Rea berjalan memasuki sekolah dengan langkah gontai. Rasanya sangat malas masuk ke sekolah, karena dia pasti akan bertemu dengan Robert dan Sisca. Mereka berdua pasti akan bertanya mengapa dia menjauh dan sulit untuk dihubungi. Rea berjalan tanpa semangat melewati pintu utama sekolah. dan terus melangkah melewati selasar tanpa mengacuhkan keadaan sekitar.
Sisca yang baru datang, melihat temannya berjalan menuju papan pengumuman. “REA!” seru Sisca sambil berlari menghampiri temannya.
Rea yang mendengar namanya dipanggil, membatalkan niatnya mendatangi papan pengumuman dan kembali berjalan ke mana saja asal tidak bertemu dengan Sisca. Dia tetap berjalan dan tidak mengacuhkan panggilan temannya.
Sisca mengernyitkan kening melihat sikap Rea yang sedikit aneh. Apalagi, sejak pulang dari Jogja, Rea sengaja menghindar. Tidak menjawab panggilan telepon, membalas pesan seadanya, dan juga tidak mau bertemu dengannya.
Merasa penasaran, Sisca mempercepat langkah mengejar Rea. Dia menepuk punggung temannya dengan keras. “Keterlaluan banget sih! Dipanggil bukannya berhenti malah jalan terus!” Sisca menggerutu setelah berjalan di samping Rea. “Elo tuh kenapa sih Re?! Sejak pulang dari Jogja, sikap lo jadi beda banget!”
“Gapapa,” sahut Rea pelan. “Kamu udah tau di kelas berapa?”
“Belum. Tapi kata anak-anak, kita sekelas lagi. Cuma Ivana, dan beberapa anak yang pisah, selebihnya tetep sama.” Sisca menjawab Rea dengan suara ketus. Dia masih sedikit kesal karena sikap temannya. “Elo mau duduk sama siapa?”
Rea mengangkat bahu. “Bebas. Sama siapa, nggak jadi masalah. Toh sama aja kan.”
Jawaban datar Rea, membuat Sisca kembali gusar. Dia mengentakkan kaki dan menahan tangan temannya. “Elo tuh kenapa sih?! Elo nggak mau sebangku lagi sama gua?!”
“Kata siapa? Kan aku nggak ngomong apa-apa.” Rea menoleh dan menatap Sisca yang tampak sangat gusar. “Emang aku ada salah ngomong apa?”
Sisca mendelik pada Rea yang tetap tenang. “Elo emang nggak ngomong apa-apa, cuma cara ngomong lo nggak enak banget tau! Kesannya tuh kayak udah nggak mau temenan sama gua lagi!”
“Ngaco.” Dengan cepat, Rea menyanggah perkataan Sisca. “Maksud aku tuh, mau duduk sama siapa aja, nggak masalah. Kalo dapet sama anak-anak yang bareng dari kelas sepuluh, aku kan udah kenal sama mereka. Gitu maksud aku.”
Sisca tersenyum lebar setelah mendengar penjelasan Rea. Hatinya merasa lega karena ternyata Rea tetap bersikap sama seperti sebelumnya. “Gua kira elo marah sama gua, dan nggak mau temenan lagi sama gua.”
“Siapa juga yang marah sama kamu Sis,” ujar Rea sambil tersenyum kecil. “Ngomong-ngomong, kelas kita di mana? Ke kelas yuk.”
“Kita kebagian kelas yang di ujung, masih di lantai bawah juga,” sahut Sisca sambil mengikuti langkah Rea. Sambil berjalan, Sisca mengajukan pertanyaan lagi pada temannya. “Terus kenapa elo kayaknya ngejauh? Elo ada masalah apa?”
“Nggak ada Sis, aku beneran gapapa.”
Sisca memeluk lengan Rea dan bersama berjalan menuju kelas baru mereka. tadi di perjalanan ke sekolah, Sisca sudah bertanya terlebih dahulu pada Aaron, sehingga tahu dengan pasti di mana kelas mereka. Begitu tiba di depan kelas, mereka langsung disambut teriakan teman-teman yang sudah datang.
Aaron yang duduk di kursi paling belakang dekat jendela, melambaikan tangannya ke arah Rea dan Sisca. “Re! Nih udah gua siapin meja buat elo sama Sisca. Sengaja gua pilihin di sini, mengingat kebiasaan elo yang suka kabur.”
Rea tersenyum kecil mendengar perkataan Aaron dan berjalan menuju mejanya. Sementara Sisca bergegas mendatangi tempat pilihan Aaron dengan senyum lebar.
“Makasih banget Aaron ganteng,” ujar Sisca setelah tiba di meja. “Elo tau aja yang kita berdua mau.”
Aaron mendengkus geli mendengar perkataan Sisca. “Giliran yang begini, bilang gua ganteng. Coba aja kalo lagi kumat juteknya, pasti bilang gua jelek.”
Seringai di wajah Sisca semakin lebar mendengar jawaban Aaron. “Itu tau. Tapi nggak juga sih, sekarang elo beneran makin ganteng kok,” ujar Sisca sambil mengamati wajah Aaron yang pada dasarnya memang tampan.
“Dasar lo!” Aaron menjitak pelan kening Sisca.
“Sakit tau!” Sisca mengusap keningnya. “Eh, ngomong-ngomong, elo orang tau nggak siapa yang bakal jadi WK?”
“Nggak tau, tapi ada bocoran katanya Pak Rinto. Kenapa gitu?” tanya Aaron.
“Gapapa, nanya aja.”
“Ron, boleh permisi? Aku mau duduk.” Rea menyentuh bahu Aaron yang berdiri membelakangi Rea.
Aaron membalikkan badan dan langsung tersenyum lebar melihat Rea. “Silakan Nona Cantik.” Aaron bergeser dan menundukkan badan, mempersilakan Rea untuk lewat.
Rea tersenyum kecil dan berjalan ke meja. Dia meletakkan tas di meja, kemudian duduk. Sisca yang melihat hal itu langsung mengajukan protes. “Re, elo duduknya di pojok ya, gapapa kan? Biar kalo elo mau kabur, nggak perlu repot-repot muter.”
Rea mendongak dan menatap Sisca. “Bilang aja pengen deket sama Aaron.”
“Nggak ih! Apaan coba nuduh sembarangan,” sahut Sisca dengan pipi memerah.
Rea tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia berdiri dan bergeser ke samping. Aaron yang sejak tadi memperhatikan, sedikit merasa aneh dengan sikap Rea yang datar. Dia menarik tangan Sisca dan membawa gadis itu keluar kelas.
“Apaan sih?!” Sisca menyentakkan tangannya setelah berada di luar kelas.
“Rea kenapa?”
Sisca mengangkat bahu. “Gua juga nggak tau. Dia berubah sejak pulang dari Jogja.”
“Aneh,” gumam Aaron. “Dia juga jadi jaga jarak ke Obet. Tadi juga dia nggak pergi bareng sama Obet. Pasti ada sesuatu yang salah.”
“Iya kan,” sahut Sisca cepat. “Gua juga ngerasa begitu, tapi dia nggak mau ngomong apa-apa. Kan gua jadi penasaran plus sebel!”
“Gimana kalo kita berdua cari tahu?” usul Aaron bersemangat.
“Boleh juga, tapi gimana caranya?” ujar Sisca sambil mengerucutkan bibir. “Masalahnya Rea sama sekali nggak mau ngomong. Mulutnya rapet banget kaya dikasih lem super.”
Aaron meringis mendengar perkataan Sisca. “Ya kita coba aja. Itung-itung kita bantu hubungan Obet sama Rea biar makin lancar. Gimana?”
Sisca meletakkan jari telunjuk di dagu, seolah sedang berpikir keras. “Tapi harus ada imbalannya.”
“Dasar lo!” Aaron mengacak rambut Sisca dengan gemas.
“Apaan sih?!” Sisca menepis tangan Aaron yang masih bertengger di kepalanya. “Jangan-”
Sisca tidak melanjutkan perkataannya karena bel masuk berbunyi. Pembahasan mengenai Rea pun akhirnya harus terhenti, karena anak-anak mulai keluar dari kelas menuju ke lapangan untuk apel di hari pertama masuk sekolah.
***
Pulang sekolah, Rea segera membereskan meja dan keluar dari kelas. Sebisa mungkin, dia tidak ingin pulang bersama Sisca, dan mencoba menghindari Robert. Namun, niatnya tidak terlaksana karena Robert sudah menunggu di depan kelas. Rea berpura-pura tidak melihat pemuda itu dan terus berjalan.
Robert yang melihat hal itu, tidak tidak diam. Saat Rea melintas di sampingnya, dengan cepat dia menahan lengan gadis itu. “Kamu mau ke mana? Kenapa kamu buru-buru? Emang ada latihan hari ini?”
Dengan gerakan perlahan, Rea berusaha melepaskan cekalan tangan Robert. “Aku ada mau pergi dulu.”
Robert semakin mengeratkan pegangan tangan, dan tidak membiarkan Rea lepas begitu saja. “Ke mana? Biar aku anter.”
“Jangan, aku bisa pergi sendiri.”
Gusar mendengar jawaban Rea, Robert menarik tangan gadis itu dan membawanya meninggalkan lorong kelas. Rea hanya diam dan tidak mengatakan apapun. Percuma saja berusaha melarikan diri, karena dia tahu Robert tidak akan membiarkan dirinya pergi. Setelah tiba di kebun belakang, Robert berdiri di hadapan Rea. “Kamu tuh kenapa sih? Kenapa sikap kamu jadi begini lagi? Apa aku ada bikin salah sama kamu?”
“Aku gapapa.”
“Bohong!” sentak Robert gusar. “Pasti ada apa-apa sampe kamu bersikap kayak gini!”
Rea menatap kedua bola mata Robert. “Kalopun emang ada, itu urusan aku, nggak ada hubungannya sama kamu.”
“Kata siapa?!” sentak Robert kasar. “Semua yang berhubungan dengan kamu, itu urusan aku!”
Rea mengembuskan napas mendengar jawaban yang keluar dari bibir Robert. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada pemuda itu. Sebenarnya Rea sengaja menjaga jarak dengan Robert dan Sisca karena perkataan dan tuduhan Elly ketika dia baru pulang dari Jogja.
Setelah Elly marah ketika mengetahui dia pergi ke Jogja, sikap ibunya semakin dingin saja. Jika biasanya Elly masih mau bicara, walaupun dengan nada datar, dan hanya seperlunya saja, sekarang ibunya selalu diam. Begitu juga saat memberikan uang, tidak ada pesan apapun untuk Rea, hanya meletakkan uang di tempat biasa.
Karena itulah Rea berusaha bersikap dingin pada Robert dan Sisca. Hanya diam di rumah sampai liburan selesai, kecuali jika ada latihan. Dengan berbagai pertimbangan, Rea mengganti jadwal latihan, supaya Robert tidak bisa mengantar jemput seperti biasa. Dia berharap dengan begini, Elly mau memaafkan dan kembali bersikap baik padanya.
Melihat Rea hanya diam, Robert kembali bertanya. Kali ini dengan nada yang lebih lembut. “Kamu kenapa? Sebenernya ada masalah apa?” Robert memperhatikan wajah Rea yang terlihat sedikit pucat dan lebih tirus dibanding terakhir bertemu. “Apa ada hubungannya sama mama kamu?” tanya Robert hati-hati.
Rea tidak membantah ataupun mengiyakan perkataan Robert. Dia tetap diam dan tidak mau membalas tatapan pemuda itu.
“Aku bener kan?” Robert sedikit mendesak Rea untuk menjawab pertanyaannya.
Namun, Rea tetap diam dan terus menundukkan kepala.
“Re?” panggil Robert lebih lembut. “Kamu habis ribut lagi sama mama?”
Rea mengangkat wajah dan menatap Robert. “Nggak juga.”
“Terus?”
“Ng-nggak ada,” sahut Rea tergagap.
Melihat Rea tergagap seperti itu, tanpa sadar Robert mengulurkan tangan dan mengangkat wajah Rea dengan lembut. “Kamu itu paling nggak bisa boong Re. Dan kalo gugup, kamu tuh makin cantik tau.”
“Apaan sih?!” Rea jadi tersipu mendengar perkataan nyeleneh Robert.
“Coba bilang sama aku, sebenernya ada apa? Siapa tau aku bisa bantu, hm?” Robert mencoba membujuk Rea untuk bercerita.
Rea menggelengkan kepalanya. Dia enggan menceritakan masalahnya pada Robert. Cukup dia saja yang tahu dan berusaha menyelesaikan semuanya. Namun, Robert tidak menyerah begitu saja. Dia memegang kedua bahu Rea, kemudian, Robert menundukkan wajah agar sejajar dengan mata Rea.
“Kamu mau apa?” Rea menutupi bibirnya dengan tangan.
Robert tertawa tanpa suara melihat kelakuan Rea. “Kalo kamu nggak mau cerita, nanti aku lakuin juga apa yang kamu takutin. Mau?” Robert pura-pura mengancam Rea.
Rea menggelengkan kepala dengan panik dan melangkah mundur, menjauhi Robert.
“Berarti mau cerita kan?” Robert memamerkan senyum manis.
“Apa yang mesti diceritain?” Rea masih berusaha mengelak.
“Semuanya, termasuk kenapa kamu ribut sama mama.”
“Aku nggak ribut kok,” bantah Rea cepat.
“Terus apa dong?”
Rea memandang Robert lekat-lekat. Dia menimbang apakah perlu untuk menceritakan semuanya pada pemuda itu. Namun, jika bercerita, dia takut akan semakin tergantung pada Robert, padahal mereka tidak memiliki hubungan apapun. Tapi, jika tidak cerita, hatinya akan terus terasa berat.
Melihat Rea diam, Robert mengambil tangan gadis itu dan membawa gadis itu menuju pohon besar yang ada di pojok kebun.
“Mau apa lagi?” tanya Rea sambil berusaha melepaskan tangannya.
“Duduk,” sahut Robert. “Apa kamu nggak pusing berdiri terus di bawah sinar matahari?” Setelah Rea duduk, dia menjatuhkan diri tepat di samping gadis itu. “Sekarang cerita ada apa?”
“Harus ya?”
“Iya.”
“Tapi aku nggak mau. Bukan apa-apa, tapi aku mau coba nyelesaiin sendiri, gapapa kan?”
“Kalo nggak selesai juga gimana?” tantang Robert.
“Saat itu aku baru cerita sama kamu.”
“Janji?”
Rea mengangguk dengan mantap. “Iya.”
“Tapi aku minta tolong satu hal,” ujar Robert lembut.
“Apa?”
“Aku nggak tau masalah yang kamu lagi hadapi, tapi aku mau kamu tetep bersikap biasa sama aku. Jangan menghindar dan jauhin aku. Tetep pergi sekolah sama aku, terima telepon, balas pesan, dan bersikap seperti biasa kalo di sekolah. Bisa?”
Rea menimbang permintaan Robert sebelum akhirnya menjawab. “Kalo aku nggak mau, gimana?”
“Aku bakal terus nempel sama kamu kayak perangko. Kalo perlu, aku bakal dateng ke rumah dan bilang ke mama kamu.”
Rea terkejut mendengar perkataan Robert. “Bilang ke mama? Emang kamu mau bilang apaan?”
“Kalo aku suka sama anaknya dan pengen jadiin kamu tunangan aku, gimana? Dengan begitu, aku bisa terus di samping kamu, dan bantuin semua urusan kamu.”
“Kamu udah gila ya?!”