#48 : Sebuah Pengakuan

1890 Kata

"Rama." Suara sapaan lembut dan sentuhan pelan di lengannya, membuat lelaki yang tertidur di depan pintu itu pun sontak menggerakkan tubuhnya. Rama terbangun dan melihat seraut wajah cantik yang ikut berjongkok di sampingnya dengan tatapan sendu. Untuk sejenak, mereka saling bertatapan, sebelum Rama menyadari bibir Lily yang lecet di sudutnya dan agak bengkak, serta jaket laki-laki kebesaran yang gadis itu kenakan. Jika saja tidak ada banyak pertanyaan yang bersliweran di kepalanya, Rama pasti akan langsung memeluk serta mencium Lily, karena gadis itu justru terlihat menggemaskan dalam baju yang kedodoran begitu. Maka alih-alih tersenyum, Rama justru menatap Lily dengan wajah datar dan bibir yang terkatup rapat. "Kamu tidur di sini semalam?" Lily pun kembali berkata, karena Rama ya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN