Beltran memutar arah saat tidak menemukan Puti di dalam perpustakaan pribadi milik sang pujaan hatinya tersebut. Setelah menanyakan keberadaan Puti pada seorang pelayan yang kebetulan bertugas untuk membersihkan perpustakaan Puti, akhirnya Beltran tahu di mana kini Puti berada. Beltran masih menggenggam sebuah kantung berisi makanan kesukaan Puti selagi dirinya melangkah menyusuri lorong menuju dapur bersih yang terhubung dengan ruang santai untuk menikmati camilan serta ruang makan keluarga yang bisanya tertutup untuk tamu asing. Namun, karena Beltran sudah mendapatkan freepass dari Agam, Beltran tentu saja bisa masuk ke dalam ruangan tersebut dengan leluasa.
Beltran melihat Puti yang kini tengah membaca sebuah buku tebal di meja makan dengan segelas s**u yang menemaninya. Beltran berdeham dan membuat Puti mengalihkan pandangannya dari buku yang ia pandang dengan penuh konsentrasi, dan mengalihkannya pada Beltran yang kini duduk di sampingnya. Beltran masih tersenyum dan meletakkan kantung yang ia bawa di atas meja. Melihat logo pada kantung tersebut, Puti sudah bisa menebak apa yang kini tengah dibawa oleh Beltran. Namun, Puti sama sekali tidak tergerak untuk menyentuh kantung tersebut, dan lebih memilih untuk menunggu penjelasan dari Beltran.
“Aku membawa camilan yang kamu sukai, Puti. Ayo buka dan nikmati,” ucap Beltran antusias.
Puti pun mengangguk. Namun, Puti sama sekali tidak beranjak untuk menyentuh bungkusan tersebut. Nazhan lah yang muncul dari dapur dengan membawakan piring, mangkuk kecil untuk saus, dan garpu untuk makan Puti serta Beltran. Dengan telaten, Nazhan pun memindahkan semua makanan yang berada di dalam bungkusan pada atas piring. Meskipun Puti tidak menunjukkan ekpresi berarti di wajahnya yang cantik jelita, Nazhan dan Beltran bisa menangkap binar senang di kedua netra indah Puti. Namun, keduanya dengan kompak tidak berkomentar akan hal tersebut.
Puti terlihat tidak sabar dan menyambar camilan yang ternyata agalah cumi goreng jumbo. Cumi goreng tersebut berbentuk silinder panjang, yang digoreng renyah setelah dibaluri oleh tepung bumbu yang terasa begitu nikmat saat digigit. Puti pun mengambil sebuah gigitan besar dan mengunyahnya dengan begitu anggun. Jika Nazhan sudah kembali pada posisinya di belakang Puti, makan Beltran tentu saja masih berada di posisinya yang duduk di samping Puti dan mengamati bagaimana Puti menikmati cumi goreng yang memang menjadi makanan kesukaannya.
Namun, tampaknya apa yang dibawa oleh Beltran belum terasa cukup untuk Puti. Gadis satu itu memilih untuk menatap Nazhan dan berkata, “Nazhan, masaklah sesuatu.”
Tentu saja Nazhan yang mendnegar hal itu merasa begitu terkejut. Ia belum pernah mendapatkan perintah memasak seperti ini. Melihat keterkejutan di wajah Nazhan, tentu saja Puti menyimpulkan jika Nazhan tidak bisa memasak atau Nazhan tidak ingin memasak untuknya. Karena itulah, Puti bertanya, “Apa kamu tidak mau memasak untukku?”
Nazhan kembali dibuat terkejut oleh pertanyaan Puti. Rasanya, Nazhan tidak akan segila untuk menolak perintah dari sang nona muda yang ia kawal ini. “Bukan seperti itu, Nona. Hanya saja—”
“Kalau begitu, kamu bisa memasak. Jadi, masaklah sesuatu untukku,” potong Puti cepat lalu kembali dengan kegiatannya menikmati cumi goreng tepung jumbo yang terasa begitu lezat dan memenuhi seleranya.
Tentu saja Nazhan akan menolak atau menghindar dari permintaan Puti tersebut. Namun ternyata, Beltran sudah lebih dulu memotong. “Puti, sebaiknya aku saja yang memasak. Mungkin saja, Nazhan memang tidak bisa memasak. Karena itu, lebih baik aku saja yang memasak. Aku sudah terbiasa memasak, dan aku bisa menyediakan makanan yang lezat untuk disantap,” ucap Beltran serius. Beltran memang bisa memasak. Kemampuannya bahkan sudah tidak perlu diragukan lagi. Beltran memang bisa memasak dan hasil masakannya selalu terasa lezat.
Meskipun sudah tahu kemampuan memasak Beltran, Puti sama sekali tidak tertarik untuk merasakan kembali masakan buatan Beltran. Saat ini, Puti hanya ingin makanan yang dibuatkan oleh Nazhan. Lebih tepatnya, Puti ingin melihat kemampuan memasak Nazhan. Karena itulah, Puti menggeleng dan berkata, “Aku tetap ingin makan masakan buatan Nazhan. Aku sudah sering makanan buatanmu, jadi jangan menawarkannya lagi. Saat ini, aku ingin masakan Nazhan, dan aku hanya ingin makan itu. Jadi, Nazhan harus memasak untukku.”
Pada akhirnya, Nazhan pun tidak bisa menolak permintaan Puti. “Saya akan memasakan sesuatu untuk Nona. Tapi saya tidak bisa memasak makanan mewah atau sesuatu yang sulit,” ucap Nazhan.
“Tidak apa-apa. Masakkan apa pun yang bisa kamu masak untukku,” ucap Puti sembari kembali menggigit cumi goreng tepung tersebut dengan begitu semangat.
Beltran mau tidak mau mendesah kecewa dalam hatinya. Namun, saat melihat Puti yang kembali menikmati cumi goreng tepung jumbo yang tadi ia bawakan dengan nikmatnya. Suasana hati Beltran tentu saja menjadi begitu baik saat ini. Beltran pun memilih untuk meletakkan urusan memasak dan memilih untuk mengamati Puti yang tampak tidak mempedulikan dirinya serta lebih fokus untuk menikmati cumi goreng kesukaannya.
Sementara itu, Nazhan kini menggunakan celemek dan memikirkan masakan apa yang akan ia buat untuk nona mudanya. Diam-diam, Puti pun melirik apa yang akan dilakukan oleh Nazhan. Tentu saja, Puti merasa tertarik saat melihat Nazhan yang kini menggunakan celemek. Hal itu tampak begitu menarik bagi Puti, karena dirinya memang belum pernah melihat Nazhan yang berpenampilan seperti ini. Puti pun memilih untuk memperhatikan Nazhan secara terang-terangan dan membuat Beltran yang menyadari hal itu merasa begitu tidak senang.
Kini, Nazhan memulai acara memasaknya setelah berhasil memutuskan apa yang akan ia masak kali ini. Nazhan pada akhirnya memilih untuk memasak sosis bumbu merah. Nanti, Nazhan akan menumis sosis tersebut dengan beberapa sayuran serta bumbu merah yang memang terasa lezat bagi Nazhan. Sebelumnya, Nazhan memang tahu jika sosis adalah salah satu makanan kesukaan Puti. Rasanya, meskipun makanan kali ini tidak sesuai dengan selera Puti, pasti Puti akan tetap menghabiskan makanan ini. Sayang sekali, Nazhan tidak bisa membuat sosis asam manis yang jelas adalah makanan kesukaan Puti. Karena itulah, kini Nazhan hanya bisa memasakkan makanan yang memang resepnya ia buat sendiri.
Dengan lincah, Nazhan mulai memotong satu persatu bahan masakan yang akan ia olah. Tidak perlu menunggu waktu lama, kini aroma harum menguar di ruangan tersebut. Puti dan Beltran yang masih duduk di meja makan tentu saja bisa mencium aroma tersebut dengan mudahnya. Tanpa sadar, Puti juga sampai meletakkan cumi goreng yang masih saja ia jadikan sebagai camilan. Beltran yang melihat hal tersebut tentu saja mengernyitkan keningnya. Saat ini, Beltran merasa begitu penasaran dengan kemampuan memasak Nazhan. Mungkin, saat ini Nazhan terlihat begitu berkelas dan terlihat sudah sangat terbiasa memasakan. Namun, siapa yang tahu bagaimana rasanya hasil masakan Nazhan tersebut.
Tak lama, Nazhan pun sudah memindahkan hasil masakannya ke atas piring. Ia membereskan semua sisa bahan masakan dan sisa alat masak. Nazhan melepas celemeknya dan segera membawa makanan tersebut dan menyajikannya di atas meja. “Silakan Nona, saya hanya bisa memasak makanan ini. Semoga ini sesuai dengan seleramu,” ucap Nazhan.
Puti pun mengangguk dan memilih untuk menusukkan garpunya dan mengambil sepotong sosis untuk dicicipinya. Puti mengunyahnya dan menelannya secara sempurna dan segera menelannya. Puti menatap Nazhan dengan sebuah senyum sebelum berkata, “Aku sangat suka masakanmu ini. Jadi, kamu harus kembali membuatkan masakan ini untukku. Atau, kamu membuatkan makanan lainnya.”
Mendengar pujian Puti, mau tidak mau Nazhan merasa begitu penasaran. Namun, Beltran masih tidak tergerak untuk mencicipi makanan tersebut. Ia masih mengamati Puti dalam diam. Saat Puti mengatakan, “Hanya saja, untuk selanjutnya kamu perlu untuk mengurangi rasa pedasnya.” Ditambah dengan wajah Puti yang mulai memerah, Beltran mulai merasa begitu penasaran dan merasa begitu curiga dengan apa yang dikatakan oleh Puti tadi.
Beltran pun tanpa permisi mengambil garpu yang tadi disiapkan oleh Nazhan. Ia pun memilih untuk mecicipi sedikit dan terkejut dengan rasa masakan tersebut. Bukan karena masakan tersebut memang terasa sangat lezat, melainkan karena makanan tersebut terasa pedas menggigit lidahnya. Beltran menahan tangan Puti yang akan kembali memakan sosis bumbu merah buatan Nazhan. Puti menepis tangan Beltran dan kembali mecoba untuk menghabiskan masakan buatan Nazhan. Beltran menepis garpu yang dipegang oleh Puti dan menjauhkan piring tersebut dari jangkauan Puti.
Apa yang dilakukan oleh Beltran tersebut tentu saja mengejutkan Nazhan dan membuat Puti merasa begitu jengkel. Namun, baik Nazhan maupun Puti sama sekali tidak menyuarakan apa yang tengah mereka rasakan saat ini. keduanya dengan kompak memilih untuk mengamati apa yang akan dilakukan oleh Beltran selanjutnya. Hanya saja, kini keduanya bisa dengan mudah menyimpulkan bahwa Beltran saat ini tengah merasa begitu marah.
Kini wajah Beltran terllihat begitu kesal dan cemas dengan apa yang terjadi saat ini. Beltran mengetatkan rahangnya dengan kuat. Hal itu tampak begitu berbanding terbalik dengan Puti yang tampak masih santai, dan dengan Nazhan yang tampak tidak mengerti dengan alasan mengapa Beltran bisa terlihat semarah ini. “Jangan pernah bepikir untuk memakan makanan itu lagi, itu terlalu pedas untukmu Puti! Kamu sama sekali tidak bisa memakanan makanan pedas. Apalagi makanan sepedas ini!” seru Berltan dengan nada tinggi yang tentu saja sanggup menyentak Nazhan.