“Ingat, jangan gegabah.” Yasmin kembali mmperingatkan Agam. Ia tidak ingin Agam sampai melupakan apa yang sudah mereka sepakati bersama. Yasmin terlihat begitu serius dengan apa yang ia katakan. Hal tersebut terjadi, karena dirinya tidak ingin sampai Agam melakukan kesalahan vatal yang bisa membuat semuanya kacau serta sulit untuk diperbaiki.
Agam dan Yasmin kemarin memang sudah membuat kesepakatan. Lebih tepatnya, Agam berjanji pada Yasmin tidak akan melakukan apa yang Yasmin takutkan. Yasmin memang meminta Agam untuk tidak gegabah menjodohkan Puti dengan Beltran, apalagi tanpa sepengetahuan dan meminta pendapat Puti lebih dulu. Yasmin tidak ingin sampai Agam melukai hati putri mereka karena berani melakukan hal tersebut. Namun, sebagai gantinya, Yasmin pun mengizinkan apa pun yang Agam inginkan untuk membuat Puti dan Beltran memiliki kedekatan seperti yang diinginkan olehnya.
Sampai saat ini, Yasmin memang belum mengetahui hal sesungguhnya yang mendasari Agam berniat untuk menjodohkan Puti dan Agam. Hal yang Yasmin ketahui adalah, jika Beltran memang sangat menyukai Puti, bahkan sudah sempat memberikan lamaran melalui Agam. Karena itulah, Yasmin memang memilih untuk membukakan pintu bagi Beltran untuk dengan putrinya. Yasmin akan memberikan kesempatan pada Beltran untuk memenangkan hati Puti, tetapi jika sampai Puti sampai akhir memang tidak menyukai Beltran, maka saat itulah Yasmin yang akan pasang badan dan menghentikan niatan Agam untuk menjodohkan Beltran dengan Puti.
Agam yang melihat wajah Yasmin yang dipenuhi keseriusan tentu saja mengangguk dan memberikan kecupan pada keningnya. Awalnya, sebenarnya Agam tidak ingin mengikuti apa yang sudah ditetapkan oleh Yasmin. Karena ia merasa jika saat ini memang waktu yang tepat untuk mengikat Puti dan Beltran dalam sebuah ikatan pertunangan. Namun, apa yang bisa ia lakukan jika Yasmin sudah mengatakan hal itu? Lagipula, Agam juga tidak mau sampai apa yang ditakutkan oleh Yasmin sampai terjadi. Perihal Puti yang nantinya akan terluka karena masalah perjodohan ini.
Tentu saja, Agam tidak mau sampai hal itu terjadi. Ia berencana untuk menjodohkan Beltran dan Puti saja, karena ia ingin putri manisnya itu hidup bahagia hingga ajal menjemput nantinya. Karena itulah, pada akhirnya Agam mengambil langkah aman dengan melakukan apa yang sudah diinstruksikan oleh Yasmin. Toh, lebih darinya, Yasmin lebih mengerti dan mengenal karakter putri mereka tersebut. Bukankah wajar? Yasmin yang mengandung bahkan mendapat begitu banyak masalah berat saat dirinya mengandung Puti. Sudah bisa ditebak jika keduanya memiliki ikatan batin sebagai ibu dan anak yang sangat kuat.
“Iya, aku berjanji,” ucap Agam lalu kembali memberikan kecupan pada kening Yasmin. Agam meyakinkan Yasmin agar tidak merasa lebih cemas daripada ini. Tentunya, Agam juga akan melakukannya dengan hati-hati agar tidak membuat kesalahan vatal yang malah akan membuat kekacauan.
Baru saja Agam selesai dengan apa yang ia katakan, seorang pemuda muncul dan masuk ke dalam ruang keluarga tersebut. Pemuda tersebut tak lain adalah Beltran, pemuda yang sedari kemarin mereka bicarakan dan akan menjadi kandidat sebagai tunangan Puti nantinya. Beltran menyunggingkan sebuah senyum yang menawan dan mencium punggung tangan kedua orang tua perempuan yang ia cintai. Setelah itu, Beltran pun duduk di sofa yang berseberangan dengan keduanya. Raut wajah Beltran tampak begitu bahagia, hal itu terjadi karena sebelumnya ia memang sudah mendengar kabar baik dari Agam melalui sambungan telepon.
“Bagaimana kabarmu, Beltran?” tanya Yasmin menggunakan bahasa isyarat dengan menggerakkan jemari lentiknya dengan lincah.
Tentu saja, Beltran sudah lebih dari mahir dalam menggunakan bahasa isyarat. Sejak kecil dirinya sudah mengenal Puti dan keluarganya. Beltran juga sering berinteraksi dengan orang yang sangat dihormati dan disayangi oleh Puti ini, hal itu yang membuat Beltran belajar mati-matian bahasa isyarat agar memudahkan dirinya berkomunikasi dengan Yasmin. Karena itulah, Beltran bisa mengerti dengan apa yang ditanyakan oleh Yasmin ini. Beltran mengangguk dan menjawab, “Baik, Tante. Bagaimana kabar Tante dan Om? Semoga kabar kalian juga baik, ya.”
“Kami juga baik. Jadi, sekarang kamu ingin bertemu dengan Puti?” tanya Agam pada Beltran.
Beltran mengangguk dan mengangkat sebuah bungkusan makanan terkenal. Agam dan Yasmin juga mengenal restoran tersebut. Itu adalah restoran langganan Puti. Ada salah satu menu dari restoran tersebut yang memang sangat disukai oleh Puti. Sering kali, jika Puti ingin camilan, Puti pasti akan memesan makanan yang akan diantar hingga ke rumah. Yasmin yang melihat itu tentu saja bisa menyimpulkan jika Beltran sudah akan memulai usahanya untuk mendapatkan hati Puti. Tampaknya, saat ini Beltran tidak akan malu-malu atau ragu lagi untuk segera berusaha menggaet hati Puti.
Tentu saja Beltran tidak akan menyia-nyiakan semua kesempatan yang sudah disediakan oleh kedua orang tua Puti. Beltran sudah menunggu waktu ini datang padanya. Dan kali ini, Agam dan Yasmin sudah sepakat untuk memberikan kesempatan pada Beltran untuk mendekati Puti dan mendapatkan hatinya. Tentunya, Beltran sudah memiliki rencana, bagaimana dirinya akan mendekati Puti, dan bagaimana mendapatkan hati pujaan hatinya itu. Yakinlah, Beltran sudah menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi saat-saat ini. Beltran sudah sangat antusias hingga tidak bisa menahan diri untuk tidak terlihat begitu bahagia.
“Aku membawa camilan kesukaan Puti. Sepertinya, Puti akan sangat senang menghabiskan sore ditemani oleh makanan ini,” ucap Beltran. Kini, senyuman yang begitu tulus terukir di wajah Beltran yang tampan. Beltran ini memiliki darah asing yang mengalir dalam darahnya. Jadi, sudah dipastikan jika ketampanan yang dimiliki oleh Beltran memang sangat khas dan mudah sekali untuk menggaet hati para kaum hawa.
“Wah, Puti pasti sangat senang. Kemarin, ia baru saja mengatakan jika ingin mengunjungi restoran itu. Kamu sepertinya sangat mengenali putriku. Kalau begitu, sekarang lebih baik kamu menemui Puti.” Yasmin menyunggingkan senyum sembari mengatakan apa yang ingin ia ungkapkan dengan isyarat tangannya.
Tentu saja Beltran tersenyum dan mengangguk antusias. “Terima kasih, Tante. Lalu di mana aku bisa menemukan Puti?” tanya Beltran.
“Puti ada di perpustakaan,” jawab Agam mewakili Yasmin.
Beltran mengangguk, dan bangkit dari duduknya. “Kalau begitu, aku permisi dulu ya Tante, Om,” ucap Beltran lalu undur diri dari ruangan keluarga tersebut.
Setelah Beltran benar-benar menghilang di ambang pintu. Yasmin pun menggenggam tangan Agam dengan erat. Meskipun sudah berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, dan merasa jika apa yang ia lakukan ini adalah hal yang paling benar, yang bisa ia lakukan saat ini, Yasmin tidak bisa menahan diri untuk merasa cemas. Putrinya adalah gadis yang sangat cerdas dan perasa. Yasmin cemas jika Puti akan dengan mudah menyadari apa yang tengah dilakukan oleh Agam saat ini. Kecemasan Yasmin ini terasa wajar, karena apa yang dilakukan oleh Aga mini rasanya sangat berbanding terbalik dari sikapnya biasanya.
Agam di masa lalu memang sangat sulit mengizinkan Beltran untuk mengunjungi atau bertemu secara pribadi dengan Puti. Jika pun mengizinkan, Agam pasti akan mengutus Alfa dan Tengku untuk mengikuti keduanya. Yasmin menggigit bibirnya, tidak bisa mengenyahkan rasa cemas yang semakin menjadi ini. Agam mencium bibir Yasmin membuat istrinya itu melepaskan gigitannya secara refleks. Yasmin menatap Agam dengan penuh tanya.
Agam mengusap pundak istrinya dan berkata, “Tidak perlu cemas. Seperti yang kamu katakan. Ini adalah hal terbaik yang bisa kita putuskan dan lakukan saat ini, jadi kita hanya perlu melihat dan mengamati apa yang terjadi. Semoga, ada kabar baik yang bisa dengar dari Beltran dan Puti.”
—Bersambung ke Usaha Beltran 2—