Skenario Sempurna

2166 Kata
Siang itu Sisca datang ke rumah Rea dan mengajak temannya untuk menikmati baso yang berada di dekat sekolah. Sisca sengaja menjemput Rea, karena dia mendapat tugas dari Robert. Entah bagaimana caranya, dia harus berhasil melaksanakan misi dari pemuda itu. Tiba di warung baso, Sisca langsung memesan makanan kesukaannya, begitu juga Rea. Setelah itu mereka memilih duduk di sudut warung sambil menunggu pesanan mereka datang. Setelah terdiam beberapa saat, Sisca memulai misinya. “Re, elo nggak bosen di rumah aja? Nggak pengen jalan-jalan ke mana gitu?” “Nggak tuh, biasa aja. Emang kenapa?” Rea mengambil sebungkus pangsit goreng dan meletakkan di tengah meja untuk dinikmati berdua dengan Sisca. Sisca langsung mencomot kepingan pangsit dan memasukkannya ke dalam mulut. “Baru dua hari libur, gua udah bosen banget, nggak ada yang bisa dikerjain, kecuali makan sama tidur. Kalo gini terus, badan gua bisa melar deh.” Rea tertawa mendengar perkataan Sisca. Temannya ini memang selalu takut jika timbangannya naik, walaupun hanya sedikit. Sisca akan langsung berdiet untuk menurunkan kelebihan berat badannya. “Emang kamu nggak ada rencana mau ke mana gitu? Om sama tante gimana Sisca mengangkat bahu dengan santai. “Nggak tau. Nyokap sama bokap lagi di Amrik, dan gue bingung mau ngapain. Elo nginep aja di rumah gua, mau ya?” Rea terdiam sejenak, memikirkan perkataan temannya. Kali ini, tawaran Sisca sepertinya sangat menarik, karena sebenarnya dia juga sedikit bosan menghabiskan liburan di rumah saja. “Terus mama aku gimana?” Sisca mengerucutkan bibirnya. Dia sedikit gusar mendengar perkataan Rea. “Emang nyokap nggak bisa idup sendirian ya? Elo kan nggak sering-sering nginep di rumah gua Re. Elo kan bisa ijin sama nyokap.” “Nggak juga sih, cuma kan nggak enak aja Sis. Masa aku pergi seneng-seneng dan ninggalin mama sendirian di rumah.” “Payah ah ….” Sisca semakin merajuk mendengar ucapan Rea. “Masa elo tega sih sama gua ….” Rea jadi merasa tidak enak melihat wajah kecewa Sisca. “Bukan nggak mau Sis,” “Terus kenapa?” sela Sisca cepat. “Kan kamu tau nggak bisa ….” Rea terdiam karena merasa segan membicarakan tentang Elly. “Iya, gua tau,” sahut Sisca sambil tersenyum manis. “Elo tenang aja, kan cuma di rumah gua, jadi pasti aman. Gua yakin nyokap lo nggak akan marah kalo elo nginep di rumah gua.” Sisca bergelayut di lengan Rea. “Berarti elo mau kan?” Sisca sengaja mengedipkan kedua matanya, supaya Rea semakin tidak enak hati dan mengiyakan keinginannya. “Berapa lama?” tanya Rea pasrah. “Cukup seminggu.” Sisca tersenyum sangat lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang berbaris rapi. “Berarti habis makan, kita ke rumah , dan elo ambil baju buat nginep ya.” “Gimana kamu aja deh.” Sisca bertepuk tangan gembira karena Rea akhirnya setuju untuk menginap di rumahnya. “Oke, kalo gitu gua ke Pak Joko dulu, ngasih tau dia kalo gua mau ke rumah elo.” Tanpa menunggu jawaban Rea, Sisca bergegas berdiri dan keluar dari warung. Sisca berjalan ke arah mobil dan mengeluarkan ponsel. Dia langsung menghubungi Robert untuk memberitahu jika usahanya membujuk Rea sudah berhasil. “Bet, rencana berjalan lancar.” Sisca langsung memberi laporan begitu Robert menjawab panggilannya. “Sip. Berangkat malam ini apa besok subuh?” “Enaknya gimana?” Sisca meminta saran dari Robert karena pemuda itu yang lebih tau tempat yang akan didatangi. “Kalo mau langsung jalan-jalan ya mending malem sih. Tapi terserah elo aja.” “Kita jadi nginep di rumah tantenya Gerry?” “Iya.” “Kalo gitu malem ini aja lah. Gua udah nggak sabar pengen main di sana.” “Gua yang ke rumah elo apa elo yang jemput gua?” tanya Robert. “Gua yang jemput aja. Tinggal gua mikirin gimana caranya ngajak Rea pergi, dan supaya dia nggak curiga.” “Oke, kalo gitu gua kabarin Gerry dulu dan minta dia ke rumah gua.” “Baiklah. Doakan gua berhasil ye.” “Sip.” Selesai menelepon, Sisca mendatangi Joko terlebih dahulu, meminta supirnya untuk menelepon ke rumah dan meminta pelayan mempersiapkan barang bawaannya dan memasukkan ke dalam mobil yang akan digunakan untuk pergi bersama Rea nanti malam. Setelah itu dia kembali ke warung. Sisca mengantar Rea ke rumah dan menemani temannya membereskan pakaian yang akan dibawa ke rumah. Sebenarnya, Sisca sudah mempersiapkan pakaian dan semua kebutuhan yang akan digunakan selama mereka berlibur bersama. Namun, jika dia melarang Rea membawa pakaian, Sisca takut temannya akan curiga. “Re, bawa bajunya nggak usah banyak-banyak juga kali. Kan elo bisa pinjem baju gua.” “Nggak enak ah,” tolak Rea. “Gapapa lagi, kan ukuran baju sama celana kita sama.” “Akunya nggak enak ah.” Rea tetap pada pendiriannya untuk tidak menyusahkan Sisca. “Ya udah, kalo gitu nggak usah bawa perlatan mandi. Pake gua punya aja.” Rea menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil. Memang agak sulit jika berdebat dengan Sisca, apalagi jika temannya sudah memiliki suatu keinginan. Temannya akan menjadi orang yang sangat keras kepala dan menyebalkan., seperti saat ini. Selesai membereskan baju, Rea pergi ke dapur dan menuliskan pesan untuk Elly dan menempelkannya di pintu lemari pendingin. Setelah selesai, Rea meninggalkan rumah dan mengikuti Sisca ke mobil. Tiba di rumah, Sisca langsung menyeret Rea ke kolam renang yang berada di belakang rumah. Dia sengaja melakukan hal itu supaya para pelayan dapat menyelesaikan persiapan untuk nanti malam tanpa dilihat oleh Rea. Sisca menarik Rea untuk duduk di tepi kolam renang dan menjulurkan kaki ke dalam air. “Kenapa diem?” tanya Sisca yang merasa aneh melihat temannya yang hanya diam sejak masuk ke dalam rumah. “Aku kok nggak ngeliat siapa-siapa di sini, selain yang kerja?” Sisca mengambil air dan mencipratkan ke wajah Rea. “Perasaan gua udah sering bilang deh, kalo gua tuh sendirian di rumah. Elo aja yang nggak pernah mau denger!” “Ya maaf,” sahut Rea sambil mengelak serangan dari Sisca. “Aku kira kamu cuma bercanda doang.” “Sekarang udah tau kan? Sering-sering nginep sini ya, temenin gua.” Sisca bergelayut di lengan Rea dan menatap temannya dengan manja. “Nggak janji ya Sis.” “Baiklah,” sahut Sisca pura-pura merajuk. “Kalo elo nggak mau nginep di sini, gua aja yang nginep di rumah elo.” “Loh, kok gitu?” Rea terkejut mendengar perkataan Sisca. “Biarin aja,” sahut Sisca seenaknya. “ Udah temenan setaon, tapi belum pernah saling nginep. Nggak seru tau!” “Terserah kamu aja lah Sis.” Rea malas berdebat dengan Sisca mengenai masalah ini. Karena dia tahu jika pada akhirnya Sisca akan benar-benar datang dan menginap di rumahnya. Hanya tinggal menunggu waktu saja. “Re, ntar malem keluar yuk.” Sisca langsung mengganti topik pembicaraan saat melihat temannya sedikit kesal. “Ke mana? Kenapa nggak di sini aja? Emang kamu boleh keluar malam sama om dan tante?” Sisca mendengkus geli mendengar pertanyaan Rea. “ Tumben amat banget hari ini elo banyak tanya Re? Biasanya kan elo irit ngomong.” Rea meringis sambil menggaruk telinganya. “Maaf deh, soalnya kan ya baru ini aku mau jalan-jalan pas malam. Biasanya kan nggak pernah, kecuali ada acara sekolah atau karena aku latihan.” “Gapapa kali Re. Sekali-kali elo juga perlu ngerasain pergi malem. Umur lo juga udah mau tujuh belas juga kan?” “Iya.” “Sekarang gua jawab pertanyaan elo,” ujar Sisca. “Gua tuh lagi pengen makan di luar, bosen makanan rumah terus. Mau ya ….” Sisca mulai berusaha membujuk Rea supaya temannya mau diajak keluar. “Apa nggak boros?” “Nggak lah,” sahut Sisca santai. “Mumpung ada elo, kan gua jadi punya temen buat jalan-jalan.” Rea menganggukkan kepala dengan semangat. Dia juga ingin merasakan seperti apa rasanya keluar dan bersenang-senang di malam hari. Suatu hal yang tidak pernah didapatkan selama ini. Selepas maghrib, Sisca dan Rea pergi meninggalkan rumah dengan mobil yang dikendarai Joko. Rea memandang keluar jendela dan melihat keramaian jalan dalam diam. Namun, kesenangannya terusik kala mobil memasuki sebuah perumahan mewah. Rea menoleh ke samping dan menatap Sisca. “Ngapain kita ke sini? Katanya mau pergi makan?” Sisca tergagap mendengar pertnyaan mendadak Rea. “Eng …, gua ada urusan sebentar, gapapa kan?” Rea menelengkan kepala dan tersenyum melihat Sisca tampak gugup. “Jangan serius gitu Sis, kan aku cuma nanya. Muka kamu kenapa panik gitu? Kamu nyembunyiin sesuatu ya?” “Ng-nggak kok.” Senyum Rea semakin lebar melihat Sisca yang semakin panik. Namun, dia tidak ingin menggoda temannya lagi, dan mengalihkan pandangan ke jendela. Rea melihat deretan rumah yang tampak megah, hingga mobil berhenti di depan sebuah rumah. “Kenapa bengong?” tanya Sisca yang melihat Rea terdiam sambil memandangi rumah di hadapannya. “Ini rumah siapa?” tanya Rea. “Terus kenapa kamu nggak turun?” Sisca terdiam dan bingung harus menjawab apa. Dia tidak berani membayangkan reaksi Rea jika mengatakan ini adalah rumah Robert. “Ng …, ntaran lagi juga orangnya keluar,” sahut Sisca berusaha menjawab seadanya. “Kita tunggu di mobil aja.” Baru saja Sisca selesai berkata, gerbang rumah bergeser ke samping tanpa ada orang yang membukanya. Perhatian Rea langsung teralihkan saat melihat dua orang pemuda berjalan ke arah mobil. “Ini rumah dia?” Rea menoleh ke arah Sisca dan menunggu temannya menjawab. Sisca menganggukkan kepala dengan enggan. “Terus ngapain kita ke sini?” “Eng ….” Sisca benar-benar tidak dapat menjawab pertanyaan Rea. Beruntung tepat saat itu Robert dan Gerry tiba di samping mobil. Melihat penyelamat datang, Sisca bergegas menurunkan kaca mobil dan menatap Robert untuk meminta bantuan. “Turun dulu lo Sis, Gerry mau naik ke belakang,” ujar Robert seolah tidak melihat wajah panik Sisca. Sisca bergegas membuka pintu dan turun. Rea mengikuti jejak temannya, akan tetapi tangan langsung ditahan oleh Robert. “Kamu mau ke mana?” bisik Robert pelan. “Kan kamu tadi suruh Sisca turun.” Rea memandangi penampilan Robert dan mengernyitkan kening saat melihat pemuda itu menggendong ransel dan sebelah tangan menjinjing tas. “Kamu ngapain bawa tas? Emangnya mau ngapain? Dan kenapa ikutan di mobil Sisca?” Robert terkekeh mendengar berondongan pertanyaan Rea. “Ternyata seorang Rea bisa bawel juga ya kalo penasaran.” Robert mengacak rambut gadis itu dengan gemas. “Cepetan jawab.” Gerry yang memang senang menggangg Rea, tidak dapat menahan bibirnya. “Kita bertiga pengen nyulik elo.” Rea menatap datar ke arah Gerry. “Nyulik kok bilang-bilang. Aneh deh.” “Seriusan Re,” sahut Gerry. “Kalo nggak pake cara begini, elo nggak akan mau ikut sama kita.” Rea menelengkan kepala mendengar perkataan Gerry yang sedikit janggal. “Memang kalian semua pada mau ke mana?” Rea menatap bergantian ke arah Robert, Gerry dan Sisca. “Kenapa pada nggak jawab?” Rea semakin penasaran melihat ketiga temannya hanya diam dan saling bertukar pandang satu dengan yang lain. “Elo mesti janji dulu nggak akan marah dan harus mau ikut sama kita.” Akhirnya Sisca memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Rea. Rea merasa ada yang tidak beres dan semakin curiga mendengar perkataan Sisca. “Emang mau ke mana?” “Janji dulu nggak akan marah,” pinta Sisca sungguh-sungguh. Rea mengembuskan napas sebelum menjawab. “Iya, aku nggak akan marah. Sekarang bilang kita mau ke mana?” “Satu lagi,” ujar Sisca cepat. “Elo juga harus tetep ikut sama kita.” “Kenapa emangnya?” “Soalnya kalo elo nggak ikut, gua nggak akan diijinin pergi sama nyokap dan bokap. Gua harus kasih liat foto ke mereka kalo elo ikut.” Rea memejamkan mata mendengar permintaan Sisca. Perasaannya langsung tidak enak dan merasa jika dirinya sudah masuk dalam jebakan tiga orang yang berdiri di hadapannya. “Iya, aku bakal tetep ikut. Sekarang bilang mau ke mana?” Akhirnya Rea mengalah karena tidak ingin mengecewakan Sisca. Sisca tertawa lebar mendengar jawaban Rea. Dia memegang kedua pergelangan tangan Rea. “Makasih banyak Re.” Dengan cepat, Sisca mengecup pipi kiri Rea. Setelah itu memberitahu temannya tentang rencana yang sudah dia, Robert, dan Gerry susun. “Kita mau pergi ke Jogja, mau nginep di rumah tantenya Gerry.” “Hah?!” Rea melongo mendengar perkataan Sisca. “Jogja? Jogja yang di Jawa Tengah? Kita mau ke sana? Berempat? Kamu nggak salah ngomong?” Robert dan Gerry terkekeh geli melihat ekspresi terkejut dan bingung di wajah Rea. “Emang ada Jogja lain selain yang di Jawa tengah?” Gerry sengaja menggoda Rea yang terlihat sangat lucu. Robert yang merasa kasihan pada Rea, berusaha untuk menjelaskan. “Sori kalo harus pake cara seperti ini Re,” ujar Robert tenang. “Elo pasti bakal nolak kalo kita kasih tau yang sebenernya. Makanya kita bikin skenario dan bikin elo mau nginep di rumah Sisca. Setelah itu akan lebih gampang bawa elo ikut sama kita.” Gerry yang belum puas menggoda Rea dengan tenang menimpali perkataan Robert. “Gimana Re, skenario buatan kita sempurna kan? Elo nggak nyangka kan bakal diajak pergi seneng-seneng dengan cara kayak gini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN