“Itu William ya?” tebak Jasmine. Illeana mengangguk, membenarkan apa yang gadis itu tebak. Jasmine tersenyum kecil dan menunggu apa yang akan Illeana ceritakan selanjutnya. “Jadi, aku bertemu dengannya di hari ke tujuh Ayah dan Ibu meninggal. Pria itu …,” Illeana menjeda hanya untuk tertawa kecil mengingat pertemuan pertamanya dengan William. “Apa? Apa yang lucu?” Jasmine ingin tahu. “Penampilan dia tak sekeren sekarang,” aku Illeana seraya menurunkan kadar senyumannya. “Dia terbilang pria yang nakal. Kata Nenek, dia di kirim ke sana sebagai hukuman dari orang tuanya. Dulu aku tak tahu kalau dia ternyata kaya, karena dia atau pun Nenek sama sekali tidak menceritakan latarnya,” lanjut Illeana. Seperti apakah penampilan William sepuluh tahun, ah, tidak, lima belas tahun lalu ketika

