Nazhan terkejut bukan main saat Puti tiba-tiba sudah berada di hadapannya denga raut wajah yang sama sekali tidak terlihat baik. Semakin terkejut saat Puti mengambil alih ponselnya dan sukses melihat semua hal yang tadi Nazhan lakukan. Nazhan menelan ludah dengan kelu saat mendapatkan tatapan penuh peringatan yang menusuk tepat pada jantungnya. Sebelumnya, Puti belum pernah menunjukkan ekspresi kemarahan sebesar ini padanya. Apakah Puti sebegitu marahnya saat tahu dirinya tengah bertukar pesan denga Tahani?
Ya, Nazhan memang sebelumnya tengah bertukar pesan dengan Tahani. Raut bahagia yang terpasang di wajahnya juga tak lain disebabkan oleh Tahani. Nazhan memang senang karena Tahani lebih dulu mengiriminya pesan. Tentu saja, Nazhan tidak membuang kesempatan tersebut untuk terus berkirim pesan dengan Tahani, sang perempuan yang sudah mencuri hatinya. Bertukar pesan dengan Tahani terasa begitu menyenangkan bagi Nazhan untuk mengsi waktu luang karena Puti memang masih belum ke luar dari kelasnya, dan belum masuk waktu makan siang.
Namun, ternyata Nazhan terlalu asyik dengan kegiatannya hingga tidak menyadari jika kini Puti sudah ke luar dari kelas dan tampak begitu marah dengan apa yang sudah ia lakukan. Nazhan menahan napas saat Puti melemparkan ponsel miliknya begitu saja, hingga hancur berkeping-keping karena menghantam sisi tembok taman. Namun, Nazhan tidak bisa berkomentar apa pun terhadap apa yang sudah dilakukan oleh Nazhan tersebut. Saat ini, Nazhan malah memilih untuk menyiapkan diri guna menghadapi kemarahan Puti.
Tentu saja Puti marah bukan main dengan tingkah Nazhan. Ah, lebih tepatnya bukan marah, melainkan kesal. Puti kesal dengan tingkah Nazhan yang malah asyik bertukar pesan dengan Tahani, sedangkan dirinya tengah merasakan suasana hati yang sangat buruk saat ini. Suasana hati Puti semakin memburuk saat mengetahui Nazhan malah terlihat begitu senang hanya karena bertukar pesan dengan Tahani. “Apa kamu memang memiliki waktu seluang itu untuk bertukar pesan dengan Tahani? Dan apakah Tahani memang kekurangan pekerjaan di rumah hingga memiliki waktu untuk mengirimu pesan lebih dulu?” tanya Puti tajam.
Namun, sebelum Nazhan menjawab, Puti sudah berbalik dan berkata, “Ikuti aku.” Tentu saja Nazhan tidak memiliki pilihan lain untuk melakukan apa yang diingikan oleh Puti tersebut. Hanya saja, kini Nazhan berdoa agar Puti tidak berubah menjadi iblis cantik bertanduk. Nazhan tidak ingin mendapatkan kemurkaan Puti dan menderita karena hal tersebut.
Ternyata, Puti mengajak Nazhan ke sasana yang memang menjadi salah satu tempat di mana Puti berlatih bela diri. Beberapa guru yang melihat kedatangan Puti tentu saja merasa begitu senang. Mereka sudah lama tidak melihat Puti berkunjung ke tempat latihan ini, karena sebelumnya, Puti memang memilih untuk berlatih di rumahnya saja. Tentu saja, hal itu terjadi karena Agam sudah menyiapkan sebuah bangunan khusus di mana di dalamnya, Puti bisa berlatih bela diri dan melakukan olah raga dalam ruangan yang nyaman. Namun, semua guru Puti dengan kompak menahan diri untuk berama tamah pada Puti saat melihat ekspresi pada wajah manis murid mereka itu.
Puti menatap mereka dan berkata, “Aku datang untuk meminjam satu area latihan. Aku juga ingin meminjam seragam latihan untuk bodyguard-ku. Aku dan dia akan berlatih bela diri.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Puti, tentu saja mereka semua merasa panik. Nazhan sendiri merasa jika Puti melakukan hal yang aneh. Apa dirinya serius ingin berlatih dengan Nazhan? Apa Puti tidak takut terluka? Hal itu sudah dipastikan karena Nazhan dan Puti bahkan berbeda ukuran tubuh dan juga jenis kelamin. Nazhan tidak mau sampai dirinya melukai Puti, dan malah akan mendapatkan sanksi karena tidak melakukan tugasnya dengan baik. Tugas Nazhan adalah untuk menjaga Puti agar tetap berada dalam situasi dan kondisi yang baik, bukannya malah membuat Puti terluka karena berlatih bela diri bersamanya.
Namun, Nazhan merasa semakin aneh saat melihat semua pelatih yang berada di hadapan Puti pucat pasi. Mereka silih berganti membujuk Puti untuk mengurungkan niatnya. Nazhan pun berpikir, mungkin saja Puti memang sangat lemah dalam kegiatan fisik. Latihan bela diri mungkin akan sangat membahahayakan diri Puti. Karena itulah, Nazhan menyimpulkan jika dirinya sama sekali tidak boleh memenuhi keinginan Puti ini. Nazhan harus menolaknya dengan tegas. “Nona, saya adalah Bodyguard Anda. Jadi, saya tidak memiliki kewajiban untuk berlatih bela dir bahkan melawan Nona di dalam arena. Karena tugas saya adalah memastikan nona agar tetap berada dalam situasi dan kondisi yang baik,” ucap Nazhan.
“Puti, lebih baik kamu berlatih denganku saja,” tambah salah satu dari pelatih Puti. Namun Puti menggeleng.
“Nazhan, masuk dang anti pakaianmu. Aku jug akan berganti pakaian dan menunggumu di arena. Aku tetap ingin berlatih dan melawanmu di atas arena. Jangan berpikir macam-macam, atau bahkan berpikir untuk melakukannya dengan setengah hati. Karena jika kamu sampai melakukan hal itu. Kamu yang akan rugi,” ucap Puti lalu melenggang menuju ruangan ganti.
Kehadiran Puti di sasana tersebut rupanya menarik perhatian para atlet muda yang tengah berlatih. Nama Puti sudah terkenal di antara mereka. Jadi, sudah tidak mengherankan saat mereka semua dengan kompak menghentikan kegiatan mereka dan memilih untuk menonton apa yang akan dilakukan oleh Puti. Namun, sayangnya Puti sama sekali tidak ingin latihannya dengan Nazhan ditonton oleh orang lain. Puti menutup pintu dan segera berhadapan dengan Nazhan yang sudah berganti pakaian dengan seragam latihan serba putih.
Saat itulah, Nazhan mengernyitkan keningnya saat melihat sabuk taekwondo berwarna hitam yang dikenakan oleh Puti. Namun, Nazhan mengabaikan hal tersebut dan memilih untuk berhadapan dengan Puti. Nazhan berkata, “Nona, sepertinya ini sangat salah. Saya tidak bisa melawan Nona.”
“Sebelumnya, aku sudah mengatakannya, bukan? Lawan aku dengan kemampuan terbaikmu. Jangan berpikir untuk menghadapiku dengan setengah kemampuanmu. Karena jika kamu melakukan hal itu. Kamu sendiri yang akan rugi,” ucap Puti lalu memasang kuda-kuda. Hal tersebut membuat seorang pria yang memang dikenal sebagai guru paling senior di tempat latihan tersebut masuk ke dalam arena bertanding. Ia akan menjadi wasit dalam latihan bela diri tersebut.
Nazhan mengernyitkan keningnya saat mendengar dan melihat Puti yang begitu percaya diri dengan apa yang akan ia lakukan. Puti mengatakan seakan-akan dirinya yang akan rugi dan kalah telak jika tidak menghadapi Puti dengan kemampuan terbaiknya. Namun, Nazhan sama sekali tidak berpikir akan menghadapi Puti dengan seluruh kemampuannya. Karena Nazhan masih berpikir jika Puti tidak memiliki kemampuan sebaik itu dalam bela diri. Hanya saja, apa yang sudah diputuskan oleh Nazhan malah menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
Kini, Nazhan syok berat saat tubuhnya yang tinggi besar dan bisa dibilang dua kali lipat dari ukuran tubuh Puti sudah melayang dan dibanting dengan sempurna oleh Puti. Tidak sampai di sana saja, Puti terus memberikan serangan bertubi-tubi pada Nazhan. Awalnya, Nazhan sama sekali tidak ingin melawan, tetapi serangan dari Puti begitu telak dan terasa sangat menyakitkan baginya. Karena itulah, Nazhan berpikir untuk menghindar. Sayangnya, tidak ada peluang atau celah untuk menghindar. Hanya tersisa opsi melawan. Namun, begitu melawan pun, Nazhan sama sekali tidak bisa menyentuh seujung kuku Puti.
Hingga akhir, Nazhan memang bisa bertahan dan sedikit melawan, tetapi tetap saja dirinya sama sekali tidak bisa melawan Puti. Kemampuan Puti jauh lebih baik daripada dirinya. Nazhan tidak berbohong atau melakukan kekalahan yang disengaja. Dirinya memang kalah telak, karena dirinya sama sekali tidak bisa melawan Puti. Kini, Nazhan terkapar di atas arena bertanding dengan keringat membanjir dan beberapa rasa sakit yang menggigit pada bahu dan tulang rusuknya. Nazhan bisa menilai jika Puti sengaja menyerang bagian tubuh yang tidak akan terlihat bekasnya. Nazhan mencoba untuk mengatur napasnya yang memburu.
Puti sendiri tidak terlihat lelah sedikit pun. Bahkan, Puti sama sekali tidak terlihat berkeringat. Hanya saja, rambutnya yang semula tercepol rapi, kini tergerai dengan indahnya karena semua gerakan bela diri yang ia tunjukkan. Kini, Puti berjongkok di sisi tubuh Nazhan yang masih terlentang di atas arena. Puti berkata, “Kamu bisa melihat sendiri bukan? Kemampuan bela diriku jauh, bahkan sangat jauh lebih baik darimu. Dengan kemampuan itu, aku jelas bisa melindungi diriku sendiri. Seharusnya, kini kamu berpikir kenapa aku masih mempertahankanmu di sini setelah aku melihat kemampuanmu yang sebatas ini.”
Puti pun berdiri dari posisinya, tetapi dirinya masih menunduk menatap Nazhan yang menatapnya dalam diam. “Ingat Nazhan, aku memang bisa melindungi diriku sendiri, tetapi itu bukan berarti kamu bisa menggunakan jam kerjamu untuk mendekati perempuan lain,” tambah Puti sebelum melenggang pergi dengan anggunnya.