Pengagum Rahasia

2490 Kata
“Re, temenin gua ke toilet dong,” pinta Sisca ketika bel istirahat berbunyi. “Tunggu bentar,” sahut Rea yang masih mengerjakan soal Matematika. “Dikit lagi selesai, gapapa kan?” Rea mendongak ke arah Sisca. “Masih lama nggak?” “Satu nomor lagi.” “Baiklah,” sahut Sisca pasrah sambil kembali duduk di samping Rea. Rea bergegas menyelesaikan tugas yang diberikan. Setelah selesai, dia membereskan meja, dan berdiri dari kursi. “Sis, ayo jadi nggak?” “Jadi dong.” Rea dan Sisca meninggalkan kelas menuju ke toilet yang berada di ujung lorong. Ketika mereka hampir tiba, Sisca melihat tiga orang siswi perempuan sedang berdiri di depan toilet. Gerak-geriknya sedikit mencurigakan. Mata mereka memandang ke sekeliling dengan sikap waspada. “Itu anak-anak pada ngapain di depan toilet?” Sisca menunjuk ke arah tiga siswi perempuan. “Entah, paling lagi pada ngobrol.” “Tapi kayaknya bukan deh.” Sisca membantah sambil terus memperhatikan dengan seksama. “Soalnya beda, kayak lagi nungguin apa gitu.” Penasaran, Sisca mempercepat langkah hingga tiba di depan toilet. “Heh! Kalian lagi pada ngapain di sini?! Kalo nggak ada kepentingan, mending pergi deh. Ngeganggu orang yang mau masuk tau.” “Ng-nggak ada Kak,” sahut salah seorang siswi kelas 10 dengan suara sedikit takut. “Kalo nggak ada apa-apa, kenapa juga pada ngumpul di sini?!” sahut Sisca dengan nada ketus. “Minggir semua! Kalo nggak ada kepentingan, mending pada pergi gih!” Rea yang sejak tadi diam, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tanpa berkata sepatah katapun, dia menyeruak dan masuk ke dalam toilet. Dugaannya ternyata benar. Satu orang siswi kelas 10 tampak memegang ember, sementara yang satunya memegangi seorang gadis yang sudah basah kuyup. Rea langsung gusar melihat hal itu. “Kalian lagi ngapain?!” Dia memperhatikan keadaan gadis yang basah kuyup, tampak sedikit memar di pipi kirinya. Rea mengepalkan tangan sambil menatap gadis yang masih memegang ember. “Kalian mau coba-coba bikin masalah di sekolah?! Siapa yang bilang boleh perlakuin orang seenaknya kayak gini?!” “Emang urusannya apa sama Kakak?!” Gadis yang memegang ember menjawab pertanyaan Rea dengan nada angkuh. Sisca yang sudah masuk ke dalam, langsung gusar mendengar nada suara gadis itu. “Tentu ada! Emangnya kalian pikir kalian tuh siapa?! Kalo emang mau nyari orang buat dijadiin bulan-bulanan, cari dong lawan yang seimbang! Masa beraninya sama anak yang nggak bisa apa-apa! Namanya pengecut!” Rea melangkah maju mendekati gadis yang terduduk di lantai dalam keadaan basah. “Kamu gapapa?” tanya Rea ramah. “Nama kamu siapa?” “G-ga-papa Kak,” sahut anak itu pelan. “Ayo bangun,” ujar Rea lagi. “Kita ke kelas. Nama kamu siapa?” Rea kembali mengulang pertanyaannya. “H-helen Kak.” “Oke, sekarang kita bangun.” Rea berdiri dan menarik tangan Helen untuk bangkit berdiri. Sedikit agak sulit, karena bobot tubuh Helen lebih berat ketimbang Rea. Rea membimbing Helen keluar dari toilet, akan tetapi langkahnya langsung dihadang oleh gadis yang tadi memegang ember. “Kakak mau apa?!” tanyanya dengan berani. “Bawa dia ke kelas. Kenapa? Nggak suka?!” Rea menatap datar pada gadis itu. “Tapi saya masih punya urusan sama dia Kak!” Rea mengembuskan napas perlahan sebelum menjawab. “Kamu boleh lanjutin urusan, kalo kamu bisa ambil dia dari saya!” Ditantang seperti itu, siswi tadi langsung maju hendak menarik rambut Rea. Dengan mudah, Rea mengelak sekaligus menjulurkan kakinya ke depan. Sontak gadis itu langsung jatuh tersungkur. “Sis, bawa Helen keluar dari sini. Aku masih ada urusan bentar sama mereka.” Rea mendorong pelan Helen ke arah Sisca. “Oke,” sahut Sisca sambil tersenyum lebar. Dia sangat suka saat melihat Rea marah dan bersikap seperti sekarang. “Ayo Len, kita keluar dulu.” Sisca menarik tangan Helen dan membawa gadis itu keluar dari toilet. Setelah Sisca dan Helen keluar, Rea membalikkan badan dan menatap tajam ke arah gadis yang masih terduduk di lantai toilet, ditemani oleh seorang gadis yang sejak tadi hanya diam dan menundukkan kepala. Rea berjongkok di hadapan gadis yang sedang menatap tajam ke arahnya. “Nama kamu siapa!” “Nggak usah tau nama gue!” Rea tersenyum dingin pada gadis itu. “Oke, nggak masalah buat saya. Dengerin aku baik-baik ya,” ujar Rea pelan. “Jangan pernah coba-coba ganggu Helen atau anak lainnya. Saya nggak akan tinggal diam kalo ngeliat kalian coba-coba ganggu anak lain yang lebih lemah dari kalian! Ngerti?!” Rea berdiri dan berjalan meninggalkan toilet dengan langkah tenang. Dia menatap sejenak ke arah tiga gadis yang saling merapatkan diri dan menunduk. Rea menggelengkan kepala melihat sikap mereka yang hanya berani terhadap orang yang lebih lemah, dan langsung ciut jika ada yang berani melawan. Begitu Rea menjauh, ketiga gadis itu langsung masuk ke dalam toilet. Sonya berdiri sambil mengibaskan roknya yang sedikit basah akibat terjatuh. “Kurang ajar banget sih tuh cewek! Mentang-mentang kakak kelas berani banget ke gue!” Sonya menumpahkan kekesalannya karena sudah dipermalukan oleh Rea. “Emang dia tuh siapa sih?!” Sonya memandang keempat temannya yang menunduk. “Kurang tau,” sahut salah seorang temannya yang bernama Ratih. “Tapi kalo nggak salah, dia itu pacarnya Kak Robert, murid kelas 12-1 IPA.” “Wah, kalo bener pacarnya Kak Robert, mending elo jangan coba-coba deh,” timpal Gladys, teman Sonya lainnya. “Gua nggak takut!” sahut Sonya arogan. “Tungguin aja, gua bakal bikin perhitungan sama itu cewek! Berani-beraninya jatohin gua!” Sementara itu, Sisca dan Rea sudah tiba di depan kelas 10-4. “Kamu beneran gapapa?” tanya Rea sambil memperhatikan penampilan Helen yang kacau. “Seragam kamu basah loh. Kamu bawa baju ganti nggak?” “Nggak Kak,” sahut Helen pelan. “Nanti biar saya beli seragam baru.” “Eh serius lo?!” seru Sisca terkejut mendengar perkataan Helen yang diucapkan dengan nada tenang. “Iya Kak,” sahut Helen. “Masa saya belajar pake baju basah.” “Ini bukan pertama kalinya kan kamu diginiin?!” tanya Rea datar. Helen menundukkan kepala, tidak berani menatap pada Rea yang saat itu terlihat sedikit menakutkan. “Emang asal mulanya gimana sih?” tanya Sisca penasaran. “Nggak mungkin mereka beginiin kamu tanpa alasan.” Helen pun menceritakan secara singkat asal mula Sonya dan kawan-kawan mengganggu dirinya. Sisca sampai harus mengepalkan tangan ketika mengetahui alasan Helen sampai diperlakukan dengan tidak adil. “Kutu kupret juga tuh mereka! Gua paling benci banget deh kalo ada orang yang ngehina orang lain karena ukuran badan! Pengen banget deh ngelemparin sos pedes ke muka mereka!” Sisca menumpahkan kekesalannya dengan berapi-api. “Kalo mereka begitu lagi, elo bilang aja sama kita berdua, oke?” “Iya Kak.” “Heh, ngapain kalian berdua bisa nyasar di sini?” tanya Gerry yang baru tiba bersama Robert. “Berisik lo!” sahut Sisca “Elo sendiri ngapain di sini?!” “Nyari dia lah.” Gerry menunjuk ke arah Rea. “Dia kenapa Re?” tanya Robert setelah memperhatikan keadaan Helen. “Biasa, ada pengganggu rese yang mauk sok-sok an jadi selebritis sekolah,” sahut Sisca gusar. “Eh, muke gile,” ujar Gerry “Nyari koit tuh anak.” “Iya kan,” timpal Sisca gemas. “Mereka belum tau aja keadaan di sini.” “Biarin aja sih,” sahut Robert kalem. “Biarin aja mereka ngerasain dulu kena batunya. Mungkin setelah itu bakal kapok.” “Iya juga tuh,” timpal Gerry sambil menyeringai ketika teringat kejadian Lydia beberapa bulan yang lalu. “Kudu ngerasain dulu betapa indahnya kalo berurusan dengan kita semua. Iya kan Re?” Rea tidak membalas perkataan Gerry. Dia menepuk bahu Sisca dan bertanya. “Sis, kamu jadi nggak mau ke toilet? Bentar lagi udah mau masuk.” “Eh iya, jadi lupa kan,” ujar Sisca sambil menepuk keningnya. “Kalo gitu kita pamit dulu ye.” Sisca menarik tangan Rea dan berjalan meninggalkan kelas Helen. “Jiah itu anak, main bawa pergi Rea aja.” Gerry menggerutu melihat tingkah menyebalkan Sisca. “Udah, biarin aja,” sahut Robert. “Kita balik ke kelas.” *** “Ini apaan lagi?” gumam Rea sambil mengambil bungkusan kado yang ada di mejanya. “Nggak tau,” sahut Sisca. “Waktu gua dateng, itu barang udah bertengger cantik di meja.” “Dari?” “Mana gua tau, nggak ada namanya. Cuma ada tulisan buat elo.” “Siapa ya? Aneh banget deh.” Rea duduk di kursinya sambil mengamati hadiah di tangannya. Hari ini kembali dia mendapatkan bingkisan kecil di meja. Dan ini sudah keenam kalinya. Tidak pernah ada nama pengirim, dan itu membuatnya bingung sekaligus penasaran. “Cie …, cie …, cie …, Rea punya pengagum rahasia euy,” ledek Aldi yang kembali ditunjuk sebagai Ketua Kelas. “Gua jadi penasaran. Siapa ya kira-kira pengagum elo itu.” “Iya,” timpal Aaron yang baru datang dan mendengar perkataan Aldi. “Gua jadi pengen mergokin pas itu orang ke sini deh.” “Wah, berarti Robert harus hati-hati tuh,” celetuk Anton dengan wajah puas. “Sekarang dia punya saingan baru.” “Wah, kalo begini judulannya, bisa berabe,” sahut Aaron cepat. Sebagai sepupu sekaligus mata-mata pribadi Robert, akan merepotkan jika benar ada orang lain yang menyukai Rea. Robert pasti tidak akan tinggal diam, dan jika itu terjadi, urusan akan menjadi panjang. “Kalian tuh apa-apaan deh!” seru Sisca gemas. “Belum apa-apa, udah bikin situasi jadi ribet. Siapa yang naronya aja belum tau, udah nebak-nebak nggak jelas!” “Biar seru kali Sis,” sahut Anton memanasi keadaan. “Siapa tau orangnya lebih ganteng dan tajir dari Robert. Biar Robert dapet lawan yang seimbang dalam mempertahankan Rea.” “Makin ngaco kan ngomongnya! Dasar gesrek!” gerutu Sisca yang tau kalau Anton itu masih menaruh harapan pada Rea. Aaron, Aldi, dan Anton tergelak mendengar omelan Sisca. “Re, coba buka kadonya,” ujar Aldi sambil menunjuk ke arah kado. “Gua penasaran pengen tau isinya.” “Iya Re, gua juga jadi penasaran,” timpal Nita yang baru datang bersama Liana. “Ntar aja ah,” sahut Rea enggan. “Yah …, elo gitu banget sih Re,” ujar Anton kecewa. “Ayolah …, kita semua penasaran nih.” Rea memandang teman-temannya yang sangat berharap dia mau membuka bungkusan di hadapannya. Akhirnya, dengan sedikit enggan, Rea mulai membuka kertas pembungkus dengan hati-hati. Tampak kotak panjang berwarna merah muda di balik kertas. Kemudian, Rea membuka tutup dan terdiam saat melihat isinya. “Ih …, lucu banget!” seru Sisca sambil mengambil gantungan kunci berbentuk kepala kucing dengan bulu halus warna putih. “Warnanya putih lagi, kan gua jadi pengen kan.” “Itu orang tau aja kalo Rea suka warna putih,” gumam Liana. “Jangan-jangan, itu orang emang udah nyari tau dulu tentang Rea.” “Bisa jadi tuh,” timpal Aldi. Sampai bel masuk berbunyi, Rea hanya diam dan tidak tahu harus mengatakan apa. Sepanjang hari, Rea sibuk menerka siapa orang yang sudah memberikan hadiah untuknya. Memang hanya pernak-pernik untuk perempuan, tapi selalu sesuai dengan warna kesukaannya. Awalnya, Rea berpikir jika itu adalah ulah Robert, tapi dengan cepat dia menyanggahnya sendiri. Setahun mengenal pemuda itu, Rea yakin bukan Robert pelakunya. Pemuda itu tidak pernah mengumbar hal-hal seperti itu. Jika ingin memberikan sesuatu, Robert akan memberikannya di rumah, tanpa ada orang lain yang tahu. “Kamu dapet hadiah lagi?” tanya Robert saat berjalan ke arah parkiran motor. Rea hanya mengangguk dan tidak menjawab sepatah katapun. “Nggak ada namanya lagi?” Kembali Rea hanya mengangguk sambil terus berjalan. Tangannya memegangi perut bagian bawah yang terasa nyeri. “Nggak penasaran pengen nyari tau?” Kali ini Rea menggeleng sebagai jawaban. Yang ada di benaknya adalah ingin segera tiba di rumah dan membaringkan badan. Robert mengembuskan napas gusar melihat sikap Rea. “Kamu tuh dari tadi kenapa sih? Diajak ngomong cuma manggut dan geleng doang? Kamu sakit?” Rea mengangguk pelan. Robert menghentikan langkah dan menahan tangan Rea. “Kenapa nggak bilang dari tadi sih?!” Robert menempelkan punggung tangan di kening Rea. “Bukan sakit kepala,” sahut Rea sambil menurunkan tangan Robert. “Terus?!” Rea menggelengkan kepala. Dia merasa risih jika Robert tahu tentang keadaannya saat ini. “Kenapa!” desak Robert. “Kalo nggak mau jawab, aku nggak akan ijinin kamu pulang.” “Tamu aku lagi dateng,” gumam Rea lirih. Untuk sesaat Robert terdiam dan bingung dengan perkataan Rea. Dia mencoba berpikir dan akhirnya tersenyum mengerti. “Oh …, kamu lagi bulanan toh.” Robert menganggukkan kepalanya. “Sakit banget?” “Iya.” “Mau minum obat?” “Nggak ah,” sahut Rea pelan. “Aku mau pulang aja, terus tidur.” “Ya udah.” Robert mengambil tangan Rea dan membimbing gadis itu ke arah motor. Di belakang, ada seseorang yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan antara Rea dan Robert. Dia tersenyum kecil karena kembali mengetahui sesuatu tentang Rea. Keesokan paginya, Rea berjalan ke kelas bersama Sisca. Tadi mereka berpapasan di gerbang sekolah, dan akhirnya bersama-sama memasuki kelas. Langkah Rea terhenti karena melihat bungkusan sedikit lebih besar di mejanya. “Lagi?” Rea menatap Sisca yang juga sedang melihat ke arah meja. “Gua beneran penasaran loh Re,” ujar Sisca. “Ini siapa sih yang kerajinan banget ngasih hadiah terus ke elo tiap hari. Emang elo nggak penasaran?” “Penasaran sih,” “Terus? Nggak mau nyoba nyari tau?!” sela Sisca. “Kalo sekali dua kali, okelah. Tapi ini tiap hari dan udah seminggu loh. Gua jadi ngerasa aneh plus takut. Jangan-jangan ini orang terobsesi banget sama elo.” “Iya sih.” “Buka gih, gua penasaran pengen tau isinya.” Rea menuruti permintaan Sisca. Dia duduk di kursi dan mulai membuka bungkusan dengan hati-hati. Matanya mendelik saat melihat isi hadiah di depannya. “Kenapa itu orang ngasih beginian Re?” tanya Sisca yang juga terkejut. “Entah, aku juga nggak tau.” “Ini kan bantal penghangat, biasa dipake buat orang kalo lagi sakit perut,” gumam Sisca. “Emang elo sakit perut?” “Kemarin iya. Kan aku baru dapet, biasa kan perutnya nggak enak banget.” “Nah loh?” Sisca menatap horor pada Rea. “Berarti ini orang juga tau dong kalo elo lagi ….” “Iya, tapi siapa? Nggak mungkin dia kan?” “Emang Robert tau?” “Tau,” sahut Rea. “Kemarin aku emang bilang pas pulang sekolah, tapi nggak ada orang lain lagi yang denger.” “Elo yakin?” Rea menatap ragu ke arah Sisca. Terlintas di benaknya saat dia sedang mengobrol dengan Robert kemarin siang. “Kayaknya ada lagi deh yang denger,” gumam Rea. “Siapa?” tanya Sisca penasaran. “Aku belum yakin,” sahut Rea pelan. “Aku harus pastiin dulu. Kalo emang dugaan aku bener, berarti emang dia yang selama ini ngasih hadiah.” “Siapa?” tanya Sisca makin penasaran. “Kalo pengen tau, besok ikut aku ke sekolah pagi-pagi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN