Mengungsi ke Hotel

1866 Kata
“Bet! Tungguin gue dong!” seru Wendy sambil berlari menghampiri Robert yang sudah berjalan terlebih dahulu bersama yang lain. Namun, Robert tetap berjalan dan tidak mengacuhkan Wendy yang tertinggal cukup jauh di belakang. Wendy menatap penuh amarah ke arah Robert karena melihat pemuda itu menggandeng Rea. Rasa cemburu membuat Wendy kehilangan akal sehat. Dia berlari mendekat dan menyeruak di antara Rea dan Robert, kemudian tanpa malu-malu memeluk lengan pemuda itu. “Kenapa nggak mau nungguin gue sih?! Emang elo nggak denger waktu gua panggil?” Wendy merajuk dengan suara manja. Ujung matanya melirik ke arah Rea yang tetap berdiri dengan tenang. Melihat reaksi datar Rea, Wendy yang niatnya memanas-manasi, menjadi gusar sendiri karena usahanya tidak berhasil. Bukannya marah atau tersinggung, Rea malah dengan sengaja melambatkan langkah, dan membiarkan Robert berjalan duluan dengan Wendy. Sisca yang sejak tadi memperhatikan dari belakang, kembali meradang dengan sikap Wendy yang sengaja memancing masalah. Dia menarik tangan Rea dengan kasar. “Kenapa elo malah mundur dan ngejauh sih?! Harusnya elo jangan ngasih kesempetan ke dia!” “Emang kenapa? Biarin aja kali.” “Elo nggak marah ngeliat Robert digelendotin kayak gitu?!” tanya Sisca gusar. Rea mengangkat bahu dengan santai. “Nggak tuh, biasa aja.” “Parah lo! Masa pacar digebet cewek lain elo diem aja?! Bales napa! Kasih tinju kek, tendang kek, atau apalah!” Sisca yang tidak habis pikir dengan sikap Rea, mencoba memanas-manasi sahabatnya untuk memberi pelajaran pada Wendy. Rea tersenyum geli mendengar omelan Sisca. “Biarin aja kali Sis, toh dia bukan siapa-siapa aku. Buat apa marah? Buang-buang energi aja.” Gerry yang sejak tadi mendengarkan, menjadi gatal ingin berkomentar. “Elo beneran nggak marah sama Wendy? Biar kata dia sepupu gua, gua nggak bakal belain kok kalo elo mau marahin dia karena udah lancang ke elo dan Obet.” “Kan tadi aku udah bilang gapapa,” sahut Rea tenang. “Buat apa marah? Dia tuh bukan siapa-siapanya aku.” Rea kembali mengulang perkataannya. “Andai pun dia misalnya beneran pacar aku, harusnya dia akan lebih ngejaga perasaan aku, dan nggak akan mau dengan gampangnya digandeng sama cewek lain.” Seperti mendengar perkataan Rea, Robert melepaskan tangan Wendy dari lengannya, dan membalikkan badan. Dia menatap ketiga temannya yang berada sedikit jauh dari tempatnya. “Kenapa kamu diem?” Robert menatap lembut pada Rea. Melihat Rea, Sisca, dan Gerry tetap tidak beranjak, Robert berjalan mendekat dan berdiri di samping Rea. Tanpa mengatakan apapun, dia mengambil tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat. Wendy yang melihat hal itu, mengentakkan kaki dengan kesal. Apalagi saat Robert berjalan terus dan tidak mengacuhkan dirinya. Sambil tersenyum puas, Sisca bergegas mengejar Robert dan Rea. Saat melewati Wendy, dengan sengaja Sisca mengibaskan rambut panjanganya sambil tersenyum mengejek. Wendy mendelik melihat tingkah Sisca. Andai tidak ada Gerry di dekatnya, ingin rasanya Wendy mengejar dan memberi pelajaran pada Sisca dengan cara menarik rambut panjang Sisca. Robert berjalan sambil bergandengan tangan dengan Rea menuju ke mobil yang sudah mereka sewa sehari sebelumnya. Hari ini mereka akan naik ke Merapi. Sambil berjalan, Robert berusaha mengorek isi hati Rea. “Kenapa tadi kamu diem aja waktu Wendy gandeng tangan aku?” tanya Robert sambil lalu. “Emang aku mesti ngapain?” “Entah,” sahut Robert. “Marah mungkin? Atau teriak? Mukul?” “Kenapa juga aku mesti begitu?” “Karena kamu pacar aku. Jadi kamu punya hak untuk marah kalo ada cewek lain yang pegang aku.” “Kata siapa?” bantah Rea cepat. “Emang kenyataan kan?” desak Robert. Rea tidak menjawab pertanyaan Robert. Untuk menghilangkan kecanggungan, dia melepaskan tangan Robert dan bergegas mengejar Sisca yang sudah tiba di mobil lebih dulu. “Bet, elo naik mobil bareng sama Rea dan Sisca. Gua, Wendy sama Pak Joko di mobil yang satunya, gimana?” tanya Gerry setelah temannya tiba di dekat mobil. “Nggak masalah,” sahut Robert. “Gua nggak mau!” seru Wendy. “Pokoknya gua mau semobil sama Robert!” “Wen, jangan aneh-aneh deh!” tegur Gerry tegas. “Elo nggak bisa seenaknya gitu dong!” “Biarin! Pokoknya gua mau sama Obet!” Robert mendengkus gusar mendengar perkataan Wendy. Andai saja bukan sepupu Gerrry, sudah pasti dia akan memarahi sikap Wendy yang tidak menyenangkan, dan menyebalkan. Rea yang melihat perubahan wajah Robert, menyentuh ringan jemari pemuda itu. “Biar aku sama Gerry dan Pak Joko. Kamu sama Sisca dan Wendy.” “Gua nggak sudi semobil sama cewek keganjenan kayak dia!” Sisca langsung menyerukan penolakan setelah mendengar usul Rea. “Udah, biar elo, Obet sama dia semobil! Gua, Rea, dan Pak Joko di mobil yang satu!” Usai berkata, Sisca menarik tangan Rea dan naik ke salah satu mobil. Sambil tersenyum puas, Wendy naik ke mobil yang satunya dan duduk dengan manis di bagian belakang. Dia berharap Robert akan duduk di sampingnya, sehingga dapat berduaan dengan pemuda itu. Gerry menatap bingung pada Robert yang sudah terlihat sangat gusar karena tidak jadi semobil dengan Rea. “Bet, ini jadinya gimana?” “Ya nggak gimana-gimana,” sahut Robert datar. “Kita ikutin aja maunya Rea. Tapi gua minta tolong sama elo, jauhin Wendy dari gua!” Robert menatap datar ke arah sahabatnya. “Sampe sekarang, gua masih diem, karena masih mikirin perasaan elo. Tapi kalo dia bertingkah terus kayak gini, gua nggak tau apa masih bisa tahan atau nggak.” Robert membalikkan badan dan naik ke mobil. Dia sengaja duduk di depan, di samping pengemudi supaya tidak perlu berdekatan Wendy. Sambil mengembuskan napas lelah, Gerry naik ke mobil dan duduk di samping sepupunya yang cemberut. Tiba di kawasan Merapi, Rea tetap berjalan bersama Sisca dan Gerry. Jauh di dalam hati, sebenarnya dia merasa kesal juga dengan tingkah Wendy yang sangat mengganggu ketenangan. Namun, untuknya pribadi, selama gadis itu tidak mengusik dirinya secara terang-terangan, Rea memilih untuk diam dan tidak menanggapi semua kelakuan Wendy. Tanpa rasa malu, Wendy terus berjalan di sisi Robert. Berkali-kali dia mencoba meraih tangan Robert, akan tetapi selalu langsung ditepis dengan kasar oleh pemuda itu. Dalam hati, Wendy merasa sangat kecewa mendapati Robert yang menjaga jarak dan bersikap dingin. Namun, dia mencoba untuk tidak peduli dan memutuskan untuk selalu berada di sisi pemuda itu. Sisca yang sejak tadi menahan kesal, akhirnya tidak dapat menahan emosinya lagi. Dia berhenti melangkah dan berdiri di depan Gerry. “Ger, gua mau pulang aja. Habis itu, gua mau pindah ke hotel! Maap aja deh, gua udah nggak sanggup lagi kalo mesti ngeliat kelakuan sepupu lo. Asli gua keki dan gondok banget!” Gerry sebenarnya juga menyadari kalau sikap Wendy sangat keterlaluan sejak pertama mereka datang. Namun, dia tidak menyangka jika sepupunya akan semenyebalkan seperti sekarang. Gerry juga tahu kalau sejak SMP, Wendy sudah menyukai Robert. Tapi biasanya, sikapnya tidak pernah sampai terang-terangan seperti ini. “Gua ngerti kok, dan gua juga nggak bisa nyalahin elo. Kalo emang itu keputusan elo, gua ngikut aja. Cuma apa nggak bisa elo pikirin lagi?” Gerry masih mencoba untuk membujuk Sisca supaya mau bersabar menghadapi sepupunya. “Kayaknya nggak deh.” Sisca tetap bersikeras dengan keinginannya. “Gua ke sini tuh pengen liburan, seneng-seneng sama kalian bertiga. Tapi kalo gini keadaannya, gua nggak mau. Yang ada bawaannya selalu kesel, dongkol, dan bete. Gua jadi nggak bisa nikmatin liburan karena harus ngeliat sikap sepupu lo yang nyebelinnya ngalahin Ivana dan Lydia.” “Tapi Sis, apa kamu nggak kasian sama Tante Sofia? Dia kan udah baik banget mau nerima kita, udah repot-repot nyiapin makan. Kalo kita pergi gitu aja, apa nggak akan bikin dia tersinggung plus kecewa?” Rea mencoba untuk membujuk Sisca supaya membatalkan keinginannya. Sisca mengentakkan kaki mendengar perkataan Rea. “Elo tuh jadi orang kebaikan banget deh Re! Emang elo nggak sebel apa ngeliat kelakuan itu anak?!” “Kalo mau jujur ya sebenernya keganggu juga sih.” Rea akhirnya mengungkapkan juga isi hatinya. “Tapi balik lagi, kan itu urusan dia, suka-suka dia lah. Selama dia nggak ngusik, ya aku diem.” “ISH! Ini anak kenapa jadi begini sih?!” Sisca menggerutu melihat sikap tenang Rea. “Udah, udah,” ujar Gerry cepat. “Kalo emang elo beneran mau pindah ke hotel, ya silakan aja. Biar nanti gua yang ngomong sama tante. Sekarang mendingan kita foto-foto lagi, terus pulang.” Setelah dibujuk oleh Rea dan Gerry, akhirnya Sisca mau sedikit lebih lama menghabiskan waktu di sana. Kemudian, mereka kembali ke mobil dan turun ke bawah. Ketika ada kesempatan berdua dengan Robert, Gerry menceritakan keinginan Sisca. Tadinya, Gerry pikir sahabatnya akan menentang keinginan Sisca, akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Robert langsung setuju dan berjanji akan membantu Gerry saat menjelaskan pada Sofia. Robert bahkan segera mencarikan hotel yang bagus untuk mereka berempat. Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, Sisca memilih untuk berpura-pura tidur. Bukan itu saja, juga menyumbat telinganya dengan earphone seperti yang dilakukan Rea. Begitu tiba di rumah Sofia, Gerry bergegas mendatangi tantenya untuk memberitahu tentang keinginan Sisca. Sementara Sisca menarik Rea ke dalam kamar dan bergegas membereskan barang-barang. Selesai berkemas, Rea dan Sisca keluar dan disambut wajah jutek Wendy. Gadis itu mendelik sejadi-jadinya pada Sisca. Melihat kedua gadis keluar dari kamar, Sofia menghampiri Rea dan Sisca. “Kalian beneran mau pindah ke hotel?” Sisca menundukkan wajah, tidak berani menatap Sofia. “Iya Tan, maaf ya udah ngerepotin.” “Iya, gapapa, Tante ngerti kok. Tadi Gerry dan Robert udah ngejelasin semuanya,” ujar Sofia ramah. “Kalo dipikir-pikir, emang bener juga sih, lebih enak buat kalian kalo ada di tengah kota. Selain lebih menghemat waktu, juga lebih gampang kalo mau keluar malam.” Diam-diam, Sisca terkejut mendengar penjelasan Sofia. Dia tidak menyangka jika Gerry akan memberi alasan seperti itu pada tantenya. Dalam hati, Sisca mengembuskan napas lega karena Gerry tidak memberitahu alasan yang sebenarnya mengapa dia ingin pindah ke hotel. “Maafin kita ya Tan, kalo selama ini ngerepotin Tante.” “Gapapa kok. Tante malah seneng ada kalian di sini, walaupun cuma sebentar. Rumah jadi rame, dan Wendy juga jadi punya temen. Dia tuh sebenernya agak kesel karena nggak diijinin sama Tante dan om buat pergi liburan ke Bali sama temen-temennya. Tapi untung aja ada kalian.” Sisca meringis lebar mendengar perkataan Sofia. Akhirnya dia mengerti sedikit, mengapa Wendy bersikap sangat menyebalkan. “Iya Tan, saya juga seneng bisa kenal sama Wendy,” sahut Sisca. “Ternyata itu dedemit ngelampiasin betenya ke gue gegara nggak bisa ke Bali. Dasar dedemit nyebelin!” imbuh Sisca dalam hati. “Lain kali, kalo mau main ke Jogja lagi, jangan sungkan ke sini lagi ya,” ujar Sofia. “Rumah ini selalu terbuka buat kalian.” “Iya Tan,” sahut Rea dan Sisca serempak. Selesai berpamitan, Rea, Sisca, Robert, dan Gerry naik ke dalam mobil, dan membiarkan Joko mengemudi meninggalkan rumah Sofia. Begitu mobil meninggalkan rumah Sofia, Sisca mengembuskan napas keras. “Akhirnya bebas juga dari itu dedemit,” desah Sisca lega. “Sekarang gua mau bener-bener nikmatin liburan yang sesungguhnya, tanpa gangguan dari orang asing.” Rea yang sebenarnya kurang setuju dengan keinginan Sisca, tanpa ragu mengungpkan pemikirannya. “Tapi emang harus ya sampe pindah ke hotel segala?” “Harus lah!” sahut Sisca yakin. “Kalo nggak ngungsi ke hotel, hubungan lo sama Robert nggak akan ngalamin kemajuan, karena pasti digangguin terus sama itu dedemit!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN