Seorang siswa perempuan berdiri di depan pintu kelas Rea sambil mengetuk pintu. “Permisi Bu.
Irina, guru Sejarah yang sedang mengajar, menoleh ke arah pintu. “Ada apa?”
“Rea dipanggil ke ruang Kepala Sekolah.”
“Terima kasih,” sahut Irina sambil tersenyum kecil. “Rea, kamu boleh tinggalin tugas dan pergi ke ruang Kepala Sekolah sekarang.” Irina menatap Rea dari depan kelas karena melihat gadis itu masih diam di tempatnya.
“Baik Bu.” Rea berdiri dan berjalan meninggalkan kelas untuk menemui Kepala Sekolah.
Tiba di depan ruangan, Rea berdiri sejenak dan mencoba mendengarkan suara-suara dari dalam. Terdengar ada beberapa orang yang sedang berbicara dengan suara yang cukup jelas, salah satunya adalah suara milik Robert yang sedang mengobrol. Rea mengulurkan tangan dan mengetuk pintu.
“Masuk!” Terdengar suara Hadi, Kepala Sekolah menjawab dari dalam ruangan.
Rea membuka pintu dan terkejut saat melihat Lydia juga berada di sana, duduk diapit oleh kedua orang tuanya dengan wajah tegang.
“Kenapa cuma berdiri di situ?” tanya Hadi ramah. “Ayo masuk dan duduk di sebelah Robert.” Hadi menunjuk satu-satunya tempat duduk yang masih kosong.
“Baik Pak.” Rea berjalan perlahan dan duduk di samping Robert.
Robert bergeser sedikit sehingga Rea dapat duduk dengan leluasa, padahal tanpa bergeser pun, masih tersisa tempat yang cukup luas untuk Rea. Sarah, yang sejak tadi memperhatikan Rea, sedikit mengernyitkan kening saat melihat tindakan kecil yang dilakukan putranya. Membayang seulas senyum di sudut bibir wanita itu yang akhirnya bisa menebak mengapa Robert bersikap seperti itu.
Hadi memandang sekeliling sofa dengan tatapan teduh dan berakhir dengan menatap Rea. “Rea, bisa tolong kamu jelaskan sama kita semua yang ada di sini tentang masalah kamu dengan Lydia?” Hadi tersenyum pada Rea sebelum melanjutkan perkataannya. “Tadi Bapak sudah mendengarkan penjelasan dari Robert, dan sekarang ingin mendengar penjelasan dari kamu.”
Sebelum menjawab, Rea memandang sekilas ke arah Lydia dan melihat sikap bermusuhan dari kedua orang tua gadis itu. Namun, sedikitpun dia tidak merasa gentar. Selama tidak bersalah, dia tidak akan takut menghadapi apapun. Itulah ajaran yang diberikan ayahnya dan selalu coba diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalo ditanya kayak gitu saya sendiri bingung Pak,” ujar Rea dengan suara tetap tenang. “Karena pada dasarnya saya sama sekali nggak punya masalah dengan Lydia.”
“Kalo emang kamu nggak punya masalah sama anak saya, terus kenapa kamu berani seenaknya sama Lydia?!” sentak Martha, ibunya Lydia dengan emosi.
“Karena Lydia duluan yang berbuat seenaknya ke temen saya. Kalo Ibu mau tau, Lydia itu berbuat kasar ke temen saya di toilet sekolah, di awal-awal sekolah. Dan saya nggak bisa diem aja ngeliat anak yang sok kuasa dan bertingkah seenaknya dengan nindas anak yang nggak bisa apa-apa!” Rea menentang mata ibu Lydia, tidak gentar sedikitpun, walaupun Martha terlihat seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Hadi mengembuskan napas panjang mendengar perkataan Rea. Dia menatap Lydia dan bertanya. “Benar begitu Lydia?!”
Lydia menundukkan wajah, tidak berani menjawab atau melihat kedua orang tuanya.
“Tolong dijawab Lydia! Kita semua yang ada di sini sedang menunggu jawaban kamu!” Herry membentak putrinya karena Lydia tidak berbicara sedikitpun.
“Bener Pa,” sahut Lydia dengan nada takut.
“Apa kamu lupa dengan peringatan Bapak?!” tanya Hadi mencoba mencegah Herry berbicara larena terlihat sekali pria itu sudah tidak dapat menahan emosi.
Dengan enggan, Lydia menggelengkan kepala. “Nggak Pak.”
“Lalu apa yang bikin kamu nekat sampe mau bikin Rea celaka? Apa kamu nggak puas karena pada akhirnya ada yang berani ngelawan kamu, dan bahkan bisa ngalahin kamu?”
Lydia tidak dapat menjawab pertanyaan Hadi. Bagaimana mungkin dia mengaku di depan semua orang jika dia melakukan itu karena cemburu pada Rea yang bisa dengan mudah mengambil hati Robert. Dia sangat yakin jika ayahnya mengetahui hal ini, dirinya pasti akan mendapat hukuman berat di rumah.
“Kenapa cuma diam?!” tanya Herry dengan suara dingin. “Kenapa kamu nggak mau bela diri kamu?! Atau jangan-jangan alasan kamu ngelakuin semua ini cuma karena masalah sepele?!”
“Pa! Kenapa jadi kamu marahin Lydia?! Harusnya kan yang kamu marahin itu dia!” Martha menunjuk ke arah Rea dengan telunjuknya. “Seenaknya aja main mukul anak kita! Dasar anak nggak punya aturan! Apa kamu nggak pernah diajarin sopan santun sama orang tua kamu?!”
Robert langsung emosi saat mendengar perkataan Martha. “Tan, kalo ngomong bisa dipikir dulu nggak?! Ngomong asal keluar doang! Emang dulu mulutnya nggak pernah disekolahin ya?!”
“KAMU!” Martha mendelik tajam pada Robert. “Sejak kapan kamu berani kurang ajar sama yang lebih tua?! Jangan-jangan, kamu belajar kurang ajar dari dia?!” Martha menatap penuh kebencian pada Rea.
Sarah cepat-cepat menekan tangan Robert yang hendak membalas perkataan Martha. Dia tidak ingin putranya membuat keadaan semakin panas, sekaligus terlihat tidak sopan.
Hadi yang melihat suasana semakin tidak baik, mencoba untuk menengahi. “Mohon tenang bapak dan ibu semua. Kita di sini bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk mencari jalan keluar dari masalah yang sudah dibuat oleh Lydia dan kawan-kawannya!” Hadi tetap berkata dengan suara tenang. “Dan saya mohon untuk semua yang ada di sini menjaga tutur kata dalam berbicara.” Mata Hadi berhenti lama pada Martha yang langsung tertunduk malu karena teguran dari Kepala Sekolah.
Robert dan Rea secara bersamaan menundukkan wajah untuk menyembunyikan senyum. Mereka merasa puas mendengar teguran yang diucapkan dengan tenang, akan tetapi sangat telak.
Setelah suasana kembali tenang, Hadi melanjutkan perkataannya “Lydia,” panggil Hadi dengan suara lembut. “Apa kamu nggak mau bilang alasan yang sebenarnya kenapa kamu sampai berbuat nekat seperti ini? Pasti ada alasannya kenapa kamu sampe seperti ini kan?” Hadi sengaja berkata dengan nada ramah dan bersahabat. Dia tidak ingin membuat Lydia merasa semakin tertekan hingga akhirnya tidak mau mengaku.
Lydia mengangkat kepala. Dia menatap Hadi dengan perasaan takut. “Kalo saya bilang yang jujur, Bapak beneran nggak akan marah?” tanyanya dengan suara lirih.
“Iya. Bapak janji nggak akan marah, tapi kamu tetap nggak bisa lari dari kesalahan dan konsekuensi yang harus dijalani.”
Lydia menarik napas dalam-dalam, sebelum akhirnya mengembuskan sambil mengatakan yang sejujurnya. “Saya ngelakuin itu karena cemburu sama Rea yang bisa deket sama Robert, sedangkan saya nggak bisa.” Usai mengatakan hal itu, d**a Lydia terasa lega.
Setelah kejadian hari Sabtu kemarin, Lydia akhirnya menyadari dan menyesali semua yang sudah dilakukan selama ini. Hanya karena dibutakan rasa cemburu, dia sampai nekat melakukan sesuatu yang buruk, bahkan hampir saja mencelakai orang lain.
Seluruh ruangan hening seketika setelah mendengar pengakuan yang terlontar dari bibir Lydia. Harry dan Martha terdiam dan tak mampu mengatakan apapun. Begitu juga dengan Lukman dan Sarah. Mereka berdua sangat terkejut dengan pengakuan Lydia barusan. Bagaimana mungkin seorang gadis muda mampu berbuat hal mengerikan seperti itu.
***
“Rea!”
Rea yang sedang berjalan kembali ke kelas bersama Robert, menghentikan langkah saat mendengar namanya dipanggil. Dia membalikkan badan dan melihat Lydia yang baru keluar dari ruang Kepala Sekolah berlari ke arahnya.
“Mau ngapain lagi?!” tanya Robert datar setelah Lydia tiba di hadapan dirinya dan Rea.
Mendengar nada bicara Robert, tanpa sadar Rea mencubit pelan lengan pemuda itu. Robert hanya diam dan tidak mengatakan apapun. Hatinya malah merasa senang dengan yang dilakukan Rea, merasakan sentuhan jemari gadis itu di tangannya, membuat hati Robert berdebar tidak keruan, sampai rasanya ingin meledak karena bahagia.
“Kenapa panggil aku? Kamu mau ngomong apa?” tanya Rea. Tidak terdengar sedikitpun nada marah dalam suara Rea.
Lydia menundukkan kepala saat menyadari betapa hangat dan ramah nada suara Rea. Dia semakin malu pada dirinya sendiri. “Gua mau ngomong bentar sama elo.”
“Kamu mau ngomong apa?”
Lydia menautkan jemarinya dengan gugup. “Makasih ya,” ujarnya dengan suara sangat pelan.
Robert yang sebenarnya masih merasa sedikit kesal pada Lydia, ingin melampiaskan rasa di hati dengan mengerjai gadis itu. “Kalo ngomong mulutnya dibuka, biar orang yang diajak ngomong bisa denger! Giliran marah aja suara lo bisa sekenceng toa!”
Diam-diam, Lydia mengembuskan napas gusar karena ledekan Robert. “Gua mau bilang makasih.” Lydia mengulang ucapannya dengan suara lebih keras.
Robert terkekeh tanpa suara saat melihat Lydia menuruti perkataannya tanpa banyak kata. “Nah gitu dong, baru bener namanya.” Robert mencolek bahu Rea dan berbisik dengan suara keras. “Kamu denger kan dia barusan ngomong apa? Terus jawaban kamu apa?” Robert menatap jail pada Rea sambil mengulum senyum.
Rea gemas dengan sikap kekanakan Robert. Ingin rasanya dia menjitak kening pemuda itu, akan tetapi Rea segera mengurungkan niatnya. Tatapannya kembali diarahkan pada Lydia. “Makasih? Emangnya aku ngapain?”
“Makasih karena elo udah bantuin biar gua bisa tetep sekolah di sini.”
Rea mendekati Lydia dan mengambil tangan gadis itu. “Jangan makasih sama aku, karena aku nggak ngelakuin apa-apa. Makasihnya buat Pak Hadi aja, karena udah ngasih kamu kesempatan untuk tetep bisa sekolah di sini. Semua itu kan karena keputusan Pak Hadi.”
“Tapi tetep aja kan ….” Lydia bingung untuk melanjutkan perkataannya.
Rea kembali tersenyum dan berkata. “Sekarang lebih baik, tutup cerita yang kemarin dan mulai dengan lembaran cerita yang baru. Lupain semua, dan belajar untuk lebih baik lagi, bisa kan?”
Lydia termangu mendengar perkataan yang keluar dari bibir Rea. Dia tidak percaya masih ada orang seperti gadis di hadapannya. Masih bisa berkata dengan baik padanya, padahal dia jelas-jelas sudah berusaha membuat hidup Rea menjadi susah. Kenyataan ini membuat Lydia semakin malu menghadapi Rea.
“Elo beneran nggak benci sama gua?”
Rea menggelengkan kepalanya. “Marah iya, tapi nggak sampe jadi benci. Aku nggak mau menuhin hati dengan benci, nggak ada gunanya juga. Yang ada malah bikin hidup jadi nggak bener.”
Lydia meresapi kata-kata yang diucapkan Rea. Dia mengakui dalam hati jika selama ini dia hidup dalam amarah dan rasa benci saat melihat orang lain mampu mendapat lebih dari dirinya.
Tanpa diduga, Lydia memeluk Rea dengan erat. “Makasih banyak ya Re,” gumam Lydia pelan.
“Sama-sama.”
Lydia melepaskan pelukan Rea, akan tetapi tangannya tetap berada di kedua bahu gadis itu. “Mulai sekarang gua janji akan bersikap baik sama elo dan Sisca. Dan gua harap, elo mau temenan sama gua.”
“Serius?” tanya Rea dengan nada menggoda.
“Iya,” sahut Lydia mantap. “Gua mau mengakhiri cerita nggak baik yang selama ini gua jalanin, dan mulai cerita yang baru sama elo.”
“Kalo gitu, baiknya jangan cuma sama aku dan Sisca, tapi juga ke semua orang, termasuk Fanny, Ria, dan Mesya.”
“Iya. Gua tau selama ini sering bikin mereka susah, marah, nangis, karena omongan dan kelakuan gua. Tapi gua mau coba buat berubah jadi baik.”
“Terus dia?” Rea menunjuk ke arah Robert yang sejak tadi menyimak dalam diam.
“Dia?” Lydia ikut-ikutan menunjuk pada Robert. “Gua rasa dia juga adalah cerita lama gua. Dan ke depannya, biar dia jadi milik elo aja. Karena yang gua liat, Robert itu cuma bisa nurut sama elo.”