Bapak Kenapa Sih?!

2097 Kata
“Loh, kenapa elo udah masuk Re?! Emang kaki lo udah sembuh?!” Sisca terkejut saat melihat Rea ada di dalam kelas. Rea meringis mendengar nada galak Sisca. “Udah mendingan Sis, udah nggak terlalu bengkak, dan udah bisa dipake jalan.” “Gua nggak percaya! Mana gua liat?!” Sisca melongok ke bawah meja untuk melihat keadaan kaki Rea. “Eh iya, udah nggak bengkak kayak kemarin. Tapi bukannya elo belum boleh masuk sama Robert?” “Eh ini anak udah masuk aja!” Aaron yang baru datang ikut terkejut melihat kehadiran Rea. “Emang elo udah boleh masuk sama Obet?” Rea mendengkus mendengar pertanyaan kedua temannya yang serupa. “Emang dia siapanya aku sampe bisa ngelarang aku sekolah?” “Masa masih mesti diperjelas sih?” Aaron mengedipkan sebelah matanya pada Rea. “Semua orang juga tau kali Re, kalo Obet itu yayang nya elo.” Aaron sengaja berbicara dengan nada menyebalkan untuk menggoda gadis itu. Rea yang tidak terima dengan jawaban Aaron, membalikkan perkataan pemuda itu. “Terus kamu yayangnya siapa?” “Gue?! Jelas belum ada lah.” Aaron mendekatkan kepalanya ke arah Rea. “Gua kan jomblo sejati.” “Yakin?” tantang Rea sambil tersenyum misterius. “Emang kamu nggak ngerasa kalo ada yang suka sama kamu?” Diam-diam Rea melirik Sisca yang wajahnya sudah merah seperti udang rebus. “Serius lo? Siapa? Gua kenal nggak?” Aaron jadi penasaran dan ingin tahu siapa gadis yang menyukai dirinya. Sisca yang duduk membelakangi Aaron, mendelik marah pada Rea yang terlihat tidak peduli, dan dengan sengaja melanjutkan ucapannya. “Entah, coba aja tebak sendiri. Kalo kamu emang peka, seharusnya sih tau.” Tiba-tiba Aaron tersadar jika Rea dengan sengaja mencoba mengalihkan pembicaraan tentang Robert. “Kenapa jadi bahas gua sih? Kan tadi kita lagi ngomongin elo sama Obet.” “Kita? Kamu doang kali,” sahut Rea tenang. “Aku kan nggak ada nyebut nama dia.” “Bukan cuma nggak ada kali Re.” Aaron membantah ucapan Rea. “Elo emang nggak pernah nyebut nama sepupu gua. Elo selalu nyebut ‘dia’, iya kan? Ngaku aja deh.” “Suka-suka aku dong.” Aaron terkekeh mendengar jawaban Rea. “Udah ah, mending gua pergi. Percuma ngomong sama elo, nggak akan pernah menang.” Aaron meninggalkan meja Rea, menaruh tas di kursinya, dan meninggalkan kelas untuk bergabung dengan teman yang lain. “Kok elo jahat sih sama gue?!” desis Sisca dengan wajah memerah setelah Aaron pergi. “Kenapa?” Rea pura-pura bingung dengan pertanyaan Sisca. “Kenapa ngomong gitu sama Aaron?! Ntar kalo dia tau gimana?! Muka gue mau ditaruh di mana?!” Rea tertawa mendengar omelan Sisca. “Muka kamu ya bakal tetep di tempatnya Sis, emang bisa pindah ke mana?” Sisca mencubit lengan Rea dengan gemas. “Dasar gehel! Kenapa ya lama-lama omongan lo makin suka ngawur? Mulut lo kayak nggak ada rem nya.” “Kan belajar dari kamu,” sahut Rea sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas. “Tuh kan. Baru juga diomong, udah langsung kumat kan!” Rea tidak membalas perkataan Sisca. Dia memasang earphone di telinga dan mendengarkan musik hingga bel masuk berbunyi sambil merebahkan kepala di meja, seperti yang selalu dia lakukan. Melihat sikap Rea, Sisca langsung was-was dan mengguncang lengan Rea. “Elo kenapa? Masih nggak enak badan? Kenapa juga maksain sekolah sih?! Rea mencopot sebelah earphone. “Aku gapapa, cuma males aja sebenernya mau sekolah.” “Kenapa?” “Kan hari ini ada Mat. Aku males ketemu guru menyebalkan.” “Eh, tapi dia baik loh,” ujar Sisca. “Kemarin malah sempet nanya keadaan elo, udah gitu cara ngajarnya juga asik. Gua yang nggak suka sama Mat aja jadi suka.” “Tetep aja nyebelin,” gumam Rea pelan. “Elo kenapa-” Bel masuk berbunyi, sehingga Sisca tidak jadi bertanya pada Rea yang tetap merebahkan kepalanya hingga Benny memasuki kelas. “Selamat pagi semua,” ujar Benny sambil tersenyum lebar. “Kalian sudah mengerjakan PR kan? Silahkan keluarin, dan kita bahas sama-sama.” “Re, elo bikin PR kan?” “Hm.” Dengan malas, Rea mengangkat kepala, dan melepaskan earphone. Kemudian, dia membuka tas dan mengeluarkan buku Matematika. Benny yang berdiri di depan, melihat ke arah pojok dan menemukan raut wajah yang sudah dua hari tidak masuk sekolah. Dia tersenyum kecil saat menyaksikan Rea merebahkan kepalanya di meja. Benny berjalan menuju ke meja Rea. Dia berhenti di samping Sisca dan bertanya pada Rea, “Gimana kaki kamu? Apa sudah membaik?” Benny bertanya dengan suara Rea mengangkat kepala dan melihat Benny berdiri di dekat Sisca. Malas menjawab, Rea membuka buku, dan berpura-pura membaca soal. Sisca menyenggol siku kanan Rea dan berbisik. “Elo ditanya tuh sama Pak Benny,” desis Sisca lirih. Dengan enggan, Rea mengangkat kepala dan menatap Benny. “Bapak nanya apa?” Benny tersenyum kecil melihat sikap antipati Rea. Dia kembali mengulang pertanyaannya dengan nada ramah. “Saya tanya gimana kaki kamu? Apa sudah membaik?” “Oh, baik Pak,” sahut Rea tanpa menatap Benny. “Buktinya saya udah masuk kan.” “Baguslah kalo begitu. Pesan saya cuma satu, jangan suka lompatin jendela, biar nggak kayak kemarin.” “Emang kenapa Pak? Kan bukan urusan Bapak?” “Tentu aja jadi urusan saya, kalo kamu kabur lagi di pelajaran Matematika. Nanti kalo nilai kamu jelek, yang rugi kan kamu sendiri.” “Tapi kan selama ini nilai saya selalu bagus, dan semua tugas juga saya kerjain.” “Tapi saya nggak suka kalo ada murid yang bolos di pelajaran saya.” “Kan nggak sering Pak,” sahut Rea dengan berani. Anak-anak yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan antara Benny dan Rea, merasa sedikit terkejut mendapati ternyata Rea berani membantah perkataan guru. Padahal selama ini, Rea yang mereka kenal adalah gadis pendiam dan tidak pernah mencari masalah dengan guru, kecuali bolos sekolah. Namun, saat guru menegur atau bahkan memberi hukuman, Rea hanya diam dan menjalani sanksi dengan baik. “Baiklah,” sahut Benny memilih untuk mengalah dan tidak membuat Rea semakin emosi. “Tapi apa saya boleh minta satu hal ke kamu?” “Apa?” “Tapi kamu harus janji bakal ngelakuin, nggak cuma sekedar janji aja. Gimana?” Rea mengernyitkan kening mendengar permintaan Benny yang sedikit janggal. “Apaan dulu Pak? Saya nggak mau janji kalo nggak tau apa yang bakalan Bapak minta.” “Nggak bisa gitu dong.” Benny tersenyum dalam hati melihat ekspresi gusar di wajah Rea. “Kamu harus janji dulu, baru saya kasih tau. Gimana? Setuju kan?” Rea menatap Benny dengan sorot marah. “Iya, saya janji bakal ngelakuin. Sekarang apa permintaan Bapak?” Benny tersenyum penuh kemenangan mendengar jawaban Rea. Dia memandang seisi kelas dan berkata dengans suara keras. “Kalian sudah dengar sendiri kan, kalo Rea janji akan melakukan permintaan saya?” “Dengar Pak,” sahut seisi kelas serempak. Mereka juga penasaran dengan situasi saat ini, dan menebak-nebak kira-kira apa yang akan diminta Benny pada Rea. Benny kembali menatap Rea dan tersenyum lebar. “Permintaan saya sangat sederhana,” ujar Benny tenang. “Saya hanya mau kamu selalu hadir di setiap pelajaran saya, tidak boleh bolos lagi.” “HUU ….” Seisi kelas bersorak keras mendengar permintaan Benny. “Dasar nyebelin!” desis Rea gusar karena merasa sudah dipermainkan oleh Benny. Dengan begini, dia tidak akan bisa kabur lagi di pelajaran pria itu. Selama pelajaran Matematika, Rea hanya diam dan mengerjakan semua tugas yang diberikan. Dia tidak mengacuhkan keadaan kelas yang ramai, terutama teman-teman perempuannya yang heboh dan selalu mencari cara untuk dapat berbicara dengan Benny. Ketika bel istirahat berbunyi,dan Benny sudah meninggalkan kelas, barulah Rea mengembuskan napas lega. Dia merapikan buku, dan kembali merebahkan kepala di meja. Sisca yang tadinya ingin ke kantin, menunda niatnya. Dia menggoyang lengan Rea hingga gadis itu menatapnya. “Kenapa Sis? Mau ditemenin ke kantin?” “Nggak, bukan itu.” “Terus?” “Re, gua boleh tanya sesuatu nggak?” “Nanya apa?” “Elo kenapa sih sama Pak Benny? Emang kalian udah saling kenal? Kok gua ngerasa aneh ya ngeliat elo kayak yang sebel banget sama dia?” “Nggak kok. Aku baru liat dia ya pas pertama dia masuk ke kelas.” “Terus kenapa elo kayak yang benci banget sama dia?” “Nggak tau. Tiap liat dia ya bawaannya sebel aja.” “Nah loh?” Sisca sampai mengernyitkan kening saat mendengar perkataan sahabatnya. “Aneh banget dah.” “Udah ah, aku males bahas dia,” ujar Rea. “Boleh nggak ngobrol yang lain aja?” “Nggak ah, mending gue ke kantin. Daripada jadi kambing conge di sini.” Sisca bangkit berdiri saat melihat Robert masuk ke kelas dan berjalan ke arah mereka. “Kenapa kamu masuk ke sekolah?” tanya Robert sambil duduk di tempat Sisca. “Bosen di rumah,” sahut Rea. “Emang kaki kamu udah bisa diajak jalan?! Kalo bengkak lagi gimana?!” “Nggak akan. Lagian aku mau ngapain di rumah? Nggak ada yang bisa dikerjain juga kan? Daripada jadi kesel sendiri, mending masuk sekolah, bisa ketemu temen.” “Bisa ketemu aku juga kan?” tanya Robert dengan nada menggoda. “Pede banget sih jadi orang!” ujar Aaron yang baru datang sambil melempar bola basket ke arah Robert. Rea tersenyum dan bangkit berdiri. “Kamu mau ke mana?” tanya Robert. “Ke toilet.” “Aku anter.” “Cie …, cie …, cie, yang perhatian ke yayang.” Aaron bertepuk tangan keras untuk meledek Robert. “Aku sendiri aja.” Rea berjalan meninggalkan Robert dan Aaron dengan langkah tertatih. Rea berjalan menyusuri lorong kelas menuju toilet yang ada di ujung. Benny yang kebetulan baru keluar dari Ruang Guru, bergegas mengejar Rea. “Kamu mau ke mana?” Benny menjajari langkah Rea yang tidak menjawab pertanyaannya. Rea terus berjalan ke arah toilet dan bersikap seolah-olah tidak ada orang di sampingnya. Melihat hal itu, Benny menghadang langkah Rea dan kembali mengajukan pertanyaan. “Kenapa pertanyaan saya nggak dijawab?” Rea menghentikan langkah dan menatap Benny dengan gusar. “Memang saya harus jawab apa Pak? Masa Bapak nggak tau saya mau ke mana? Kan udah jelas.” Benny menelengkan kepala ke kiri sambil mengulum senyum. “Apa memang sikap kamu selalu seperti ini?” “Maksud Bapak?” “Apa kamu selalu dingin dan jutek ke semua orang, atau hanya ke saya kamu bersikap seperti ini?” “Menurut Bapak?” Benny mengangkat kedua tangannya ke atas dan berkata. “Karena saya nggak tau, makanya saya tanya ke kamu.” “Bapak penasaran?” tanya Rea sambil tersenyum manis. “Kalo iya, kamu mau jawab?” “Nggak sih,” sahut Rea kembali bersikap serius. “Bapak tanya aja sama anak-anak yang lain, beres kan.” Usai berkata, Rea kembali meneruskan langkahnya menuju ke toilet. “Gadis yang unik,” gumam Benny sambil mengulum senyum. Di saat murid-murid perempuan berlomba mencari perhatian dari dirinya, Rea malah bersikap sebaliknya. Gadis itu malah terkesan dingin dan menjaga jarak sejauh-jauhnya. Benny jadi semakin penasaran dengan Rea dan ingin mengenal gadis itu lebih jauh. *** “Kamu mau pulang?” tanya Benny saat berpapasan di depan kelas. “Menurut Bapak?” “Kalo menurut saya sepertinya iya.” “Kalo gitu kenapa Bapak ngalangin jalan saya?” Sisca mencubit siku kiri Rea untuk membuat temannya berhenti berbicara dengan nada tidak sopan pada Benny. “Kan saya lagi nanya, makanya berdiri di depan kamu.” Benny tetap menjawab dengan tenang dan ramah. “Kalo berdirinya di ujung lorong namanya ngeliatin.” Sisca menundukkan wajah untuk menyembunyikan tawa mendengar jawaban Benny. “Berarti sekarang Bapak udah bisa minggir kan? Kan nanyanya udah selesai.” “Kata siapa?” balas “Masih banyak loh yang mau saya tanyain.” Rea mengembuskan napas gusar dan menatap tajam pada Benny. “Memangnya Bapak nggak ada kerjaan lain?” “Tentu aja ada, dan cukup banyak. Kenapa? Kamu mau bantuin?” Sisca tertawa mendengar perkataan Benny. Namun, cepat-cepat dia membekap mulutnya, karena tidak ingin membuat Rea semakin gusar. “Nggak Pak, makasih.” Rea langsung menolak permintaan Benny. “Saya juga banyak kerjaan kok.” “Beneran? Padahal PR dari saya nggak banyak loh.” “Pak, Bapak kenapa nyebelin banget sih?!” Akhirnya Rea tidak tahan lagi menghadapi Benny yang selalu berkata dengan ramah dan tidak marah sedikitpun dengan sikap yang ditunjukkan olehnya.. “Nyebelin gimana maksud kamu?” tanya Benny pura-pura bingung. “Kenapa sih Bapak kayaknya seneng banget gangguin saya? Emang saya pernah gitu bikin salah sama Bapak? Kenapa ke anak yang lain Bapak nggak begini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN