Robert sedang duduk di ruang tamu sekaligus ruang keluarga Rea sambil menonton televisi saat pagar rumah gadis itu diketuk dari luar. Dia berdiri dari sofa dan mengintip ke kamar, tampak Rea masih tertidur lelap. Robert keluar dari rumah untuk melihat siapa yang datang.
Langkahnya terhenti tepat di ambang pintu saat melihat Arya berdiri di luar pagar. Saat melihat Robert, Arya langsung mengenali pemuda itu. “Selamat siang, Rea ada?” tanya Arya ramah.
“Lagi tidur!” sahut Robert tanpa beranjak dari posisinya.
“Boleh saya masuk?”
“Masuk aja, pager nggak dikunci, bisa buka sendiri kan?!” sahut Robert ketus.
Arya sebenarnya sedikit bingung dengan sikap tidak bersahabat yang ditunjukkan Robert. Namun, dia tidak ingin menanggapi sikap kasar pemuda itu. Arya membuka pagar dan berjalan menuju teras. Tiba di hadapan Robert, Arya tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan.
Robert tidak mengacuhkan uluran tangan Arya. Dia membalikkan badan dan masuk ke dalam untuk membangunkan Rea dan memberitahu gadis itu jika ada orang yang mencarinya. Namun, dia terkejut saat Arya ikut masuk ke dalam. “Ngapain ikut masuk?! Tunggu aja di teras sampe Rea bangun!”
“Biar saya tunggu di dalam,” sahut Arya tenang. “Biasanya juga seperti itu.”
Robert langsung mengernyitkan kening saat mendengar jawaban Arya. Dia semakin tidak menyukai pemuda itu. Ingin rasanya Robert memberi pelajaran pada Arya, akan tetapi dia tidak ingin membangunkan Rea. Karena itu dia memilih masuk ke kamar Rea dengan langkah kasar.
Dipandanginya Rea yang tengah tertidur lelap. Tadi sehabis sarapan, tubuh Rea sedikit demam, mungkin akibat pergelangan kakinya yang semakin bengkak. Setelah dengan susah payah membujuk dan setengah memaksa, akhirnya gadis itu mau juga minum obat. Tengah memandangi Rea, tiba-tiba gadis itu membuka mata dan melihat Robert berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
“Ngapain berdiri di situ?” tanya Rea dengan suara serak.
“Di depan ada orang tuh.”
“Siapa?” Rea bangun dan duduk di tempat tidur. Kepalanya masih terasa sedikit pening karena pengaruh obat. “Perasaan nggak ada yang bilang mau dateng ke sini.”
“Nggak tau,” sahut Robert tak acuh. Dia sengaja tidak ingin memberitahu Rea siapa yang datang.
“Kok nggak tau? Kalo orang jahat gimana? Atau sales yang suka jualan barang gimana? Kenapa nggak tanya dulu dia siapa?”
“Yang pasti bukan salah satu dari mereka,” sahut Robert dengan yakin. Tentu saja dia tahu siapa yang datang. Bukan hanya tau, tapi mengenalnya, walau hanya sekilas. Hanya saja Robert malas menyebut nama pemuda itu yang sudah lancang dengan seenaknya datang ke sini.
“Aneh banget deh.” Rea menggerutu saat mendengar jawaban Robert. “Kamu kenal sama dia?”
Robert mengangkat bahu sebagai jawaban, kemudian membalikkan badan dan meninggalkan kamar. Untuk memuaskan rasa penasaran di hatinya, Rea membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Perlahan, Rea turun dari tempat tidur dan berjalan tertatih keluar untuk melihat siapa yang mencarinya.
Rea tersenyum saat melihat tamunya. “Eh kamu? Kenapa ke sini?” Rea berdiri di ambang pintu kamarnya sambil berpegangan. Pergelangan kakinya terasa nyeri saat dipakai berjalan.
“Gimana keadaan kamu Re?” Bukannya menjawab, Arya malah balik bertanya pada Rea.
“Aku baik.”
“Kaki kamu gimana?”
Rea tidak menjawab pertanyaan Arya. Dia berjalan menuju Arya dengan langkah tertatih. Melihat hal itu, Robert bergegas menghampiri dan membantu gadis itu hingga tiba sofa. Perlahan, Rea menjatuhkan diri di salah satu sofa, dan mendesah lega. “Masih bengkak, seperti yang kamu liat.” Rea memperlihatkan bengkak di pergelangan kakinya. “Kamu tau dari siapa kalo kaki aku lagi sakit?”
“Tadi Kak Isti yang ngasih tau makanya aku ke sini.” ujar Arya. “Emang gimana kejadiannya?”
Rea pun menceritakan kejadian yang menimpanya dua hari yang lalu secara detil pada Arya. “Tapi kamu beneran nggak tau siapa yang udah nabrak temen kamu?” tanya Arya setelah Rea selesai bercerita.
Rea menggelengkan kepala. “Tempatnya cukup gelap, jadi aku nggak bisa ngenalin dia. Cuma yang aku tau, dia tuh cowok dan mukanya ditutupin pake topi. Badannya juga tinggi, tapi nggak setinggi dia.” Rea menunjuk ke arah Robert yang berdiri di sampingnya.
“Itu kejadiannya sengaja atau nggak?” tanya Arya.
“Nggak tau juga sih, tapi jalan di sekitar sana rata ….” Rea menggantung ucapannya karena merasa tidak yakin dengan perkataannya. “Tapi seingat aku sih rata, cuma kan itu jalan setapak, jadi nggak terlalu lebar. Bisa jadi dia lagi buru-buru, jadi asal terabas aja.”
“Ya udah, yang lebih penting sekarang itu kaki kamu sembuh dulu,” ujar Arya. “Urusan yang nabrak kamu, bisa kita pikirin nanti. Sekarang mending kita obatin dulu pergelangan kaki kamu.”
“Emang kamu mau ngapain sama kaki aku?”
“Kemarin pas jatuh, kaki kamu dikompres nggak sama air dingin?”
“Nggak, kan udah malam.”
“Ya udah, kalo gitu aku boleh minta es batu terus dibungkus sama handuk kecil atau sejenisnya? Aku mau kompres kaki kamu, sekalian kamu punya perban elastis?”
“Semuanya ada. Tunggu bentar, aku ambilin dulu.” Rea baru saja hendak berdiri dari sofa ketika terdengar suara ketus Robert.
“Nggak usah! Biar aku aja yang ambil, kamu duduk aja di situ!” Robert yang sejak tadi hanya berdiri di samping Rea, menekan bahu gadis itu supaya duduk kembali.
“Emang bisa?”
“Cerewet!”
“Aku nanyanya serius,” sahut Rea. “Emang kamu tau di mana aku simpen perban elastis?”
“Emang di mana?”
“Di meja rias, di laci kedua sebelah kiri.”
Tanpa banyak bicara, Robert pergi ke dapur, mengambil es batu dan diletakkan dalam wadah kecil. Kemudian dia ke kamar untuk mengambil perban dan juga handuk kecil. “Nih,” ujar Robert sambil menyodorkan barang-barang di tangannya pada Arya. “Masih ada yang kurang nggak?!”
“Nggak ada, makasih ya.” Arya tetap menjawab dengan sopan, walaupun nada suara Robert terdengar sangat ketus.
Sejak pertama datang, Arya sudah bisa merasakan aura permusuhan dari Robert. Namun, dia mencoba untuk tidak menghiraukan sikap pemuda itu. Tujuan utamanya ke sini adalah untuk mengobati kaki Rea, sehingga gadis itu bisa secepatnya beraktifitas kembali seperti biasa. Lagipula, Arya tidak terlalu mengenal Robert, jadi dia tidak ingin mencari masalah hanya karena hal sepele seperti ini.
Arya beranjak dari tempatnya duduk dan mendekati Rea. Dia menggeser meja kaca dan duduk di lantai, tepat di depan kaki Rea.
“Kamu mau ngapain?” tanya Rea bingung.
“Aku mau periksa kaki kamu, terus kompres pake es batu.” Dengan hati-hati, Arya mulai memeriksa kaki Rea. Kemudian dia meletakkan handuk kecil berisi es batu di pergelangan kaki Rea yang bengkak.
Andai sejak kejadian Rea langsung mengompres pergelangan kakinya, tentu bengkaknya tidak akan seperti saat ini. Namun, tidak ada kata terlambat untuk Arya. Dengan telaten dia menempelkan handuk kecil di sekitar kaki Rea untuk beberapa waktu. Selesai mengompres, Arya mulai memasang perban elastis di sekitar pergelangan kaki. Dia membebatnya dengan hati-hati.
“Makasih banyak ya Ar,” ujar Rea sambil tersenyum manis saat pemuda itu sudah selesai memasang perban.
“Sama-sama,” sahut Arya. “Tapi nanti harus kamu kompres lagi pake es. Seharusnya sih sejak kemarin, tapi gapapa asal kamu rutin kompres, nanti bengkaknya juga bakal ilang.”
“Iya, siap.” Usai berkata, Rea perlahan bangkit berdiri dan mengambil wadah dari meja.
“Elo mau ngapain?!” sentak Robert dari belakang Rea.
“Mau bawa ini ke dapur, sekalian ambilin minum buat Arya,” sahut Rea tenang.
“Udah duduk diem-diem aja lo di sofa, biar gua yang ambilin!”
Robert mengambil baskom dan handuk kecil dari tangan Rea, dan membawa semuanya ke dapur. Arya menunggu sampai Robert tidak terlihat, barulah dia berani bertanya pada Rea.
“Dia itu siapa kamu Re?” tanya Arya sambil lalu setelah Robert ke dapur.
“Temen sekolah, tepatnya kakak kelas. Kenapa gitu?”
“Gapapa, cuma tanya aja.”
“Galak dan jutek ya?” tebak Rea sambil meringis geli.
Arya menanggapi komentar Rea dengan seringai lebar.
“Dia emang begitu, tapi sebenernya baik kok. Cuma ya gitu deh, selalu nutupin aslinya dengan gaya nyebelin dan kesannya ngajak ribut.”
Arya tidak jadi membalas perkataan Rea karena Robert sudah datang kembali sambil membawa segelas air dingin untuk Arya. Setelah itu, Robert memutuskan untuk ikut bergabung di sofa bersama Rea dan Arya.
Menjelang siang, Arya akhirnya pamit pulang karena dia harus berlatih sekaligus mengajar anak-anak kecil, menggantikan tugas Rea yang berhalangan datang. Robert mengikuti Arya sampai ke pagar dan memastikan pemuda itu benar-benar pergi, barulah dia kembali masuk ke dalam rumah.
“Elo udah laper belum?! Mau makan apa?!”
“Belum, kan tadi makan sushi bikinan kamunya banyak.”
“Gua nggak mau tau, pokoknya elo mesti makan! Sekarang bilang elo mau makan apa?!”
Rea yang sejak tadi sudah berusaha menahan sabar, akhirnya tidak tahan lagi. Dia menatap Robert yang sudah duduk di hadapannya. “Kamu tuh kenapa sih?! Dari tadi marah-marah nggak jelas, dan ngomongnya pake gua elo?!”
“Gua nggak kenapa-kenapa tuh. Elo aja kali yang ngerasa-ngerasa sendiri. Lagian gua kan emang selalu ngomongnya kayak gini, selalu pake gua elo ke semua orang.”
“Kamu bohong kan?” Rea menatap Robert lekat-lekat.
“Nggak tuh.” Robert memalingkan wajah supaya Amel tidak dapat melihat kebenaran di matanya.
“Tapi muka kamu jadi merah, berarti aku bener kan ….” Rea tersenyum geli saat melihat perubahan di wajah pemuda itu. “Kamu kenapa uring-uringan? Ada yang ngeganggu kamu?”
“Kenapa sih itu orang mesti dateng ke sini?! Pake acara bilang mau ngobatin kaki lo! Lo tau nggak sih kalo itu orang cuma mau modus doang?!” Robert mengeluarkan unek-unek yang sudah ditahannya sejak tadi.
“Maksud kamu Arya?” tanya Rea yang bingung dengan perkataan Robert yang menurutnya aneh.
“Emangnya ada orang lain lagi yang dateng selain dia?!”
“Ya nggak ada sih,” sahut Rea. “Cuma aku masih nggak ngerti maksud kamu. Modus apaan? Kan Arya itu dateng ke sini cuma mau obatin kaki aku, udah gitu kan dia pulang. Lagian, Arya itu udah beberapa kali dateng ke sini dan nggak pernah aneh-aneh.”
Robert mendelik mendengar perkataan Rea. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis itu yang terlihat sangat sederhana dan tidak menaruh curiga sedikitpun pada Arya. Bisa-bisanya tidak menyadari maksud terselubung dari Arya yang terlihat jelas menaruh hati pada Rea.
“Emang kamu nggak tau kalo dia itu suka sama kamu?!”
“Arya? Suka sama aku? Nggak mungkin banget.” Rea membantah ucapan Robert. “Aku tuh kenal sama dia udah lama banget. Dan selama ini memang cuma temenan, nggak ada yang aneh-aneh. Kamu aja yang curiga berlebihan.”
“Bohong banget kalo dia nggak punya rasa sama kamu!” Robert semakin kesal mendengar jawaban Rea. “Nggak ada juga tuh yang namanya cowok sama cewek cuma temenan! Pasti lama-lama bakal ada yang berubah perasaannya jadi suka!”
“Nggak mungkin ih!” Rea tidak mempercayai sedikitpun ucapan Robert.
“Kalo iya gimana?!”
Rea yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Robert, merasa aneh dengan sikap pemuda itu. Baru kali ini dia melihat pemuda itu emosi sampai bertindak seperti orang yang tengah cemburu pada kekasihnya. Tiba-tiba sebuah pemahaman melintas di kepala Rea. Dengan tatapan tidak percaya, dia bertanya pada Robert.
“Jangan-jangan, kamu cemburu ya sama Arya?”