Ketegasan Puti 1

1237 Kata
    Minggu sudah berlalu, dan kini hari Senin pun datang. Itu artinya, Puti dan Nazhan harus kembali dengan kegiatan mereka sebagai seorang mahasiswa serta mahasiswi. Seperti biasanya, Puti dan Nazhan tampak begitu menawan dengan setelan kasual mereka. Puti sendiri, tidak terlalu senang menggunakan rok saat kuliah, jadi ia lebih sering menggunakan celana bahan seperti saat ini. Nazhan juga tampak modis dengan setelan kasual yang ia pilih sendiri, dan kebetulan setelan yang ia kenakan tampak serasi dengan Puti. Padahal, keduanya sama sekali tidak membuat janji atau saling mengatakan akan menggunakan baju atau celana warna apa.     Nazhan membawa dua tas. Satu tas di punggungnya yang tentu saja berisi buku dan semua tugas yang akan ia kumpulka, serta satu tas jinjing yang berisi bekal makan siang untuknya dan Puti. Seperti yang dikatakan oleh Puti, kini Nazhan juga memasak beberapa menu untuk Puti. Tentu saja, Nazhan mengingat beberapa hal yang tidak bisa dikonsumsi oleh Puti. Hal yang paling utama adalah, Puti tidak bisa makan makanan yang terlalu pedas. Karena itulah, Nazhan harus menurunkan kadar pedas masakannya. Nazhan memang pecinta makanan bercita rasa pedas. Karena itulah, saat pertama kali memasak untuk Puti, tanpa sadar Nazhan memasak dengan standar pedas untuknya sendiri. Namun, saat ini Nazhan sudah mengerti dan tidak akan mengulang kesalahannya lagi.     Nazhan melirik tas jinjing di tangannya. Ia belum pernah memasak makanan seperti untuk orang lain. Bahkan untuk kedua orang tuanya pun, Nazhan belum pernah memasakkan makanan. Nazhan lebih suka menikmatinya sendiri sekaligus berlatih untuk memasak berbagai resep. Setelah kemampuannya mumpuni, barulah Nazhan akan menunjukkan hasil masakannya pada ibunya, lalu pada pujaan hatinya. Sayangnya, belum juga Nazhan menwujudkan semua yang ia inginkan, Puti sudah lebih dulu hadir dan mendapatkan posisi pertama sebagai orang yang mencicipi hasil masakan Nazhan.     Nazhan menghentikan langkah kakinya saat tiba-tiba Puti yang berada di depannya juga menghentikan langkahnya. Untung saja Nazhan sudah lebih dulu tersadar, jadi ia tidak membuat masalah dengan menabrak sang nona muda cantik yang setiap saat bisa berubah menjadi iblis cantik bertanduk yang siap membuat siapa pun menderita saat itu juga. Nazhan pun mengalihkan pandangannya dan menangkap sosok Beltran yang sudah siap dengan mobil yang akan ia kendarai. Beberapa saat kemudian, Beltran bersuara, “Puti, mulai saat ini aku yang akan mengantar jemputmu. Jadi, ayo kuantar!”     Puti yang mendengarnya tampak tidak peduli. Ia melangkah menuju mobil merah miliknya yang sudah siap di depan mobil Beltran. Melihat itu, tentu saja Nazhan mengikuti dalam diam, sementara Beltran segera turun dari mobilnya dan menghalangi Puti untuk masuk ke dalam mobil. “Puti, aku akan mengantarmu. Jadi, masuklah ke dalam mobilku,” ucap Beltran lembut. Ia memang tidak ingin sampai meninggikan suaranya di hadapan perempuan yang ia cintai ini. Namun, Puti tetap tidak peduli. Puti menampar tangan Beltran yang menahan daun pintu.     Puti pun dengan leluasa membuka pintu dan duduk di kursi penumpang depan. Beltran yang melihatnya tentu saja tidak habis akal. Beltran segera beranjak untuk menjadi pengemudi pada mobil Puti. Hanya saja, Puti sudah menghentikan Beltran menggunakan kata-katanya. “Beltran, jangan membuatku marah. Bukankah semua tindakanku sudah cukup untuk menjadi jawabannya? Aku tidak ingin diantar jemput olehmu. Karena sudah ada Nazhan yang akan berangkat bersamaku untuk saat ini hingga kami selesai dengan masa kuliah kami. Apa setelah mendengar semua ini, kamu masih tidak mengerti?” tanya Puti dengan nada tajam.     “Tapi aku sudah mendapatkan izin dari Om Agam. Jadi a—”     “Bukankah sudah aku katakan, jangan membuatku marah!” seru Puti dengan ekspresi datar.     Gadis cantik satu itu rupanya sudah lebih dari cukup membuat Beltran terpaku. Puti lalu melirik Nazhan yang masih terdiam di belakang Beltran. Puti mengernyitkan keningnya dan berkata, “Nazhan, apa kau masih akan tetap di sana? Apa menurutmu, berdiam di sana bisa membuatku sampai di kampus sendiri?”     Nazhan yang mendengarnya tentu saja tidak menahan diri untuk segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi. Nazhan tidak menunggu perintah lagi dan memilih segera mengemudikan mobil Puti dengan hati-hati. Keduanya meninggalkan Beltran yang masih terdiam dan mengamati kepergian Puti serta Nazhan. Jangan tanyakan apa yang tengah dirasakan oleh Beltran saat ini. Karena tentu saja, Beltran tengah merasa begitu kecewa dan marah. Namun, kemarahan ini jelas bukan ia alamatkan pada Puti. Melainkan ia alamatkan pada Nazhan. Beltran merasa begitu marah karena kembali kalah saing dari Nazhan.      Sementara itu, kini Puti dan Nazhan sudah sampai di kampus. Namun, suasana hati Puti tampaknya sama sekali tidak membaik. Sepertinya, apa yang dilakukan oleh Beltran sangat membuat suasana hati Puti memburuk dengan cepatnya. Saat ini, ada beberapa teman satu jurusan yang saat pertama kali Nazhan masuk kampus, membicarakan Puti yang begitu mempesona. Ada sekitar empat pemuda tampan yang kini mencegat langkah Puti, dan mengocehkan beberapa ajakan untuk menghabiskan waktu di akhir bulan nanti bersama. Namun, Puti hanya menatapnya dengan datar dan berkata pada Nazhan, “Urus semua kadal ini.”     Setelah mengatakan semua hal tersebut, Puti pun melangkah melewati keempat pemuda yang tentu saja akan mengikuti Puti lagi. Namun, Nazhan segera menghalangi keempatnya dan berkata, “Bukankah kalian sudah mendengar apa yang dikatakan oleh Puti? Jadi, sebaiknya kalian hentikan saja niatan kalian untuk saat ini.”     Meninggalkan Nazhan yang tentu saja sibuk menangani para pemuda yang tampak tertantang untuk menaklukkan Puti, kini Puti sudah masuk ke dalam ruang kelasnya. Awalnya, Puti berpikir jika suasana hatinya akan kembali membaik saat dirinya berkonsentrasi belajar dan bertukar pikiran dengan para dosen pengajar. Sayangnya, niat Puti tidak terlaksana. Hal tersebut terjadi karena ternyata hari ini Puti harus belajar dan mengerjakan tugas secara berkelompok. Saat itulah, tanpa bisa ditahan suasana hati Puti pun semakin memburuk saja.     Puti menatap lima orang teman satu kelompoknya yang kini tengah mengocehkan banyak hal yang terdengar seperti sampah bagi Puti. Namun, Puti sama sekali tidak tergerak untuk membubarkan atau membuat semua anggota kelompoknya kocar-kacir karena mendapakan perkataan pedasnya. Puti rupanya tengah belajar untuk menahan emosinya. Saat ini, memang belum waktunya guna mengerjakan tugas dan waktu disediakan untu beradaptasi. Ketika dosen membubarkan kelas, saat itulah Puti bangkit dari duduknya dan membawa tasnya ke depan kelas.     Puti tanpa permisi menghapus namanya dalam daftar angora kelompok, dan membuat kelompok baru dengan anggota yang hanya dirinya saja. Tentu saja hal itu membuat semua orang berkomentar. Terutama anggota kelompok Puti sebelumnya, mereka berkomentar keras tak terima kenapa Puti melakukan hal tersebut. Puti memberikan tatapan dingin pada mereka dan berkata, “Apa yang membuat kalian tidak terima seperti ini padaku? Bukankah aku tidak mengeluarkan kalian dari kelompok dan tidak membuat kalian rugi? Aku keluar dari kelompok kalian, dan membuat kelompok baru. Jadi, itu sama sekali tidak membuat siapa pun rugi.”     “Tapi kenapa kamu sampai ke luar dari kelompok? Bukankah ini adalah tugas kelompok?” tanya salah satu anggota kelompok Puti sebelumnya. Tentu saja pertanyaan tersebut didukung oleh yang lainnya.     Puti tampak tidak terganggu saat sebagian besar teman sekelasnya bersatu untuk memojokkan dirinya. Ia malah tersenyum manis dan berkata, “Apa kalian yakin, kalian bisa mengimbangi diriku sebagai rekan satu kelompok? Tadi saja kalian hanya mengatakan sampah selama kelas. Jadi, daripada aku harus bekerja sama dengan kalian, aku lebih baik mengerjakan semuanya sendiri. Aku lebih dari sanggup untuk melakukannya.”     Setelah mengatakannya, Puti pun meninggalkan ruang kelas menuju tempat di mana Nazhan kini berada. Puti memang tahu jadwal kelas Nazhan, dan saat ini Nazhan sedang tidak memiliki kelas. Saat ini, sudah dipastikan jika Nazhan menunggu dirinya di salah satu sudut taman. Perkiraan Puti sangat tepat. Puti melihat Nazhan yang duduk di sebuah kursi panjang di sudut taman. Namun, Puti bisa menangkap wajah Nazhan yang dihiasi senyum bahagia. Kebahagiaan yang sangat sulit Puti lihat saat Nazhan berhadapan dengan dirinya. Puti pun curiga dengan hal yang sudah membuat Nazhan sebahagia tersebut. Puti tidak membuang waktu untuk berderap medekat pada Nazhan dengan suasana hati yang benar-benar buruk.       —Bersambung ke Ketegasan Puti 2—
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN