Ketika terdengar bel istirahat berbunyi, Lydia bergegas meninggalkan tempat duduknya dan berjalan menghampiri Robert yang masih mengerjakan tugas di mejanya. “Bert, pulang sekolah temuin gua di gudang ya,” ujar Lydia dengan suara manja.
“Nggak bisa! Gua udah ada janji,” sahut Robert tanpa mengangkat kepala dan tetap fokus mengerjakan tugas.
Lydia mendengkus kasar melihat sikap tak acuh Robert. “Emang ada janji sama siapa? Gua cuma perlu sebentar kok, paling lama juga sepuluh menit, bisa kan?” Lydia mencoba merayu Robert supaya mau menemui dirinya sepulang sekolah, walaupun dongkol dengan perlakuan pemuda itu.
Robert yang merasa terganggu dengan kehadiran Lydia, mengangkat kepala dan menatap tajam pada gadis itu. “Mau ngomong apaan sih?! Bilang aja sekarang!”
Lydia mendelik demi mendengar jawaban dingin Robert. Namun, dia masih berusaha menahan emosi, dan tetap berpura-pura manis. “Rahasia,” sahutnya dengan suara manja. “Kalo penasaran, temuin gue di gudang.”
Tidak suka dengan cara bicara dan sikap berlebihan Lydia, Robert menutup buku dan pergi meninggalkan kelas. Melihat kelakuan Robert yang dingin, membuat Lydia semakin kesal. Sambil mengentakkan kaki, dia meninggalkan meja Robert dan kembali ke tempatnya.
Lydia benar-benar merasa terhina karena ada cowok yang tidak menganggap dirinya. “Liatin aja,” gumam Lydia gusar. “Apapun yang terjadi, gua pasti bisa bikin elo dateng ke gudang nanti siang!”
Lydia meninggalkan kelas dan mencari ketiga temannya di kantin. Dia melihat Fanny, Ria, dan Mesya tengah duduk di meja, menikmati makanan sambil mengobrol seru. “HEH, kenapa elo orang di sini semua?!” Lydia duduk di bangku panjang dengan kasar.
Ria, Fanny, dan Mesya saling berpandangan dengan bingung melihat sikap Lydia. “Kenapa Lyd?” tanya Fanny yang memang paling dekat dengan Lydia dibanding Ria dan Mesya.
Lydia memukul meja dengan telapak tangan. “Pikirin caranya biar nanti siang Robert mau dateng ke gudang buat nemuin gua!”
“Kita?” tanya Fanny antara bingung dan terkejut.
“Emang ada orang lain lagi selain kalian?!” bentak Lydia melampiaskan kekesalannya pada ketiga temannya. “Cepet mikir!”
Fanny, Ria, dan Mesya tidak berani bertanya lagi. Mereka memilih diam saat Lydia seperti ini. Karena jika bertanya atau berkata lagi, yang ada gadis itu akan semakin marah, dan kata-katanya akan semakin kasar.
“Gimana kalo kita ambil Rea dan jadiin itu anak sebagai jaminan? Dengan begitu kan Rio pasti mau dateng.” Ria memberikan ide pertama kali sambil tersenyum puas.
“Elo tuh d***u apa gimana sih?!” bentak Lydia emosi ketika mendengar ide Ria. “Elo kan tau sendiri kalo itu anak bisa berantem! Apa elo udah lupa gimana rasanya waktu di kamar mandi?!”
Ria menundukkan kepala karena malu dengan perkataan Lydia ang diucapkan dengan suara keras, sehingga anak-anak lain yang berada di kantin dapat mendengar ucapan Lydia.
“Tapi usul Ria boleh juga tuh Lyd,” ujar Fanny yang mencoba untuk menolong Ria. “Tapi bedanya kita nggak usah beneran bawa Rea. Cukup kita bilang aja kalo itu anak ada sama kita. Gimana?”
Lydia mendelik pada Fanny. “Robert nggak akan percaya kali. Kalian kan tau sendiri kalo Robert selalu nempel sama Rea.”
“Itu bisa diatur Lyd. Tinggal kita buat Robert nggak ketemu sama Rea, terus kita pastiin kalo itu anak udah nggak ada di sekolah pas elo mau ketemu sama Robert.”
Lydia yang tadinya ingin marah, langsung diam dan memikirkan perkataan Fanny. “Boleh juga usul lo Fan.” Lydia tersenyum manis sambil mengacungkan kedua ibu jarinya pada Fanny. “Sekarang tinggal mikirin gimana caranya bikin itu cewek ninggalin sekolah.”
“Gimana-” Belum sempat Mesy mengemukakan pendapat, bel masuk berbunyi. Mereka berdiri dan bergegas kembali ke kelas.
Sepanjang pelajaran, Fanny yang duduk dengan Lydia sibuk membahas tentang rencana menjauhkan Rea dari Robert sehingga Lydia dapat bertemu dengan pemuda itu. Begitu bel istirahat kedua berbunyi, Mesya dan Ria bergegas menghampiri meja Lydia.
“Gimana Fan, udah ketemu caranya?” Mesya langsung bertanya begitu duduk di kursi depan meja Lydia.
“Udah sih, tapi gua nggak yakin bakal berhasil apa nggak,” ujar Fanny.
“Emang apaan?” tanya Ria penasaran.
“Kita kirim orang ke Rea dan bilang kalo Sisca ada di kita, dan minta itu anak nemuin kita di luar sekolah sepulang sekolah, gimana?” Fanny menatap Ria dan Mesya.
“Tapi gimana caranya kita ambil Sisca dan bawa itu anak pergi dari sini?” tanya Mesya yang memang sedikit lamban dalam berpikir.
“Biar itu jadi urusan gua sama yang lain. Elo cukup tutup mulut dan bantuin kita!” ujar Lydia yang sudah setuju dengan maksud Fanny.
“Ya udah, gimana kalian aja,” ujar Mesya sambil mengangkat bahu. “Gua bakal ikutin kemauan kalian.”
Kemudian Lydia, Fanny, dan Ria membahas siapa orang yang akan mereka manfaatkan untuk menyampaikan pesan pada Rea, juga siapa yang akan mendatangi Robert serta memberitahu pemuda itu tentang Rea.
Sementara Mesya hanya duduk dan mendengarkan pembicaraan ketiga temannya sambil menikmati keripik yang dibawanya dari rumah. Ketika bel masuk berbunyi, Lydia tersenyum penuh kemenangan karena yakin usahanya kali ini pasti akan berhasil.
Begitu bel pulang berbunyi, Fanny bergegas meninggalkan kelasnya dan berjalan menuju kelas Rea. Dia harus memastikan jika rencananya berjalan dengan lancar. Tadi dia sudah meminta tolong pada salah satu adik kelas untuk membawa Sisca keluar dari sekolah sebelum pelajaran selesai, sehingga temannya yang lain dapat membuat Rea meninggalkan sekolah tepat waktu.
Fanny mengintip ke dalam kelas Rea dan melihat teman yang tadi diminta bantuan sedang membisikkan sesuatu pada Rea. Begitu melihat Rea bergegas menuju pintu. Fanny setengah berlari menuju salah satu pilar dan menunggu. Dia berjalan di belakang Rea dan mengikuti gadis itu hingga keluar dari gerbang sekolah. Fanny berdiri sejenak di dekat gerbang, memastikan Rea tidak kembali, setelah itu dia masuk ke dalam untuk menemui Ria dan Mesya.
***
Robert berjalan ke arah gudang yang berada di bagian belakang sekolah dengan langkah tergesa. Wajahnya terlihat begitu dingin dan kaku. Tadi salah seorang anak kelas 11-1 mendatangi dirinya dan mengatakan jika melihat Lydia cs membawa Rea ke gudang. Jika benar Lydia membawa Rea, maka Robert akan membuat perhitungan dengan gadis itu karena berani menyentuh Rea.
Robert membuka pintu gudang dengan keras dan masuk ke dalam sambil memperhatikan sekitar. Namun, dia tidak melihat ada orang, selain Lydia yang sedang duduk di atas meja yang sudah rusak.
Robert menghampiri Lydia dengan wajah memerah menahan emosi. “Mana Rea?!”
Lydia turun dari meja sambil tertawa lebar melihat raut wajah Robert. “Seperti yang elo liat, di sini nggak ada siapa-siapa, selain elo dan gua.” Lydia membuka lengannya lebar-lebar dengan gaya menyebalkan.
Robert mengepalkan kedua tangan mendengar jawaban Lydia. “Gua tanya sekali lagi, di mana Rea?!”
Lydia yang tadinya mencoba untuk bersikap manis, menjadi gusar karena Robert hanya peduli pada Rea, yang dianggap Lydia sebagai saingan untuk mendapatkan perhatian pemuda itu. “Kenapa sih cuma Rea doang yang elo pikirin?! Emang dia siapa elo sampe segitunya elo peduli?!”
Robert mengulum senyum dan mengangkat bahu dengan santai. “Kan elo udah tau kalo Rea itu pacar gua, kenapa masih tanya lagi? Dan gua ke sini mau jemput dia, karena ada yang bilang Rea ada di sini.”
“Gua sengaja nyuruh orang ngomong begitu ke elo,” ujar Lydia tanpa sedikitpun merasa bersalah karena sudah membohongi Robert. “Kalo nggak begitu, elo nggak akan mau nemuin gua di sini.”
“Jadi elo sengaja ngebohongin gua?!” Robert menatap dingin pada Lydia.
“Iya, kenapa? Apa masalah buat elo?!” Lydia menantang mata Robert. “Kenapa cuma dia yang elo liat?! Elo tau kan kalo gua udah suka elo sejak lama?! tapi elo nggak pernah mau terima rasa cinta gua?! Kenapa?! Gua lebih cantik, lebih kaya dari Rea. Gua punya segalanya yang nggak dipunya sama itu cewek!”
Robert memandang iba pada Lydia yang terlalu percaya diri dan merasa sempurna. “Karena hati nggak bisa dipaksain untuk jatuh cinta sama siapa. Gua suka sama Rea bukan karena apa yang dia punya secara fisik. Dia itu cewek yang berbeda, hatinya baik dan tulus. Dan itu yang nggak gua temuin di elo dan cewek-cewek yang coba ngedeketin gua.”
Lydia tersenyum sinis mendengar jawaban Robert. “Cih! Semua orang bisa pura-pura baik, nggak terkeculi itu cewek. Dia bisa aja nunjukkin di depan elo kalo dia baik, polos, dan lugu. Tapi siapa yang tahu yang sebenernya?! Karena cinta, elo udah dibutain sama itu cewek. Kita tunggu aja berapa lama itu cewek sanggup pura-pura baik.”
Robert tidak ingin menanggapi perkataan Lydia. Karena itu dia membalikkan badan dan meninggalkan gudang untuk mencari Rea. Di tengah perjalanan menuju tempat parkir, dia melihat Gerry yang berjalan ke arahnya.
“Elo dari mana Bet?” tanya Gerry setelah berada di hadapan Robert.
“Habis ada perlu. Kenapa?”
“Gua nyariin elo dari tadi tau. Elo nggak ada, Rea sama Sisca juga nggak keliatan dari tadi. Kayak pada janjian mau ninggalin gue.”
Robert tersenyum kecil mendengar perkataan Gerry. “Berisik lo! Yang penting kan sekarang gua udah di sini. Elo beneran nggak liat Rea?”
“Jiah, malah nanyain Rea,” dumel Gerry. “Gua nggak liat, mungkin udah pulang duluan. Kenapa elo nggak coba telepon?”
“Nggak usah. Gua langsung ke rumahnya aja sekarang.”
Robert berlari meninggalkan Gerry menuju ke tempat parkir. Dia mengendarai motor dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah Rea. Robert harus memastikan jika gadis itu sudah berada di rumah dan dalam keadaan baik-baik saja. Dia menghentikan motor di dekat g**g. Setelah melepaskan helm, Robert berjalan memasuki g**g dan terpaku saat melihat di depan rumah, tampak Rea sedang mengobrol dengan Calvin.
Sambil menahan rasa marah di d**a, Robert mendekati Rea. “Kenapa elo nggak nunggu gua dan pulang sendirian?!”
Rea menoleh dan terkejut saat melihat Robert menatapnya dengan galak. “Kok kamu ada di sini?”
“Gua nanya duluan, kenapa malah balik nanya?!”
“Kan kaget tau-tau liat kamu di sini.”
Robert menahan tawa melihat ekspresi wajah Rea yang menggemaskan. “Kenapa kamu pulang sama Calvin?” Robert melunakkan sikapnya dan kembali menyebut kamu pada Rea.
Calvin yang merasa situasi kurang baik, berusaha untuk menolong Rea. “Sori, tadi gua liat dia di jalan kayak orang bingung. Makanya gua anterin dia pulang.”
Robert menatap Rea “Kamu ada masalah?”
Rea menggelengkan kepala kencang-kencang. “Nggak ada kok.”
“Terus?”
Rea menggigit bibir karena tidak ingin menjawab Robert, apalagi memberitahu pemuda itu mengapa dirinya seperti orang bingung.
“Re?!” ujar Robert pelan.
“Aku lagi marah, kesel, dan rasanya pengen mukul orang, tapi nggak boleh.” Akhirnya Rea memberitahu juga apa yang membuatnya seperti itu.
“Emang kenapa?” tanya Calvin yang sedikit terkejut melihat ekspresi marah di mata Rea yang biasanya selalu tampak tenang.
“Tadi tuh ada yang bohong sama aku, bilangnya Sisca dibawa pergi sama Fanny. Pas aku cari taunya nggak ada, kan jadinya kesel. Apalagi pas telepon ke Sisca taunya dia udah ada di rumah. Apa nggak makin kesel dengernya! Jadi pengen mukul ke yang udah bohong kan.”
Robert dan Calvin kontan tertawa mendengar perkataan yang keluar dari bibir mungil Rea. Baru kali ini mereka melihat sisi lain Rea yang ternyata bisa emosi juga, bahkan sampai ingin memberi pelajaran pada orang yang sudah mencoba membohongi gadis itu. Dengan sikap Rea yang seperti itu, membuat rasa kagum dan cinta untuk Rea semakin bertambah besar di dalam hati Robert.