Permintaan Robert

1916 Kata
“Bet, tumben amat mau jemput Rea pake mobil?” tanya Gerry setelah mereka menunggu sekitar lima menit di seberang tempat latihan Rea. “Lagi pengen aja,” sahut Robert tenang. Gerry menoleh ke samping dengan gusar. “Nggak mungkin cuma pengen aja. Gua kenal elo udah lama banget Bet. Elo nggak akan mungkin ngelakuin sesuatu cuma dengan alasan pengen atau kebetulan doang. Segala yang elo lakuin, pasti ada alesannya.” Robert tidak membantah, juga mengiyakan perkataan Gerry. Dia hanya diam dan kembali teringat dengan kejadian dua hari lalu, di mana Fanny nekat datang ke rumahnya. . “Ngapain lo ke sini?!” tanya Robert saat melihat Fanny duduk dengan gelisah di ruang tamu rumahnya. Fanny yang sedang menunduk, terkejut saat mendengar suara Robert. Dia mengangkat wajah dan menatap pemuda itu. “Sori Bet, gua tau elo nggak suka sama gua, tapi gua ke sini karena beneran ada yang harus gua kasih tau ke elo.” “Tentang?!” “Rencana Lydia.” Robert mengernyitkan kening mendengar nama Lydia disebut oleh Fanny. Dia mendekati sofa dan duduk di seberang Fanny. “Emang Lydia mau ngapain?” “Dia mau ngelakuin sesuatu sama Rea,” “Itu anak belum kapok?!” tanya Robert datar. “Tapi kenapa elo ngasih tau gua?! Bukannya elo itu salah satu dayang-dayangnya dia?! Apa ini cuma jebakan doang?!” Fanny mengembuskan napas sebelum menjawab pertanyaan Robert. “Gua tau selama ini udah salah karena bergaul sama Lydia, dan udah banyak bikin masalah, dan juga bikin orang lain jadi susah. Tapi sejujurnya, gua sendiri terpaksa ngelakuin hal itu. Elo tau sendiri kan gimana Lydia.” “Gua nggak mau bahas masalah elo sekarang! Cepetan elo kasih tau apa yang mau Lydia lakuin ke Rea?!” Fanny pun menceritakan rencana yang sudah disusun Lydia dan kedua temannya untuk Rea, serta alasan mengapa Lydia melakukan hal itu. Fanny menceritakan secara rinci, kapan, di mana semua itu akan dilaksanakan. . “Kenapa diem? Elo nggak mau ngasih tau gua?!” Gerry kembali bertanya karena Robert tidak menjawab pertanyaannya. “Gua mau ngasih pelajaran sama Lydia.” Akhirnya Robert menjawab pertanyaan Gerry. “Eh?!” Gerry terbelalak saat mendengar perkataan Robert. “Serius lo? Gua nggak salah denger kan? Emang dia ngapain lagi?!” Secara singkat Robert menceritakan pada Gerry apa yang sudah dikatakan Fanny padanya, tanpa ada yang ditutupi. “Muke gile tuh anak!” Gerry benar-benar terkejut setelah mendengar cerita Robert. “Dia beneran nggak punya rasa takut banget sih?! Gua beneran pengen liat itu anak kena batunya, terus balesannya lebih parah dari apa yang udah dia lakuin selama ini!” Gerry menggertakkan gigi, menahan emosi karena rencana jahat Lydia. “Elo aja yang denger dari gua gondok, gimana gua pas denger Fanny ngomong. Untung nggak ada barang yang pecah di rumah.” Robert pun mengungkapkan kekesalannya saat pertama kali mendengar cerita Fanny. “Terus kita nunggu di sini sampe kapan? Rea keluar jam berapa? Masih lama nggak?” Robert melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Bentar lagi kayanya. Tapi elo tenang aja, gua udah nyiapin semuanya.” Tanpa sepengetahuan siapapun, kemarin Robert mendatangi pihak berwajib yang menjadi kenalan keluarganya. Dia menceritakan semua yang dikatakan Fanny, serta meminta bantuan pada petugas untuk menggagalkan rencana Lydia. Lima belas menit kemudian, tampak Rea keluar dari tempat latihan. Dia berjalan menuju halte dengan langkah santai. Belum lama Rea berjalan, tampak beberapa pria menghalangi jalannya. Tampak juga sebuah mobil berhenti di dekat Rea. Rea yang terkejut, terlambat bereaksi sehingga kedua tangannya berhasil dipegangi oleh dua pria yang langsung menyeretnya ke dalam mobil. Namun, belum sempat kedua pria itu memasukkan Rea ke dalam, polisi datang dan menghentikan aksi mereka. Tanpa perlawanan, para pria itu menyerah dan melepaskan Rea. Saat itu juga, Robert keluar dari mobil dan berlari mengahmpiri Rea yang tampak pias. “Kamu gapapa?” tanya Robert sambil memeluk Rea. “Gapapa,” sahut Rea dengan suara sedikit gemetar. Lututnya terasa lemas, dan tidak mampu menahan tubuhnya. Untung ada Robert yang memeluk, sehingga dia tidak terjatuh. “Re, kamu gapapa?” tanya Arya dengan napas terengah-engah. Tadi ada beberapa anak yang memberitahu tentang kejadian yang menimpa Rea, karena itu dia berlari untuk menolong. “Gapapa.” Rea menatap Robert dan bertanya dengan suara lirih. “Mereka siapa?” “Nanti aku jelasin,” sahut Robert tenang. “Kamu tunggu sebentar di sini. Gua titip Rea bentar.” Robert menyerahkan Rea pada Arya dan berlari mendekati salah satu petugas yang dikenalnya. “Kamu tau nggak mereka siapa? Dan kenapa mau bawa aku?” Rea menatap Arya dengan tatapan penasaran. “Aku juga nggak tau Re. Biar nanti Robert yang langsung jelasin ke kamu, oke?” ujar Arya. “Sekarang kamu ikut aku ke tempat latihan, biar kamu istirahat sebentar, sambil nunggu Robert balik.” Arya membimbing Rea masuk kembali ke dalam ruang tunggu dan memberikan minum untuk gadis itu. Empat puluh lima menit kemudian, Robert kembali bersama Gerry. “Udah beres?” tanya Arya begitu Robert tiba di ruang tunggu. “Udah. Sekarang mungkin pihak berwajib lagi ke rumah Lydia.” “Lydia?!” tanya Rea dengan suara kaku. “Hm,” sahut Robert sambil mengangguk. “Dia yang ngerencanain hal ini ke kamu. Dia juga yang waktu itu udah nubruk Sisca sampe kalian jatuh.” Rea termangu mendengar penjelasan Robert. “Kenapa dia benci banget sih sama aku? Emang aku pernah bikin salah apa sama dia?” Rea menelengkan kepala, mencoba untuk berpikir alasan Lydia sampai berbuat nekat seperti ini. “Apa karena aku pernah ngalahin dia? Tapi kan itu karena dia yang mulai duluan? Kalo nggak karena dia yang gangguin Sisca, aku juga nggak akan begitu.” Rea terus bergumam sendirian tanpa menghiraukan sekelilingnya. *** Hari Senin pagi, sekolah geger karena berita yang tersebar dengan cepat mengenai tindakan yang dilakukan Lydia. Rea yang baru datang, berjalan sambil menundukkan wajah hingga ke kelas. “REA!” seru Nita saat gadis itu masuk kelas. “Emang bener berita yang lagi beredar? Beneran waktu Sabtu Lydia mau nyoba ….” Nita tidak melanjutkan perkataannya karena merasa serba salah. Rea hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban dan tetap berjalan menuju mejanya. “Emang gimana kejadiannya?” tanya Aldi yang juga penasaran. Rea yang baru saja duduk, memilih untuk tidak menjawab pertanyaan teman-temannya. “Nggak ada apa-apa kok.” “Ah, elo gitu amat sih Re,” rajuk Nita. “Kasih tau kita dong, kan penasaran nih …, ya, ya ….” “Maaf, tapi aku nggak bisa. Mungkin Lydia emang salah, tapi aku juga nggak mau ngejelekkin dia.” Semua mata memandang ke arah Rea dengan tatapan tidak percaya. Mereka terkejut dengan sikap Rea yang sedikitpun tidak menyalahkan dan marah pada Lydia. Ivana yang memang dengki pada Rea, menyuarakan pendapatnya dengan suara keras. “Halah …, sok suci lo!” seru Ivana dengan sinis. “Sok baik, sok lugu, sok nggak pernah bikin salah! Dasar munafik! Pinter pura-pura!” Ivana mendengkus gusar dan berjalan meninggalkan meja Rea. Namun, baru dua langkah, Ivana berteriak dengan suara keras. “AW!” pekik Ivana. “LEPASIN!” “Barusan elo ngomong apa heh?!” tanya Sisca ketus sambil tangannya menjewer telinga Ivana. “Emang bener kan?!” Ivana masih berani menyahut perkataan Sisca dengan suara keras. Kesal mendengar jawaban Ivana, Sisca semakin menarik telinga gadis itu. “AW!” teriak Ivana semakin keras. “Masih berani ngomong yang nggak bener lagi tentang Rea?!” tanya Sisca dengan suara manis. “Atau mau gua bikin kuping lo makin merah?!” Melihat keadaan yang makin tidak nyaman, Rea berdiri dan memegang tangan temannya dengan lembut. “Sis, lepasin ya,” pinta Rea dengan suara pelan. Sisca menoleh ke Rea dan menatap tidak suka dengan perkataan temannya. “Tapi dia duluan yang mulai Re! Gua keki banget denger omongan ini anak!” “Iya, aku ngerti,” sahut Rea sabar. “Semua orang berhak punya pendapatnya sendiri, dan kita nggak bisa maksa mereka buat ikutin maunya kita. Begitu juga sama Ivana. Dia berhak ngomong apapun yang dia mau, terlepas itu bener apa nggak. Tapi suatu saat akan terbukti mana yang bener dan nggak. Jadi aku minta tolong banget, nggak usah pusing sama hal kecil kayak gini, dan jangan ngotorin tangan kamu sama orang nggak penting kayak dia.” “Baiklah,” sahut Sisca dengan suara sangat manis.. “Kalo dipikir-pikir, emang bener juga sih, ngapain juga gua mesti marah karena orang nggak penting kayak dia.” Sisca melepaskan tangan dari Rea tersenyum mendengar perkataan Sisca yang diucapkan dengan manis, akan tetapi jelas tidak enak didengar. Begitu juga dengan anak-anak yang lain. Mereka mengulum senyum dan merasa senang karena bisa melihat wajah gusar Ivana. Ketika jam istirahat, Robert mendatangi kelas Rea. Dari luar, Robert melihat Rea sedang merebahkan kepala di meja sambil mendengarkan musik. Dia masuk ke dalam dan menghampiri meja Rea. “Kenapa di sini? Sisca mana?” “Ke kantin sama Liana dan Nita.” “Kenapa nggak ikut? Emang nggak laper? Pasti tadi pagi belum sarapan kan?” “Nggak selera.” “Kenapa?” “Ya nggak pengen aja,” sahut Rea. “Lagian kalo ke kantin, ntar semua orang pada ngeliatin dan mungkin akan nanya-nanya tentang Lydia lagi. Aku nggak mau, mending di sini aja.” “Emang beneran nggak laper?” “Sedikit.” Robert tersenyum kecil mendengar jawaban Rea. Tanpa mengatakan apapun, dia berbalik dan berjalan meninggalkan kelas. Tidak lama kemudian, Robert kembali sambil membawa bungkusan dan meletakkan di meja Rea. “Sekarang kamu makan dulu.” Rea tidak membantah dan melihat isi bungkusan yang dibawa Robert. Ada dua buah roti, s**u, dan masih banyak lagi. Dia tersenyum sendiri melihat apa yang dibawa Robert untuknya. Dia mengeluarkan roti dan menyerahkan salah satunya pada Robert. “Kamu juga makan kan?” “Hm. Robert menerima roti dari tangan Rea. “Gimana keadaan kelas?” tanya Rea. “Sedikit lebih rame dari biasa. Kenapa emangnya?” “Apa yang bakal terjadi sama Lydia dan yang lain?” “Entah, mungkin cuma bakal dapet peringatan, atau skors. Atau yang lebih parah ya dikeluarin. Kenapa pengen tau?” “Aku nggak tega aja mikirin kalo mereka sampe harus keluar dari sekolah,” gumam Rea. “Andai harus keluar, kenapa nggak Lydia aja. Aku yakin sebenernya Fanny, Ria, dan Mesya nggak mau ngelakuin hal itu.” Robert terdiam mendengar perkataan Rea yang sangat di luar dugaan. Dia tidak dapat mempercayai pendengarannya. “Kenapa kamu nggak marah sama mereka? Kenapa malah ngebela mereka?” “Siapa bilang aku nggak marah? Aku marah, kesel, dan sempet pengen ngebales semua perlakuan mereka,” sahut Rea tenang. “Tapi buat apa? Apa itu bakal bikin keadaan jadi baik? Mungkin, aku bakal puas karena udah bisa bales semua yang udah mereka lakuin? Tapi nggak bikin aku jadi menang, tapi cuma sesaat,” “Maksudnya?” Rea tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan Robert. “Papa pernah bilang jangan bales kejahatan sama kejahatan, karena kalo kita ngelakuin hal itu, kita sama aja sama mereka. Nggak usah ngebales, biarin aja, biar suatu saat mereka yang jahatin kita dapet balesannya sendiri. Karena itu aku nggak pernah niat mau bales mereka. Marah ya wajar, tapi nggak boleh benci. Itu yang selalu papa ajarin ke aku.” Robert menatap Rea lekat-lekat. Dirinya semakin dalam jatuh dalam pesona Rea, ketulusan, dan juga pola pikir Rea yang berbeda dari orang lain yang selama ini ditemuinya. “Kenapa ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Rea yang merasa risih dengan tatapan Robert. “Mau nggak kamu selalu di samping aku, dan ngajarin caranya untuk bisa hidup kayak kamu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN