Illeana mengulur waktu untuk membacanya, bahkan sama sekali tak berminat. Sekilas, tadi dia membacanya, hanya merasa isi kertas lipat itu tidaklah penting, yang lebih penting adalah, bagaimana perasaan Illeana. “Hei, baca itu, atau aku yang baca sendiri?” Jasmine semakin tak sabar menunggu Illeana. “Kalau kau menyuruh aku melakukan apa lagi, atau kau punya alasan lain lagi untuk mengulur waktu, ayolah, Na, kau pikir aku tak menyadarinya?” omel gadis itu. “Yah, apa yang penting di dalam sini?” tanya Illeana melambaikan kertas tersebut. “Memangnya tak penting? Sini, biar aku yang baca!” seru Jasmine mengambil kertas lipat itu dari tangan Illeana. Jasmine membacanya dalam diam, dan Illeana seolah tak peduli padahal melihat ekspresi serius Jasmine membuat dia ingin tahu tapi di tahannya.

