Calon Istri Masa Depan

2413 Kata
Begitu bel pulang berbunyi, Rea bergegas berdiri dan mengambil tas. Dia menoleh ke arah Sisca yang baru selesai membereskan meja. “Sis, aku duluan ya.” “Emang elo mau ke mana sih?” tanya Sisca sambil berdiri. “Mau pulang.” “Tumben amat? Ini kan baru jam sebelas? Biasa juga sore baru pulang. Elo mau pergi?” “Aku mau ke pasar dulu, mau belanja.” Sisca mengernyitkan kening mendengar perkataan Rea. “Tumben amat dah? Emang mau ada acara apaan?” “Nggak ada. Aku cuma mau masak doang buat makan malam.” “Gua ikut deh, boleh kan? Sekalian gua bantuin elo masak di rumah.” “Yakin?” tanya Rea ragu. “Aku ke pasar tradisional loh, bukan ke swalayan.” “Iya, emang kenapa? Elo masih nggak ngijinin gua ke rumah lo?” “Bukan begitu Sis,” sanggah Rea. “Di pasar, jalannya nggak bersih, kadang ada sampah di mana-mana. Kan kamu paling nggak suka kotor dan yang ada becek-becekannya.” Sisca langsung mengerucutkan bibir saat mendengar penjelasan Rea. “Kenapa nggak ke swalayan aja sih?! Kan di sana juga ada sayur dan yang lainnya. Udah gitu bersih, dan adem. Kita kan jadi bisa sekalian jalan-jalan.” “Iya, tapi kan harganya beda Sis. Lebih murah di pasar.” “Harus ke pasar ya?” “Iya. Aku pergi dulu ya.” Rea berjalan meninggalkan meja, menuju ke pintu kelas. “Gua ikut deh!” Sisca bergegas mengejar Rea yang sudah keluar. Begitu tiba di samping rea, Sisca langsung memeluk lengan sahabatnya. “Tapi aku mau naik angkot loh. Kamu beneran gapapa?” “Gimana elo aja dah.” sahut Sisca. “Gua ngikut aja.” Rea dan Sisca meninggalkan sekolah dan berdiri menunggu angkot. Tidak lama kemudian, angkot yang ditunggu datang, dan mereka naik. Sementara seperti biasa, Joko mengikuti dari belakang dan menunggu di depan pasar. Rea masuk ke dalam pasar dengan langkah ringan, sementara Sisca berusaha berjalan dengan hati-hati, dan mencoba untuk tidak menginjak bagian jalan yang kotor atau ada genangan air. Rea hanya tersenyum kecil melihat kelakuan Sisca. “Re, emang elo mau masak apaan sih?” tanya Sisca saat melewati bagian yang menjual bumbu dan sayuran. “Belum yakin sih, tergantung nanti masih ada apa di tempat daging.” “Emang rencananya mau bikin apa?” “Sebenernya makanan kesukaan mama tuh banyak banget, cuma yang lain aku udah sering masak. Tapi ada dua yang jarang banget aku bikin, karena biasanya dimasak kalo ada hal khusus.” “Apaan tuh?” tanya Sisca tertarik. “Ikan masak taoco sama kepiting saus tiram.” “Ngaco lo! Mau cari kepiting di mana?! Emang di pasar masih ada?” “Makanya aku mau liat dulu,” sahut Rea. “Kalo nggak ada, aku mau masak dengan bahan yang ada di pasar. Kalo emang nggak ada juga, paling nanti hari Minggu aku baru masak.” Rea membawa Sisca menuju ke daerah yang menjual ikan, dan berbagai hidangan laut lainnya. Namun, Rea terdiam saat melihat bahan yang tersisa tidak banyak dan sudah tidak segar lagi. “Yah …, ikan sama kepitingnya beneran nggak ada Re,” gumam Sisca setelah mereka menelusuri lorong penjual ikan. “Iya, gapapa. Kita cari yang lain aja.” Rea meninggalkan tempat ikan dan beralih ke bagian ayam. Dia berjalan perlahan sambil melihat-lihat daging ayam yang masih tersedia di beberapa penjual. Langkah kakinya terhenti saat melihat seorang penjual. Rea memegang ayam utuh dan memeriksa sejenak, kemudian tersenyum kecil. “Ibu, saya mau ayamnya sekilo ya, tolong dipotong kecil-kecil.” “Baik Neng.” “Bu, ayamnya tambah sekilo lagi, digabung jadi satu aja,” ujar Sisca sambil meletakkan selembar uang di dekat ibu penjual. “Kamu mau apa?” tanya Rea terkejut. “Gua nggak tau elo mau masak apa, tapi gua mau ikutan nyumbang, sekalian nanti mau nyicip.” “Buat apa? Sekilo aja jadinya banyak, apalagi yang makan cuma aku sama mama. Pasti bakal lebih.” “Ya kalo gitu, gua bawa pulang sebagian. Beres kan?” Rea tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia membiarkan saja Sisca melakukan apa yang diinginkan. Rea malas berdebat, apalagi di tempat ramai seperti ini. Setelah menerima bungkusan berisi ayam, Rea berlalu dari sana. “Habis ini, elo mau beli apa lagi?” tanya Sisca. “Bumbu-bumbu.” Rea mendatangi area yang menjual berbagai macam bumbu, dan membeli apa yang dibutuhkan. Beruntung, semua bahan yang diperlukan masih tersedia. Setelah selesai berbelanja, Rea dan Sisca meninggalkan pasar. “Sebenernya elo mau masak apaan sih? Banyak amat barang yang elo beli?” “Penasaran ya?” goda Rea. “Kalo penasaran, liat aja langsung. Kan tadi kamu bilang pengen ikut aku ke rumah.” “Beneran gua boleh ikut? Elo udah nggak akan larang gua dateng lagi?” “Jadi mau ikut apa nggak?” “Jadi dong.” Sisca memeluk lengan kiri Rea yang tidak membawa belanjaan. “Tapi kali ini, pulangnya pake mobil gua ya, biar lebih cepet sampe.” Rea menganggukkan kepala. Dia tidak tega juga melihat temannya yang sudah terlihat lelah, dan juga berkeringat. Melihat Sisca dan Rea mendekat, Joko bergegas turun dari mobil dan mengambil alih semua belanjaan, kemudian menaruh di dalam bagasi. Joko mengendarai mobil menuju rumah Rea. Rea turun dari mobil dan membawa semua belanjaan ke rumah. Sisca mengikuti dan membantu temannya membukakan pagar, dan pintu. “Sekarang ngapain?” tanya Sisca setelah berada di dapur. “Bantuin aku kupas bawang, mau?” “Caranya?” tanya Sisca. Rea memberi contoh pada Sisca, kemudian membiarkan temannya mengerjakan sendiri. Kemudian, Rea mencuci ayam dan mengerjakan hal yang lainnya. “Kamu kenapa Sis?” tanya Rea saat mendengar Sisca terisak. “Mata gua perih, dan tau-tau aka keluar air mata. Kenapa elo nggak bilang kalo ngupasin bawang bisa bikin kayak gini?” Rea terkekeh mendengar gerutuan Sisca. “Maap atuh, aku kan nggak tau kalo kamu bakal nangis.” “Rea jaat!” seru Sisca sambil menghapus air mata dengan punggung tangan. Melihat hal itu, Rea bergegas mengambil alih tugas Sisca, sehingga gadis itu dapat mencuci muka. Setelah semua bahan selesai dikerjakan, Rea mulai memasak, ditemani oleh Sisca. “Akhirnya selesai juga,” ujar Sisca sambil bertepuk tangan gembira saat Rea mematikan kompor. “Sekarang apa lagi?” “Katanya kamu mau coba? Ambil nasi gih, terus makan. *** Setelah Sisca pulang, Rea membereskan meja dan dapur. Kemudian dia memilih mandi, karena badannya terasa lengket setelah memasak. Selesai mandi, Rea duduk di ruang tamu menunggu Elly pulang sambil menonton televisi. Karena baru masuk sekolah, belum ada tugas yang harus dikerjakan. Rea bertahan di ruang tamu hingga malam. Sekitar pukul setengah sembilan, Rea mendengar pintu pagar dibuka. Tak lama dia mendengar suara motor Elly memasuki pekarangan. Rea menunggu ibunya masuk ke dalam rumah dengan perasaan tegang. Elly masuk ke dalam dan melihat Rea duduk di depan televisi. Namun, Elly tetap berjalan dan tidak mengacuhkan putrinya. Melihat Elly menuju kamar, Rea bangkit berdiri dan menghampiri ibunya. “Malam Ma,” sapa Rea sambil tersenyum manis. “Kenapa pulangnya malem banget?” Elly tidak menjawab sapaan Rea. Dia terus berjalan hingga tiba di depan kamar. Namun, Rea tidak menyerah dan berjalan di belakang ibunya sambil berkata. “Mama belum makan kan? Kita makan bareng yuk? Tadi Rea bikin ayam woku.” Hati Elly tersentuh mendengar perkataan Rea. Namun, sangat berbeda dengan yang ditunjukkannya di depan putrinya. “Nggak usah, saya udah kenyang.” “Tapi Rea sengaja masak buat Mama. Rea juga belum makan, karena mau makan bareng. Kita kan udah lama nggak makan sama-sama.” “Emang kapan kita pernah makan bareng? Dalam mimpi?!” sahut Elly dingin. “Tapi Ma,” “Udah, saya cape. Saya mau mandi dan istirahat. Kalo emang belum makan, silakan makan sendiri!” Elly bergegas masuk ke dalam kamar, dan menutup pintu dengan cepat. Rea memandang Elly yang menghilang ke kamar. Hatinya kembali terluka karena sikap ibunya yang dingin. Hilang sudah rasa lapar yang sejak tadi ditahan. Dengan langkah gontai, Rea berjalan ke kamar. Dia merebahkan diri di tempat tidur, mencoba untuk tidur dan melupakan sikap ibunya barusan. Tengah malam, Elly keluar dari kamar dan berjalan ke dapur. Langkahnya terhenti di meja makan saat melihat makanan masih tertata rapi dan belum dibereskan oleh Rea. Perlahan, Elly menarik kursi dan duduk di sana. Tangannya terulur mengangkat tudung saji. Senyum kecil mengembang di wajahnya saat melihat masakan buatan Rea. Dia membuka piring, mengambil sepotong ayam dan memasukkan ke dalam mulut. Elly mengunyah perlahan, mencoba menikmati rasa masakan. Matanya berkaca-kaca saat menyadari jika semakin hari, putri semata wayangnya semakin mahir dalam mengolah masakan. Sebenarnya, jauh di lubuk hati, Elly menyayangi Rea. Namun, pengkhianatan yang dilakukan almarhum suaminya, masih membekas dan sulit untuk dilupakan. Itulah yang membuat Elly sangat menjaga jarak dengan Rea. Apalagi wajah putrinya sangat mirip dengan Johan, itu salah satu sebab Elly menjauhi Rea. Karena setiap melihat wajah putrinya, kenangan pahit itu akan kembali membayang di pelupuk matanya. “Maafin Mama,” gumam Elly lirih. “Mama bukan nggak sayang sama kamu, tapi rasanya sakit banget kalo ngeliat kamu. Apa yang papa kamu lakuin itu, rasanya sakit banget. Dan sampe sekarang sakitnya nggak berkurang sama sekali, malah makin besar. Ngeliat muka kamu, selalu bikin mama inget sama pengkhianatan papa.” Rea yang sebenarnya belum tidur, mendengar saat Elly membuka pintu. Penasaran, dia keluar dari kamar dan berdiri di balik tembok. Saat itulah dia mendengar perkataan ibunya. Rea membekap mulut, mencoba menahan tangis, dan kembali ke kamar. Rea merebahkan diri di tempat tidur. Perkataan Elly kembali terngiang dan membuat dadanya terasa sesak. “Ma, sebenernya apa yang udah dilakuin papa? Kenapa mama bilang papa ngehianatin mama? Kenapa mesti Rea yang kena imbasnya?” Perlahan, air mata mengalir di kedua pipinya. “Rea juga pengen disayang sama mama. Pengen ngerasain ngobrol berdua, pergi jalan-jalan sama mama, seperti yang anak lain dapetin dari mama mereka.” Keesokan pagi, Rea bersiap ke sekolah seperti biasa. Sebelum pergi, dia memasukkan ayam yang sudah dihangatkan ke dalam wadah, begitu juga dengan nasi. Rea mengambil tas dan keluar rumah. “Kenapa ke sini?” tanya Rea saat akan membuka pagar. Robert tersenyum lebar mendengar sambutan Rea. “Seperti biasa, jemput kamu. Udah siap?” “Udah.” Robert menggandeng tangan Rea menuju motor yang diparkir di depan g**g. Dia membonceng Rea seperti biasa hingga tiba di sekolah. Robert juga mengantar Rea hingga tiba di depan kelas, setelah itu barulah dia naik ke atas, ke kelasnya sendiri. Karena semalaman tidak tidur, Rea merasa mengantuk, dan memilih untuk merebahkan kepala sepanjang pelajaran. Beruntung dia duduk di belakang hingga guru tidak tahu. Rea tetap seperti itu hingga bel istirahat berbunyi. “Re, ke kantin yuk?” ujar Sisca. “Nggak ah, aku mau di sini aja.” “Nggak laper?” Rea menggelengkan kepala tanpa semangat. “Eh, kamu ke kantin mau apa?” tanya Rea yang teringat dengan bekal yang dibawa. “Mau beli makan lah, laper.” “Aku bawain bekel, kamu mau?” “Bekel? Apaan?” tanya Sisca sambil duduk lagi di samping Rea. “Nasi sama ayam woku. Mau nggak? Kalo nggak mau biar aku kasih ke Liana.” “Jangan! Gua mau kok. Gua masih pengen makan sama ayam bikinan elo. Kemarin gua belum puas.” Rea tertawa kecil mendengar perkataan Sisca. Dia mengambil paper bag dan menaruh di atas meja. “Mau makan sekarang?” Rea mengeluarkan wadah berisi nasi, dan ayam. “Tentu saja,” sahut Sisca. “Tapi itu banyak banget Re. Emang semalem elo sama nyokap nggak makan?” “Udah, tinggal makan aja. Aku panggil Liana dulu ya.” “Eits, tidak bisa!” Aaron yang baru datang langsung menahan tangan Rea dari sisi tempat Sisca. “Kamu mau apa?” tanya Rea. “Mau minta makanan juga, kayaknya enak. Boleh kan?” “Silakan aja. Sana bagi-bagi sama Sisca, aku mau panggil Liana dulu.” “Eh, tunggu dulu!” Aaron menahan tangan Rea lagi. “Obet nggak dibagi?” “Eh?” Rea terkejut mendengar pertanyaan Aaron. “Maksudnya?” “Iya, elo ada bawa buat Obet nggak? Gua yakin Obet juga pasti pengen makan masakan elo,” ujar Aaron. “Kalo gitu, gua panggil Obet dulu ya.” Aaron meninggalkan kelas untuk memanggil sepupunya. Rea menoleh pada Sisca yang sudah asik menikmati makanan. “Kenapa?” tanya Sisca melihat Rea terdiam. “Aaron mau panggil dia,” ujar Rea. “Terus gimana dong?” “Ya nggak gimana-gimana Re. Biarin aja sih kalo emang Robert mau ikutan makan.” “Tapi kan-” Rea tidak melanjutkan perkataannya karena orang yang sedang dibicarakan sudah datang. “Kenapa panggil aku?” tanya Robert dengan wajah sumringah. “Manggil kamu?” Rea mengulangi perkataan Robert. “Iya, kata Aaron kamu manggil aku. Kenapa?” Rea melongo mendengar jawaban Robert. Setelah sadar, Rea mengalihkan tatapan ke arah Aaron yang menyeringai jail. “Emang aku bilang mau panggil dia? Bukannya kamu yang mau?” Aaron terkekeh mendengar teguran Rea. “Habis kalo nggak gitu, Obet nggak akan mau ke sini.” “Sekarang aku udah di sini,” ujar Robert. “Kamu mau apa?” “Bukan aku yang manggil kok,” bantah Rea. “Terus?” “Aaron yang mau.” Robert menoleh pada sepupunya. “Ngapain elo manggil gua?!” “Mau ngajak elo makan bareng,” sahut Aaron tanpa rasa bersalah. “Jadi ceritanya, Rea tuh masak, dan dia bawa ke sekolah. Gua mau elo nyobain masakan dia. Elo mau kan?” “Ngomong dong dari tadi!” Robert menghampiri meja Rea dan duduk di kursi depan meja Rea. “Kayaknya enak juga. Terus aku makannya gimana Re?” “Ya tinggal makan aja sih!” celetuk Sisca dengan mulut penuh. “Tinggal ambil nasi sama lauknya, terus makan. Masa mesti diajarin segala?!” Robert tidak mengacuhkan ceramah Sisca. Dia mengambil nasi dan juga ayam, dan mencicipi masakan Rea. “Enak nggak Bet?” tanya Aaron. “Enak. Elo cobain sendiri aja.” Aaron langsung mengikuti jejak Robert dan memasukkan sepotong ayam ke dalam mulut. “Iya ih, ini enak banget,” gumam Aaron. “Elo beneran masak sendiri Re?” “Iya.” Sisca yang menjawab pertanyaan Aaron. “Gua bisa jadi saksi kok. Dia yang masak sendiri kemarin. Gua cuma bantuin dikit.” “Wah, kalo kayak gini sih, elo bisa langsung bawa ke rumah Bet. Kenalin Rea ke aunty, dan bilang sama aunty kalo Rea itu calon istri masa depan lo.” “UHUK!” Robert langsung tersedak mendengar perkataan Aaron yang di luar dugaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN