Kejutan Baru

1836 Kata
Setelah mobil yang dikendarai Joko meninggalkan Garut, Sisca mulai mengantuk dan akhirnya tertidur. Begitu juga dengan Gerry yang duduk di bagian belakang. Sedangkan Rea yang belum mengantuk, mengeluarkan alat pemutar musik, memasang earphone di kedua telinga. Dia mendengarkan musik sambil menatap keluar jendela. Robert yang duduk di samping Joko, dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan Rea karena gadis itu duduk tepat di belakang Joko. Saat mobil hampir memasuki Banyumas, Sisca terbangun dan melihat jika Rea sedang duduk tenang sambil mendengarkan lagu. Sisca melepaskan earphone dari telinga kiri Rea. “Re, elo nggak tidur?” “Belum ngantuk. Kamu sendiri kenapa bangun?” “Laper,” sahut Sisca sambil memandang keluar jendela. “Pak, kita udah sampe mana?” Gerry yang juga sudah terbangun, langsung meledek Sisca. “Elo udah laper lagi? Nggak salah lo Sis?! Kan tadi di Bandung udah makan. Masa udah laper lagi?!” “Emang kita udah sampe mana sih?! Kan gua nggak tau jalan.” “Kita baru mau masuk Banyumas Non,” sahut Joko sambil menahan senyum karena ucapan Gerry. “Mending Non tidur lagi, masih lama nyampenya.” “Tapi laper Pak, pengen ngemil. Ada nggak di daerah sini tukang jajanan yang enak?” “Woy! Ini udah tengah malam kali, elo pikir Jakarta yang KFC buka dua puluh empat jam?!” Dongkol mendengar perkataan Gerry, Sisca membalikkan badandan mendelik pada pemuda itu. “Biasa aja kali! Nggak usah pake nyolot ngomongnya! Gua kan nggak tau! Kayak sendirinya tau!” “Emang nggak tau.” sahut Gerry sambil menyeringai geli. Robert yang merasa terganggu, menoleh ke belakang. “Kenapa sih elo berdua hobi banget ribut? Kalian tau nggak, kalo begini terus, lama-lama kalian bisa pacaran tau.” “Sudi amat pacaran sama makhluk idup kayak dia!” sembur Sisca gusar. Gerry yang gusar mendengar perkataan Sisca, langsung membalas gadis itu dengan kasar. “Siapa juga yang mau sama elo! Masih banyak kali cewek lain yang lebih cantik dari elo! Dan yang pasti mulutnya lebih manis dari elo!” Rea yang sejak tadi mengulum senyum, tidak tahan untuk memberikan komentarnya. “Hati-hati, ntar jadi pada suka beneran.” “REA!” sentak Sisca gusar. “Kenapa elo jadi ikutan mojokkin gua sih?! Harusnya kan elo belain gua!” “Aku nggak mojokkin kok,” sahut Rea tenang. “Tapi aku juga nggak ngebelain. Aku cuma ngomong kenyataan. Kan kasusnya udah banyak, yang awalnya musuh, tau-tau jadi suka, terus pacaran.” Robert dan Joko tergelak di bagian depan mendengar jawaban yang diberikan Rea. Namun, tawa Joko langsung terhenti saat melihat wajah Sisca yang terlihat sangat gusar. “Memangnya Non mau makan apa? Biar nanti Bapak berhenti kalo ada makanan yang Non mau.” Sisca yang masih kesal, semakin gusar mendengar pertanyaan Joko. “Nggak usah aja! Udah ilang juga lapernya!” Joko yang sudah mengenal watak Sisca, tidak menyerah begitu saja. Dia mencoba membujuk Sisca lagi. “Non udah pernah makan getuk goreng? Itu enak loh, mau coba nggak?” Mendengar perkataan Joko, seketika Sisca langsung melupakan kekesalannya. “Getuk goreng? Apaan tuh Pak? Enak nggak?” “Kalo kata Bapak sih enak, tapi nggak tau kalo Non gimana. Non mau coba? Kalo mau, nanti pas masuk Banyumas, kita beli.” “Tapi dari apaan dulu Pak?” tanya Sisca penasaran. “Ya namanya getuk, pasti dari singkong Non, cuma bedanya yang ini tuh dikasih gula merah terus digoreng. Dan biasa dijualnya pake besek.” Mendengar penjelasan Joko, Sisca semakin tertarik dan ingin mencoba. “Mau lah Pak,” sahut Sisca. “Tapi emang jam segini masih ada yang jualan?” “Biasanya sih ada yang buka terus Non. Nanti liat aja sendiri.” Sisca bertepuk tangan senang setelah mendengar perkataan Joko. “Ya udah, saya mau Pak.” Joko mengangukkan kepala sambil tersenyum lega. Dia sudah takut jika Sisca sampai marah dan itu akan membuat suasana menjadi tidak enak. Saat marah, perkataan yang keluar dari bibir Sisca akan sangat pedas, dan selalu diucapkan tanpa dipikir terlebih dahulu. Hal itulah yang berusaha dicegah oleh Joko. Dia tidak ingin siapapun di mobil ini menjadi sakit hati karena perkataan majikannya. Joko menghentikan mobil di depan sebuah kios yang masih buka. Dia tetap berada di dalam mobil, dan membiarkan keempat anak muda itu masuk dan membeli jajanan. Setelah berhenti sejenak di toko. Setelah semua naik ke mobil, mereka melanjutkan perjalanan yang masih cukup jauh. Rea yang sejak dari Jakarta belum tidur, mulai merasa mengantuk dan akhirnya tertidur. Melihat Rea tertidur, Robert pun memejamkan mata dan ikut tertidur. Rea terbangun saat merasakan angin yang cukup menerpa wajahnya. Dia membuka mata dan melihat jendela mobil terbuka. Dia menegakkan kepala dan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ternyata sudah pagi, dan matahari sudah terbit. “Udah bangun?” tanya Robert yang melihat dari kaca spion tengah. “Hm. Kita udah sampe mana?” tanya Rea sambil memandang keluar. “Sebentar lagi masuk ke Jogja.” “Berapa lama lagi?” “Lumayan,” sahut Robert. “Kenapa? Kamu cape? Mau ke kamar mandi?” “Ng-nggak kok,” sahut Rea tergagap karena malu. Dia tidak menyangka kalau Robert akan bertanya dengan nada suara lembut di depan Joko. “Aku cuma pengen tau aja, siapa tau kelewatan.” Sisca dan Gerry yang juga sudah bangun, mendengar nada suara Robert yang berbeda. “Kenapa cuma Rea doang yang ditanyain? Kita kan jadi ngiri,” ujar Gerry. “Iya nggak Sis?” Gerry mencari sekutu untuk menggoda Robert dan Rea. “Iya, betul.” Sisca mendukung Gerry dengan sukarela. Kapan lagi bisa menggoda Robert seperti sekarang. Robert mengembuskan napasgusar mengetahui Gerry dan Sisca bersekongkol menggoda dirinya. “Emang kalian mau ke kamar mandi? Laper?” Gerry terkekeh geli mendengar pertanyaan Robert yang jelas-jelas dongkol. Namun, bukannya berhenti, Gerry malah meneruskan candaannya. “Gitu dong …, kan gua jadi bahagia diperhatiin sama elo.” “Kamvret!” desis Robert gusar. Joko yang sedang mengemudi, berusaha menahan tawa mendengar perkataan yang diucapkan Robert. Ternyata mengasyikan juga berpergian dengan ketiga teman majikannya. Awalnya, Joko sedikit merasa keberatan harus mengantar Sisca yang ingin berlibur ke Jogja. Namun, sebegai pekerja, mana bisa dia menolak tugas yang diberikan oleh orang tua Sisca yang memintanya mengawal gadis itu. Tapi setelah semalaman bersama mereka, Joko mulai menyukai tugas ini. “Pak masih lama nggak nyampe ke Jogjanya?” tanya Sisca yang sudah mulai bosan berada di mobil. “Sebentar lagi Non, kenapa?” “Badan udah pegel Pak, pengen turun dan jalan-jalan. Dan udah nggak sabar pengen makan gudeg.” Gerry yang merasa bosan duduk di belakang sendirian, langsung bersemangat ingin menggoda Sisca. Rasanya sangat menyenangkan bisa melihat ekspresi kesal di wajah gadis itu. Dia memajukan duduknya dan menyentil pelan kepala Sisca dari belakang. “Elo ini, pikirannya makan mulu. Emang nggak ada hal yang lain gitu?” “Biarin aja! Kenapa juga elo yang repot! Suka-suka gua kali!” Sisca melempar boneka ke arah Gerry dengan gemas. “Lagian kan mumpung liburan, gua pengen muas-muasin jajan dan nyobain makanan yang nggak ada di Jakarta. Kenapa juga elo mesti pusing sama urusan gue?” Rea yang melihat situasi yang mulai tidak nyaman, meraih tangan Sisca. “Sis, marahnya udahan ya.” Rea berusaha membujuk Sisca dengan lembut. “Katanya mau jalan-jalan, mau seneng-seneng. Masa marah-marah aja, nanti malah jadi nggak enjoy kan?” “Habis dia duluan sih!” Sisca mendelik ke arah Gerry dengan galak. “Iya, aku tau. Tapi marahnya udahan ya.” Sisca menuruti permintaan Rea, walaupun masih sedikit marah dengan kelakuan Gerry. Akhirnya suasana mobil kembali tenang, tidak ada lagi perdebatan hingga mobil memasuki Jogja. Joko menatap Sisca melalui spion tengah “Non, kita udah sampe. Sekarang mau ke mana? Mau makan dulu, apa mau langsung istirahat?” Sisca memajukan tubuhnya dan mencolek bahu Robert. “Bet, enaknya ke mana dulu? Ini kan udah jam sembilan, mending langsung ke rumah tantenya Gerry apa sarapan dulu?” “Enaknya sih makan dulu, soalnya kata Gerry rumah tantenya lumayan jauh. Habis makan, baru ke sana. Kalian pasti pada pengen mandi juga kan?” “Okelah.” Sisca menepuk lengan Joko. “Pak, kalo gitu kita makan dulu. Bapak juga pasti cape dan laper kan? Kita cari restoran gudeg Pak.” “Siap Non.” Diam-diam Joko mendesah lega mendengar Sisca mengatakan akan makan. Joko merasa penat dan juga mengantuk setelah menyetir semalaman. Memang mereka sempat berhenti sebentar untuk beristirahat. Namun, tetap saja dia merasa sangat lelah dan juga lapar. Joko mengendarai mobil menuju salah satu restoran gudeg yang terkenal di Jogja. Setelah memarkir mobil, Rea, Sisca, Robert, Gerry, dan Joko turun dan masuk ke dalam. Sisca memilih tempat duduk lesehan agar dapat meluruskan kaki. Mereka menikmati sarapan pagi pertama di kota Jogja dengan lahap, sambil mengobrol dan bertukar canda. Setelah perut kenyang, mereka meninggalkan tempat makan menuju ke Kaliurang, di mana tantenya Gerry tinggal. “Den.” Joko menoleh ke arah Robert. “Kita udah masuk daerah Kaliurang. Saya harus ke mana?” Gerry yang mendengar pertanyaan Joko, bergegas menjawab dengan suara keras. “Pak, ke atas aja terus. Nanti kalo udah sampe di KM 10, baru pelan-pelan.” “Siap Den.” Joko mengemudi mengikuti arahan dari Gerry. Matanya tidak lepas memperhatikan tanda jalan. Tiba di KM 10, Gerry yang sudah berjaga-jaga, kembali memberikann instruksi. “Pak, di depan, di sebelah kanan ada g**g, masuk ke sana Pak.” “Siap Den.” Joko kembali mengikuti instruksi Gerry dengan seksama hingga akhirnya tiba di depan sebuah rumah. “Akhirnya sampe juga,” desah Gerry. “Ayo turun.” Sisca dan Rea membuka pintu dan turun, begitu juga dengan yang lain. “Ah …, akhirnya ….” Gerry merentangkan kedua tangannya ke atas. “Kamu udah dateng Ger?” Seorang wanita berusia pertengahan empat puluh sambil membuka pintu pagar. Kemudian dia memeluk Gerry dengan erat. “Makin tinggi aja kamu.” Tan, kenalin ini temen-temen aku,” ujar Gerry pada tantenya. “Dan ini tante gue, namanya Sofia.” “Selamat pagi Tante.” Rea, Sisca, dan Robert memberi salam secara bersamaan. “Pagi juga,” balas Sofia ramah. “Kalian pasti cape kan? Ayo masuk ke dalam. Tante udah siapin kamar dan makanan untuk kalian semua.” “Tapi kita udah sarapan Tan,” ujar Gerry pada Sofia. “Yang sekarang dibutuhin itu mandi dan tidur.” Sofia tersenyum kecil mendengar “Ya udah, kalo gitu sekarang kalian masuk, mandi dan istirahat.” Sofia masuk ke dalam pekarangan diikuti oleh Gerry, Robert, Rea, dan Sisca. Tiba-tiba, dari dalam rumah keluar seorang gadis cantik mengenakan baju kaos dan celana pendek berlari menghampiri dan langsung memeluk Robert. “Obet!” ujar gadis itu dengan nada manja setelah melepaskan pelukannya “Aku kangen banget sama kamu.” Gadis itu memeluk lengan Robert dengan mesra. “Kenapa nggak pernah bales telepon dan pesen aku sih?! Kamu tau nggak sih aku tuh kangen banget sama kamu?!” Rea dan Sisca saling berpandangan dengan bingung. Sisca mendekatkan kepala ke telinga Rea dan berbisik. “Dia tuh siapa? Kok kecentilan banget sih?! Pake acara ngegelendot segala ke Robert?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN