Setiap akhir pekan wilayah Lembang akan ramai oleh pengunjung dari luar kota. Seperti saat ini, beberapa villa yang letaknya tidak jauh dari rumah Jinora terlihat ada beberapa mobil dengan nomor kendaraan luar kota datang. Jinora sedang duduk bersantai di teras rumahnya. Ia tengah membaca sebuah buku novel untuk mengisi waktu luangnya saat ini.
"Non, nggak jalan-jalan? Biasanya keliling kebun," ujar Mang Ujang.
"Nggak ,Mang. Lagi males."
"Mang Ujang mau ke pasar, Non Nora mau titip apa?" tanya Mang Ujang.
"Ehm, titip siomay ya, Mang. Tapi jangan pedes-pedes."
"Siap atuh," ucap Mang Ujang sembari memberi hormat pada Jinora.
Setelah kepergian Mang Ujang ke pasar, Jinora kembali membaca buku yang ada di tangannya. Lalu ... tidak lama setelah itu, seekor satwa binturong muncul di halaman rumahnya. Suara binturong itu membuat Jinora terkejut dan mengalihkan pandangannya pada satwa itu.
"Loh ... kok ada binturong di sini? Punya siapa ya?" gumam Jinora.
Wanita itu berjalan perlahan mendekati binturong itu. Takut jika satwa itu masih liar, Jinora mendekat dengan sangat perlahan agar tidak membuat satwa itu takut pada dirinya. Ternyata kenyataan tidak seperti yang Jinora pikirkan, satwa itu berjalan mendekati Jinora lalu memberikan gerakan seakan ingin dimanja.
"Wah, udah jinak ternyata," ujar Jinora.
Jinora dengan perlahan menggendong satwa itu, lalu membawanya ke teras rumah. Karena sangat menyukai satwa liat, Jinora sangat memanjakan binturong itu. Berharap jika pemiliknya seorang yang baik hati, sehingga ia bisa terus bertemu dengan satwa itu.
Setelah satu jam berlalu, seorang pria datang mendekati rumah Jinora. Ia tersenyum saat melihat satwa miliknya bisa dekat dengan orang asing.
"Ano tidak biasanya mau didekati orang asing," ujar seorang pria yang kini berdiri didepan rumah Jinora.
"Ano?" ulang Jinora.
"Ya, nama binturong itu Ano. Satwa itu milikku," jelas pria itu.
"Maaf aku tidak tahu, satwa ini tiba-tiba saja masuk ke halaman rumahku," terang Jinora.
"Tidak apa-apa, sepertinya kau sangat suka dengan satwa," ujar pria itu.
Jinora tersenyum lalu menjawab ,"aku menyukai mereka karena aku seorang dokter hewan. Sebelum ini aku bekerja di Taman Safari Bogor."
"Benarkah? Keren dong."
"Biasa aja. Mau dibawa pulang ya? Padahal aku masih mau main sama Ano," ujar Jinora dengan nada kecewa.
"Villa keluargaku ada di sebelah sana, jika kau mau ... di sana ada banyak sekali satwa liar milikku," ujar pria itu.
"Kamu serius?"
"Kita belum berkenalan, namaku Eshan," ujar Eshan sembari mengulurkan tangannya.
Jinora meraih tangan Eshan lalu memperkenalkan dirinya, "Jinora, kamu bisa panggil aku Nora."
"Kamu mau ikut aku ke villa?" tanya Eshan.
"Boleh?"
Eshan mengangguk menjawab Jinora. Seperti anak kecil yang mendapatkan permen, Jinora terlihat sangat senang saat pria itu mengajak dirinya untuk melihat satwa liar di sana.
"Boleh aku gendong Ano sampai villa?" tanya Jinora.
"Boleh, kalau capek bilang ya? Ano pasti berat," ujar Eshan.
"Gapapa."
Mereka berjalan kaki menuju villa Eshan. Selama berjalan menuju villa, keduanya saling melontarkan pertanyaan.
"Aku sudah sering kemari, dan selalu melihat rumah itu kosong. Apa kau baru saja datang kemari?" tanya Eshan.
"Iya, baru satu minggu aku di sini."
"Pantas saja, apa kau berencana untuk tinggal di sini selamanya?" tanya Eshan lagi.
"Entahlah, aku juga harus mencari pekerjaan tentunya. Mungkin aku akan membuka praktek dokter hewan di sini," ujar Jinora.
"Hmmm, menarik."
"Kamu sendiri, apa pekerjaanmu?" tanya Jinora.
"Aku seorang pengusaha, jika kamu bertanya apa usaha yang aku jalankan. Ada banyak sekali, karena aku harus memegang dua perusahaan. Bisnis keluarga dan milikku sendiri," jelas Eshan.
Jinora mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu ia merasa kebas pada tangan kanannya. Ternyata binturong itu memang berat, dan Jinora terlihat seperti menahannya.
"Kemarikan Ano, aku tahu jika kamu merasa lelah karena menggendongnya," celetuk Eshan sembari meraih Ano.
"Maaf."
"Kok minta maaf?"
"Ano ternyata berat," ucap Jinora.
Eshan terkekeh mendengar ucapan Jinora.
Akhirnya mereka sampai di villa milik keluarga Eshan. Jinora melihat ada banyak sekali ornamen islami di sana. Bisa dipastikan jika keluarga Eshan beragama islam. Jinora sedikit merasa tidak enak karena suasana di sana sangat kental dengan nuansa islam.
"Maaf , kamu islam?" tanya Jinora.
"Iya. Kenapa?" tanya Eshan balik.
"Nggak, cuma tanya aja. Ada banyak sekali hiasan berbau islam," celetuk Jinora.
"Iya. Kamu ...."
"Aku kristen," sahut Jinora.
Eshan mengangguk mengerti ,lalu ia tersenyum dan mengajak Jinora menuju kandang tempat satwa liarnya berada.
"Astaga!" seru Jinora saat melihat ada tiga harimau yang berada di dalam kandang.
"Kenapa?" tanya Eshan.
"Kaget, kok bisa sih?"
"Hahaha ... kamu lucu ya?" celetuk Eshan.
"Biasanya kan lihat satwa ya di Taman Safari atau kebun binatang gitu, lah ini di belakang rumah," celoteh Jinora.
"Aku punya izinnya kok," ujar Eshan.
"Iya, aku tahu. Kalau tidak ada, mana mungkin kamu berani ajak aku ke sini," sahut Jinora.
Mereka bermain bersama ketiga harimau milik Eshan. Eshan memohon izin melalui BKSDA Jawa Barat untuk pemeliharaan sekaligus sebagai indukan penangkaran Harimau benggala yang diperoleh dari Kebun Binatang Bandung. Harimau tersebut sudah dilakukan tes DNA di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk memastikan jenis harimau yang diminta Eshan. Pihak LIPI mengatakan bahwa Harimau tersebut bukan jenis Harimau sumatra yang termasuk satwa dilindungi.
"Mau cerita gimana caranya kamu bisa dapet izin untuk memelihara mereka?" tanya Jinora ingin tahu.
"Awalnya aku cuma punya satu, dan itu tanpa ada izinnya. Waktu ada sayembara yang diadakan oleh pihak kebun binatang, aku tertarik untuk mengadopsi satu lagi, sebagai jodoh harimau yang bernama Chila. Tapi, pihak kebun binatang justru menyita Chila, dan menyuruh aku untuk mengurus surat adopsi yang sama dengan jantannya," jelas Eshan.
"Yang jantan siapa namanya?" tanya Jinora.
"Namanya Amir, usianya saat itu masih belum genap satu bulan. Dan karena Chila disita waktu itu, aku bertekad untuk benar-benar mengadopsi mereka. Aku harus menyediakan kebutuhan mereka selama satu tahun, dan semua itu dalam bentuk makanan, bukan uang. Bukannya aku gak percaya sama pihak kebun binatang, tetapi memang akan lebih lega jika memberi yang memang dibutuhkan harimau itu. Setelah satu tahun usia Amir, akhirnya aku bisa membawanya kemari dan mendirikan penangkaran harimau benggala di sini," lanjut Eshan.
Jinora terlihat sangat serius saat mendengarkan kisah pria itu dalam mengadopsi harimau benggalanya. Jinora juga melihat ada banyak jenis satwa liar yang Eshan adopsi selain harimau. Burung unta, rusa, merak dan masih banyak satwa lainnya termasuk binturong bernama Ano itu.
"Pagi, siapa nih?" tanya seorang wanita paruh baya yang menghampiri Jinora dan Eshan.
"Mama, kenalin ini Nora. Rumahnya disekitar sini," jelas Eshan.
"Oh ya? Ano ketemu dimana?" tanya wanita itu.
"Di rumah saya, Tante," sahut Jinora.
"Kok bisa? Biasanya Ano jahat loh kalau sama orang baru," ujar wanita itu.
"Ano manja banget malahan ama Nora tadi," sahut Eshan.
"Ajak masuk gih, masak tamu di sambutnya di kandang gini," celotehnya.
"Hahaha, iya, iya ,Ma."
Jinora sedikit menundukkan kepalanya, lalu akhirnya mereka berjalan masuk ke dalam rumah milik keluarga Eshan. Di dalam sana, Jinora disambut dengan sangat baik. Keluarga Eshan sangat ramah pada orang baru seperti Jinora. Hal itu membuat Jinora sedikit mengingat keluarga John yang juga akrab dengan dirinya.
Wanita itu bernama Shahira, atau biasa dipanggil Ira oleh beberapa kenalannya. Ira adalah wanita yang hangat dan juga murah senyum. Ia memiliki tiga anak, dan Eshan adalah anak bungsunya. Sementara kedua anak lainnya menetap dan menikah di luar negeri. Keluarga itu dikenal karena sikap murah hatinya terhadap orang-orang yang tidak mampu atau miskin. Biasanya mereka akan mengadakan kegiatan berbagi saat hari jum'at.
"Diminum ,sayang."
"Iya, Tante. Makasih," jawab Jinora sedikit canggung.
"Udah berapa lama di Bandung?" tanya Ira.
"Baru satu minggu ,Tan. Rencana mau menetap di sini, karena rumah peninggalan orang tua, dan Nora anak tunggal," jelas Jinora.
"Astaga, maaf ya? Tante nggak tahu," ucap Ira menyesal.
"Eh ... nggak apa-apa kok Tante. Jangan gak enak gitu, Nora jadi nggak enak juga ini," ujar Jinora.
Ira tersenyum melihat wajah Jinora yang cantik. Ira selalu menginginkan anak perempuan, sayangnya ia hanya memiliki tiga anak laki-laki. Ira selalu menyambut semua teman wanita Eshan dengan sangat baik. Berharap salah satu dari teman-temannya itu adalah jodoh Eshan.
"Eh, Nora. Gimana kalau kamu kerja di sini? Jadi dokter pribadi satwa liar punya aku," celetuk Eshan.
"Hah? Kamu yakin? Ta-tapi aku ...."
"Aku gak nyuruh kamu buat jawab sekarang kok, jawabnya kalau kamu udah siap aja," sahut Eshan.
Jinora tersenyum dan mengangguk mengerti. ia juga mengacungkan jempolnya untuk menjawab Eshan.
Setelah dua jam di rumah keluarga Eshan, Jinora harus segera berpamitan untuk pulang. Sementara itu, Ira merasa kecewa saat Jinora ingin segera pulang ke rumahnya. Beberapa kali Ira mencari alasan agar Jinora mau tinggal beberapa menit lagi. Tetapi sayangnya hal itu tidak berhasil, Jinora tetap harus pulang ke rumahnya, karena pasti Bik Ijah akan mencari dirinya.
"Nora pulang dulu ya, Tante?" pamit Jinora.
"Iya, kalau bisa ... kamu terima aja tawaran Eshan, biar Tante ada temennya kalo kamu di sini," celetuk Ira.
"Mama apaan sih!" sahut Eshan.
"Gak apa-apa lagi, Shan! Jinora aja nggak keberatan, kenapa kamu yang sewot sih?" ujar Ira.
Jinora terkekeh mendengar percakapan kedua orang itu, beberapa saat kemudian ia segera melangkah pergi dari sana untuk kembali ke rumahnya.