Aku pernah terlalu percaya.
Hingga tersadar bahwa hal itu justru memberiku luka.
-Oh, My Ice!-
Dara mendaratkan tubuhnya di bangku halte yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Seperti biasa, setiap pagi Dara menunggu Chika di halte untuk pergi ke sekolah bersama. Dara dan Chika memang sudah bersahabat sejak kelas empat Sekolah Dasar.
Dulu, Dara cenderung pendiam dan takut dengan pendapat orang lain terhadapnya, hingga sedikit sekali yang ingin berteman dekat dengannya. Namun Chika itu berbeda. Dia ramah dan tidak suka pilih-pilih teman. Sejak mereka dekat, Dara berubah menjadi perempuan yang lebih ceria dan percaya diri. Mungkin Chika menularkan sifatnya pada Dara, dan ditambah dengan kehadiran Iqbal dalam kehidupan Dara, membuat sifat Dara yang sekarang berbanding terbalik dengan sifatnya dulu. Sekarang Dara pecicilan dan suka malu-maluin, itu karena Iqbal.
Dara mengedarkan pandangannya. Sudah hampir tiga puluh menit Dara menunggu dan Chika belum juga menampakkan batang hidungnya. Dara bahkan melewatkan banyak bus, karena takut jika Chika berangkat sendirian dan terlambat. Pasti akan sangat mengesalkan kalau pagi hari Chika diawali dengan hal buruk. Dara tersenyum, lalu menyakinkan dirinya sendiri dengan kalimat ajaib ‘sebentar lagi Chika datang’.
Sebuah bus biru berhenti di depan halte. Dara melihat jam di ponselnya, sudah hampir pukul tujuh. Dia bingung, karena sampai sekarang Chika belum juga datang. Apa mungkin Chika sakit? Dara terus menanyakan hal itu dalam hatinya. Karena jujur, Chika tidak pernah datang se-terlambat ini.
“Ayo, Neng. Udah siang, nanti telat,” kata sang kondektur bus memecah lamunan Dara. Lalu dengan berat hati, perempuan itu meninggalkan Chika. Bukan apa-apa, jam pelajaran pertama adalah Matematika, dan Dara tidak ingin melewatkan pelajaran kesukaannya hanya karena datang terlambat. Untuk masalah Chika, Dara akan meminta maaf karena ia menginggalkannya pagi ini. Semoga Chika bisa mengerti.
*
Dara menghentikan langkahnya saat ia sudah sampai di depan kelas untuk menetralkan deru napasnya yang terdengar memburu, serta jantungnya yang berdegub lebih cepat dari biasanya.
Perempuan itu sedikit membungkuk dengan lengan bertumpu pada kedua lututnya. Ternyata, datang ke sekolah sedetik sebelum gerbang ditutup lebih mendebarkan daripada berada dalam jarak kurang dari satu meter dengan Arda. Ya, Dara masih sempat-sempatnya memikirkan Arda di saat genting begini.
Merasa sudah lebih membaik, Dara sedikit berjinjit untuk mengintip kelasnya. Ia bernapas lega, saat bola matanya tak menemukan sosok Pak Tanto di dalam kelas. Setidaknya, dia tidak akan diintrogasi di depan kelas mengenai alasannya terlambat datang ke sekolah.
Dengan hati-hati, Dara membuka pintu kelasnya. Sontak semua mata tertuju padamu. Ceilah, dikira ini Miss Indonesia.
Semua mata kini tertuju pada Dara, tidak biasanya Dara datang se-terlambat ini. Perempuan itu menampilkan sederet gigi putihnya, namun detik berikutnya, ia membeku di tempatnya. Kalau saja Reina tidak memanggilnya, Dara pasti masih tetap berada di dekat pintu, tanpa ada niatan untuk duduk di bangkunya.
Dara meletakkan tasnya di atas meja, namun tatapannya masih tertuju pada seseorang yang tengah menuliskan sesuatu di papan tulis, mungkin saja itu tugas dari Pak Tanto. Namun bukan itu yang menarik perhatian Dara.
“Chika, kok lo nggak bilang kalo mau berangkat duluan?” tanya Dara ketika perempuan yang tadi menulis di papan tulis itu berjalan menuju kursinya yang terletak persis di belakang kursi Dara.
Chika menatap Dara dengan tatapan datar, “Emangnya segala hal yang gue lakuin harus dapat izin dari lo?” tanyanya sarkas.
“Bukan gitu, maksud gue….” Dara hendak menyanggah, namun dipotong secara tidak sopan oleh ucapan Chika selanjutnya.
“Minggir, gue mau lewat,” kata Chika. Lalu pergi begitu saja dengan menabrak bahu Dara secara kasar hingga Dara sedikit terhuyung ke belakang.
“Gue bahkan hampir telat karena nunggu lo,” gumam Dara lirih.
*
Sejak bel istirahat dibunyikan, dua perempuan itu masih betah duduk di bangku kantin, padahal piring yang tadinya berisi batagor itu sudah bersih tanpa ada noda sisa sambal sedikit pun. Salah satu di antaranya masih asyik menunyah es batu dari gelas es teh manisnya.
“Harusnya tadi lo yang selesain soal dari Pak Tanto di depan, bukan sahabat kesayangan lo itu,” kata Jessi pada Chika yang sedang menguyah es batu. Tak lupa, Jessi sedikit menekan kata sahabat pada ucapannya.
Chika tersenyum miring, tidak ingin menanggapi pertanyaan yang Jessi lontarkan kepadanya itu. Jujur, Chika juga kesal, karena kepercayaan orang-orang tentang Chika si penakluk matematika menjadi terancam karena eksistansi Dara. Dibandingkan Chika hari ini, Dara lebih banyak menyelesaikan soal di depan. Padahal biasanya Chika yang lebih unggul barang satu soal pun.
“Dengan dia yang seperti itu, gue jadi semakin ingin menjauh.” Chika terkekeh, namun sedetik berikutnya, wajahnya berubah lesu. Entah hal apa yang menjadi penyebab berubahnya ekspresi Chika, hanya dia sendiri yang tahu.
“Gue pikir, lo bisa lebih dari Dara.”
Chika tersentak, “Maksud lo?” tanyanya sedikit tak suka dengan nada bicara Jessi barusan yang terdengar seperti tengah meremehkan dirinya. Chika memang sensitif jika dibanding-bandingkan dengan orang lain, terutama tentang prestasi.
Jessi boleh saja membandingkan tentang wajah Chika dengan Dara yang lebih manis dipandang, atau hidung mancung yang Dara miliki, tapi tidak dengan prestasi. Chika benci hal itu.
“Banyak-banyak belajar, lo harus lebih unggul dari Dara.” Jessi tersenyum, lalu mengambil ponsel dari dalam saku rok abu-abu yang ia kenakan. Perempuan itu sudah sibuk dengan chat-chatnya saat Chika mulai merenungkan apa yang tadi diucapkan oleh teman sebangkunya itu.
Hatinya terketuk untuk berusaha lebih unggul dari Dara. Biarkan saja orang-orang berkata tentang Chika yang gila terhadap prestasi. Ia tidak peduli. Karena yang terpenting, ia tak boleh kalah dengan Dara, dalam hal prestasi.
Terpisah oleh beberapa meja dari tempat Chika dan Jessi, Arda tengah menikmati makanannya sambil berusaha untuk tetap tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan, meskipun sebenarnya, telinganya sudah sangat panas mendengar pembicaraan mereka yang entah kenapa tidak dilakukan dengan suara pelan itu, seakan sengaja agar percakapan mereka dapat di dengar oleh pengunjung lain di kantin sekolah.
*
Jam istirahat menjadi semacam surga bagi pelajar. Tak heran, bel istirahat adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh sebagian besar siswa SMA Nusantara—selain jam pulanng sekolah tentunya. Jam istirahat juga merupakan waktu yang ditunggu-tunggu oleh Reina. Perempuan itu sedang menikmati istirahatnya dengan bermain di alam mimpi. Ia sama sekali tak terusik dengan kebisingan di kelasnya yang di d******i oleh suara cewek-cewek yang sedang bergosip. Entah itu tentang pacarnya, mantannya, selingkuhannya, atau bahkan hubungan LDR mereka dengan Oppa di Korea.
Dara menatap Reina yang sedang terlelap di sampingnya. Dia ingin meminta Reina menemaninya ke toilet, namun sepertinya tidurnya sangat pulas. Bisa-bisa Reina terkejut sampai menangis kalau Dara membangunkannya sekarang.
Akhirnya, dengan berat hati Dara pergi ke toilet seorang diri. Perempuan itu melenggang santai melewati teman-temannya yang sedang bergosip, tak lupa ia melemparkan senyuman kepada mereka.
Sampai di depan pintu, langkah Dara melambat hingga perlahan ia berhenti. Bukan waktu yang berhenti seperti di film kartun Doraemon, melainkan kaki Dara yang seakan kehilangan fungsi untuk bergerak.
Perempuan itu menatap seseorang di hadapannya yang entah kenapa ikut menghentikan langkahnya sambil menatap Dara datar, seperti biasa, tentu saja. Dara tidak mengerti apa alasan Arda melakukan hal itu, yang pasti, Dara bisa mati berdiri kalau Arda tidak cepat-cepat pergi dari hadapannya.
Arda membuka mulutnya seperti hendak berbicara, hal itu membuat Dara penasaran apa yang akan diucapkan Arda. Sampai keingintahuan Dara itu mendadak hancur saat Arda malah mengembuskan napasnya secara kasar, lalu pergi meninggalkan Dara dengan kepala yang penuh dengan tanda tanya.
Dara tersenyum miris, “Padahal gue pikir, lo mau tanya apa gue baik-baik saja.”
*