Semakin Dijauhi, Semakin Mendekat

2291 Kata
“Sis! Kamu mau ke mana?” Sisca yang sudah meninggalkan meja sekitar lima langkah, membalikkan badan dan menatap Rea. “Ke perpus, kenapa? Mau ikut?” “Tumben banget ke sana? Biasanya kamu paling males kalo disuruh ke perpus.” Sisca mengerucutkan bibir. “Kalo nggak gegara tugas Biologi, gua juga males kali ke sana.” Rea mengulum senyum karena teringat akan tugas yang diberikan oleh guru Biologi pada Sisca sebagai hukuman karena lalai mengerjakan tugas. “Kamu mau nyari bahan buat bikin rangkuman?” “Iya, tapi males banget.” Rea berdiri dari kursi, dan bergeser ke keluar melalui tempat Sisca. “Ayo aku temenin, sekalian aku bantuin cari bahan rangkuman yang bagus.” Sisca tersenyum lebar mendengar niat baik Rea. “Elo baik banget deh,” ujar Sisca sambil memeluk Rea yang sudah berada di dekatnya. “Gue jadi makin cinta sama elo Re.” “Aku nggak jadi temenin nih?!” “Eh, nggak boleh gitu! Kalo udah janji, harus ditepatin!” Sisca menarik tangan Rea dan menyeret sahabatnya meninggalkan kelas. Rea berjalan mengikuti Sisca menuju perpustakaan yang berada di lantai dua gedung sekolah. Dia juga menemani dan membantu sahabatnya mencari buku yang sekiranya bagus untuk membuat rangkuman. Tengah memilih buku di rak tengah, tanpa sengaja Rea melihat Benny berada di Perpustakaan, dan sepertinya juga sedang mencari buku. Niat untuk membantu Sisca langsung hilang. Dengan langkah perlahan, Rea menghampiri sahabatnya yang tengah memeriksa sebuah buku dan berkata dengan suara pelan. “Sis, maaf ya, aku nggak jadi bantuin. Aku nunggu kamu di luar ya, gapapa kan?” “Kenapa?!” Sisca sedikit gusar, sehingga suaranya terdengar cukup keras di dalam perpustakaan yang hening. Rea menggedikkan kepala ke arah depan. Sisca mengikuti arah yang dituju Rea dan tersenyum lebar saat melihat Benny. “Oh …, tapi kenapa elo mesti keluar? Kayak orang yang lagi melarikan diri aja deh.” “Bukan gitu!” desis Rea gusar. “Aku cuma males aja liat dia. Nanti kalo dia liat kita, terus dateng ke sini gimana? Aku males banget ngomong sama dia kalo nggak karena ada kepentingan. Gapapa ya aku keluar?” Tanpa menunggu jawaban Sisca, Rea beranjak meninggalkan perpustakaan. Tanpa disadari, sebenarnya Benny sudah melihat Rea sejak gadis itu masuk. Dia tersenyum samar saat melihat gadis itu keluar. Setelah menunggu selama beberapa menit, akhirnya Benny memutuskan untuk keluar dan menemui Rea. Dia menghampiri Rea yang berdiri di balkon “Kenapa berdiri di sini? Bukannya temen kamu lagi ada di dalam?” Tanpa perlu menoleh, Rea tahu jika Benny yang sedang mengajak bicara. Namun, dengan keteguhan hati, Rea berusaha mengacuhkan pria itu dan memilih untuk tetap diam, berpura-pura sedang memperhatikan anak-anak yang bermain di lapangan. “Kok diem? Kamu lagi sariawan? Atau males ngomong sama saya?” Benny kembali mengajukan pertanyaan, yang dia yakin akan membuat Rea gusar. Rea mengembuskan napas panjang, kemudian menoleh sebentar, sebelum mengalihkan pandangan ke arah lapangan lagi. “Maunya Bapak yang mana? Pilih aja sendiri, suka-suka Bapak aja.” Benny mengulum senyum karena dugaannya tepat. Sambil menahan tawa, Benny kembali melanjutkan usahanya membuat Rea semakin gusar. “Kamu tuh judes banget sih? Padahal kalo sama temen-temen dan guru-guru yang lain, kamu selalu ramah, walaupun nggak banyak ngomong.” Baru saja Rea hendak membalas perkataan Benny, terdengar pintu perpustakaan dibuka, dan tampak Sisca keluar sambil membawa sebuah buku. Rea mendesah lega, dan berkata pada Benny. “Maaf pak, saya mau balik ke kelas.” Rea bergegas menghampiri Sisca dan menarik tangan sahabatnya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Benny memasukkan tangan ke dalam saku celana dan tersenyum memperhatikan Rea yang bergegas pergi. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan sikap Rea yang selalu menjaga jarak, bahkan terkesan galak padanya. “Elo kenapa sih?!” Sisca berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Rea. “Tolong jalan dulu ya,” pinta Rea memelas. “Nanti kalo udah nggak ada itu orang, baru aku lepasin.” “Aneh banget deh.” Sisca menggerutu gusar dengan tingkah Rea yang tidak seperti biasanya. “Gua baru tau kalo elo bisa takut juga sama guru.” Rea tidak membalas ledekan Sisca. Dia tetap berjalan hingga tiba di tangga, kemudian seperti janjinya, Rea melepaskan cekalan tangan dan menuruni tangga sendirian, dan terus melangkah sampai di dekat kelas. “Kenapa muka kamu pucet?” tanya Robert saat melihat Rea datang. “Gapapa,” sahut Rea tanpa membalas tatapan Robert. “Kamu kenapa ke sini?” “Mau ngasih ini.” Robert mengulurkan paper bag pada Rea. “Apaan tuh?” tanya Sisca yang sudah tiba di dekat Rea dan Robert. “Pengen tau aja deh!” “Ye, kan gua cuma nanya. Ngomongnya nggak usah ngajak ribut gitu napa!” Sisca mendelik pada Robert. “Lagian elo duluan! Selalu pengen tau urusan orang aja! Gua mau ngasih apa ke Rea kan bukan urusan elo!” “Iye, iye, sori deh.” Sisca mengerucutkan bibir. “Gitu aja marah, kayak cewek aja!” Sisca meninggalkan Rea dan masuk ke dalam kelas. Robert berdecak gusar mendengar sindiran Sisca. Melihat hal itu, Rea menahan tangan Robert, mencegah pemuda itu menyusul Sisca. “Emang kamu bawa apaan?” “Liat sendiri aja,” sahut Robert sambil menjaga nada suaranya tetap rendah. Semarah apapun dirinya, dia berusaha untuk tidak berbicara dengan nada kasar dan keras pada Rea. Rea melongok ke dalam paper bag dan tersenyum saat melihat kotak makan transparan berisi nasi dengan potongan chicken katsu dan salad. “Ini kamu bikin sendiri?” “Hm, kenapa?” “Gapapa, sepertinya enak. Makasih ya.” Robert menatap Rea dengan tatapan menyelidik. “Re, aku boleh nanya serius nggak?” “Nanya apaan?” “Sebenernya kamu tuh kenapa sih? Aku beneran penasaran banget. Tadi aku tanya tapi kamu bilang gapapa. Padahal muka kamu tuh beda, nggak kayak biasanya.” “Aku beneran gapapa kok.” “Aku nggak percaya Re.” Robert membantah perkataan Rea. “Beberapa waktu belakangan ini, kamu tuh rada beda. Muka kamu juga nggak setenang biasa, terutama mata kamu. Yang biasanya tenang, akhir-akhir ini jadi lebih hidup, keliatan galak.” Rea menunduk dan tidak ingin menatap Robert yang terus melihat ke arahnya dengan tajam. Dia tidak mungkin mengatakan pada Robert kalau suasana hatinya terganggu karena kehadiran Benny. “Re?” Robert memanggil gadis itu lembut. “Aku ke kelas dulu ya.” Rea meninggalkan Robert dan bergegas masuk ke kelas. Dia duduk di kursinya, merebahkan kepala menghadap jendela. Dia tidak mau melihat ke pintu kelas, khawatir kalau Robert masih berdiri di sana. Pulang sekolah, Rea sengaja bergegas ke toilet. Dia ingin menghindari Robert dan berniat pulang sendiri. Rea khawatir jika pemuda itu akan kembali bertanya mengenai sikapnya yang sedikit berubah. Rea diam di dalam salah satu bilik toilet. Dia menunggu di sana sekitar setengah jam. Setelah merasa aman, Rea keluar dari toilet dan terkejut saat melihat Sisca berdiri di depan wastafel. Sisca menatap Rea dari cermin besar dan bertanya dengan gusar. “Elo ngapain di dalem?! Kenapa lama amat?! Elo nyembunyiin sesuatu ya?!” “Kamu sendiri ngapain di sini?” Bukannya menjawab, Rea malah balik bertanya pada Sisca. “Nungguin elo lah! Masa masih mesti ditanya sih?!” Rea menghampiri Sisca dan bertanya. “Dia nggak tau kamu di sini kan?” “Nggak, tadi gua denger dia mau tanding basket sama Kak Calvin.” “Baguslah,” gumam Rea lega. “Eh? Tumben amat elo ngomong gini? Elo lagi ada masalah sama Robert?” Rea menggelengkan kepala. “Nggak kok, aku cuma lagi pengen pulang sendiri aja.” “Kenapa? Emang elo mau ke mana?” tanya Sisca penasaran. “Elo mau ngapain?! Awas ya kalo aneh-aneh. Gua laporin lo ke Robert.” “Nggak ke mana-mana Sis,” sahut Rea sabar. “Aku beneran cuma lagi pengen sendiri aja. Udah lama banget kan aku nggak pernah lagi pulang sendiri, selalu dianter sama dia.” “Bukannya enak ya dianter jemput tiap hari? kan elo bisa ngirit ongkos dan menghemat waktu.” “Iya sih, tapi kalo tiap hari kan nggak enak juga. Kadang, aku pengen ngerasain bebas aja.” “Ya udah, kalo gitu kita keluar dan pulang sekarang.” Sisca menggandeng tangan Rea dan menarik temannya keluar dari toilet. Di tengah lorong kelas-kelas, langkah mereka terhenti Benny berdiri di tengah jalan, menghalangi Rea dan Sisca. “Kalian belum pulang? Kenapa?” “Eh Bapak?” Sisca sedikit terkejut melihat Benny berdiri di depan mereka. “Ini kita baru mau pulang. Bapak sendiri kenapa belum pulang?” “Saya?” Benny menunjuk dirinya sendiri. “Jam kerja guru dan staff itu sampe jam tiga, jadi masih sekitar setengah jam lagi sebelum boleh pulang.” “Rumah Bapak jauh dari sekolah?” Sisca kembali bertanya pada Benny. “Nggak juga, sekitar empat puluh menit kalo pake motor. Kenapa? Kamu mau nyatronin rumah saya?” “Nggak Pak, mana mungkin,” bantah Sisca tersipu. “Nanti bisa jadi gosip di sekolah kalo ada yang tau saya main ke rumah Bapak.” Benny tersenyum lebar mendengar jawaban polos Sisca. Kemudian Benny mengalihkan tatapan pada Rea, dan mengajukan pertanyaan yang sedikit berbeda pada gadis itu. “Kamu kenapa diem aja? Sakit gigi? Laper? Cape? Atau ngantuk?” Emosi Rea langsung terpancing saat mendengar pertanyaan Benny. “Bapak mau pilih yang mana?! Suka-suka Bapak aja! Yang pasti saya mau pulang.” Rea meraih pergelangan tangan Sisca dan menarik temannya untuk segera pergi. Namun, Sisca yang masih ingin mengobrol dengan Benny, menyentakkan tangan. “Apaan sih?! Gua masih pengen ngobrol bentar sama Pak Benny, boleh kan Pak?” Sisca menatap memelas pada Benny. “Boleh, tentu aja boleh,” sahut Benny ramah. “Emang kamu mau tanya apa? Tentang pelajaran kan?” “Bukan juga sih Pak, cuma pengen kenal Bapak aja.” “Emang kamu mau tanya apa?” Sisca melirik Rea sebelum mengajukan pertanyaan. “Bapak sebenernya udah pernah ketemu sama Rea belum sih? Maksud saya sebelum Bapak ngajar di sini.” Benny mengulum senyum mendengar pertanyaan Sisca. “Menurut kamu?” “REA! SISCA!” Rea dan Sisca langsung menoleh ketika mendengar nama mereka dipanggil. “Mampus lo!” desis Sisca melihat Sofie berjalan ke arah mereka. “Iya Bu, ada apa?” tanya Rea saat Sofie berdiri di depan dirinya dan Sisca. “Kenapa kalian belum pulang? Mau ngapain di sini? Ngobrol juga sama Pak Benny. Jangan-jangan lagi ngerayu ya biar nilai kalian pada bagus?!” “Ih …, Ibu nuduhnya kebangetan banget deh,” gerutu Sisca. “Tadi tuh Pak Benny duluan yang manggil kita, makanya ngobrol bentar.” “Kalian belum mau pulang kan?” Sofie menatap bergantian pada Rea dan Sisca. “Tolong bantuin Ibu dulu ya.” “Ngapain Bu?” “Bantuin Ibu koreksi ulangan. Ayo ikut Ibu ke kelas.” Sisca menoleh pada Benny untuk berpamitan. “Pak, kita pergi dulu ya. Makasih loh udah boleh ngobrol.” “Sama-sama,” sahut Benny sambil tersenyum ramah. Rea menundukkan kepala sebelum berjalan menuju kelas Sofie. Sisca bergegas menyusul sahabatnya. Setelah itu, Rea dan Sisca menghabiskan waktu dengan memeriksa ulangan yang diberikan Sofie. Mereka mengerjakan tugas dengan teliti, dan tidak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat. “Cukup dulu untuk hari ini, kalian boleh pulang,” ujar Sofie sambil membereskan mejanya yang cukup berantakan. “Sekarang sudah jam lima, Ibu mau siap-siap pulang.” “Iya Bu,” sahut Rea dan Sisca yang bergegas membereskan kertas-kertas ulangan. “Maaf ya, karena keasikan, Ibu sampe lupa waktu dan bikin kalian terlambat pulang.” “Gapapa Bu, kami malah seneng kok bisa bantuin.” Sisca tersenyum manis pada Sofie yang merupakan salah satu guru favoritnya. Mereka menyerahkan kertas -kertas ulangan pada Sofie yang masih duduk di belakang meja guru. “Bu, kami pulang dulu,” ujar Rea mewakili Sisca. “Iya, makasih banyak ya. Kalian hati-hati di jalan.” “Iya Bu.” Rea dan Sisca meninggalkan kelas dan berjalan menuju tempat parkir di mana Joko sudah menunggu sejak tadi siang. “Re, elo mau pulang bareng gua?” Sisca menawarkan tumpangan pada temannya karena hari sudah sore. “Nggak Sis, aku pulang sendiri.” “Oke, kalo gitu gua duluan ya.” Sisca melambaikan tangan pada Rea sebelum mobil yang dikendarai Joko meninggalkan area sekolah. Rea berjalan perlahan meninggalkan tempat parkir. Dia terus melangkah sambil menundukkan kepala dan tidak melihat Benny yang berdiri di dekat halte. “Kenapa sendirian? Sisca mana?” Rea mengangkat kepala dan terkejut saat melihat Benny. “Bapak mau ngapain di sini? Bukannya Bapak pake motor?” “Kamu pulangnya ke mana? Mau saya antar?” Rea mengentakkan kaki dan menatap galak pada Benny. “Nggak usah Pak, makasih. Saya bisa pulang sendiri. Permisi.” Rea mempercepat langkah menuju halte dan tidak mengacuhkan gurunya. Namun, Benny tidak menyerah begitu saja. Dia mengejar Rea dan menahan lengan gadis itu. “Bapak mau apa sih?!” tanya Rea sedikit gusar sambil menyentakkan tangannya. “Tolong jangan ngalangin jalan saya, bisa kan?!” “Tentu aja bisa, tapi ada syaratnya.” Benny kembali mencekal tangan Rea. Kali ini sedikit lebih erat, supaya gadis itu tidak bisa kabur. “Nggak mau! Syarat dari Bapak pasti nggak bener lagi. Yang ada, saya yang bakalan rugi. Cukup sekali saya dikerjain sama Bapak. Dan tolong lepasin tangan Bapak, bisa kan?!” “Saya akan lepasin kalo kamu setuju diantar pulang sama saya,” ujar Benny lembut. “Jangan ngebantah dan nolak. Ini udah sore, dan nggak baik seorang gadis pulang sendirian. Saya nggak ada niat macam-macam. Saya cuma mau mastiin kamu sampe di rumah dengan selamat. Itu aja.” “Kalau saya nggak mau?!” Rea menantang mata Benny dengan berani. “Tetep akan saya anterin, entah gimana caranya.” “Kenapa sih Bapak main maksa aja?! Saya bisa pulang sendiri Pak!” “Karena saya peduli sama kamu, dan nggak mau liat kamu kenapa-kenapa. Ngerti?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN