Sesuai dengan rencana kemarin, pukul setengah enam pagi, Rea sudah tiba di sekolah dan berdiri di depan gerbang, menunggu Sisca. Mereka akan menangkap basah orang yang selalu mengirim hadiah untuk Rea.
Tidak lama kemudian, Sisca turun dari mobil dan berlari menghampiri temannya. Bersama mereka berjalan melewati pelataran sekolah, dan masuk ke dalam gedung. Rea berjalan melewati kelas, dan berhenti beberapa meter, kemudian bersembunyi di belakang pilar.
“Re, elo yakin kita nunggu di sini?”
“Iya. Tadi aku sempet liat ke kelas, dan belum ada apapun di meja.”
“Terus kenapa nunggunya di sini? Kenapa nggak di deket kelas aja?”
“Kalo terlalu deket, aku takut itu orang tau. Kalo dari sini kan nggak akan ketauan, dan bisa jelas ngeliat siapa yang dateng.”
“Terserah elo aja deh,” gumam Sisca sambil menepuk tangannya karena ada nyamuk.
Tidak lama kemudian, tampak seseorang berjalan mendekati kelas Rea. Setelah melihat sekeliling, orang itu masuk ke dalam kelas.
“Eh, itu ada yang dateng,” gumam Sisca sambil menepuk punggung Rea. “Eh, tapi kok dia? Mau ngapain ke kelas kita?”
“Sstt …” Rea meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. “Kamu diem di sini dulu ya. Kalo aku udah ke kelas, kamu baru boleh ke sana.”
“Emang kenapa?!”
“Nanti aku jelasin.”
Rea keluar dari balik pilar dan berjalan menuju kelas. Dia berdiri di depan pintu kelas dan memperhatikan saat orang itu meletakkan sebuah bungkusan kecil di atas mejanya. Tebakannya tepat, ternyata selama ini Helen lah yang selalu memberikan hadiah secara diam-diam.
Rea baru bisa menebaknya kemarin saat Sisca menanyakan tentang siapa lagi yang tahu jika dia sakit perut. Saat itu secara tidak sengaja Rea melihat Helen berdiri tidak jauh dari tempatnya. Dan dia yakin jika gadis itu mendengar semua pembicaraannya dengan Robert. Dan untuk memastikan hal itu, Rea memutuskan untuk menunggu di sekolah.
Dengan langkah perlahan, Rea masuk ke dalam kelas dan berhenti tidak jauh dari Helen. “Ternyata selama ini, kamu toh pengagum rahasia aku,” ujar Rea sambil bersidekap.
Helen yang baru akan meletakkan bingkisan di meja Rea, segera berbalik dan terkejut saat melihat Rea. “K-kak Rea?! K-kenapa udah dateng?””
“Kenapa? Kaget?” tanya Rea ramah.
“Ng …, kenapa Kakak udah dateng?” Helen mengulang pertanyaannya. “Biasanya kan jam setengah tujuh baru sampe?”
Rea tersenyum kecil mendengar perkataan Helen. “Jadi kamu sampe merhatiin juga jam berapa aku dateng, Len?”
Helen menundukkan kepala karena merasa malu ketahuan oleh Rea. Dia tidak menyangka akan tertangkap basah seperti ini. Helen merasa segala sesuatunya sudah berjalan dengan lancar. Dia sudah melakukannya dengan hati-hati selama ini, akan tetapi ternyata ketahuan juga.
“Kenapa kamu lakuin ini ke aku? Boleh tau maksudnya apa?” tanya Rea karena Helen hanya diam dan menunduk.
“Karena saya sayang sama Kakak.”
Sisca yang baru masuk ke dalam kelas, sangat terkejut mendengar perkataan Helen, dan tanpa sadar berbicara dengan nada gusar. “Elo udah gila?!” pekik Sisca. “Sayang?! Gimana judulannya elo bisa sayang sama Rea?! Padahal ketemu juga baru satu kali?! Maksud lo apaan?!” Sisca benar-benar meradang hingga tidak dapat mengontrol emosinya.
“Karena Kak Rea udah tolongin saya,” sahut Helen pelan. “Baru kali ini ada orang yang nolongin saya di saat saya lagi kena masalah.”
Sisca terdiam ketika mendengar penjelasan yang diberikan oleh Helen. Sama sekali di luar dugaan. Hanya karena sebuah pertolongan kecil, dapat membuat orang langsung tersentuh, bahkan memuja penolongnya, seperti Helen.
Rea berjalan mendekati Helen dan berhenti dua langkah di depan gadis itu. “Len, aku boleh ngomong?” tanya Rea dengan nada lembut.
“Boleh. Kakak mau bilang apa?”
“Aku seneng banget dapet hadiah dari kamu,” ujar Rea. “Tapi kan nggak harus setiap hari. Itu namanya pemborosan. Kamu bisa gunain uang untuk hal yang lebih penting,”
“Tapi saya ikhlas kok Kak,” sela Helen membantah perkataan Rea.
“Iya, aku tau. Tapi dengan kamu ngasih diem-diem, kamu akan bikin orang nerima jadi nggak nyaman, dan mikir yang enggak-enggak,” ujar Rea. “Ada satu lagi. Aku nolong kamu itu, karena aku tulus, dan nggak suka ngeliat hal kayak gitu. Kalo bukan kamu pun, pasti aku tolong kok. Jadi aku minta tolong banget ke kamu, tolong jangan kasih aku apa-apa lagi ya.”
“Tapi Kak ….” Helen menatap Rea dengan putus asa.
“Len, aku lebih menghargai kalo kamu bersikap biasa sama aku. Tolong bersikap apa adanya ya. Kalo ketemu ya nyapa, kalo pengen ngobrol ya silakan. Kalo kamu butuh temen buat cerita, kamu bisa dateng ke aku, begitu juga kalo mau minta tolong. Selama aku bisa, pasti aku bantu. Kamu bisa kan?”
“Iya Kak,” sahut Helen pasrah.
“Kalo gitu, kamu bisa balik ke kelas sekarang. Bentar lagi anak-anak yang lain bakal datang. Nggak enak aja kalo mereka ngeliat kamu ada di sini. Aku nggak mau mereka punya bahan untuk diomongin. Bisa kan? Kamu nggak tersinggung kan?”
“Iya Kak,” sahut Helen. “Kalo gitu saya ke kelas dulu.”
Helen meninggalkan kelas Rea dengan langkah gontai. Dia merasa sedikit kecewa karena tidak bisa memberikan hadiah lagi untuk kakak kelasnya itu. Padahal masih banyak barang yang ingin dia beri. Sejak pertama Rea menolongnya, Helen merasa dunianya tidak lagi gelap. Seperti ada setitik cahaya yang menerangi jalannya. Karena itulah, dia memberikan semua, dengan harapan Rea mau menjadi temannya.
Begitu Helen pergi, Sisca langsung mendatangi Rea yang masih berdiri di tempatnya. “Kenapa elo biarin dia pergi?! Gua malah belum nanya apa-apa sama dia!”
“Kamu mau nanya apaan lagi? Apa kamu nggak kasian sama dia?”
“Kenapa juga gua harus kasian sama dia?! Kita kan perlu tau kenapa dia begitu ke elo?!”
Rea berjalan ke arah meja dan duduk di kursinya sebelum menjawab pertanyaan Sisca. “Kan tadi dia udah bilang alesannya. Mau ngapain ditanya ulang?”
“Elo percaya gitu aja?”
“Emang mau gimana lagi? Kan dia udah ngomong jujur.”
“Elo yakin Re?” Sisca mengejar Rea dan duduk di tempatnya.
Rea menatap Sisca dan berujar. “Sis, kamu pernah ngerasain nggak ada di posisi Helen? Di mana nggak punya temen, dan ngerasa dikucilin?”
“Belum sih,” sahut Sisca ragu-ragu.
“Aku pernah Sis, makanya aku tau gimana perasaan dia. Dia begitu karena nggak punya temen, dan pengen banget punya temen. Tapi dia tau nggak bisa sembarangan ke aku karena aku kakak kelas, dan selalu deket sama kamu.”
Sisca menatap Rea dengan sorot tidak percaya. “Elo nggak lagi ngebohong kan Re?”
“Buat apa? Aku ngomong yang sejujurnya kok,” sahut Rea. “Tapi itu udah lewat, dan aku nggak mau inget itu lagi. Jadi aku ngerti banget apa yang dirasain sama Helen.” Rea menatap Sisca lembut. “Aku mohon, tolong jangan selalu berpikiran negatif dulu ya.”
***
Lydia dan ketiga temannya secara tidak sengaja melihat ketika Sonya menarik tangan Helen ke arah kamar mandi. Karena itu dia mengikuti dan langsung menerobos masuk ke sana. “HEH! Ngapain elo orang pada di sini?!”
Sonya tang baru saja menyiram Helen dengan air, menoleh ke belakang. “Emang kalo di toilet mau ngapain lagi?! Sonya menjawab dengan angkuh.
“Wah, ngajak ribut ini anak!” Ria langsung emosi mendengar nada kurang ajar Sonya pada mereka. “Dan elo mau ngapain sama itu anak?!”
“Bukan urusan elo kali!” sahut Sonya ketus.
Lydia yang sejak tadi diam, berjalan ke depan dan memberi perintah pada Mesya dan Ria. “Sya, tolongin itu anak, terus bawa keluar dari sini. Ya, elo panggil Rea ke sini. Cepetan!”
“Oke.” Mesya dan Ria langsung melakukan perintah Lydia.
“Dan elo!” Lydia menyeringai sinis ke arah Sonya. “Kalian semua bakal berurusan sama gue! Seenaknya aja mau nyoba-nyoba sok jago di sini!”
“Emangnya kenapa?!” Sonya menantang mata Lydia dengan berani.
“Woy! Elo tuh di sini anak baru!” sentak Lydia sewot melihat sikap kurang ajar Sonya. “Elo pikir ini sekolah punya nenek lo apa! Gua juga denger elo berani nyahutin kakak kelas, tadinya gua pikir boong, ternyata bener. Anak kecil udah sok jago! Yang kayak begini kudu diajar sopan santun!”
“Nggak usah kamu juga kali Lyd yang harus turun tangan.” Terdengar suara Rea yang baru masuk ke dalam toilet.
“Eh udah dateng aja ini anak.” Lydia tersenyum manis saat Rea berdiri di sisinya.
“Kenapa manggil aku?”
“Ini anak yang berani ngelawan elo?!”
“Iya, terus kamu mau apaan?”
“Ngasih sedikit pelajaran, boleh nggak?”
Rea tersenyum mendengar perkataan Lydia yang sekarang sudah berubah menjadi baik. “Buat apaan? Ngerugiin tangan kamu,” sahut Rea kalem. “Diemin aja, ntar juga kena batunya sendiri.”
“Eh, nggak bisa gitu dong!” sergah Lydia. “Elo nggak tau ya, pas gua masuk, dia lagi ngerjain anak cewek! Kan emosi gua ngeliatnya. Baru juga kelas 10 udah songong!”
Mendengar penjelasan Lydia, Rea menoleh ke arah Sonya. “Bener yang dia bilang?!” tanya Rea datar. “Helen lagi?!”
Ratih dan Gladys langsung menunduk, gentar karena tatapan tajam Rea. Tidak ada yang berani menjawab, termasuk Sonya.
“Jawab! Yang diomong dia bener apa nggak?!” tanya Rea.
Gladys menganggukkan kepala dengan takut-takut.
“Helen?!”
“I-iya Kak.”
Mata Rea melihat ember di dekat kaki Sonya. Tanpa banyak kata, Rea mengambil ember, mengisinya dengan air. Kemudian, dengan sengaja, dia menyiram Sonya dan keempat temannya sehingga mereka semua basah.
Sonya langsung terpancing emosi dan tidak terima dengan perbuatan Rea. “WOI! Gua basah tau! Sengaja lo?!”
“Iya, emang kenapa?” tanya Rea kalem. “Masa kamu boleh guyur orang, aku nggak boleh?”
Sonya mengepalkan tangan kanannya mendengar jawaban Rea.
“Nggak suka?! Kalo kamu aja nggak suka digituin, orang lain juga sama! Jangan suka berlaku seenaknya! Kalo nggak mau dicubit, jangan nyubit duluan! Ngerti?!” ujar Rea.
“Emang elo siapa, berani ikut campur urusan gue?!” Sonya bertanya dengan ketus.
“Aku? Aku bukan siapa-siapa! Aku cuma nggak suka ngeliat orang nindas yang lebih lemah. Kan waktu itu aku udah pernah bilang.”
“Kalo elo mau tau, dia ini satu-satunya orang yang bisa ngalahin gua!” ujar Lydia dengan tenang. “Nggak ada orang yang berani ngelawan gua, selain dia.” Lydia merangkul bahu Rea sebelum melanjutkan perkataannya. “Satu-satunya orang yang berani ngadepin gua, bahkan akhirnya bikin gua sadar kalo nggak perlu pake cara murahan kayak elo cuma buat dapet perhatian dan diakuin sama orang lain!”
Sonya tersentak mendengar penjelasan Lydia. Namun, dia belum mau menyerah begitu saja. “Emangnya dia bisa apaan?! Kalo dari yang gua denger, semua nggak ada yang berani sama dia, karena dia pacarnya Kak Robert! baru gitu doang aja udah songong!”
Tangan Lydia melayang dan mengenai pipi kiri Sonya. “Kalo ngomong yang bener lo! Jangan suka ngasal deh! Biar dia bukan pacarnya Robert, nggak akan ada yang berani sama dia! Elo belum pernah ngerasain dibanting kan sama dia?! Elo mau nyoba dulu?!”
Fanny, Ria, dan Mesya terkekeh mendengar perkataan Lydia barusan. Sampai saat ini mereka bertiga belum melupakan bagaimana rasa ketika Rea membanting mereka ke lantai.
“Biarin aja kali mereka sekali-kali ngerasain indahnya tangan Rea,” ujar Mesya.
Gladys, dan Ratih, semakin gemetar ketika mengetahui kalau ternyata Rea bukanlah gadis sembarangan. Sonya juga sebenarnya merasa takut, akan tetapi dia berusaha menutupi hal itu dan tetap berdiri dengan sikap menantang.
“Jadi, ini peringatan pertama dan terakhir dari gua,” ujar Lydia “Jangan coba-coba nyari masalah di sini, karena gua nggak akan tinggal diam! Dan juga, jangan pernah coba-coba mau kurang ajar sama Rea, karena gua orang pertama yang akan turun tangan buat ngasih pelajaran sama orang yang berani ngusik dia! Paham?!”