“Hanya karena?” Illeana membalas tajam mengarahkan tatapannya pada William. “Hanya karena satu kesalahan?” katanya. William tak menjawab, membiarkan gadis itu mengatakan sesuatu. “Hanya karena orang lain yang membuat kesalahan, aku lantas angkat tangan? Tidak! Kesalahan itu, membawa kerugian yang melibatnya banyak orang. Bila perusahaan mengalami kerugian, lantas bagaimana nasib mereka yang bekerja keras selama ini? Satu kesalahan mungkin bisa ditoleransi asalkan itu tak memberikan dampak besar yang merugikan orang lain,” papar Illeana dengan nada marah atas komentar William. Gadis itu mengambil napas melihat William hanya diam dan membalas tatapan tajam Illeana itu. “Selagi aku bisa memenimimalisasi kerugian itu, kenapa tidak aku coba? Aku tak memikirkan diriku? Jika kerugian itu t

