“Re, ikut gua deh!” Sisca menarik tangan Rea dan memaksa temannya untuk berdiri.
“Mau ngapain?” tanya Rea enggan.
“Pokoknya ikut dulu!” Sisca menyeret Rea untuk mengikuti dirinya ke arah belakang sekolah.
“Sis, ini mau ngapain sih?! Kenapa ke belakang sekolah?!”
“Udah diem aja napa!” sahut Sisca ketus. “Ntar juga elo bakal tau.”
“Mau ngapain ke sini?” tanya Rea setelah mereka tiba di belakang sekolah.
“Gua mau ngasih liat sesuatu,” ujar Sisca penuh rahasia. “Tapi elo jangan kaget yak.”
“Apaan?” Rea jadi penasaran melihat sikap Sisca.
Sisca melingkarkan tangan di bahu Rea. “Tuh, elo liat ke sana deh.” Sisca menunjuk ke bawah pohon di mana tampak Robert dan kawan-kawannya sedang berkumpul. “Elo liat baik-baik, dia itu siapa.”
Rea memicingkan mata, mencoba mengenali sosok yang dimaksud oleh Sisca. “Itu Helen kan? Ngapain dia di sana?” Rea menoleh ke arah Sisca dengan bingung.
Sisca menjetikkan jari telunjuk dan jempolnya sambil berkata. “Nah itu juga yang mau gua tanyain. Kenapa dia deket-deket sama Robert dan temen-temennya?! Elo nggak ngerasa keganggu?!”
“Nggak tuh,” sahut Rea tenang. “Tapi rasanya dia tuh yang keganggu.” Rea menunjuk ke arah Robert yang terlihat gusar dan tidak nyaman.
Sisca memperhatikan dengan seksama untuk beberapa saat, dan akhirnya tergelak sendiri melihat tingkah Robert. “Baru ini gua liat Robert mati kutu kayak gitu.” Biasanya kan dia galak dan ditakutin sama anak lain.”
“Eh, elo mau ke mana?” tanya Sisca saat melihat Rea berjalan ke arah pohon.
“Ke sana.” Rea menunjuk ke arah Robert dan yang lain.
“Mau ngapain?” tanya Sisca sambil menghampiri Rea.
“Mau apa ya?” Rea mencoba memikirkan kata-kata yang tepat sebelum menjawab Sisca. “Kalo bilang mau nolongin dia, menurut kamu gimana Keterlaluan nggak?” Seulas senyum menghiasi wajah Rea yang terlihat sangat jail.
Sisca pura-pura berpikir sebelum menjawab sambil menahan tawa. “Sepertinya oke juga,” sahut Rea. “Kalo gitu gua juga ikut,”
“Mau nolongin Aaron kan?” sela Rea cepat.
“Apaan sih!” desis Sisca dengan pipi merona.
Rea tidak mengacuhkan Sisca dan kembali berjalan ke arah pohon. Saat tiba di belakang Robert, dengan sengaja Rea melingkarkan tangan di lengan Robert. “Kenapa kamu di sini? Tadi bilangnya mau ke kelas dan anterin makanan?”
Robert menoleh dan tersentak saat melihat Rea. Namun, di satu sisi dia merasa senang karena kehadiran gadis itu, apalagi saat merasakan tangan Rea di lengannya.
Gerry, Aaron, Donny, dan Martin juga terkejut melihat sikap Rea yang tidak seperti biasanya. Mereka berusaha menyembunyikan senyum dengan menundukkan wajah.
Helen tidak kalah terkejut melihat kehadiran Rea. “Kak Rea? Kenapa ke sini?”
“Nanyanya nggak salah?!” celetuk Gerry gusar. “Harusnya kita yang nanya kenapa elo berani dateng ke sini! Kalo Rea sama Sisca yang dateng sih wajar aja kali!”
Seolah tidak mempedulikan perkataan Gerry dan juga pertanyaan Helen, Rea berkata dengan nada biasa pada Helen. “Eh ada kamu Len. Kalian lagi asik ngobrol? Aku ngeganggu ya?”
“Nggak tau tuh.” Gerry mengambil kesempatan diamnya Helen untuk melapor pada Rea. “Main dateng ke sini, dan sok akrab banget sama kita-kita.”
“Iya,” timpal Aaron. “Kita kan jadi risih ada orang lain ikut gabung.”
“Betul tuh.” Donny pun ikut bersuara. “Tau-tau muncul, bawain banyak cemilan dan langsung aja gabung di sini.”
Hanya Robert dan Martin yang diam dan tidak mau memberikan tanggapan atas kehadiran Helen.
Helen merasa tersinggung mendengar perkataan ketiga pemuda itu, dan berusaha untuk membela diri. “Tapi biasanya Kak Rea dan Kak Sisca juga di sini, kalian semua pada diem, dan nggak keberatan.”
“Ya beda dong!” sentak Gerry. “Rea kan pacarnya Robert, jadi wajar aja kali ngumpul bareng kita. Lah elo kan orang asing, main sembarangan dateng ke sini!”
“Kok tau aku ada di sini?” Robert bertanya dengan suara pelan di telinga Rea.
“Sisca yang ngajak aku ke sini.” Rea menjawab Robert dengan mata menatap lurus ke arah Helen dan keempat teman Robert.
“Kamu beneran nungguin aku di kelas?” Robert bertanya dengan senyum ditahan.
“Nggak.” Rea menjawab dengan jujur. “Aku ke sini karena tadi ngeliat kamu kayaknya nggak nyaman aja ada Helen.”
“Emang, dan jujur aja aku makin nggak suka sama kelakuan itu anak. Dari awal kan aku udah bilang kalo itu anak mencurigakan.”
“Iya, aku tau,” sahut Rea. “Tapi kan kita nggak boleh langsung ambil kesimpulan gitu aja. Mesti dicari tau dulu penyebabnya.”
“Susah banget deh kalo ngomong sama kamu!” desis Robert gusar. “Terus sekarang mau gimana?! Jujur aja aku udah nggak tahan doa ada di sini. Ngeganggu banget! Sok kenal, sok ajak ngobrol dan yang bikin aku makin nggak suka sama dia itu, dia selalu bawa-bawa nama kamu.”
“Iya, maaf deh.” Rea mencoba menenangkan Robert yang tampak gusar. “Aku bawa Helen pergi sekarang.”
“Buat apa?”
“Kan kalian nggak suka dia ada di sini. Daripada suasana makin nggak enak, mending kan anaknya diungsiin. Lagian aku mau ngobrol sama Helen.”
“Terserah kamu aja deh.” Robert tahu dengan pasti, percuma melarang Rea, karena gadis itu akan tetap melakukan apa yang baru saja dikatakan. “Aku bakal liatin dari sini. Kalo ada apa-apa, aku bakal langsung dateng.”
Rea mendekati Helen yang terlihat gusar sekaligus malu. “Len, ikut aku yuk. Ada yang mau aku omongin sama kamu.”
Mendengar perkataan Rea, Helen menganggukkan kepala. “Siap Kak.” Tanpa banyak kata, Helen berjalan menjauhi Robert dan kawan-kawannya. Dia mengikuti Rea hingga berada cukup jauh dari pohon besar yang dijadikan tempat Robert berkumpul
“Aku boleh tanya sesuatu sama kamu?” Rea langsung mengajukan pertanyaan pada Helen.
“Tentang apa Kak?”
“Boleh tau nggak kenapa kamu ke sana?”
Helen mengangkat bahu dengan gaya tidak peduli, mencoba menutupi rasa canggung berhadapan dengan Rea. “Cuma pengen ngobrol aja sih. Aku kan nggak punya temen, jadi aku pikir, mereka mau ngobrol sama aku gitu. Toh mereka kan kenal Kakak juga, sama kayak aku yang juga kenal sama Kakak.”
Sisca mengernyitkan kening mendengar cara bicara Helen yang mirip dengan Rea. Dia merasa tidak suka dengan sikap Helen yang meniru Rea, mulai dari menata rambut, hingga sikap berdiri temannya.
“Mereka emang kenal sama aku, bahkan kita suka ngobrol bareng,” ujar Rea yang sebenarnya juga tahu kalau Helen mencoba meniru dirinya. “Tapi kan bukan berarti kamu bisa sembarangan ke sana. Harusnya kamu tanya dulu sama mereka, apa mereka nggak keberatan kalo kamu gabung. Bukannya main langsung dateng dan sok akrab kayak tadi.”
“Emang salah ya Kak?” tanya Helen pura-pura tidak mengerti.
“Nggak salah sih, cuma elo tuh harusnya tau diri dikit!” Sisca yang sejak tadi berusaha menahan bibirnya, akhirnya tidak tahan dan menjawab mewakili Rea. “Merekanya nyaman nggak sama kehadiran elo! Lagian elo kan belum kenal mereka dengan baik, nggak tau gimana karakter mereka semua! Nggak semua cowok tuh ngerasa nyaman kalo ewek ikutan nimbrung! Gua sama Rea aja kalo mau gabung nanya dulu.”
“Kalo gitu gimana kalo sekarang Kak Rea dan Kak Sisca ke sana lagi? Dan aku ikut sama kalian, gapapa kan?!”
“Ye…, ini anak dibaikkin malah jadi ngelunjak deh!” Sisca jadi emosi mendengar perkataan Helen yang tidak pantas. “Enak amat lo ngatur-ngatur kita! Emang elo pikir elo itu siapa?! Sekarang gua jadi ngerti kenapa nggak ada anak yang mau main sama elo! Gua juga ngerti kenapa Sonya keki sama elo! Ternyata emang elonya yang nyebelin!”
“Sis.” Rea menyebut nama temannya dengan lembut.
“Kenapa?! Omongan gua bener kan?! Emang dianya aja nggak tau diri! Udah dibaikkin, tapi malah jadi kurang ajar ke kita!” Sisca kembali mengeluarkan unek-uneknya. “Elo dari tadi ngederin nggak kalo cara dia ngomong tuh ngikutin elo?! Eneg kan ngedengernya!”
“Sis, udah ah.”
“Nggak bisa, gua belum beres ngomong!” Sisca mendelik ke arah Rea. “Gua kenal elo dari awal, dan tau Re kalo cara ngomong lo emang kayak gitu. Tapi kalo dia?!” Sisca mengalihkan tatapan ke arah Helen. “Waktu awal ketemu kan ngomongnya nggak kayak gitu. Nada suaranya aja sok dibikin lembut kayak elo! Bete banget gue!”
“Kenapa sih Kak Sisca ngomongnya kayak gitu?” Helen berusaha berbicara dengan nada lembut, sama seperti Rea.
“Tuh, elo denger sendiri kan barusan?!”
Rea mengembuskan napas panjang. “Sis, boleh nggak kamu tolong ke kelas dulu? Kasih aku kesempatan ngomong sama Helen ya?”
“Nggak mau! Nggak baik ngomong berduaan doang sama orang nggak dikenal. Harus ada orang ketiga buat jadi saksi!”
“Sis?”
“Sekali nggak ya nggak titik!” Sisca bersikeras untuk tetap berada di sisi Rea.
Rea mengalah dan memilih untuk menyelesaikan urusannya dengan Helen. “Len.” Rea menatap Helen. “Boleh aku tau kenapa kamu bersikap kayak gini? Kenapa kamu jadi berubah kayak gini?”
Berhadapan dengan Rea, Helen merasa malu dan juga takut. Sikap Rea yang selalu tenang, membuatnya tidak bisa menebak apakah kakak kelasnya sedang marah atau tidak. Dia juga teringat dengan semua kebaikan Rea selama ini, dan itu semakin membuat Helen gelisah.
“Kenapa kamu diem?” Rea bertanya karena sejak tadi Helen menundukkan kepala dan tidak menjawab pertanyaannya. “Kamu bersikap kayak gini, apa karena kamu pengen punya temen? Atau karena kamu pengen ngerusak nama baik aku?”
“Nggak gitu Kak!” Helen membantah Rea dengan cepat.
“Terus?”
“Saya iri sama Kak Rea,” ujar Helen dengan suara lirih.
“Tuh kan dugaan gua bener! Dia emang pengen bikin elo susah Re!” Sisca kembali emosi mendengar perkataan Helen barusan.
Rea menoleh ke arah Sisca dan menatap temannya sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibir.
“Iri sama aku? Karena?” tanya Rea.
“Kak Rea bisa pacaran sama Kak Robert. Cowok paling top di sekolah ini, pinter, ganteng, tajir. Tipe cowok idaman semua cewek,” ujar Helen. “Udah gitu Kak Rea dikenal sama semua murid di sini, banyak juga cewek-cewek yang ngidolain Kakak. Sedangkan saya?” Helen tertawa getir “Nggak ada satupun dalam diri saya yang bisa dibanggain Kak.”
“Kata siapa?” Rea menjawab dengan lembut. “Kamu itu cantik Len, dan hati kamu juga baik.”
Helen mendengkus gusar mendengar perkataan Rea. “Mana buktinya?! Nggak ada satupun anak yang mau main sama saya! Udah gitu, Kakak bisa liat sendiri postur badan saya kan?! Mana ada cowok yang mau sama cewek gendut kayak saya!”
Rea mendekati Helen dan memegang kedua bahu gadis itu. “Kata siapa kamu gendut? Dan siapa bilang nggak ada cowok yang suka sama kamu? Itu cuma pikiran kamu sendiri Len, yang sudah menilai jelek diri sendiri.”
“Beneran?”
Rea mengangguk. “Kalo kamu ngerasa kelebihan berat badan, kamu kan bisa jaga pola makan kamu dan olahraga.” Rea mencoba memberi masukan untuk Helen. “Dan kamu harus banyak senyum, terus ilangin pikiran negatif. Itu semua akan bikin hati kamu tenang, dan bikin kamu jadi bahagia. Kalo udah bahagia, maka semua akan terpancar di muka kamu.”
“Iya sih, sebenernya elo tuh cakep, cuma selama ini yang bikin elo jadi jelek itu ya karena kelakuan lo sendiri.” Sisca ikut-ikutan memberikan pendapat. “Asal elo mau rubah penampilan, urus diri lo, dan membuka diri, gua yakin bakal banyak orang yang mau temenan sama elo.”
Helen menundukkan kepala karena malu dan juga terharu dengan semua perkataan Rea dan Sisca.
“Asal elo tau ya.” Sisca melanjutkan ucapannya. “Rea tuh nggak pernah ngapa-ngapain buat dapet temen. Dia ya dia dengan kepribadiannya yang dingin dan rada jutek. Tapi hatinya baik, dan selalu mau nolong orang yang lagi susah, makanya banyak yang sayang sama dia.”
“Intinya cuma satu Len,” ujar Rea lembut. “Jadilah diri sendiri. Jangan pernah nyoba mau jadi seperti orang lain, karena kamu nggak akan pernah bahagia kalo kayak gitu.”
“Kakak nggak marah sama saya?”
“Buat apa? Emang dengan marah bisa bikin keadaan jadi makin baik?”
“Apa Kakak masih mau temenan sama saya?”
“Selama kamu nggak aneh-aneh, rasanya nggak masalah. Iya kan Sis?”