#3 : Sebagai Pasangan

1543 Kata
KEMBALI KE SAAT INI... Tak ada seorang pun yang berbicara selama di dalam mobil. Trevor yang berada di balik kemudi sejak tadi diam tak juga membuka pembicaraan, begitu pun dengan Lily. Lily yang semula menolak keras tawaran Trevor untuk mengantarnya pulang, kini tak bisa mengelak lagi karena bosnya itu ingin membahas hal penting tentang perkatannya ketika masih berada di kamar hotel, yang membuat kepala Lily serasa mau meledak karena memikirkannya. "Tapi sepertinya kamu melupakan satu masalah penting, Lily. Bagaimana jika kamu malah mengandung anakku?" Kalau saja tidak ada Pak Trevor di sini, Lily sudah pasti akan membenturkan kepalanya ke jendela mobil sekarang. 'Kenapa aku bisa bodoh sekali, sih? Kalau sudah begini bagaimana dengan masa depanku bersama Rama?! Aarrggghh!! Stupid me!' Suara deheman pelan yang keluar dari bibir Trevor membuat Lily berhenti mengutuk diri sendiri dalam hati. "Lily, saya--" Suara dering pelan ponsel yang tiba-tiba terdengar memotong ucapan lelaki itu. "Sebentar ya. Saya angkat telepon dari Ethan dulu," ucap Trevor setelah mengecek siapa yang meneleponnya. "Halo, Ethan." "Maaf, semalam Daddy harus bekerja lembur dan lupa memberitahu kamu." "Um... ya, tentu saja Daddy lembur sama Tante Lily." Trevor melirik Lily penuh arti, namun wanita itu malah membuang wajahnya ke arah jendela. "Apa? Kenapa hari ini kamu malas sekolah?" "Okay, begini saja. Bagaimana kalau hari ini kamu ke kantor Daddy sepulang sekolah? Deal?" "Good. That's my boy! See you after school, Champ!" Ketika Trevor mematikan sambungan teleponnya, lelaki itu kembali melirik Lily yang masih saja menatap ke jendela. "Ethan akan ke kantor sekitar jam 11 siang ini. Dia agak marah karena semalam saya tidak pulang," tutur Trevor, yang membuat Lily kembali menatapnya. "Apa perlu saya booking makan siang di resto kesukaan si anak set--maksud saya, Ethan?" Tawar Lily, yang hampir saja keceplosan menyebut Ethan sebagai 'anak se-tan'. "Ide bagus, Lily. Tolong lakukan itu." Lily pun mengangguk. Ia sudah hapal kalau Ethan menyukai resto seafood bakar yang berjarak hanya sekitar 3 kilo meter dari Gedung Bradwell Company. "Noted, Pak." Lily mulai mengeluarkan ponselnya untuk mencatat. "Jadi, Lily. Soal semalam--" Lagi-lagi ucapan Trevor pun terputus saat saat suara dering ponsel kembali terdengar. Namun kali ini, milik Lily. "Maaf, Pak. Boleh saya terima dulu? Ini dari... uhm, tunangan saya." Lily sengaja menekankan kata 'tunangan', meskipun tidak terlalu mengerti maksud serta tujuan dirinya berbuat seperti itu. Mungkin ia hanya memberi 'batas' yang sudah sepantasnya tidak dilanggar antara dirinya dan Trevor. Ya... memang, meskipun sekarang sudah terlambat kalau membicarakan soal 'batas', karena mereka berdua telah menabrak batas itu. Trevor tidak menjawab, atau pun untuk hanya sekedar mengangguk. Ia hanya diam tak bergeming dengan pandangan lurus ke jalanan di depannya, seakan berpura-pura tuli. 'Ah, bodo amat. Lagipula aku bukannya benar-benar minta ijin sih, cuma basa-basi juga ish,' batin Lily dalam hati. "Halo, Ram." "Halo, Sayang. Bukain pintunya dong. Aku di depan pintu unit kamu nih." "Apa? Kamu... sedang di depan apartemenku??" Sontak wajah wanita itu pun memucat. Sial! Ngapain juga sih Rama sudah ke apartemennya sepagi ini?? "Oh. Itu... sebenarnya aku nggak ada di apartemen..." "Loh? Kamu dimana pagi-pagi begini sudah pergi? Aku jemput ya?" "Eeh... nggak perlu. Sebenarnya... semalaman aku lembur di kantor." Dan akhirnya Lily pun menggunakan alasan yang sama dengan Trevor karena sudah terdesak dan tidak mampu berpikir lagi. "Ya ampun. Kenapa nggak bilang aku, sih? Kan aku bisa menemani biar kamu nggak sendirian, Sayang!" Lily menelan ludahnya yang terasa sangat berat ketika mendengar nada penuh perhatian dari tunangannya itu. Lambungnya mendadak terasa sangat berat dan agak nyeri. 'Duh, kenapa serasa seperti habis menelan barbel, sih??' Batin Lily sambil meringis. Ia merasa sangat bersalah kepada Rama, dan takut sekali jika tunangannya itu mengetahui apa yang terjadi semalam. "Aku nggak sendirian kok, Ram. Ada banyak staf juga yang sama-sama lembur," sahut Lily akhirnya, yang semakin dalam terjerumus pada lubang kebohongan. "Staf? Lalu apa CEO kamu itu juga ikut lembur?" "Iya," jawab Lily yang keceplosan tanpa dipikir lagi. Double sial! Ia benar-benar lupa kalau Rama seringkali merasa cemburu dengan bosnya itu, dan dia malah dengan polosnya terjebak dalam pancingan lelaki itu. "Oh. Ok. Aku tutup dulu ya. Selamat bekerja, Sayang. Jangan lupa sarapan supaya maag kamu nggak kumat." KLIK. Dan sambungan telepon itu pun ditutup begitu saja oleh Rama, tanpa sempat Lily menyahutnya. Hhh... dari nada suaranya yang dingin walaupun masih tetap perhatian, Lily bisa memastikan kalau Rama kesal padanya. Dan kalau sudah ngambek begitu, biasanya Rama bakal baik sendiri sih. Walaupun waktunya agak lama. "Memangnya kamu tidak punya alasan lain? Kenapa malah jadi copy paste kebohongan saya?" Celetuk Trevor tiba-tiba. "Memangnya dilarang ya, Pak?!" Ketus Lily dengan membelalakkan matanya. Trevor menahan senyum melihat wajah Lily yang mulai menatapnya galak. Ia suka melihat bagaimana manik coklat yang cantik itu berkilat-kilat penuh semangat dan bibir sensual itu mengerucut saat sedang emosi. "Tidak ada yang melarang kok. Cuma, yaa~~ kurang kreatif saja," tukas Trevor dengan nada santai, yang semakin membuat Lily kesal. 'Ck. Untung bos. Kalau enggak udah aku jedotin tuh muka bulenya biar rata!' Sungut bar-bar Lily dalam hati. Bola mata Lily kembali melebar ketika baru menyadari kalau arah yang dituju mobil Trevor bukanlah ke kantor, malah semakin jauh dari tempat kerjanya. "Kenapa kita ke sini, Pak?" Tanya Lily bingung, ketika Trevor membelokkan Aston Martin-nya masuk ke dalam area parkir sebuah butik desainer ternama di Indonesia. "Kamu tadi menolak untuk diantar pulang dan lebih memilih langsung menuju kantor, kan? Memangnya kamu yakin mau menggunakan baju yang sama dengan yang kemarin? Apalagi tanpa pakaian dalam. Saya saja bisa melihat bentuk n****e kamu dari jarak segini, Lily," cetus Trevor kalem, seakan hal yang ia katakan bukanlah hal yang tabu dan memalukan bagi Lily. Sontak wanita muda itu pun menutupi bukit kembarnya dengan tas sembari melemparkan pandangan mendelik siap untuk berdebat. "Pak Trev--" "Sudah sampai. Cepat turun, jam kerja sudah semakin dekat dan kita bahkan belum sempat sarapan," ucap Trevor sembari membuka pintu mobil dan keluar. Lily hanya bisa berdecak sebal karena bos bulenya itu yang memotong perkataannya begitu saja. Namun kalau dipikir-pikir ada benarnya juga sih. Alasan Lily yang tidak mau pulang ke apartemennya adalah karena waktu. Jarak tempat tinggalnya itu lumayan jauh, sementara jadwal pekerjaan hari ini sangat padat dari pagi hingga petang. Tadinya Lily bermaksud untuk membeli sendiri pakaian dalam di sebuah toko baju tidak jauh dari kantornya, dan kebetulan ia juga menyimpan satu stel kemeja dan rok di dalam laci meja kerjanya. "Lily." "Ya, Pak?" Trevor mengambil dompet dari sakunya, lalu menyerahkan benda itu ke tangan Lily yang kaget saat menerimanya. "Ini... apa, Pak?" Tanya Lily bingung. "Dompet." "Iyaa, saya juga tahu kalau ini dompet!" Desah Lily yang mulai kesal lagi dengan jawaban bosnya. Tentu saja ia tahu, karena dompet bermerk Smythson seharga 16 juta itu adalah pilihannya saat Trevor hendak membeli benda itu dan meminta pertimbangan Lily. "Tapi maksudnya kenapa Pak Trevor menyerahkan dompet Bapak ke saya??" "Oh. Saya minta tolong kamu bayarkan semua yang mau kita beli hari ini," jelas lelaki bersurai pirang redup itu sembari membetulkan letak kaca mata LV-nya. "Saya sekalian membeli beberapa stel jas lengkap dengan kemeja dan celana panjang, mungkin akan memakan waktu. Jadi untuk soal pembayarannya saya serahkan kepada kamu. Ambil kartu yang mana saja di sana." "Uhm... tapi bukannya lebih baik Pak Trevor saja yang mengambilkan salah satu kartunya untuk saya pegang? Bukan malah sama dompet-dompetnya," kilah Lily. Trevor melirik jam tangan Bell & Ross-nya sambil menghela napas. "Kita mau meneruskan perdebatan ini atau segera bergegas karena waktu kerja yang sebentar lagi akan dimulai?" Lily pun akhirnya diam dan membiarkan bosnya itu berlalu ke lantai atas, lantai dimana busana pria berada. Maniknya kemudian menatap dompet dengan material kulit terbaik itu dengan seksama, lalu dengan perlahan dan hati-hati ia pun membukanya. Damned! Ia tahu kalau seorang Trevor Bradwell sangat kaya raya sejak dari lahir karena mewarisi perusahaan raksasa Bradwell Company, tapi tetap saja ia bengong ketika melihat beberapa black card dari berbagai bank yang tersusun rapi berjejer di sana. Bukan satu, bukan dua, bukan tiga. Tapi delapan?? Ck, ck. Seketika Lily pun merasa dirinya bagai serpihan serbuk Masako dibandingkan Pak Trevor yang bagaikan telur ikan Caviar Almas yang katanya harganya 500 juta per kilogram. Ini apa tidak salah ya? Pak Trevor dengan santainya memberikan dompetnya kepadaku? Apa dia nggak takut salah satu black cardnya aku ambil buat beli villa di Bali?? "Lily, mau sampai kapan kamu cuma berdiri saja di situ? Kita harus cepat karena waktu terus berjalan," tegur Trevor yang melongokkan wajahnya menatap Lily dari void di lantai dua. "Eh, iya. Ini saya baru mau cari," ucap Lily yang nyengir malu karena ketahuan bengong melihat isi dompet sultan baginda. Namun baru dua langkah ia berjalan, seorang wanita modis berambut bob mencegatnya dengan penuh senyum ramah di wajahnya. "Maaf, Nona Lily. Tuan Bradwell tadi meminta kami untuk membawa Anda ke bagian VVIP. Mari ikuti saya," ucapnya. Lily pun akhirnya mengikuti wanita itu, yang ternyata membawanya ke sebuah ruangan luas yang dipenuhi busana-busana cantik dan gaun-gaun berkilau yang sangat indah. "Maaf, tapi sepertinya ada kesalahan di sini," cetus Lily sembari mengernyitkan keningnya. "Yang saya cari adalah pakaian untuk bekerja, bukan gaun pesta." Wanita itu pun kembali tersenyum. "Pakaian kerja untuk Anda telah disiapkan di kamar ganti, Nona. Tuan Trevor Bradwell tadi berpesan agar Nona juga mencoba berbagai koleksi gaun couture edisi terbatas di butik kami, karena malam ini Nona akan mendampingi Beliau sebagai pasangannya untuk hadir di acara pernikahan salah satu kolega dari Tuan Trevor."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN