Waktu memang terus berjalan, memisahkan kita secara perlahan.
Menciptakan jarak yang entah mengapa kini cukup jauh terbentang.
-Oh, My Ice!-
Arda menghela napas berat sepersekian detik setelah mendengar penuturan dari Pak Dwi, guru mata pelajaran Bahasa Inggris yang meminta bantuan Arda untuk menyiapkan Laboratorium Komputer untuk ulangan harian kelas 12 IPA 4. Arda tak habis pikir, kenapa Pak Dwi tiba-tiba memaksa ingin menggunakan Labroratorium Komputer untuk ulangan harian materi listening-nya, padahal ada Laboratorium Bahasa yang kondisinya pun baik-baik saja, karena kemarin Arda sudah melakukan pengecekan di sana.
Batin Arda terus menggerutu. Kelas 12 IPA 4 adalah kelas Dara, dan Arda sedang tidak ingin berurusan dengan perempuan itu. Jangankan untuk berurusan dengan Dara, untuk melihat eksistensi perempuan itu saja Arda tidak ingin. Arda tidak peduli dengan penilaian orang terhadap perlakuannya pada Dara.
Menurut Arda, tipe cewek seperti Dara itu ribet dan keras kepala. Paket lengkap. Jadi sebisa mungkin Arda tidak terlalu banyak terlibat dengan Dara, agar tidak menambah permasalahan hidupnya yang sudah menumpuk dan tak pernah usai sejak satu tahun yang lalu.
Menyudahi sambatan di hatinya, Arda beranjak dari ruang Unit Pelayanan TIK—ruangan kerja Arda—setelah sebelumnya ia menyambar kunci Laboratorium Komputer yang menggantung di atas mejanya. Meskipun sebenarnya enggan, namun Arda tetap harus melakukan tugasnya sebagai mahasiswa yang magang di sekolah ini.
*
Pukul sembilan lebih tiga puluh menit, kelas 12 IPA 4 berbondong-bondong menaiki anak tangga menuju ke ruang Laboratorium Komputer di lantai dua. Layaknya semut yang sedang berbaris, satu per satu dari mereka memasuki ruangan secara teratur setelah sebelumnya melepas sepatu mereka dan meletakkannya pada rak sepatu di depan ruangan tersebut.
Suasana yang tadinya aman dan damai itu tiba-tiba berubah rusuh saat satu makhluk bertulang lunak itu dengan sekonyong-konyongnya mengacak-acak rak sepatu dan menyebabkan sepatu-sepatu itu terpisah dari pasangannya.
Dara ingin memprotes kelakuan teman laki-lakinya yang kalau berbicara jadi mirip perempuan itu karena ulahnya menyebabkan sepatu Dara jadi LDR-an, namun gagal sebab lengannya sudah ditarik oleh Reina untuk masuk ke dalam Laboratorium.
“Duduk di barisan tengan aja, yuk. Gue nggak mau kena AC,” kata Reina yang sontak membuat Dara menyernyit. Tumben sekali si Reina ini tidak ingin dekat-dekat dengan AC. Apa karena Reina sudah tidak tahan dengan sikap dinginnya? Oke, itu nggak jelas. Jadi lupakan saja.
Dara yang sedari tadi sudah ditarik-tarik oleh Reina itu hanya patuh saja saat sahabatnya itu menyuruhnya untuk duduk di kursi nomor tiga belas, sedangkan Reina sendiri duduk di belakang Dara, yaitu kursi nomor delapan belas. Sesuai dengan yang Reina bilang tadi, mereka duduk di barisan tengah dan berada sedikit jauh dari pendingin udara yang berada di pojok belakang ruangan.
Setelah duduk di kursinya dengan nyaman, Dara menyiapkan alat tulisnya untuk ulangan nanti. Namun kegiatan Dara terhenti ketika Chika datang dan melewatinya untuk duduk di kursi nomor sembilan belas, yang tak lain berada di samping Reina.
Dara memperhatikan dalam diam, bagaimana Chika yang terlihat sangat santai di tempatnya, bahkan perempuan itu secara iseng mengotak-atik keyboard di depannya, seperti tengah berusaha barangkali salah satu tombolnya bisa ia lepas, namun rupanya susah.
“Ka, lo ngasih kontak gue ke Iqbal?” tanya Dara dengan tanpa melepaskan tatapannya pada Chika, membuat perempuan itu menghentikan kegiatannya, lalu menatap Dara datar.
“Salah?” sahut Chika dengan intonasi yang tidak terdengar lembut di telinga Dara.
“Jadi bener, lo yang ngasih nomor gue? Kenapa lo seenaknya gini sih? Gue nggak suka,” keluh Dara pada Chika. Belakangan ini suasana hati Dara memang sedang tidak stabil, sehingga ia gampang sekali tersulut emosi. Beruntung, Dara masih ingat kalau Chika adalah sahabatnya sejak mereka duduk di bangku Sekolah Dasar. Jadi, bisikan-bisikan setan yang membujuk Dara untuk melempari Chika menggunakan mouse itupun berhasil ia abaikan.
Seakan tak merasa telah melakukan kesalahan apapun, Chika kembali berujar, “Emang apa urusannya buat gue?”
Mendengar ucapan Chika, Dara mengembuskan napas lelahnya, “Ka, ada etikanya ketika lo mau share kontak orang, baiknya lo tanya dulu sama yang punya kontak. Lagian, apa lo nggak inget gimana gue sama Iqbal dulu?” tutur Dara.
Dara menarik napasnya dalam, sebelum akhirnya ia kembali membuka suara, “Atau jangan-jangan lo sengaja?” tuduh Dara.
Chika tersentak. Perempuan itu bahkan sudah menegakkan punggungnya, merasa tak terima dengan tuduhan Dara yang menurutnya tidak bisa dibenarkan itu, “Gue emang selalu salah di mata lo ya, Ra,” ujarnya.
“Bukan gitu. Harusnya lo….” Dara belum sempat melanjutkan ucapannya sebab seseorang tiba-tiba saja memasangkan earphone di telinga Dara, lalu pada detik berikutnya kepalanya diarahkan untuk menghadap ke depan, di mana Pak Dwi sudah berdiri di sana dengan beberapa lembar kertas di tangannya.
“Udah mau mulai,” kata orang itu, membuat Dara menengadahkan kepalanya dan mendapati bahwa Arda adalah orang yang memasangkan earphone padanya, dan kini laki-laki itu tengah menatap kedua manik mata Dara dengan datar.
Dara membeku di tempatnya. Perempuan itu tidak menyela ataupun protes, sekali pun Arda sudah memotong pembicaraannya dengan Chika secara tidak sopan. Ya, lagian siapa juga yang mau memprotes saat diperlakukan semanis ini oleh orang yang disukai. Tapi sepertinya, hanya Dara yang merasa kalau perlakuan Arda tadi manis. Karena jika dilihat dari sudut pandang mana pun, wajah Arda yang menatap Dara dengan datar itu tidak ada manis-manisnya sama sekali.
Arda yang memang melakukan hal itu hanya untuk membantu Pak Dwi agar suasana di ruangan menjadi kondusif itu pun memilih untuk beranjak dari hadapan Dara, meninggalkan perempuan itu yang sampai saat ini masih menatap punggun Arda yang kian menjauh.
Seakan mendapat efek slow motion, perlahan Dara menarik kedua ujung bibirnya dengan tipis, namun ia tetap berusaha agar tidak terlalu kentara kalau saat ini sedang tersenyum. Malu lah, karena sejak tadi Reina sudah menyembulkan kepalanya, untuk melihat adegan tatap-tatapan yang dilakukan oleh Dara, sahabatnya dengan Arda, si anak magang yang dinginnya sebelas dua belas dengan kulkas di rumahnya.
“Udah, Ra. Kedip, ntar mata lo pegel,” celetuk Reina sembari menusuk-nusuk punggung Dara menggunakan jari telunjuknya, membuat perempuan itu menoleh ke arah Reina dan mendengus pelan.
“Silakan dicheck aerphone masing-masing, sudah berfungsi atau belum. Sebentar lagi kita mulai ulangannya,” kata Pak Dwi ketika suasana di dalam Laboratorium Komputer itu sudah kondusif, sehingga bisa segera memulai ulangan materi listening-nya.
Mendengar suara Pak Dwi, Dara lantas kembali memutar tubuhnya untuk menghadap ke depan. Namun sebelum itu, ia melirik sebentar ke arah Chika yang sudah mengenakan earphone-nya.
Entah mengapa, Dara merasa kalau kini Chika terlihat seperti orang yang berbeda, apalagi ketika perempuan itu menatapnya dengan datar dan dingin, tidak seperti Chika yang Dara kenal dengan tatapan mata yang hangat dan senyum yang lembut.
*