia baca dan memilih untuk turun dari tangga tersebut. Puti melompat dari anak tangga terakhir dan segera beranjak untuk duduk di bantalan lembut yang empuk. Melihat Puti, Alfa dan Tengku menghentikan perdebatan mereka dan segera mendekati Puti yang kini membuka buku serta menyelami satu per satu kata yang tercetak di sana. Alfa berdeham berniat untuk menarik perhatian Puti, tetapi Puti rupanya sama sekali tidak tertarik dengan apa yang akan dikatakan oleh Alfa. Ia masih saja fokus dengan bukunya.
“Puti, aku ingin bicara,” ucap Tengku dengan nada serius.
Saat itulah, Puti menghela napas panjang dan menutup bukunya dala sekali sentakkan. Puti sengaja melakukan hal tersebut karena merasa terganggu dengan kedua sepupunya yang selalu saja membuat onar, hingga Puti harus turun tangan dan memberikan peringatan pada keduanya. “Sekarang apa lagi? Apa kalian diusir oleh orang tua kalian?” tanya Puti tajam.
Alfa dan Tengku membulatkan mata mereka serta menggeleng dengan kompak. “Kami tidak diusir,” ucap Tengku tidak terima.
“Iya, kami tidak diusir. Memang, malam ini kami akan menginap di sini. Tapi bukan karena diusir, orang tua kami tengah berada di luar negeri, dan memerintahkan kami tinggal di sini untuk sementara waktu,” tambah Alfa.
Puti meletakkan bukunya dan melipat kedua tangannya di depan d**a. “Tentu saja, jika aku menjadi Om dan Tante, aku juga akan melakukan hal yang sama. Kalian tidak bisa dibiarkan tinggal dengan bebas. Kenapa? Karena kalian akan membuat onar di sana-sini,” komentar Puti sama sekali tidak berbaik hati pada kedua sepupu tampannya.
Alfa dan Tengku jelas mengerucutkan bibir mereka. Namun, Puti mengabaikan tingkah keduanya yang menurut Puti seperti anak kecil itu. “Oh, iya. Akhir minggu ini, Puti harus menonton acara debat yang akan aku ikuti, ya,” ucap Alfa.
Tengku yang mendengar hal tersebut tentu saja mengernyitkan keningnya dalam-dalam. “Hei, kenapa kamu mencuri start!” seru Tengku protes.
Tengku lalu menatap Puti dan berkata, “Tidak, lebih baik Puti melihat kompetisi memanahku saja. Puti harus berada di barisan terdepan untuk mendukungku. Aku akan membawa medali emas untukmu, Puti. Kamu suka emas, bukan?” Jadilah, perdebatan kembali terjadi di antara keduanya. Puti sama sekali tidak terlihat berniat untuk melerai perdebatan kedua sepupunya tersebut. Ia malah tetap berada di posisinya dan menonton perdebatan keduanya yang mungkin Puti anggap sebagai hiburan acara drama.
Sama seperti Puti, Alfa dan Tengku memang memiliki kecerdasan yang melebihi orang pada umumnya. Keduanya sejak dini sudah memiliki hobi dan bakat yang keduanya targetkan sebagai jalan karir yang akan mereka perdalam. Untuk Alfa, dia sangat menyukai semua hal mengenai pemerintahan, politik, hingga hukum. Ia sangat pemikir, dan kritis dalam menyuarakan semua yang ia pikirkan. Karena itulah, Alfa dikenal sebagai wajahnya fakultas hukum. Sebab Alfa memang mengambil jurusan hukum untuk kuliahnya S1 nya.
Sementara itu, Tengku sendiri adalah atlet memanah sejak sekolah menengah pertama. Kuliah pun, kini Tengku mengambil jurusan pendidikan jasmani. Kedepannya, Tengku memang akan fokus pada pendidikannya sebagai seorang atlet. Tengku bahkan sudah memiliki target karir sebagai atlet, dan sedari dini Tengku sudah memulai untuk meniti karirnya di sana. Jadi, tidak mengherankan jika Tengku sering hilir mudik mengikuti kompetisi memanah profesional.
Puti terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Baiklah, aku setuju.”
Apa yang dikatakan oleh Puti sudah lebih dari cukup membuat Alfa dan Tengku terkejut. Biasanya, Puti memang tidak dengan mudah memenuhi apa yang diinginkan oleh keduanya. Jika pun memenuhi apa yang menjadi permintaan Alfa dan Tengku, Puti selalu bertanya apa yang akan ia terima jika dirinya melakukan apa yang diminta oleh kedua sepupunya tersebut. Ya, Puti memang selalu memperhitungkan apa yang akan ia lakukan dan apa yang akan ia terima. Jadi, barang tentu Alfa dan Tengku merasa begitu terkejut dengan apa yang kini Puti lakukan.
Puti yang melihat raut terkejut tersebut sama sekali tidak berniat untuk berkomentar. Ia malah bangkit dari duduknya dan membuka pintu penghubung menuju balkon. Puti membuka pintu tersebut dengan gerakan anggun, dan begitu terbuka Puti memejamkan matanya menikmati angin malam yang berembus menerpa wajah dan rambutnya. Beberapa saat kemudian, Puti membuka matanya dan melihat langit malam yang kini dihiasi bintang serta bulan yang berpendar dengan indahnya. Puti memilih untuk bersandar pada pembatas balkon dan masih menikmati waktunya memandangi langit malam.
Alfa dan Tengku ikut bangkit serta berdiri di belakang Puti. Lebih tepatnya, keduanya berdiri di ambang pintu. Keduanya pun saling berpandangan untuk saling melemparkan kode. Alfa mengangguk dan bertanya, “Apa kamu serius dengan apa yang kamu katakan?”
Puti tidak menoleh atau berbalik untuk menatap keduanya. Ia masih menatap langit. Tampaknya, Puti sangat menikmati kegiatan yang tengah ia lakukan tersebut. Namun, Puti tetap memberikan respons atas pertanyaan apa yang diberikan oleh Alfa dan Tengku. “Iya, tapi ini bukanlah hal yang gratis. Ini hutang untuk kalian. Aku memiliki firasat, jika nanti aku akan membutuhkan bantuan kalian secara mendadak. Jadi, catat saja jika kalian memang memiliki hutang padaku.”
Baru saja Puti selesai dengan apa yang ia katakan, Puti melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Puti melihat seseorang yang melangkah dengan cepat di remangan taman. Puti bisa menebak, jika kedua seseorang yang tak lain adalah Tahani tersebut, tengah berusaha untuk ke luar dari area kediaman Risaldi ini. Namun, Puti untuk beberapa saat tidak berniat untuk beranjat, atau menahan kepergian Tahani. Sayangnya, ada satu hal yang membuat Puti merasa begitu terganggu. Rasa terganggu tersebut mendorong Puti mengernyitkan keningnya dalam-dalam.
Melihat Puti yang terdiam, Alfa dan Tengku berniat untuk bertanya, tetapi apa yang akan mereka terpotong karena Puti lebih dulu berbalik dengan wajah yang dipenuhi oleh ekspresi serius. Alfa dan Tengku mengernyitkan kening mereka saat melihat ekspresi tersebut. Sebelum keduanya kembali bertanya, Puti sudah lebih dulu melangkah dengan cepat. Tentu saja, Alfa dan Tengku akan mengikuti Puti, tetapi Puti berkata, “Jangan ikuti aku, dan masuk ke dalam kamar kalian!”
Setelah memberikan perintah tersebut, Puti tetap melangkah menuruni tangga dan mencari seseorang yang akan menjadi sumber informasi yang dibutuhkan olehnya. Puti masuk ke dalam dapur bersih dan menemukan sosok yang ia cari. Sosok yang Puti cari, tak lain adalah kepala pelayan yang memang memegang kendali untuk memberikan izin dan mengatur semua pelayan yang bekerja di kediaman Risaldi. Sosok kepala pelayan tersebut tentu saja memberikan hormat padanya, dan bertanya, “Selamat malam Nona Puti. Kenapa Nona turun, apa ada sesuatu yang Nona butuhkan?”
Puti mengangguk dan menyunggingkan sebuah senyum manis pada sang kepala pelayan. “Ya, aku membutuhkan sesuatu,” jawab Puti membuat sang kepala pelayan mengernyitkan keningnya.
“Memangnya, apa yang Nona butuhkan? Biar saya yang menyiapkannya secara pribadi,” ucap sang kepala pelayan dengan ramah.
Puti tersenyum semakin lebar dan membuat sang kepala pelayan semakin merasa ada yang aneh dengan nona mudanya ini. “Aku butuh informasi darimu,” jawab Puti dengan serius.
—Bersambung Hutang 2—