Malam pertama Rea, Sisca, Robert, dan Gerry menginap, Sofia sengaja memasak berbagai masakan enak untuk menyambut kedatangan mereka. Setelah semuanya siap, Sofia memanggil anak-anak dan menyuruh mereka ke ruang makan.
“Wah …, pesta besar ini namanya,” ujar Gerry yang pertama tiba di ruang makan.
“Dasar rakus.” Wendy meledek sepupunya yang memang hobi makan.
Gerry mengangkat bahu dan berjalan ke salah satu kursi sambil menjawab perkataan Wendy. “Sirik aja sih, suka-suka gue dong. Kapan lagi bisa makan masakan Tante?”
“Udah, udah,” lerai Sofia. “Sekarang duduk dan kita makan.”
Tanpa malu-malu, Wendy langsung duduk tepat di sebelah Robert. Sisca yang melihat hal itu menjadi gusar. Tadinya dia sudah berencana untuk menyuruh Rea duduk di antara dirinya dan Robert. Namun, semuanya buyar karena ulah Wendy. Tanpa banyak bicara, Rea menarik kursi yang tersisa, yaitu di antara Sisca dan Sofia.
Mereka mulai menikmati makanan sambil mengobrol, saling bertukar cerita antara Jakarta dan Jogja. Tengah mengobrol, Sofia teringat sesuatu dan berniat menanyakan hal itu pada Gerry.
“Ger, besok kalian rencana mau ke mana?”
“Belum tau Tan, bingung,” sahut Gerry “Soalnya mereka semua belum pernah ke Jogja, jadi semua yang bagus di sini belum pernah didatengin.” Gerry menunjuk ke arah Sisca dan Rea.
Wenny yang baru akan memasukkan makanan ke mulut, dengan sengaja meledek Sisca. “Kampungan!” desisnya dengan suara keras. “Masa udah segede gitu belum pernah jalan-jalan ke Jogja?!”
Sisca meletakkan sendok dan mendelik ke arah Wendy. Melihat gelagat tidak baik, Rea menahan tangan kanan temannya.“Sis,” desisnya pelan.
Sisca menoleh dan menatap ke arah Rea yang menatapnya sambil tersenyum kecil dan menggelengkan kepala perlahan. Sofia yang sejak tadi memperhatikan, merasa harus bertindak.
“Wen?!” tegur Sofia lembut. “Nggak baik ngomong kayak gitu. Mama nggak pernah ngajarin kamu nggak sopan ke orang lain.”
Namun, Wendy bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dia tetap makan dan tidak mempedulikan sekitar. Melihat hal itu, Sisca yang sudah kesal, semakin dongkol dengan tingkah Wendy.
Gerry yang melihat situasi mulai runyam, bergegas mengalihkan suasana. “Tan, kalo mau ke Merapi enaknya gimana? Aku udah lama juga kan nggak ke sana. Jadi pengen ke sana deh.”
Sofia yang juga menyadari maksud Gerry, segera menjawab. “Enaknya berangkat subuh sih,” sahut Sofia “Tapi kalian mesti sewa mobil buat naik ke atas. Kalo naik mobil biasa, nggak akan bisa.”
“Sewanya langsung di sana atau gimana?” Robert menimpali sambil menatap Rea yang menikmati makanan dalam diam.
“Karena sekarang kan lagi musim liburan, mending enaknya kalian pesen dulu, sambil nentuin kapan mau ke sananya.”
Gerry menatap Robert dan bertanya pendapat sahabatnya. “Enaknya gimana Bet?”
“Ya kalo harus pesen dulu, mending besok ke sana, cari mobil sekalian pesen. Udah gitu kan kita bisa pergi jalan-jalan dulu di tempat yang lain.”
Gerry merasa sependapat dengan perkataan Robert. Dia menatap Rea dan Sisca. “Kalian berdua setuju nggak?”
“Gimana elo aja!” sahut Sisca sedikit ketus. Dia masih kesal dengan ucapan Wendy tadi, dan suasana hatinya juga belum membaik.
“Kamu Re?” tanya Robert lembut.
Wendy langsung mengangkat wajah ketika mendengar nada suara Robert pada Rea. Dia menatap Rea dengan pandangan tidak suka.
“Aku sih ngikut aja.” Rea menjawab dengan suara tenang seperti biasanya, juga tidak melihat pandangan Wendy ke arahnya.
Gerry bertepuk tangan mendengar jawaban Rea dan Sisca. “Oke, kalo gitu masalah udah beres. Besok pagi kita ke atas, cari mobil, setelah itu kita jalan-jalan, dan keliling Jogja.”
Sofia tersenyum melihat suasana sudah kembali tenang. Untuk membuat keadaan semakin baik, Sofia melontarkan pertanyaan lain pada Gerry. “Kamu nggak kangen sama mangut lele? Biasanya kalo ke sini, kamu pasti makan itu.”
Sisca yang sedang kesal, langsung tertarik ketika mendengar perkataan Sofia. “Mangut lele? Itu kayak gimana Tan? Enak nggak?”
Senyum Sofia semakin lebar melihat suasana hati Sisca yang mulai membaik. “Enak banget, kamu harus coba. Pasti ketagihan, iya kan Ger.”
Sisca yang sangat antusias menatap Gerry. “Ger, besok ke sana aja. Gua mau nyobain mangut lele.”
“Bujugedeg! Elo nggak salah Sis?! Ke sana tuh jauh tau! Apalagi kita kan mau ke atas dulu.”
“Ye …, kenapa jadi marah sih?! Kan gua nggak tau!” sahut Sisca.
“Maka-” Wendy tidak melanjutkan ucapannya karena dia melihat Sofia menatap tajam ke arahnya.
“Gapapa juga kali Ger,” sela Robert. “Kan tujuan kita ke sini emang mau jalan-jalan, jadi nggak masalah juga. Lagian kan bukan elo ini yang nyetir.”
Selesai makan malam, Rea pergi ke dapur dan membantu Sofia mencuci piring, sementara Gerry dan yang lain meninggalkan ruang makan. Setelah membereskan dapur dan ruang makan, Rea pergi ke teras untuk mencari Sisca dan yang lain.
Namun, dia hanya melihat Gerry dan Sisca yang sedang duduk di teras. Rea duduk di samping Sisca yang tampak merengu. “Kamu kenapa lagi?”
“Bete, kesel, keki, gondok, dongkol, dan semua rasa nggak suka yang nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata!”
“Karena?”
“Nggak usah nanya deh! Gua beneran lagi keki sama orang, cuma sayangnya gua juga nggak bisa ngapa-ngapain!”
Rea mengernyitkan kening, mencoba mencari siapa yang dimaksud oleh Sisca. Dia menatap Gerry yang kebetulan juga sedang memandang ke arahnya. “Kenapa?” tanya Rea tanpa suara sambil menunjuk ke arah Sisca. Gerry hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.
“Ger, sebenernya sepupu lo punya hubungan apa sih sama Robert?! Seenaknya bawa Robert pergi!” tanya Sisca tiba-tiba.
Gerry terkekeh mendengar nada suara Sisca yang sangat kesal. “Kenapa emangnya? Elo cemburu? Kalo iya, apa nggak salah? Kan harusnya kalo mau cemburu itu Rea, iya nggak Re?”
“Kenapa jadi bawa-bawa aku?”
“Ya nggak lucu aja sih menurut gua!” Sisca ketus. “Lagian harusnya Robert itu bisa tegas dong sama sepupu elo! Dia bilang suka sama Rea, malah sampe pura-pura pacaran, tapi malah begini sikapnya! Mau aja diajak pergi sama cewek lain! Gimana Rea mau percaya dan nerima itu anak.”
Gerry semakin terkekeh melihat wajah gusar Sisca yang tampak sangat cantik di matanya. Sisca semakin kesal melihat Gerry tertawa. Dia berdiri dan mengentakkan kaki, kemudian masuk ke dalam rumah.
Setelah Sisca masuk ke dalam, diam-diam Gerry mengamati Rea yang duduk bersila di kursi teras. Wajah gadis itu tetap tenang dan tidak menunjukkan reaksi apapun.
“Elo nggak marah Re?” Akhirnya Gerry memutuskan untuk bertanya langsung.
“Marah? Ke siapa?”
“Elo nggak denger yang tadi dibilang sama Sisca?”
Rea menelengkan kepala sambil menatap Gerry. “Yang mana?”
Gerry menggaruk kepalanya dengan kasar. Dia yang senang menggoda, selalu mati kutu jika berhadapan dengan Rea yang selalu tenang, bahkan terkesan dingin. Tidak seperti Sisca yang mudah terusik dan cepat emosi.
“Tentang Obet!” Akhirnya Gerry menjawab dengan gusar. “Elo nggak marah denger Obet lagi pergi berduaan sama sepupu gua?”
Rea mengangkat bahu. “Buat apa marah? Emang dia siapanya aku? Hak dia juga mau pergi sama siapa.”
***
Setelah sarapan pagi, Rea, Sisca, Robert, dan Gerry berjalan menuju ke mobil ketika terdengar suara Wendy. “Obet! Gerry! Tungguin!”
Sisca segera membalikkan badan dan raut wajahnya langsung berubah saat melihat penampilan Wendy. “Mau ngapain itu dedemit ke sini?! Awas aja kalo minta ikut!”
Apa yang ditakutkan Sisca, akhirnya menjadi kenyataan saat mendengar perkataan Wendy setelah berdiri di dekat Gerry. “Kenapa kalian udah mau pergi?! Kenapa nggak nungguin gua?!”
“Emangnya gua tau elo mau ikut!” sahut Gerry.
“Kan tadi gua udah bilang, masa elo nggak denger?!”
“Emang siapa juga yang mau ngajak elo?!” sahut Sisca pedas.
“Emang elo siapa berani ngomong kayak gitu?! Lagian elo nggak punya hak apa-apa!”
“Kata siapa?!” balas Sisca ketus. “Itu mobil gua, jadi hak gua dong mau ngajak elo apa nggak!”
Wendy yang dari awal sudah tidak suka dengan Sisca dan Rea, langsung menjawab dengan angkuh. “Kalo gitu elo juga nggak usah tidur di rumah gua!”
“Siapa takut?!” sahut Sisca galak. “Gua juga nggak suka tinggal sama cewek keganjenan kayak elo!”
“Kalian bisa diem nggak?!” Robert yang sudah tidak tahan akhirnya menyala pertengakaran Sisca dan Wendy. “Kalo mau pergi, cepet naik ke mobil! Dan inget, gua nggak mau denger ada yang ribut di dalem mobil!”
Sambil menahan amarah, Sisca dan Wendy berjalan ke mobil. Gerry yang menyadari situasi, menarik tangan Wendy dan memaksa sepupunya untuk duduk di bagian paling belakang. Awalnya Wendy ingin menolak, akan tetapi melihat tatapan dingin Robert, akhirnya dia naik dan duduk bersama Gerry.
Suasana sangat hening selama perjalanan menuju ke Merapi. Tidak ada satupun yang berbicara. Sejak naik mobil, Rea langsung menyumbat telinga dengan earphone, dan mendengarkan musik. Sisca memilih untuk memejamkan mata, dan berpura-pura tidur.
Lama-kelamaan, Gerry tidak tahan lagi dan mulai bersuara. “Perasaan gua kayak lagi di kuburan deh …, sepi banget ….”
“Biarin aja! Malah bagus begini!” sahut Sisca ketus dengan mata tetap terpejam. “Males banget denger suara tamu nggak diundang di sini!”
Wendy yang merasa tersindir langsung menyahut dengan ketus. “Maksud lo apaan?! Sengaja mau nyari ribut?!”
Sisca tersenyum penuh kemenangan saat Wendy membalas perkataannya. “Kenapa elo marah?! Emangnya gua nyebut nama?!” Sisca menoleh ke belakang dan meleletkan lidah ke arah Wendy.
Wendy menggertakkan gigi menyadari jika dirinya masuk ke dalam jebakan Sisca. Karena Gerry memelototi, dia memilih diam sambil memikirkan cara untuk membalas Sisca.
Setelah menyelesaikan urusan menyewa mobil, Joko mengemudi ke arah Bantul, sesuai permintaan Sisca. Setelah berkutat mencari alamat tempat makan, akhirnya Joko menghentikan mobil di dekat sebuah rumah yang tampak cukup ramai didatangi orang.
Rea, Sisca, Robert, Gerry, Wendy, dan Joko turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Sisca mengernyitkan kening saat melihat bagian dalam rumah, yang terlihat sangat sederhana dan sudah tua. Tiba di dapur, Robert dan Gerry mengambil piring, kemudian mengisinya dengan nasi, dan mengambil hidangan yang disajikan dalam wadah-wadah dan diletakkan di meja panjang.
Melihat hal itu, Rea mengambil tiga piring dan menyerahkan pada Sisca dan Wendy. Kemudian Rea mengikuti apa yang dilakukan Robert dan Gerry. Setelah selesai mengambil makanan sesuai selera masing-masing, mereka memilih duduk di ruang tengah, di meja panjang yang terbuat dari kayu.
“Mm …, ini enak banget,” gumam Sisca setelah mencicipi mangut lele. “Gua beneran nggak nyangka kalo tempat kayak begini, bisa nyajiin makanan seenak ini.”
Wendy yang melihat kesempatan untuk membalas Sisca, langsung berkata dengan suara menyebalkan. “Dasar norak! Baru makan yang beginian aja udah seneng kayak gitu!” ujar Wendy sambil tersenyum sinis.
Rea segera menahan tangan kiri Sisca untuk mencegah temannya membalas perkataan Wendy. Dia mendekatkan kepala ke telinga Sisca dan membisikkan sesuatu sehingga membuat emosi Sisca mereda.
“Wen, elo bisa tolong jaga mulut nggak?!” Robert berkata dengan nada datar. “Jangan jadi perusak suasana deh! Kalo emang mau ikut, ikutin aturan kita! Gua sama yang lain ke sini karena mau liburan, bukan dengerin keributan terus! Kalo elo emang nggak suka, kita bisa kok pindah ke hotel, jadi elo nggak akan terganggu dengan kita semua!”