Terluka di Tempat yang Sama

2037 Kata
“Sis, kenapa sendirian? Rea mana?” tanya Aaron saat melihat Sisca masuk ke dalam kelas. “Lah kok nanya sama gue?! Mana gua tau Rea ke mana. Kan gue bukan pengasuhnya!” sahut Sisca asal. “Ye …, pagi-pagi udah marah-marah!” sahut Aaron gondok. “Gue kan cuma nanya, siapa tau elo ngeliat itu anak! Kalian kan biasa ke mana-mana berdua.” “Gue nggak tau! Lagian kalo elo mau nanya Rea, nanyanya ke sepupu lo, bukan ke gue! Yang lebih sering sama Rea kan dia, bukan gua.” “Justru Obet minta tolong gua nanyain ke elo!” Sisca yang baru mau duduk di tempatnya, membalikkan badan dan mendelik pada Aaron. “Ke gue? Emang Rea nggak pergi bareng sepupu lo?!” “Dasar oon!” rutuk Aaron. “Kalo Rea pergi sama Obet, ngapain juga dia nyuruh gua nanya ke elo!” “Lah …, terus Rea ke mana dong? Berarti dia belum dateng?!” Sambil berbicara sendiri, Sisca mengambil ponsel dan memeriksa siapa tahu sahabatnya ada memberi kabar. Sisca berlari keluar menuju kelas Robert untuk bertanya langsung pada pemuda itu tentang Rea, karena gadis itu sama sekali tidak menghubungi dirinya. “Kenapa lo?” tanya Gerry ketika Sisca tiba di hadapannya dengan napas terengah-engah. Sisca berusaha mengatur napas sebelum bertanya pada Gerry. “Robert mana?” “Nggak tau. Mending elo jangan ketemu sama dia dulu. Dia lagi kayak singa betina yang kehilangan anak.” Gerry memberi saran pada Sisca. “Maksud lo, itu orang lagi marah?” “Hm, gitu deh.” “Karena?” “Biasalah, masa elo nggak tau sih?! Pas jemput, Rea udah nggak ada di rumah. Begitu sampe sekolah, Rea juga nggak ada.” “Beneran Rea juga nggak dateng ke sekolah?!” Sisca benar-benar panik memikirkan sahabatnya. “Itu anak ke mana sih?! Hobi amat bikin orang pusing!” “Yang perlu dipikirin sekarang tuh, Rea sebenernya pergi ke mana? Dia nggak mungkin bolos kalo nggak ada alesannya. Dan kira-kira ke mana itu anak pergi?!” ujar Gerry sok bijak. “Apa kita perlu bolos juga?” usul Sisca setelah berpikir beberapa saat. “Kita cari dia di tempat yang biasa Rea datengin. Siapa tau anaknya ada di sana. Gimana?” “Jangan aneh-aneh deh!” Terdengar suara datar Robert dari belakang Sisca. Sisca membalikkan badan dan melihat Robert yang sedang mendelik ke arahnya. “Elo tetep di sini, biar gua sendiri yang nyari Rea!” “Mana bisa gitu?!” Gerry langsung memprotes perkataan Robert. “Ke mana elo pergi, di situ gua juga ikut, seperti biasanya.” Robert tidak mengatakan apapun dan masuk ke dalam kelas. Gerry bergegas mengikuti sahabatnya. Tidak lama kemudian, kedua pemuda itu keluar sambil membawa tas sekolah dan meninggalkan Sisca yang masih berdiri di depan kelas. Menyadari jika Robert dan Gerry akan pergi, Sisca berlari dan menghadang langkah kedua pemuda itu sambil merentangkan kedua tangannya. “Kalian nggak boleh pergi!” Robert mendelik pada Sisca. “Mending elo minggir deh! Gua lagi males ribut, apalagi ngeladenin anak cewek!” Suara Robert terdengar sangat dingin. Sisca tidak bergeming mendengar perkataan Robert. Dia tetap berdiri di tempatnya. “Nggak mau! Gua bakal tetep ngalangin jalan elo sampe elo bilang gua boleh ikut!” “Sis!” Robert berkata dengan nada mengancam. “Cepetan minggir nggak?! Gua sama Gerry harus pergi sebelum bel masuk!” “Nggak mau! Pokoknya gua mau ikut titik!” Sisca ngotot untuk tetap ikut pergi bersama Robert dan Gerry . Gerry melihat jam tangannya sekilas, kemudian berbicara pelan pada Robert. “Bet, mending kita bawa aja deh. Sepuluh menit lagi kita masuk, kalo gini terus caranya, kita nggak akan bisa nyari Rea.” Gerry mencoba melunakkan hati Robert supaya mau mengijinkan Sisca ikut bersama mereka. “Terserah aja deh!” Robert menepis tangan Sisca yang menghalangi jalan, dan kembali melanjutkan langkahnya. “Buruan ikut!” desis Gerry sebelum mengikuti Robert yang sudah berjalan ke tempat parkir motor. “Tas gua gimana?” tanya Sisca bingung. “Nggak akan keburu!” sentak Robert yang masih sempat mendengar ucapan Sisca. “Elo lebih milih ikut apa ngambil tas?!” Mendengar perkataan Robert, Gerry menarik tangan gadis itu supaya bergegas meninggalkan koridor sekolah dan ikut dengannya. *** Robert dan Gerry berkeliling dengan motor untuk mencari Rea, akan tetapi mereka tidak dapat menemukan gadis itu. Akhirnya Robert memutuskan untuk beristirahat sejenak di depan minimarket. “Bet, kita nyari Rea ke mana lagi nih? Semua tempat yang kita tau udah di datengin, tapi belum ketemu juga.” Gerry menghampiri Robert sambil menyerahkan sekaleng soda dingin. “Gua juga bingung Bet.” Robert benar-benar bingung dan khawatir memikirkan Rea. “Mana hapenya nggak aktif. Itu anak beneran bikin jantung gua cepat-cepot banget sih!” Sisca yang juga keluar bersama Gerry bergumam sendirian di samping pemuda itu. “Ke makam udah, Ancol juga udah, tempat latihan juga sama. Elo tuh sebenernya ke mana sih Re? Nggak mungkin kan elo ngilang gitu aja? Elo ada masalah apa sih?” Robert memandang Sisca dan bertanya pada gadis itu. “Kemarin Rea ada ngomong apa nggak ke elo?” “Nggak ada,” sahut Sisca. “Kemarin mukanya baik-baik aja. Malem juga masih sempet telepon, dan suaranya baik-baik aja.” Robert mengambil ponsel dari saku seragam dan mencoba untuk menghubungi Rea lagi. “Eh nyambung!” seru Robert saat terdengar nada sambung. “Halo?” “Kamu di mana? Kenapa dari tadi hape nggak aktif?!” Robert menyemburkan pertanyaan saat mendengar suara Rea. “Kenapa telepon aku?” “Kamu di mana sekarang?!” “Di Lebak Bulus,” “Kamu gila ya?!” sentak Robert terkejut saat mendengar di mana Rea berada. “Ngapain kamu ke sana?! Sekarang kamu di mananya?! Kasih tau, biar aku jemput sekarang!” “Jangan!” seru Rea panik. “Aku lagi di rumah kakak, bentar lagi pulang kok.” “Cepetan bilang kamu ada di mana!” Robert ngotot dan tetap menanyakan keberadaan Rea. Dengan terpaksa, Rea menyebutkan alamat rumah kakaknya. “Diem-diem di sana! Awas kalo berani pergi! Aku ke sana sekarang!” Robert memutuskan sambungan, kemudian menatap Gerry dan Sisca. “Gua udah tau Rea ada di mana.” “Di mana?” tanya Sisca penasaran. “Di Lebak Bulus, katanya lagi di rumah kakaknya.” “Rea bukannya anak tunggal ya? Punya kakak dari mana?” gumam Gerry bingung. “Jangan banyak tanya deh! Mending kita berangkat sekarang!” Robert bergegas ke motor dan meninggalkan pelataran minimarket untuk menjemput Rea. Robert mengendarai motor secepat yang dia bisa menuju ke tempat yang disebutkan Rea. Gerry yang membonceng Sisca, mengikuti dari belakang hingga mereka tiba di tujuan. Robert menghentikan motor di depan sebuah rumah besar yang terletak persis di pinggir jalan besar. Gerry mematikan mesin dan menghampiri Robert yang baru saja melepas helm. “Bet, elo yakin Rea ada di sini?” “Kalo sesuai alamat yang dia kasih, ya berarti emang bener dia ada di sini. Coba aja kita masuk.” Robert kembali menyalakan motor dan memasuki halaman besar yang dipenuhi pepohonan yang sudah tua umurnya. Setelah memarkir motor, Robert, Gerry, dan Sisca memandangi rumah yang tampak nyaman dan menyenangkan. Ada sebuah gazebo yang terbuat dari bilah bambu di tengah pekarangan. Juga ada pagar kawat setinggi kepala orang dewasa yang membatasi pekarangan dengan rumah. Robert, Gerry, dan Sisca berjalan menghampiri pintu kawat. Baru saja tangan Gerry terulur untuk membuka pagar, terdengar gonggongan galak dari dalam rumah, sehingga Gerry urung membuka pagar. “Muke gile!” Gerry mengumpat karena terkejut. “Elo aja yang masuk Bet, gua di sini aja.” “Payah lo!” ledek Robert yang dengan tenang membuka pintu pagar. “Masa sama anjing aja takut? Badan lo kan lebih gede.” “Bodo amat elo mau bilang apa!” sahut Gerry ketus. “Gua masih sayang sama badan gue yang mulus dan keren ini. Jadi dengan sangat bijaksana, gua milih di sini aja.” “Kamvret lo!” Robert masuk ke dalam pekarangan dalam dan berjalan hingga tiba di pintu kaca, dan menarik bel yang berada di sisi pintu. Tidak lama kemudian, seorang wanita membukakan pintu. “Cari siapa?” tanya wanita itu dengan ramah. “Selamat sore Tante, saya Robert, teman sekolah Rea. Saya ke-” “Ah …, teman sekolah Rea. Silakan masuk dulu.” Wanita itu mengantar Robert ke ruang tamu. “Tunggu di sini dulu ya, biar saya panggilin Rea.” Tidak lama kemudian, Rea datang bersama wanita tadi yang membawa baki berisi tiga gelas minuman. “Silakan diminum dulu.” “Makasih,” sahut Robert sopan. “Tapi saya nggak bisa lama-lama, karena ada temen yang lagi nunggu di luar.” “Loh, kenapa nggak ikut masuk sekalian?” tanya wanita yang sudah duduk di samping Rea dengan bingung. “Takut sama anjing, Tan.” Robert berusaha menahan tawa saat mengatakan hal itu. Tiba-tiba Rea tergelak dengan suara keras, sehingga Robert terkejut. Jarang-jarang dia melihat Rea tertawa seperti itu. “Kamu kenapa ketawa Re?” tanya wanita tadi dengan lembut. “Lucu aja Kak,” sahut Rea sambil terus tertawa. “Di depan pasti Gerry, dan aku baru tau kalo dia takut sama anjing.” “Di depan juga ada Sisca,” timpal Robert. “Sisca?!” Rea memandang Robert dengan tatapan menyelidik. “Aku mau tanya, kalian bolos ya?” Robert mengangkat bahu sebagai jawaban. Rea menoleh ke arah kakaknya “Kak, kalo gitu aku pulang dulu ya, nggak enak sama temen-temen yang ada di luar.” “Kamu nggak mau makan dulu?” “Nggak usah Kak, nanti aku makan di rumah aja.” Rea berdiri dari sofa dan berkata pada Robert. “Aku ambil tas dulu bentar.” Setelah berpamitan, Rea dan Robert mendatangi Gerry dan Sisca yang menunggu di gazebo. “Ger, elo bawa Sisca pulang gih,” ujar Robert setelah tiba di gazebo. “Gua ada urusan dulu sama Rea.” “Oke, nggak masalah.” Gerry tidak membantah perkataan sahabatnya karena tau Robert ingin mengobrol berdua dengan Rea. “Ayo Sis, gua anterin elo pulang.” Gerry menarik tangan Sisca dan membawa gadis itu ke arah motor. “Rea gimana?” tanya Sisca sambil melihat ke arah Rea. “Rea sama gua,” sahut Robert. “Elo pulang aja sama Gerry. Nanti kalo elo terlambat sampe rumah, bisa panjang urusannya. Ntar ketahuan kalo bolos, bisa berabe.” “Iya.” Robert membonceng Rea meninggalkan rumah kakaknya dan membawa gadis itu ke sebuah tempat makan terdekat. “Kenapa ke sini?” tanya Rea saat Robert menghentikan motor. “Elo belum makan kan? Sama, gua juga. Jadi kita makan dulu, oke?” Rea mengikuti Robert masuk ke dalam rumah makan dan duduk berseberangan dengan pemuda itu. “Kamu kenapa bolos lagi? Kamu kenapa lagi?” tanya Robert. “Gapapa, lagi pengen aja.” Rea menundukkan kepala, tidak ingin Robert mengetahui suasana hatinya sekarang. Robert mengambil tangan Rea dan menggenggamnya dengan lembut. “Coba ngomong jujur Re, nggak bagus nanggung semua sendirian.” Terhibur dengan perkataan Robert, akhirnya Rea mengeluarkan juga unek-unek di hatinya. “Aku cuma lagi bingung, besok siapa yang bakal ngambil rapor,” ujar Rea dengan suara lirih. “Mama nggak mau dateng ke sekolah, dia bilang aku suruh urus sendiri. Makanya tadi aku ke rumah kakak, minta tolong kakak besok dateng ke sekolah gantiin mama.” “Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Robert hati-hati. “Apaan?” “Bukannya kamu anak tunggal? Terus tadi itu kakak beneran?” “Dia kakak tiri aku, namanya kak Gladys. Papa itu duda, dan ketemu sama mama setelah istrinya udah meninggal.” Robert menganggukkan kepala tanda mengerti. Sekarang dia mulai paham sedikit tentang keluarga Rea. “Terus kakak kamu besok bisa dateng?” “Bisa. Kak Gladys selalu baik sama aku ….” “Terus?” tanya Robert penasaran. Rea mengembuskan napas panjang sebelum menjawab. “Selama ini, dia yang selalu ajarin aku untuk nggak marah sama mama, walaupun mama selalu ngasih luka di tempat yang sama di hati.” “Aku terkadang bingung kalo denger kamu ngomong Re, kok kesannya nyokap kayak yang nggak peduli banget ke kamu.” “Entah, aku juga nggak tau.” Rea menatap Robert dengan sedih. “Kadang aku suka mikir sendiri, aku ini sebenernya anak kandung mama apa bukan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN