Menyusun Rencana

1832 Kata
“Loh, kok elo udah masuk sekolah sih Re? Kan kaki lo belum sembuh?” tanya Anton saat melihat Rea masuk ke dalam kelas. “Kan cuma kaki doang yang sakit,” sahut Rea sambil berjalan ke arah mejanya. Anton menghadang langkah Rea dengan berdiri menghalangi jalan menuju ke meja Rea. “Tapi tetep aja Re, elo kan jadi susah konsen kalo kaki lo masih bengkak.” Anton mencoba untuk membujuk Rea bersekolah hari ini. “Gapapa,” sahut Rea. “Kalo nanti nggak kuat paling aku minta ijin ke UKS.” “Keras kepala lo,” gumam Anton gusar. “Masalahnya kan bentar lagi kita mau ujian kenaikan kelas. Kalo gua nggak masuk, nanti gua ketinggalan pelajaran.” “Ya gimana elo aja deh. Gua sih ngomong begini cuma karena gua kasian sama elo, nggak tega ngeliat elo jalannya masih pincang kayak gitu.” “Makasih ya kamu udah perhatian sama aku,” ujar Rea tulus. “Sekarang aku mau duduk dulu, kaki aku masih agak pegel kalo diajak berdiri lama-lama.” Mendengar jawaban Rea, mau tidak mau Anton bergeser dan memberikan jalan untuk gadis itu. Dalam hati, dia sangat ingin membantu Rea dengan meminjamkan tangan pada gadis itu supaya dapat berpegangan padanya dan tidak terlalu memberatkan kaki yang sedang terkilir. Namun, di satu sisi, dia takut jika Robert sampai mendengar tentang hal ini. Dan jika itu terjadi, tentu dia akan mendapat masalah. Bisa jadi Robert akan mendatangi dirinya dan bisa jadi akan memberinya pelajaran karena sudah berani menyentuh Rea. Rea duduk di tempatnya dan merasa sedikit sedih karena tidak ada Sisca yang selalu ceria, dan tidak pernah kehabisan bahan cerita. Dia menopang kepala dan memandangi kursi milik Sisca yang kosong dan membayangkan jika temannya ada di sampingnya. Sisca belum bisa masuk sekolah dengan alasan kakinya masih bengkak dan sangat sakit jika digunakan berjalan. Baru Rea sadari rasanya cukup sepi tanpa kehadiran Sisca. Ternyata selama ini tanpa disadari, dia sudah membuka hati dan menerima Sisca sebagai teman sekaligus sahabat. “Pagi-pagi udah ngelamun, mikirin siapa lo?” “Ngagetin aja deh,” gerutu Rea setelah melihat siapa yang datang. “Mau ngapain ke sini?” “Disuruh anterin ini.” Aaron meletakkan paper bag di hadapan Rea. “Ini apaan?” “Liat aja sendiri,” sahut Aaron sembari duduk di kursi yang tepat berada di depan meja Rea. Rea mengintip ke dalam paper bag dan terkejut saat melihat isnya yang ternyata adalah kotak makan, juga s**u. “Kenapa juga dia mesti ngirim beginian?” gerutu Rea pelan. “Itu tandanya Obet beneran sayang sama elo Re,” sahut Aaron yang mendengar gumaman Rea. “Baru kali ini gua ngeliat dia begini ke cewek. Obet tuh jadi kayak orang lain, semua yang dia lakukan bener-bener kayak bukan dia.” “Emang sebenernya dia tuh kayak gimana sih?” tanya Rea yang menjadi penasaran. “Tumben amat elo pengen tau tentang Obet?” ledek Aaron. Rea mengerucutkan bibir sebelum menjawab pertanyaan Aaron. “Aku penasaran aja, emang sebenernya dia tuh kayak gimana? Dari yang aku denger tuh dia katanya dia dingin, galak, selalu sinis dan nggak pernah bersahabat sama siapapun, kecuali Gerry. Cewek-cewek juga nggak pernah ada yang berhasil ngedeketin dia, emang semua itu bener?” “Memang benar,” sahut Aaron tenang. “Semua yang elo denger tentang Obet itu semuanya bener. Tapi sejak ketemu sama elo, dia mulai berubah, bukan dalam artian jelek, malah sebaliknya. Jujur aja, gua sama Gerry suka dengan Obet yang sekarang, walaupun mulutnya masih pedes banget kalo ngomong, tapi segini udah better lah dibanding dulu.” Rea termangu mendengar penuturan Aaron. Dia tidak menyangka jika seorang Robert bisa berubah sangat drastis. Apa mungkin karena bertemu dengan dirinya, tapi rasanya sangat mustahil. Rea merasa dia tidak melakukan apapun yang bisa membuat Robert menjadi seperti sekarang. “Woy! ngelamun lagi lo!” seru Aaron sambil melambaikan tangan di depan wajah Rea. Rea tergagap dan langsung tertawa kecil mendengar perkataan Aaron. “Maaf. aku bukan ngelamun, tapi lagi mikirin omongan kamu. Dan sekarang makin penasaran pengen tau tentang dia lebih banyak. Boleh tolong certain lagi?” “Ceritanya udahan dulu sampe di sini,oke? Kalo elo mau tanya-tanya lagi tentang Obet, dengan senang hati gua bakal kasih tau. Tapi ada syaratnya ….” Aaron sengaja menggantung ucapannya karena ingin membuat Rea semakin penasaran, sekaligus menggoda gadis itu. “Kenapa harus pake syarat segala?” protes Rea sambil mengerucutkan bibir. Aaron menyeringai lebar melihat reaksi Rea. “Karena nggak ada sesuatu yang gratis Re. Semua pasti ada imbalannya.” “Itung-itungan amat sama aku. Coba kalo aku kasih tau sama dia, pasti kamu bakal ditegur.” Sebenarnya Rea tidak bermaksud apapun dengan mengatakan hal itu. Dia hanya asal menyebut, tanpa maksud apapun. “Ah, elo mainnya ngadu nih, nggak seru banget deh!” seru Aaron gusar. “Eh?” Rea benar-benar terkejut saat melihat mimik kesal di wajah Aaron. “Emang aku ngomong apaan?” tanyanya bingung. “Tadi elo bilang mau laporin gua ke Obet?!” “Aku?” Rea menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan bingung. “Perasaan nggak deh.” Rea berpikir sejenak, mencoba mengingat ucapannya pada Aaron. “Ya ampun …, aku nggak ada maksud apa-apa Ron.” Rea tertawa kecil setelah ingat dengan perkataannya tadi. “Emangnya kamu pernah denger aku ngaduin atau ngomongin orang lain?” “Ya nggak sih.” Mau tidak mau Aaron harus mengakui kebenaran perkataan Rea. Saat bel masuk berbunyi, Aaron kembali ke mejanya. Kelas pun langsung hening dan semua siswa menunggu kedatangan guru untuk memulai pelajaran. Saat jam istirahat, Robert mendatangi kelas Rea. Robert berniat menemani Rea sepanjang istirahat, sekaligus memastikan gadis itu menghabiskan bekal yang tadi dititipkan lewat Aaron. Lydia dan ketiga temannya melihat saat Robert meninggalkan kelas. Karena penasaran, ditemani Fanny dan yang lain, diam-diam Lydia mengikuti pemuda itu. Alangkah terkejutnya mereka saat mengetahui Robert menemani Rea di dalam kelas gadis itu. Kecemburuan memenuhi hati Lydia, dan membuat gadis itu semakin membenci Rea. “Pulang sekolah, elo orang harus ikut gua!” Lydia menatap ketiga temannya dengan galak. “Ke mana?” tanya Ria. “Nggak usah banyak tanya! Pokoknya harus ikut! Ada yang mesti gua omongin sama kalian!” “Baiklah,” sahut ketiga temannya dengan nada sedikit terpaksa. Bagaimana mungkin menolak permintaan Lydia yang diucapkan dengan nada memerintah seperti itu. Mereka hanya mampu menuruti keinginan Lydia. Begitu bel pulang berbunyi, Lydia dan kawan-kawan bergegas meninggalkan kelas. Lydia memimpin di depan dan berjalan dengan dagu terangkat menuju ke mobil yang sudah menunggunya di depan lobi sekolah. “Jalan sekarang!” sentak Lydia pada seorang pria separuh baya yang menjadi supir pribadinya. “Baik Non,” sahut pria itu dengan nada sopan. “Kita mau ke mana sih Lyd?” tanya Ria yang tidak dapat menutupi rasa penasaran di hatinya. “Ke rumah gue.” “Tumben amat, mau ngapain?” celetuk Mesya. “Kan elo paling nggak suka kalo kita main ke rumah?” Mendengar perkataan Mesya, Ria yang duduk di samping temannya itu langsung mencubit lengan Mesya dengan keras. “AW! Sakit tau!” Mesya mengusap lengannya yang mmerah karena cubitan Ria. “Mulut lo tuh!” desis Ria galak. “Kalo ngomong dipikir dulu!” “Ye, kan gua ngomongnya bener.” Mesya mendelik marah pada Ria. “Emang bener kan kalo Lydia tuh paling nggak suka kalo kita ke rumahnya.” “Mau diem nggak lo!” Lydia membentak Mesya dengan suara keras. “Ngomong sekali lagi, gua turunin lo di jalan!” “Iya, iya. Gua diem deh,” sahut Mesya. “Dasar cewek jutek, mentang-mentang kaya, hobinya marah-marah dan ngebentak mulu,” imbuh Mesya dalam hati. Sesudah itu tidak ada lagi yang berani berbicara selama perjalanan menuju ke rumah Lydia. Tiba di rumahnya, dengan gaya angkuh, Lydia menaiki undakan menuju ke pintu utama. Fanny, Ria, dan Mesya mengikuti Lydia dalam diam masuk ke dalam. Tiba di ruang utama, para pelayan berdiri berjajar dengan sikap tegak. Tidak terlihat senyum di wajah mereka. Saat Lydia melintas, mereka semua menundukkan kepala. Tidak ada yang berani bersuara, apalagi bergerak. Semua pekerja takut pada Lydia karena sikapnya yang semena-mena dan selalu berbicara kasar pada semua pegawai. “Sekarang elo mau ngomong apa Lyd?” tanya Fanny setelah mereka berada di kamar Lydia yang mewah. “Gua pengen ngasih pelajaran sama Rea, tapi gua mau kali ini harus bener-bener berhasil. Gua nggak mau tau gimana caranya, pokoknya harus berhasil!” Fanny, Ria, dan Mesya saling berpandangan satu sama lain. Sebenarnya sejak kejadian terakhir, mereka sudah kapok untuk mengganggu Rea. Masih terasa bantingan yang dilakukan Rea pada mereka, dan rasa sakitnya itu tidak hilang, walau sudah berlalu dua hari. Tapi. tidak menjalankan perintah, sama saja menyerahkan diri secara langsung untuk dihina dan dibentak oleh Lydia. Bukan hanya itu, Lydia mungkin akan membuang mereka, dan tidak mau berteman lagi. Jika hal itu sampai terjadi, keadaan akan berbalik tidak menguntungkan untuk mereka di sisa waktu bersekolah di tempat yang sama dengan Lydia. “Sekarang tugas kalian pikirin gimana caranya! Kalo kalian bisa dapet ide yang bagus, gua bakal ngasih hadiah yang luar biasa, yang dalam bayangan pun kalian nggak pernah bisa milikin. Gua juga akan traktir kalian makanan yang enak, dan tentu aja mahal.” Mendengar imbalan yang akan diberikan, mau tidak mau Fanny, Ria, dan Mesya tergiur juga. Semua barang yang dipakai Lydia, adalah barang mewah dengan harga selangit. Jelas akan menjadi sebuah keuntungan bila mereka dapat memiliki salah satu barang kepunyaan Lydia. Fanny, dan Ria langsung berpikir keras guna mendapat ide cemerlang untuk membuat Rea jera karena sudah berani dekat-dekat dengan Robert. “Gimana kalo kita bikin dia ngalamin kecelakaan?” usul Ria bersemangat. “Udah biasa!” sahut Lydia ketus. Dia teringat dengan usahanya di tempat retreat, yang berakhir membuat Robert semakin lengket dengan Rea. Pikirin yang lain!” “Gimana kalo minta tolong sekolah lain buat ngasih dia pelajaran?” usul Fanny. “Elo kan kenal salah satu anak sekolah lain yang biasa ngelakuin hal beginian?” “Elo udah lupa sama kejadian kemarin?! Anak cowok aja kalah sama dia, gimana anak cewek?!” sentak Lydia gusar. “Mikir yang bener kenapa?! Masa elo nggak punya ide yang bagus sih?!” “Susah-susah amat sih,” celetuk Mesya asal. “Tinggal elo bawa kabur aja itu cewek, kan beres. Tapi ngelakuinnya pas itu anak sendiri, beres kan.” Semua mata memandang ke arah Mesya yang sedang asik menikmati sekantong keripik. Ria yang duduk di dekat Mesya, memukul bahu temannya dengan sangat keras. “AW! Sakit tau!” teriak Mesya sambil memegangi bahunya. “Kenapa mukul gua sih?! Emangnya gua bikin salah apaan lagi?!” Fanny merebut bungkus keripik dari tangan Mesya dan menjauhkan benda itu dari jangkauan tangan temannya yang sangat suka menikmati kudapan. “Apaan lagi sih?!” jerit Mesya yang benar-benar kesal karena Fanny sudah mengganggu kesenangannya. “Kali ini ide lo hebat Sya,” ujar Lydia sambil tersenyum manis. “Gua beneran suka sama ide lo.” “Seriusan?” tanya Mesya tidak percaya. “Iya, sekarang kita tinggal ngomongin cara ngelakuin ide elo.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN