Membolos Bersama

1855 Kata
Seperti biasa, jam enam pagi Robert sudah tiba di depan rumah Rea untuk menjemput gadis itu ke sekolah. Baru saja dia ingin membuka pagar, Rea keluar dari rumah dengan wajah ditekuk. Robert tentu saja bingung melihat sikap dan wajah Rea yang seperti ini. Biasanya Rea selalu tenang, raut wajahnya juga terkesan datar. “Kamu kenapa?” tanya Robert saat Rea keluar dan menutup pagar. “Gapapa.” “Yakin? Muka kamu jelek banget soalnya.” Robert mengulurkan tangan hendak menyentuh pipi Rea. Refleks, Rea menjauhkan wajah sehingga Robert hanya menyentuh angin. Robert mengembuskan napas kecewa dengan penolakan gadis itu. Namun, dia mencoba menutupi perasaannya dan bersikap seperti biasa. “Kita berangkat sekarang?” “Boleh nggak sih nggak usah sekolah aja? Aku males banget, mood nya lagi nggak bagus.” Bukannya menjawab pertanyaan Robert, Rea malah mengajukan pertanyaan yang sangat di luar dugaan. Robert takjub mendengar ucapan Rea yang sangat ajaib itu. Bagaimana tidak heran, sejak dekat dengan Rea, belum pernah sekalipun gadis itu absen, kecuali sedang sakit. Namun, hari ini Rea malah tidak ingin datang ke sekolah. “Nggak mau sekolah?” ulang Robert. “Terus mau apa? Apa nggak takut diomelin sama nyokap?” Rea tersenyum sendu mendengar perkataan Robert. “Nggak akan,” sahutnya. “Bahkan mungkin mama nggak akan peduli aku tuh sekolah apa nggak,” lanjutnya dengan suara pelan. Robert menatap iba pada Rea yang saat ini tampak sedih dan seperti habis menangis. Sepertinya dia mengerti apa yang membuat gadis itu seperti sekarang, akan tetapi dia tidak ingin membahas apapun yang bisa membuat Rea semakin kacau. “Kalo gitu ya nggak usah sekolah hari ini. Gimana kalo kita pergi main aja? Kamu mau ke mana?” Rea mendongak dan menatap Robert yang jauh lebih tinggi darinya. “Berdua?” Tawaran dari Robert memang menarik, akan tetapi rasanya pasti cangung jika hanya berduaan saja. “Kamu mau ajak Sisca?” tawar Robert sambil mengulum senyum. “Emang bisa? Jam segini Sisca udah berangkat ke sekolah kali.” “Tenang aja, itu urusan gampang.” Robert mengambil ponsel dari saku celana dan langsung menghubungi Gerry, sahabat yang selalu tidak pernah menolak keinginannya. “Ger, elo ada di mana?” “Baru nyampe sekolah, kenapa? Elo belum berangkat?” “Gua mau minta tolong. Sisca udah dateng belum? Gua nggak mau tau gimana caranya, elo bawa itu anak ke g**g rumah Rea sekarang juga. Gua nggak mau denger alasan nggak bisa, oke?!” “Elo mau ngapain sama itu anak? Jangan macem-macem lo!” “Udah jangan berisik. Cepetan dan nggak pake lama.” Robert memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jaket dan menatap Rea dengan senyum lebar menghiasi wajah tampannya. “Beres. Sekarang elo mau apa sambil kita nunggu mereka berdua dateng?” Rea menatap Robert dengan pandangan tidak percaya. Semudah itu untuk seorang Robert mengiyakan keinginannya, bahkan tidak menanyakan alasan mengapa dia tidak mau sekolah. Mau tidak mau, hatinya mengakui jika Robert sebenarnya adalah pemuda yang baik, dan tidak dingin seperti yang selama ini didengarnya dari orang-orang. Melihat Rea hanya diam saja, Robert mengulurkan tangan dan menyentil kening gadis itu. “Sakit tau!” gerutu Rea sambil memegangi keningnya. “Siapa suruh bengong, kayak ayam yang lagi mau bertelur,” ledek Robert. “Nggak bengong kok, cuma lagi kaget aja, kok kamu dengan cepet bisa nyuruh Gerry bawa Sisca ke sini.” Rea menjawab asal karena tidak ingin pemuda itu mengetahui apa yang sedang dipikirkan olehnya. “Atau, jangan-jangan kamu udah sering begini ya?” Rea mengacungkan jari telunjuk ke wajah Robert. Robert mengambil jari telunjuk Rea dengan gemas. “Kalo iya kenapa?” tantang Robert. “Beneran?” tanya Rea tidak percaya. “Kamu sering kabur dari sekolah sambil bawa cewek juga?!” Robert mendengkus kasar mendengar tuduhan yang terlontar dari bibir Rea. “Kamu tuh mikirnya nggak bisa lebih jelek lagi dari ini?! Iya, aku sering bolos sekolah, tapi nggak pernah bawa cewek juga kali. Mana mau bawa pergi cewek yang nggak jelas. Ini tuh baru pertama kali aku mau kabur bareng sama cewek!” Rea mengerucutkan bibir mendengar penjelasan dari Robert. Terselip rasa tidak percaya di hati Rea tentang Robert, akan tetapi dia tidak ingin mendebat pemuda itu. Robert memperhatikan Rea dengan seksama dari ujung kepala hingga kaki, dan berhenti di seragam yang dikenakan gadis itu. “Kalo emang mau bolos, mending kamu ganti baju gih, supaya nggak ketauan dari sekolah mana.” “Kamu?” tanya Rea sambil memandang seragam yang dikenakan Robert. “Kan kamu juga pake seragam.” “Tenang aja,” sahut Robert sambil menyeringai. “Aku tinggal buka seragam, beres. Masa nggak liat kalo aku pake bajunya dobel?” “Ya udah kalo gitu aku masuk dulu, mau ganti baju.” Rea membuka pintu pagar, dan membiarkan Robert ikut masuk hingga ke teras. “Kamu tunggu di sini aja. Aku ganti baju sebentar, udah gitu keluar lagi.” Robert hanya mengangguk dan memilih duduk di kursi yang ada di teras. “Eh, sekalian buat Sisca,” ujarnya sebelum Rea menghilang ke dalam. “Iya.” Robert menunggu di teras sambil berpikir keras apa yang membuat Rea tampak kacau. Dan siapa yang sudah membuat suasana hati gadis itu berantakan. Belum sempat Robert menebak, Rea sudah keluar dengan mengenakan seragam untuk menutupi kaos merah muda di dalamnya sambil membawa paper bag di tangannya. “Mau langsung keluar atau duduk di sini dulu?” tanya Rea. “Mending tunggu di luar aja,” usul Robert sambil bangkit berdiri. “Nggak enak kalo diliat tetangga kamu nggak pergi sekolah. Nanti takut ada yang bilang ke nyokap.” Rea berjalan menuju pagar dan menunggu hingga Robert keluar. Mereka berjalan bersisian menuju depan g**g, menunggu kedatangan Gerry dan Sisca di dekat motor Robert. Rea sengaja berdiri di belakang Robert, supaya tidak terlihat oleh orang yang mengenalnya. Tidak lama kemudian, motor yang dikendarai tiba. Tampak Sisca melambaikan tangan ke arah Rea sambil tersenyum lebar. Gerry menghentikan motor tepat di sisi Robert. “Ngapain nyuruh gua dan Sisca ke sini?” tanya Gerry yang masih duduk di motor. Sisca turun dari motor dan mendekati Rea. “Kenapa elo nggak pake seragam Re?” tanya Sisca. Mendengar perkataan Sisca, Gerry memperhatikan Robert dan Rea yang sudah berganti pakaian dengan kaos, walaupun tetap mengenakan rok dan celana seragam, dan membawa tas sekolah. “Jangan bilang kalo mau ….” Gerry sengaja tidak meneruskan perkataannya, dan menunggu Robert memberitahu langsung padanya. “Iya. Elo mau ikut nggak?” “Siapa nolak. Segala sesuatu yang berbau kesenangan dan sedikit melanggar aturan, gua selalu suka.” Sisca yang sejak tadi mendengarkan, menarik ujung kaos Robert. “Tunggu! Tunggu!” serunya. “Ini sebenernya ada apaan? Gua masih belum paham.” Robert menepis tangan Sisca dari bajunya, kemudian menatap gadis itu. “Intinya Rea lagi males sekolah, dan gua nawarin dia jalan-jalan. Rea mau ikut asal ada elo. Puas?!” Sisca ganti menatap Rea. “Serius Re?!” “Iya. Kamu mau ikut nggak?” Sisca diam dan berpikir cukup lama. “Mau sih, cuma bingung nanti pas pulang sekolah. Kan gua selalu dijemput, terus kalo ketahuan gimana?” Dia menatap Rea, Robert, dan Gerry bergantian, meminta jawaban. Robert yang mendengar perkataan Sisca, menjadi gusar seketika. “Ribet banget sih jadi anak. Emang elo nggak bisa pulang sendiri?! Udah gede masih dianter jemput ke sekolah. Dasar manja!” Rea melotot pada Robert mendengar perkataan yang terlontar dari pemuda itu. “Kenapa ngeliatin gua?!” tanya Robert gusar. “Kamu ngomongnya kasar tau. Kan kita nggak tau kenapa Sisca selalu dianter jemput.” Robert menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan sabar mendengar teguran Rea. Sambil mengembuskan napas, dia berkata pada ketiga orang di dekatnya. “Jadinya mau pergi nggak?!” “Iya, gua ikut,” sahut Sisca pelan. Sikap Robert yang selalu dingin pada dirinya dan juga orang lain, membuat Sisca terkadang takut. Hanya pada Rea dan teman-temannya, Robert bisa bersikap ramah dan menyenangkan. “Ya udah kalo gitu berangkat sekarang,” ujar Robert sambil berjalan mendahului ke arah motor. Rea menahan Robert dengan memegang ujung kaos pemuda itu. Robert menahan langkah dan menoleh ke belakang. “Kenapa lagi?” tanyanya. “Sisca kan belum ganti baju.” Rea menatap temannya yang sudah berdiri di sisi Gerry. Robert mengembuskan napas panjang. “Nanti aja. Sekarang mending pergi dulu.” Mendengar perkataan Robert, tanpa banyak kata Gerry langsung menyalakan motor dan menunggu sampai Sisca naik dan duduk di belakangnya. Rea naik dan duduk di belakang Robert. Dia mendekatkan diri pada pemuda itu dan bertanya dengan suara pelan. “Kita mau ke mana?” “Ancol,” sahut Robert pendek. *** Rea duduk di ayunan sambil memandang jauh ke laut. Air mata mengalir dari kedua matanya, dan teringat kembali akan pertengkaran dengan Elly tadi pagi. Sebenarnya hanya masalah sepele, akan tetapi, hatinya terasa sakit dengan kata-kata yang diucapkan ibunya. “Ma, dua hari lagi kita ke makam papa ya.” “Mau ngapain?! Kamu kan tau kalo Mama sibuk! Kalo mau pergi, pergi aja sendiri, nggak usah ajak-ajak Mama!” “Mama kenapa sih begitu? Kenapa mama nggak pernah mau nengok papa? jangan pake alasan sibuk kerja Ma. Kan nengok papa nggak akan makan waktu seharian, paling cuma beberapa jam doang.” Rea mengeluarkan unek-unek yang sudah ditahannya sekian lama pada ibunya. “Apa Mama benci sama papa?! Emang apa kesalahan papa sampe Mama segitunya ke papa?! Tolong kasih tau Rea.” “Bukan urusan kamu!” Elly merasa sangat gusar mendengar perkataan Rea. “Tapi Ma,-” Elly menatap tajam pada Rea sambil menunjuk wajah Rea. “Kalo kamu masih mau tinggal di rumah ini, ikutin semua aturan yang ada. Jangan pernah protes, apalagi banyak tanya! Kalo nggak suka, silakan pergi dari sini, dan nggak usah anggep saya orang tua kamu lagi!” Usai mengatakan semuanya, Elly bergegas meninggalkan dapur dan meninggalkan rumah. Rea masih sempat mendengar pintu berdebam dengan suara keras. Rea merasa dadanya sangat sesak mengingat perkataan Elly. “Pa, kenapa sikap mama selalu kayak gini sih? Nggak pernah baik dan manis ke Rea? Emang Rea bikin salah apa? Coba papa masih ada, Rea pasti nggak akan kesepian kayak gini.” Rea menghapus air matanya dengan punggung tangan. Dia tidak ingin ada yang melihatnya dalam keadaan rapuh. Robert, Gerry, dan Sisca yang duduk di pasir, dengan posisi menyamping tidak jauh dari Rea dapat melihat dengan jelas saat gadis itu menangis dan berusaha menghapus air matanya. “Dia kenapa sih?” tanya Gerry sambil menunjuk ke arah Rea. Robert mengangkat bahu. “Gua juga nggak tau. Pas gua jemput mukanya juga udah butek banget. Gua tanya nggak dijawab.” Gerry menoleh ke Sisca yang duduk di dekatnya. “Elo tau?” “Nggak,” sahut Sisca. “Rea nggak pernah cerita apa-apa ke gua. Dia juga selalu tutup mulut kalo gua tanya tentang keluarganya.” “Aneh nggak sih itu anak,” gumam Gerry yang menjadi penasaran dengan sosok Rea. Robert tidak menjawab perkataan Gerry, karena sebenarnya diapun semakin penasaran dengan sosok Rea. Gadis yang selalu tampil tegar, tidak ingin mencampuri urusan orang lain, dan ringan tangan membantu orang lain. “Apa gua bisa ngebuka pintu hati lo Re? Dan menjadi pemilik hati lo?” gumam Robert dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN