Menumpahkan Kesedihan

2018 Kata
“Re, gua laper nih …, makan yuk?” Rea yang sedang menonton televisi di sofa, menoleh ke belakang dan menatap Sisca yang sedang berbaring di tempat tidur. “Lagi? Kamu beneran laper? Kan belum lama habis makan keripik?” “Iya. Gua juga nggak tau, pengennya makan mulu,” sahut Sisca sambil meringis. “Enaknya makan apa ya?” “Waduh, aku mana tau Sis. Emang sekarang jam berapa?” Rea melihat ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Sekarang udah jam sepuluh loh. Kamu yakin mau makan lagi? Emang di sini masih ada tempat makan yang buka?” “Entah,” sahut Sisca sekenanya. “Gua baru mau tanya sama Gerry.” Sisca meraih ponsel dan mengirimkan pesan pada Gerry. . Sisca : ger, jam segini enaknya makan apa? Sisca : keluar yuk, kita cari makan Sisca : gua juga pengen keliling jogja Sisca : mau ya? . “Bet, Sisca ngajakkin keluar nih. Elo mau nggak?” Robert mengangkat bantal yang menutupi wajahnya dan memandang Gerry. “Mau ngapain? Lagian jam segini mau ke mana?” “Katanya laper. Elo ikut ya? Kita muter-muter di Malioboro aja, mau?” tanya Gerry antusias. “Lagian elo juga belum ngantuk kan? Daripada di kamar doang, mending juga jalan-jalan.” Robert berpikir sejenak, sebelum menjawab pertanyaan Gerry. “Boleh lah. Tapi Rea ikut kan?” Gerry terkekeh mendengar pertanyaan sahabatnya. “Ya pasti ikut lah. Elo gimana sih?!” “Ya kalo itu gua ikut.” Robert turun dari tempat tidur, mengambil jaket yang disampirkan di sofa dan berjalan ke arah pintu. “Elo mau ngapain?” tanya Robert saat melihat Gerry masih duduk di tempat tidur. “Mau bales pesen Sisca dulu lah.” “Ngapain? Mending langsung ke kamarnya aja, lebih cepet kan?” Gerry tergelak mendengar perkataan Robert. “Segitunya Bet! Bilang aja pengen cepet-cepet ketemu sama Rea.” Robert tidak mengacuhkan ledekan Gerry. Dia membuka pintu dan menunggu temannya di lorong sambil bersandar pada dinding. Gerry bergegas mengejar Robert dan bersama mereka berjalan menuju ke kamar yang ditempati Rea dan Sisca. Sisca yang sedang menunggu balasan pesan dari Gerry, mendengar pintu kamarnya diketuk. Sisca berlari dan bergegas membukakan pintu. “Ngapain ke sini?” tanya Sisca setelah mengetahui siapa yang datang. “Katanya laper? Ayo keluar, kita cari makan.,” ujar Gerry. “Seriusan?” tanya Sisca dengan mata berbinar. “Kalo gitu tunggu bentar, gua sama Rea ganti baju dulu.” “Jangan pake lama!” ujar Robert yang bersandar di dinding seberang kamar. Sisca menutup pintu dan berlari ke sofa. “Re, ayo ganti baju. Kita jalan-jalan. Gerry mau nemenin nyari makan.” Rea yang belum mengantuk dan sedikit merasa bosan, langsung berdiri untuk mengganti celana. Tidak lama kemudian, Rea dan Sisca keluar kamar dan berjalan beriringan menuju ke lobi hotel di mana Joko sudah menunggu. “Kita mau ke mana?” tanya Sisca setelah mobil yang dikendarai Joko meninggalkan hotel. “Elo mau makan apa dulu?” tanya Gerry yang cukup mengenal kota Jogja. “Nggak tau,” sahut Sisca. “Enaknya makan apaan?” Sisca menoleh ke arah Rea untuk meminta pendapat temannya. “Elo lagi pengen makan apa Re?” Rea membalikkan badan dan melihat ke belakang. “Angkringan itu apaan sih Ger?” “Elo mau nyoba angkringan?” tanya Gerry. “Iya, tapi apaan dulu?” “Oh itu,” ujar Gerry. “Jadi di sana itu disediain nasi dalam ukuran kecil, begitu juga sama lauknya. Pokoknya semua dalam ukuran kecil deh. Terus kamu tinggal pilih mau makan yang mana, gitu.” “Gitu ya,” gumam Rea. “Sis, mau coba angkringan nggak? Kayaknya enak deh.” “Oke, nggak masalah,” sahut Sisca. “Ger, yang enak di mana?” “Di sekitar Malioboro.” Sisca menganggukkan kepala, kemudian memajukan tubuhnya ke arah Joko. “Pak, kita ke Malioboro ya.” “Siap Non.” Joko mengemudikan mobil menuju ke Malioboro. Dia mengikuti arahan Gerry sehingga tidak lama kemudian, mereka sudah tiba di sana. Namun, tidak ada tempat parkir yang kosong, sehingga akhirnya Joko memilih untuk memutari jalan. Setelah berputar dua kali, akhirnya Joko menemukan tempat kosong dan langsung memarkir mobil di sana. Begitu mobil berhenti, Sisca langsung membuka pintu dan turun, disusul oleh Rea dan Gerry. Bersama-sama mereka masuk ke dalam tenda panjang. “Kita duduknya di sana?” Sisca menunjuk ke arah satu-satunya meja yang kosong, dan kebetulan bersebelahan dengan sekumpulan anak muda yang juga sedang makan. “Iya, kenapa?” tanya Gerry bingung. “Itu banyak anak cowoknya, apa gapapa?” Sisca khawatir jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. “Tenang aja, mereka luarnya doang yang keliatan serem, aslinya baik kok.” Gerry berjalan ke salah satu meja panjang yang penuh dengan berbagai macam makanan. Sisca langsung mengikuti Gerry, diikuti oleh Rea, Robert, dan Joko. Ada begitu banyak makanan berjajar di sana, hingga mereka sulit menentukan pilihan. Setelah selesai mengambil makanan, Gerry mengajak mereka ke meja kasir. Setelah dihitung dan ditulis, Gerry mengajak teman-temannya duduk di tempat yang tadi ditunjuk oleh Sisca. Sebelum duduk, Gerry dan Robert menganggukkan kepala pada para pemuda yang berada tepat di samping mereka. Robert memilih duduk di samping Rea, sementara Gerry bersebelahan dengan Sisca. “Ini buka sampe jam berapa Ger?” tanya Rea sambil memperhatikan sekeliling tempat makan yang masih ramai, walaupun hari sudah semakin larut. “Biasanya sampe habis aja sih,” sahut Gerry. “Tapi kalo di sini tuh rame terus, kadang bisa sampe dini hari, karena banyak yang pada kumpul-kumpul. Kalo malam minggu malah lebih rame lagi.” “Selain di sini, ada di mana lagi? Terus ada tempat ngumpul yang lain nggak?” Rea bertanya lagi karena merasa tertarik dengan suasana malam di kota Jogja. Diam-diam Robert tersenyum melihat Rea yang tampak banyak bertanya sejak datang ke kota ini. Ada-ada saja pertanyaan yang diajukan gadis itu. Gerry pun merasakan hal yang sama dengan Robert. Gadis yang biasanya lebih banyak diam dan tertutup, sekarang tampak ceria dan banyak bertanya. “Tumben amat elo tertarik? Pengen nyoba begadang sambil keliling Jogja tengah malam?” ledek Gerry. “Emang boleh?” Rea menatap Sisca dengan pandangan bertanya. “Boleh aja, cuma kan besok mau ke Parangtritis, emang nggak cape?” “Oh iya ya,” gumam Rea. “Ya udah, nggak jadi aja.” Rea sedikit kecewa karena tidak bisa berkeliling Jogja di malam hari. Robert yang sejak tadi memperhatikan, merasa iba dan tidak tega melihat sorot sedih yang terpancar dari bola mata Rea. “Nanti aja, sebelum pulang, kita keliling Jogja sampe tengah malam.” Senyum Rea langsung merekah saat mendengar perkataan Robert, menampakkan lesung di kedua pipinya. Robert terdiam melihat senyum Rea yang membuat gadis itu semakin tampak cantik dan membuat jantungnya berdebar kencang. Gerry yang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengganggu Robert, tidak ingin kehilangan momen. Dia langsung melancarkan ledekan untuk sahabatnya. “Cie …,cie …, cie …, ada yang lagi kesemsem sama senyum lo tuh Re.” Dengan gaya menyebalkan, Gerry melambaikan tangan di depan wajah Robert. “Woy! Kenapa bengong begitu?!” Robert menepis tangan Gerry dan melotot pada sahabatnya. Namun, Gerry yang sudah kebal, malah tergelak keras melihat pipi Robert yang jadi kemerahan karena malu. *** “Re, elo mau tidur di rumah gua dulu apa langsung pulang aja?” tanya Sisca saat mobil yang dikendarai Joko memasuki kota Jakarta. Rea melihat jam tangannya, kemudian menatap Sisca. “Kayaknya langsung pulang aja Sis, gapapa kan?” “Gapapa sih,” sahut Sisca sambil memajukan badan ke arah Joko. “Pak, berarti kita ke rumah Rea dulu ya, dari situ baru ke rumah Robert. Terakhir baru kita pulang. Bapak masih kuat kan?” “Siap Non. Tenang aja, Bapak masih kuat kok.” Joko mengendarai mobil menuju ke rumah Rea. Dia berhenti di pinggir jalan dan menunggu hingga Rea turun dan mengambil barang bawaannya. Robert memutuskan ikut turun dan membantu Rea membawa barang bawaan ke rumah. Robert mengantar Rea sampai ke teras, kemudian menunggu sampai gadis itu masuk. Setelah itu Robert kembali ke mobil, dan Joko pun kembali melanjutkan perjalanan. Rea masuk ke dalam rumah, dan langsung ke kamar. Dia mengeluarkan barang-barang, kemudian menaruh pakaian kotor di belakang. Setelah itu mandi, dan terakhir merebahkan diri di tempat tidur. Tidak beberapa lama kemudian, Rea tertidur. Dia tidak mendengar saat Elly pulang, bahakan saat ibunya masuk ke dalam kamar. Rea baru terbangun saat mendengar suara gemerisik di kamarnya. Dia membuka mata dan melihat Elly tengah memeriksa kantong berisi oleh-oleh dari Jogja. “Mama? Kapan pulang?” Elly membalikkan badan dan menatap dingin ke arah Rea yang sudah duduk di tempat tidur. “Kamu dari mana?! Kenapa nggak sekalian aja pergi selamanya dari rumah?! Kamu pikir rumah ini terminal! Yang bisa kamu singgahin kapan aja sesuka hati?!” Elly menyemburkan kemarahannya saat melihat Rea sudah bangun. Hati Rea mencelos mendengar teguran Elly. “Mama kenapa ngomongnya gitu? Kan waktu itu Rea udah kasih tau kalo mau nginep di rumah Sisca.” Elly tidak menjawab pertanyaan Rea. Dia menunduk dan mengambil salah satu bungkusan lanting, kemudian mengacungkan ke arah Rea. Tatapan Elly sangat dingin saat berkata pada putrinya. “Nginep di rumah Sisca?! Terus ini apaan?!” Elly membuang bungkusan lanting ke lantai. “Kamu udah mulai berani bohong ya! Bilang nginep di rumah Sisca, nyatanya?!” Rea mengambil napas perlahan, mencoba mengurangi rasa sesak di d**a karena perkataan Elly. “Waktu Rea ijin, emang taunya mau nginep di rumah Sisca. Tapi Rea beneran nggak tau kalo mau diajak jalan-jalan Ma.” “Jangan coba-coba ngarang cerita! Saya paling nggak suka sama orang yang sengaja bikin alasan supaya nggak dimarahin! Sekali bohong ya tetap bohong!” “Rea nggak bohong Ma.” Rea tetap berusaha menjelaskan yang sebenarnya “Kenapa sih Mama nggak pernah percaya sama Rea?” “Karena kamu sangat mirip dengan papa kamu!” “Terus hubungannya apa?” Rea semakin tidak mengerti dengan maksud Elly yang membawa-bawa ayahnya. “Saya ke sini cuma mau bilang, kalo kamu masih mau tinggal di sini, ikutin aturan yang ada!” Elly langsung meninggalkan kamar dan tidak mempedulikan Rea yang sudah berkaca-kaca karena ucapannya. Setelah Elly keluar, Rea menelungkupkan badan dan membiarkan air mata mengalir membasahi bantal. Dia mengeluarkan rasa sesak yang sejak tadi ditahannya. Apalagi kata-kata Elly sangat menyakitkan dan kembali menorehkan luka di hatinya. Tengah menangis, Rea mendengar ponselnya berdering. Dengan enggan, Rea bangun dan melihat siapa yang menghubungi dirinya. “Kenapa Sis?” “Udah bangun lo? Dari tadi gua telepon nggak diangkat terus.” “Maaf, dari siang aku emang tidur. Ini juga baru bangun. Kenapa?” Sisca mengerutkan kening mendengar suara Rea yang sedikit sengau, seperti orang habis menangis. Untuk meyakinkan diri, Sisca langsung bertanya pada Rea. “Suara lo kok beda sih? Elo pilek? Apa habis nangis?” “Aku gapapa.” “Gua nggak percaya Re,” sanggah Sisca. “Gua kan ngenalin suara elo. Biasanya nggak kayak gini. Elo kenapa? Coba cerita, siapa tau gua bisa bantu.” “Gapapa, cuma tadi mama marah karena tau aku nggak nginep di rumah kamu.” “Terus?” “Ya gitu aja,” sahut Rea yang tidak ingin membahas masalah dirinya. “Udah ah, aku nggak mau bahas itu lagi.” “Baiklah.” Sisca mengalah dan tidak ingin membuat Rea semakin kacau. “Kalo gitu teleponnya gua tutup dulu ya. Elo udah makan kan?” “Udah.” “Ya udah, sana istirahat lagi.” Rea meletakkan ponsel di meja, kemudian kembali merebahkan diri. Dia menatap langit-langit kamar dengan perasaan gundah. Sikap Elly semakin hari semakin bertambah dingin. Ibunya juga selalu berusaha menghindar sehingga tidak ada waktu untuk mengobrol bersama. Memang Rea selalu diam dan berusaha untuk tidak mempermasalahkan hal itu, akan tetapi tidak dapat dipungkiri jika sikap Elly semakin membuat Rea merasa sedih. “Ma, kenapa sih selalu marah sama Rea, dan nggak pernah mau dengerin penjelasan Rea?” Air mata Rea kembalimengalir.“Dari dulu mama nggak pernah baik ke Rea, dan makin parah sejak papa nggak ada. Mama tau nggak sih kalo Rea sedih dan kecewa banget sama sikap mama. Kadang Rea suka mikir, jangan-jangan Rea ini anak pungut.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN