Dokter Pribadi

2024 Kata
“Re, kita turunnya gimana nih?” bisik Sisca saat bis berhenti di halaman sekolah. “Ya tinggal turun Sis. Emang mau gimana lagi?” balas Rea yang duduk si samping Sisca dengan tenang. “Tadi pas naik juga bisa kan, berarti kita juga bisa turun sendiri.” “Tapi kan tadi pas naik juga dibantuin sama guru.” “Ya berarti kita coba aja, pasti bisa. Kita jalannya pelan-pelan aja.” “Tapi kan-” Sisca tidak melanjutkan ucapannya karena melihat dari pintu depan, Robert naik ke dalam bis dan berjalan mendekati kursi yang dia dan Rea duduki. “Kamu mau turun sekarang Re?” tanya Robert. Rea mendongak dan menatap Robert. “Aku bisa turun sendiri kok.” “Ck, ini anak!” Robert berdecak gusar mendengr jawaban Rea. “Kamu nggak kasian sama kaki kamu?!” Tanpa menunggu jawaban Rea, Robert mengangkat tubuh gadis itu dan membawa gadis itu ke arah pintu, dan tidak mempedulikan protes Rea. “Terus gue gimana?” tanya Sisca dengan nada memelas. Robert berhenti berjalan dan membalikkan badan, menghadap ke arah Sisca. “Ntaran lagi Gerry ke sini.” Baru selesai bicara, tampak Gerry naik ke dalam bis dengan wajah sumringah. Senyum lebar menghiasi wajah blasterannya. “Elo itu urusan gua Sis,” ujar Gerry sambil menepuk dadanya. Robert membawa Rea turun dari bis, dan berjalan ke tempat dia memarkir mobil. “Kamu tunggu di sini sebentar.” Robert mendudukkan Rea di kap mobil bagian depan dengan hati-hati. “Aku mau ambil barang-barang dulu.” Robert meninggalkan Rea dan kembali ke bis untuk mengambil ransel milik Rea dan dirinya yang tadi sengaja belum dibawa supaya lebih mudah saat menggendong Rea. Tidak lama kemudian, Robert kembali ke mobil dengan ransel di tangannya. Dia membuka bagasi, dan meletakkan barang-barang. Setelah itu membuka pintu depan sebelah kanan lebar-lebar. Terakhir, dia menggendong Rea dan meletakkan gadis itu di jok mobil. Robert juga memasangkan sabuk pengaman untuk Rea. Barulah dia berjalan memutari mobil bagian depan dan duduk di samping Rea. Robert baru saja akan menjalankan mobil saat melihat Gerry berlari ke arahnya. Robert membuka kaca jendela mobil. “Kenapa?” “Sisca ikut mobil lo ya. Gua kan ke sini pake motor. Mana tau mau ada kejadian kayak gini.” Robert menoleh ke samping dan menatap Rea. “Kamu gapapa kalo ikut anterin Sisca dulu?” “Iya gapapa. Tapi emang dia belum dijemput?” Gerry menundukkan kepala hingga dapat melihat pada Rea. “Belum. Sisca ngomong ke supirnya sore baru sampe sekolah. Kasian kalo dia nunggu kelamaan.” “Ya udah bawa itu anak ke sini,” ujar Robert. “Oke.” Gerry berlari untuk menjemput Sisca. Tidak lama kemudian, Gerry kembali sambil membopong Sisca. Robert menjalankan mobil setelah Sisca dan Gerry duduk di belakang. Setelah mengantarkan Sisca, Robert mengendarai mobil ke rumah Rea. “Kamu ngantuk? Kalo ngantuk, tidur aja dulu. Nanti kalo udah sampe rumah, aku bangunin.” Rea yang memang sedikit mengantuk merasa malu karena Robert mengetahui hal itu. “Nggak kok,” kilah Rea sambil memalingkan wajah ke arah jendela. Robert tersenyum sendiri mendengar jawaban gadis itu. Sejak mobil keluar dari sekolah dan menuju rumah Sisca, beberapa kali dia melihat Rea menahan kuap. Mata gadis itu juga terlihat sedikit merah karena menahan kantuk. “Ya udah, terserah kamu aja,” sahut Robert. “Paling nggak lama lagi kamu juga tidur,” imbuhnya dalam hati. Benar saja dugaan Robert, tidak sampai sepuluh menit kemudian, kepala Rea terkulai ke arah kanan. Robert terkekeh geli saat melihat Rea benar-benar tertidur. Perlahan, dengan tangan kiri, dia mencoba menggeser kepala Rea ke arah kiri, akan tetapi tidak lama kemudian kembali ke posisi awal. Di lampu merah, Robert bergerak ke arah Rea dan menurunkan posisi jok mobil, sehingga posisi tidur gadis itu menjadi nyaman. Kemudian dia kembali mengemudikan mobil hingga tiba di dekat g**g rumah Rea. Robert memarkir mobil, dan membiarkan mesin tetap menyala dan tidak membangunkan Rea. Dia sengaja ingin memberikan waktu untuk Rea beristirahat sebentar. Melihat keadaan pergelangan kaki gadis itu yang bengkak, kemungkinan besar gadi itu tidak dapat tidur nyenyak semalam, karena rasa nyeri dari pergelangan kakinya. Setengah jam kemudian, Rea terbangun dan membuka mata. Dia memandang keluar jendela dan terlonjak karena menyadari jika mobil sudah berhenti di dekat g**g rumahnya. Rea menoleh ke samping. “Kenapa nggak bangunin aku?!” “Sengaja.” “Kenapa?” “Tidur kamu pules banget, aku nggak tega ngebangunin.” Mendengar jawaban Robert, Rea langsung mendelik tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan pemuda itu. “Berarti dari tadi kamu ngeliatin aku tidur?!” “Begitulah,” sahut Robert. “Tapi tenang aja, walaupun ngiler dan ngorok, kamu tetep cantik kok.” Robert sengaja mengatakan hal itu untuk menggoda Rea. “Bohong!” seru Rea gusar. “Aku nggak ngorok dan ileran tau!” Tangannya mengusap sudut bibir untuk memastikan jika tidak ada apapun di sana. Robert tergelak melihat tingkah Rea yang mengusap sudut bibirnya. “Kalo yakin nggak ngiler, kenapa juga mesti diperiksa? Tandanya kan nggak yakin.” “Aku mau turun aja.” Merasa malu dengan ledekan Robert, Rea bergerak untuk membuka pintu. Namun, Robert menahan tangan Rea dan mencegah gadis itu turun. “Kamu mau ngapain?!” “Ya mau turun dan masuk ke rumah lah. Masa mau diem di sini terus?! Nanti bensin kamu habis, terus mobil nggak mau jalan, dan nanti bikin alesan biar bisa diem di rumah.” Robert kembali tergelak mendengar perkataan yang terlontar dari bibir Rea, begitu lucu dan menggemaskan di telinganya. Dia mengulurkan tangan dan mencubit pelan pipi Rea. “Kamu tuh mikirnya kejauhan banget. Mobil mogok tinggal telepon bengkel dan suruh mereka bawa mobil aku ke sana,” ujar Robert. “Tapi ide kamu boleh juga Re.” “Ide? Yang mana?” Rea mengernyitkan kening, mencoba memikirkan apa yang baru saja dikatakan. “Tentang nginep di rumah kamu. Kayaknya boleh juga tuh, biar aku lebih gampang ngurus kamu.” Robert mengatakan dengan gaya santai yang membuat Rea semakin kesal. “Sembarangan aja kalo ngomong!” sentak Rea cukup keras. “Terus kalo orang tau, gimana?! Aku kan yang bakal kena diomongin yang jelek! Terus mama aku mau dikemanain?!” Kali ini Robert terbahak dengan suara keras. “Ternyata kamu kalo lagi marah, galak juga ya. Dan suara kamu ternyata bisa kenceng juga.” Robert mendekatkan wajahnya ke Rea. “Dan aku makin suka sama kamu.” Secepat kilat, Robert mengecup kening Rea. “Robert!” seru Rea antara terkejut dan juga malu. Rona merah menyemburat di kedua pipi gadis itu. Robert diam dan menatap lekat-lekat kedua bola mata Rea. “Baru kali ini aku denger kamu nyebut nama aku. Ternyata kalo kamu yang panggil, kedengeran beda di kuping. Aku suka.” Rea memalingkan wajah, tidak mampu menentang mata Robert yang terus menatapnya tanpa sedikitpun berkedip. *** Keesokan hari, pagi-pagi Robert sudah tiba di depan rumah Rea. Karena pagar tidak digembok, Robert membuka gerbang dengan hati-hati supaya tidak menimbulkan suara. Dia berdiri di depan pintu rumah, mencoba mendengar suara dari dalam. Perlahan, dia menekan daun pintu dan yang ternyata tidak terkunci. Robert masuk ke dalam rumah dengan langkah perlahan. Pertama dia berjalan ke dapur, akan tetapi tidak ada orang di sana. Kemudian, Robert memeriksa kamar mandi yang ternyata juga kosong. Terakhir dia berdiri di depan kamar Rea, menempelkan telinga untuk mendengarkan suara dari dalam. Karena tidak terdengar apapun, Robert mengetuk pintu kamar dengan hati-hati. “Siapa?!” seru Rea saat medengar pintu kamarnya diketuk. Dia yakin itu bukan Elly, karena mamanya sudah berangkat ke toko. “Aku.” Rea terdiam saat mendengar suara Robert dari luar kamar. “Gimana caranya dia masuk? Emang mama nggak kunci pintu pas pergi?” gumam Rea bingung. Robert kembali mengetuk pintu, kali ini sambil memanggil gadis itu. “Re?” “Iya, tunggu bentar!” Rea menapakkan kaki di lantai dengan hati-hati, kemudian berdiri sambil menahan kedua tangannya di tempat tidur. Perlahan berjalan menghampiri pintu dengan langkah tertatih. “Kenapa ke sini?!” tanya Rea tepat setelah membuka pintu. Robert tersenyum lebar saat melihat wajah gusar Rea. “Hari ini aku mau jadi dokter pribadi kamu,” sahut Robert enteng. “Aku juga bawain kamu sarapan buatan aku.” Robert menunjukkan paper bag di tangan kirinya. “Aku bisa sendiri kok,” sahut Rea pelan. “Lagian kan aku nggak sakit, ngapain juga mesti diurusin.” “Kata siapa?!” bantah Robert cepat. “Emang itu bukan sakit ya?” Robert menunjuk pergelangan kaki dan beberapa luka gores di tangan dan lutut Rea. “Bukan.” “Terus?!” tantang Robert. “Terkilir,” sahut Rea tidak mau kalah.. “Rasanya apa?” Rea mengatupkan bibir rapat-rapat. Dia tahu kali ini dirinya kalah debat dengan Robert. Namun, dirinya enggan mengakui hal itu. Karena itu, Rea memilih untuk diam. Tidak ingin memperpanjang perdebatan, Robert memegang kedua bahu Rea, dan membalikkan gadis itu dengan hati-hati. “Sekarang kamu balik ke tempat tidur,” ujar Robert lembut. “Aku mau nyiapin sarapan dulu buat kamu.” Robert meninggalkan Rea yang masih berdiri membelakangi dirinya. Dia masuk ke dapur dan mengeluarkan tempat makan dari dalam paper bag, dan s**u cair kemasan. Tidak lama kemudian, Robert kembali dengan kedua tangan memegang kotak makan dan s**u. Robert meletakkan s**u di meja nakas, kemudian duduk di samping Rea di tepi tempat tidur. Setelah membuka kotak makan, dia menyerahkannya pada Rea. “Sekarang kamu makan, dan harus dihabisin. Nggak boleh bantah!” ujar Robert tegas saat melihat Rea mengernyitkan kening melihat isi kotak bekal. “Ini apaan?” tanya Rea. “Sushi, masa nggak tau sih?!” “Tau, cuma ini yakin kamu yang bikin sendiri?” “Iyalah, emang masih belum mau percaya?!” “Percaya kok.” Rea mengambil sumpit yang sudah disediakan Robert dan mengambil sepotong sushi. “Gimana? Kamu suka?” “Enak,” sahut Rea sambil tersenyum manis. “Untung nggak ada ikan mentahnya.” “Kamu nggak suka?” “Kalo ikan yang udah dimasak, aku suka. Cuma kalo ikan mentah, nggak mau ketelen di leher.” “Oke, nggak masalah.” Sebenarnya Rea sedikit bingung mendengar jawaban Robert yang terdengar asal, akan tetapi dia tidak mau ambil pusing dengan hal itu. Rea memakan tiap potongan sushi yang ada. Citarasa yang pas, membuat dia ketagihan dan tidak mau berhenti makan. “Kenapa nggak dihabisin?” tanya Robert saat melihat Rea menutup kembali tempat makan dan menyisakan tiga potong sushi. “Kenyang. Perut aku udah nggak bisa terima lagi.” “Pantes badan kecil begitu.” Robert menggerutu dengan suara. “Makannya aja cuma sedikit. Anak TK aja makannya masih lebih banyak dari kamu.” Rea tidak menanggapi gerutuan Robert, malah mengajukan pertanyaan pada pemuda itu. “Kamu udah mau pulang kan?” “Kata siapa?!” “Aku,” sahut Rea. Kan aku udah selesai makan. Emang mau ngapain lagi?” “Kamu lupa ya? Kemarin kan aku bilang kalo hari ini mau jadi dokter pribadi kamu. Dan akan seperti ini terus sampe kaki kamu sembuh!” “Mana bisa gitu?!” Rea langsung memprotes perkataan Robert. “Bisa aja,” sahut Robert tenang. “Dalam keadaan kayak gini kan kamu nggak akan bisa pake jurus taekwondo, dan kalo nekat yang ada pasti kaki kamu makin sakit.” “Tapi kan nggak enak kalo tetangga tau.” Rea mencoba untuk tetap membuat Robert pulang dari rumahnya. “Nanti kalo mereka tau dan ngomong yang nggak-nggak gimana?” “Biarin aja, toh kamu nggak minta makan sama mereka.” Robert tetap teguh pada keinginannya menemani Rea sepanjang hari. “Kalo mama aku tau gimana?” Rea mencoba usaha terakhir untuk mengusir pemuda itu dari rumah. “Malah lebih bagus,” sahut Robert tenang. “Kalo mama kamu tau, tinggal bilang aja kalo aku itu pacar kamu, dan calon suami kamu. Beres kan.” Rea menutupi wajah dengan kedua tangan. Dia benar-benar malu mendengar perkataan ngawur Robert. Setelah beberapa saat, Rea menurunkan tangan dan memandang Robert. “Kamu tuh kalo ngomong bisa nggak dipikirin dulu? Sembarangan aja bilang pacar dan calon suami aku. Kita tuh masih kecil, masih SMA, masa iya udah mikirin nikah? Belum waktunya kali.” “Berarti kalo udah kerja, kamu mau nikah sama aku?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN