Mencoba Mendekati

1875 Kata
Bel istirahat pertama berbunyi. Rea yang malas keluar kelas, mengeluarkan ponsel dan menyalakan musik. Setelah itu dia meletakkan kepala di meja dan memejamkan mata. Baru sebentar saja menikmati lagu, terdengar namanya dipanggil. “RE!! Di depan ada yang nyari tuh!” seru Irma, salah seorang teman sekelasnya. Rea mengangkat kepala dengan malas dan menjawab Irma. “Siapa?” “Nggak tau, kayaknya anak kelas 10 deh. Liat sendiri aja ke depan.” “Siapa dulu? Cowok apa cewek?” tanya Rea yang malas untuk menemui orang yang menunggunya di depan. “Cewek,” sahut Irma. “ Badannya agak ….” Irma tidak melanjutkan perkataannya, malah melebarkan sedikit tangannya ke samping, untuk memberitahu Rea siapa yang mencarinya. Rea segera memahami maksud Irma dan menganggukkan kepala. “Oke. Makasih ya.” Rea berdiri dan berjalan keluar kelas untuk menemui Helen. “Kamu nyari aku?” tanya Rea pada Helen. Helen tersenyum lebar saat melihat Rea. “Iya Kak,” sahut Helen malu-malu. “Kenapa? Kamu dapet masalah lagi?” Helen mengelengkan kepalanya. “Nggak Kak. Saya mau ngasih ini buat Kakak.” Helen mengulurkan paper bag besar ke arah Rea. Rea mengembuskan napas melihat barang di tangan Helen. “Kan udah aku bilang, kalo aku-” “Ini bukan barang kok Kak,” sela Helen cepat. “Kan Kakak udah nggak mau terima barang dari aku.” Rea menelengkan kepalanya. “Terus?” “Makanan. Kemarin mama baru pulang dari Pontianak, dan bawa oleh-oleh. Saya mau kasih ke Kakak sebagian, karena di rumah banyak banget. Gapapa kan? Kakak mau terima kan?” Rea tidak langsung menjawab pertanyaan Helen. Dia diam dan mencoba memikirkan apa maksud pemberian Helen. “Kakak nggak suka ya?” tanya Helen sedikit kecewa dengan reaksi yang ditunjukkan Rea. “Nggak kok,” sahut Rea tenang. “Aku cuma bingung aja sama kamu. Sebenernya kan kamu bisa bagiin ke temen kamu, atau dimakan bareng sama temen sekelas. Aku nggak ngerti kenapa kamu ngasih ke aku.” Helen menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara pelan. “Saya nggak punya temen Kak. dan sepertinya nggak ada yang mau main sama saya.” Sisca yang saat itu baru kembali dari kantin, mendengar jelas perkataan Helen. “Masa sih?! Kayaknya nggak mungkin deh?! Emang apa alesan mereka nggak mau temenan sama elo?” “Nggak boleh sama Sonya.” “Eh?!” Sisca terkejut mendengar perkataan Helen. “Seriusan lo?!” Rea tidak tega melihat wajah sedih Helen. “Ya udah, untuk kali ini aku terima,” ujarnya. “Tapi kamu nggak keberatan kan kalo ini aku bagiin sama temen-temen di kelas? Karena kalo buat aku sendiri, kebanyakan banget.” “Iya Kak, gapapa kok,” sahut Helen sambil tersenyum kecil. Rea yang sejak tadi memperhatikan Helen, dapat melihat dengan jelas raut kecewa di wajah gadis itu, dan juga senyum yang dipaksakan. Dia semakin yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan Helen. Dan semakin besar rasa penasaran Rea untuk mencaritahu yang sebenarnya tentang gadis itu. “Kalo emang elo nggak punya temen, elo boleh kok sesekali ngobrol sama gua, nggak usah nyari Rea terus.” Sisca yang teringat dengan perkataan Rea, ingin mencoba bersikap baik pada Helen dengan sedikit membuka diri dan berteman dengan gadis itu. Helen mendongak dan tersenyum lebar mendengar perkataan Sisca. “Beneran Kak? Saya boleh dateng ke sini lagi?” Wajah Helen terlihat sangat bahagia. “Iya, tapi jangan sering-sering juga ya.” “Iya Kak.” “Sekarang mending elo balik ke kelas, bentar lagi masuk.” Sisca mengingatkan Helen setelah melihat jam tangan. Helen mengangguk, kemudian meninggalkan Rea dan Sisca, menuju ke kelasnya sendiri. Ketika Helen sudah pergi, Sisca mendekati Rea. “Dia ngasih apaan? Gua boleh liat nggak?” Rea menyodorkan paper bag di tangannya pada Sisca. “Liat aja sendiri.” Sisca mengambil paper bag besar dan melotot takjub melihat isinya. “Wuih …, gelo bener dah, isinya banyak banget,” gumam Sisca. “Ini kalo ditaruh di rumah lo, setaon juga belum tentu habis.” “Iya, aku tau. Makanya mau aku bagiin aja sama anak-anak.” “Beneran? Gua yang bagiin ya?” “Sok aja.” Sisca masuk ke kelas dengan sambil mengangkat tinggi-tinggi paper bag dan berteriak dengan suara keras. “WOY! Siapa mau makanan?!” Anak-anak yang berada di kelas langsung mengerubungi Sisca dan berusaha melihat isi bungkusan di tangan gadis itu. Sementara Rea, berjalan ke mejanya, dan kembali merebahkan kepala di meja. Rea termenung dan memikirkan sikap Helen tadi. Gadis itu sudah berhenti memberikan hadiah pada Rea, tapi sebagai gantinya, Helen jadi kerap mencari dirinya, dan dengan berbagai alasan mencoba untuk mengobrol. Entah itu di kantin, atau ketika dia mau pulang. Awalnya, Rea masih bisa menanggapi dengan biasa, akan tetapi lambat laun, itu menjadi seperti sebuah gangguan untuknya. Karena pada dasarnya, Rea bukan orang yang senang mengobrol, apalagi jika tidak ada hal yang penting. Ketika jam pelajaran berakhir, Rea keluar dari kelas dengan wajah tertunduk, sehingga tidak melihat Robert yang sudah menunggunya di depan kelas. “Kamu kenapa?” tanya Robert sambil menjajari langkah Rea. “Kamu nggak enak badan?” “Nggak kok, aku baik-baik aja,” sahut Rea sambil terus berjalan hingga tiba di pelataran depan sekolah. “Terus kenapa diem aja dari tadi? Aku dateng ke kelas pas istirahat kedua kamu juga diem terus. Kamu lagi ada masalah?” “Nggak, aku-” Perkataan Rea terputus karena mendengar namanya dipanggil oleh Helen dengan suara keras. “Kak Rea!” Rea menoleh ke belakang dan melihat Helen tengah berlari ke arahnya. Saat melihat Helen, ingin rasanya dia melanjutkan langkah, akan tetapi, Rea tau kalau itu tidak sopan. Karena itu, dia menepi, dan menunggu. Robert mengembuskan napas gusar melihat Helen. Dia pribadi mulai merasa terganggu dengan kehadiran gadis itu, yang seperti tidak mengenal waktu untuk menemui Rea. “Ada apa?” tanya Rea setelah Helen tiba dengan napas terengah-engah. “Kakak mau pulang?” “Iya, kenapa?” “Aku boleh bareng?” “Mau ngapain pulang bareng sama Rea?!” tanya Robert dengan nada tidak suka. Helen tersentak mendengar suara Robert yang cukup kasar. “M-maaf,” ujar Helen tergagap. “Saya cuma mau bareng aja, nggak ada niat yang lain.” “Kok gua nggak percaya ya?!” ujar Robert sinis. Rea menahan tangan Robert yang raut wajahnya berubah kaku. Dia memang tidak suka dengan sikap Helen, akan tetapi Rea berusaha untuk tidak menunjukkannya secara jelas. Rea tidak ingin menyinggung perasaan Helen. Robert menatap tajam pada Rea. “Kenapa? Emang aku nggak boleh curiga? Apa kamu nggak curiga sama sikap dia?! Kenapa juga adik kelas ngedeketin kamu kalo nggak ada tujuan apa-apa?!” “Kamunya aja yang selalu curiga ke semua orang,” gumam Rea dengan suara pelan. Robert hampir saja tertawa ketika mendengar bantahan Rea. Dia mendekatkan bibir ke telinga gadis itu. “Nggak juga tuh,” ujarnya. “Buktinya ke kamu aku nggak pernah curiga, iya kan?” “Nyebelin!” desis Rea sambil menjauhkan kepalanya, dan berpaling pada Helen. “Kenapa kamu mau pulang sama aku?” “Gak ada alasan Kak, cuma pengen aja,” sahut Helen mencoba bersikap tenang. “Bukannya Kakak waktu itu pernah bilang boleh dateng dan cerita ke Kakak?” “Iya, emang bener, tapi nggak hari ini,” sahut Rea. “Hari ini ada yang mesti aku lakuin.” Rea menolak permintaan Helen dengan tegas. Bukan dia tidak mau memenuhi keinginan Helen, akan tetapi hari ini adalah jadwalnya melatih anak-anak kecil. “Emang Kakak mau ke mana? Perginya bareng sama Kak Robert?” Helen menatap penuh minat pada Rea. “Itu bukan urusan elo! Dia mau pergi sama siapa, ngapain, itu bukan urusan elo! Ngerti nggak?!” Robert langsung menjawab pertanyaan Helen dengan gusar. “Jangan suka pengen tau urusan orang deh!” Robert menarik tangan Rea dan membawa gadis itu menuju ke tempat parkir, tidak mempedulikan Helen yang menatap dengan marah ke arahnya. “Kamu mau apa?” tanya Rea setelah tiba di dekat motor Robert. “Aku nggak suka sama itu anak! Aku nggak tau kenapa, tapi ngerasa aneh sama kelakuan itu anak. Kayaknya itu anak nyembunyiin sesuatu! Emang kamu nggak nyadar?!” “Nggak tau juga,” sahut Rea sambil mengambil helm dari tangan Robert. “Emang agak aneh, tapi aku belum tau apa yang bikin aku ngerasa kayak gitu.” “Berarti aku nggak salah kan? Emang ada yang aneh sama itu anak,” sahut Robert sebelum duduk di motor. “Kenapa kamu nggak ngejauh aja? Daripada nantinya kenapa-kenapa. Apalagi dari yang aku denger, itu anak punya masalah kan sama temen sekelasnya?” “Kamu tau dari mana?” tanya Rea sebelum Robert menjalankan motor. Robert menoleh sedikit ke belakang dan berkata dengan suara cukup keras. “Nanti aku ceritain. Sekarang biarin aku nganter kamu dulu.” Robert mengendarai motor menuju tempat latihan. Rea pun diam dan tidak memprotes permintaan Robert, walaupun hatinya penasaran. Begitu tiba di tempat latihan, Rea bergegas turun dan motor, dan menodong Robert untuk bercerita lagi. “Kamu bilang mau ceritain? Sekarang udah bisa kan?” Rea menyerahkan helm pada Robert. “Kamu mau aku bilang apa?” tanya Robert setelah turun dari motor. “Kamu tau dari mana kalo Helen bermasalah sama temen sekelasnya?” “Aku minta tolong sama Gerry buat nyari tau,” sahut Robert sambil menggandeng Rea menuju tempat latihan. “Kamu tau kan kalo Gerry itu gampang deket sama anak-anak cewek? Nah, dengan gampang dia bisa dapet info dari anak-anak kelas 10.” “Terus?” “Gerry bilang kalo Helen itu anak yang tertutup, dan gampang curiga ke orang lain. Karena sikapnya itu, anak-anak jadi nggak gitu suka sama dia. Makanya dia nggak punya temen.” Rea diam dan mencoba mencerna semua perkataan Robert. Sedikit banyak, ucapan pemuda itu sesuai dengan gambaran Rea selama ini tentang Helen. “Ada lagi nggak?” “Bukannya itu satu alasan buat kamu untuk ngejauhin dia?” “Iya dan nggak,” sahut Rea. Robert mengernyitkan kening mendengar jawaban Rea. “Maksud kamu?” “Iya, emang bener itu satu alasan pasti di mana seharusnya aku ngejauhin dia, tapi aku penasaran pengen tau alesannya kenapa. Pasti ada sesuatu sampe dia bersikap kayak gitu kan?” “Terus?” Robert mulai khawatir mendengar perkataan Rea. “Aku pengen nyari tau kenapa dia bisa kayak gitu, gapapa kan?” “Kamu yakin? Kalo dia macem-macem gimana?” “Nggak akan,” sahut Rea. “Aku bakal hati-hati.” Rea mengerucutkan bibir ke arah Robert dan berkata dengan suara pelan. “Lagian aku yakin kamu nggak akan biarin aku kenapa-kenapa, iya kan?” Robert tersenyum lebar, geli dengan ucapan Rea. “Iya. Aku bakal ngawasin kamu, dan nggak akan biarin kamu kenapa-kenapa.” “Makasih,” ujar Rea sambil tersenyum manis. “Sekarang aku masuk dulu ya. Kamu nggak akan nunggu kan?” “Kata siapa? Kalo aku tinggal, kamu pasti bakal kabur dan pulang sendiri.” “Terus?” “Aku nungguin di sini. Udah sana cepat masuk!” Tanpa mereka sadari, dari seberang, tampak Helen memperhatikan Rea. Dia sudah dua kali mengikuti Rea ke sini dan semakin yakin kalau gadis itu belajar beladiri di gedung seberang. “Ternyata Kak Rea belajar beladiri di sana,” gumam Helen “Apa gue juga harus belajar di sana juga?” Seringai miring muncul di sudut bibir Helen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN