“Bet, ngapain diem di sini? Kenapa nggak gabung sama yang lain?” tanya Aaron saat melihat sepupunya sedang duduk sendirian di bawah pohon.
Robert menoleh dan melihat Aaron yang sudah duduk di sampingnya. “Dari sini, gua bisa ngeliatin semua orang dengan bebas dan tenang.”
Aaron yang penasaran, mengikuti Robert arah pandang sepupunya. Memang benar, dari tempatnya yang sedikit lebih tinggi, dia dapat memandang ke bawah, di mana anak-anak ada yang sedang bermain, atau hanya sekedar duduk bergerombol. Namun, dari sini, Aaron pun dapat melihat dengan jelas kumpulan anak perempuan yang sedang tertawa, dan salah satu dari mereka adalah Rea.
“Ah …, gua yakin bukan ngeliatin semua orang, tapi ke dia kan.” Aaron menunjuk ke arah Rea yang sedang tertawa lepas.
Robert memilih diam dan tidak menanggapi ucapan Aaron. Apa yang dikatakan sepupunya memang benar, dia sedang memperhatikan Rea. Jika bukan karena gadis itu, belum tentu Robert akan ikut dalam retreat kali ini. Selain itu, dia memiliki alasan tersendiri melakukan hal ini. Secara tidak sengaja, Robert sempat melihat saat Lydia dan Fanny saat mengobrol kemarin. Tatapan mata Lydia membuat hatinya tidak tenang. Karena itulah, Robert berusaha untuk selalu menjaga Rea dan tidak sedikitpun lengah.
“Kalo iya emangnya kenapa?” tanya Robert sambil melirik pada Aaron.
“Gapapa sih, cuma gua beneran bingung aja sama elo Bet.” Aaron menatap Robert yang sekarang tampak berbeda. Sorot dingin yang terpancar dari kedua bola mata Robert sudah mulai menghilang. “Kenapa sih elo segitunya banget ke Rea? Gua jadi ngerasa aneh ngeliat tingkah lo. Obet yang gua kenal selama ini tuh kayak alergi banget sama cewek, tapi setelah ketemu sama Rea, sikap lo berubah drastis.”
Robert tersenyum simpul mendengar perkataan Aaron. Jangankan Aaron, dia sendiri juga tidak tahu mengapa. “Gua sendiri juga nggak tau. Otak gua nggak pernah bisa berhenti mikirin itu cewek, selalu pengen tau keadaan dia, deket sama dia, denger suara dia. Dan kalo nggak ngeliat itu anak, gua ngerasa ada yang kurang. Intinya, Rea tuh kayak candu buat gua.” Robert mengalihkan pandangan ke arah Rea dan ikut tersenyum saat melihat gadis itu tersenyum. “Kata Gerry gua ini lagi kasmaran, dan udah jatuh ke dalam pesona Rea. Mungkin emang bener, dan anehnya gua suka dengan sensasi yang dirasa tiap deket sama dia.”
Aaron tergelak mendengar penuturan sepupunya. “Asli, elo emang beneran berubah Bet. Gua beneran nggak nyangka bakal ngeliat sisi elo yang kayak gini. Tapi gua suka Bet dengan elo yang sekarang. Aaron menatap Robert sambil tersenyum lebar. “Elo yang sekarang tuh keliatan kayak manusia normal lainnya, punya perasaan, bisa senyum, dan jauh lebih manusiawi dibanding dulu.”
“Seriusan lo?”
“Iya,” sahut Aaron. “Dan gua harap, hubungan lo sama Rea bisa berjalan lancar, nggak ada gangguan lagi dari orang-orang sirik kayak Lydia.”
“Mending gua pergi.” Robert bergegas berdiri dan berjalan meninggalkan Aaron.
“Kenapa emangnya?” tanya Aaron yang bingung.
“Kalo di sini terus bareng sama elo, gua bisa ketularan melow nya elo.”
Aaron tergelak mendengar perkataan Robert. Dia sangat yakin bukan itu alasan Robert pergi, pasti ada sesuatu yang coba ditutupi sepupunya. Dari tempatnya duduk, Aaron mengamati sepupunya yang mendatangi tempat Rea hanya untuk memakaikan jaket pada gadis itu. Dia menggeleng takjub melihat kelakuan sepupunya yang luar biasa aneh.
Selesai makan malam, Robert memilih duduk di depan aula ruang makan, menikmati segelas teh hangat bersama Gerry.
“Taruhan sama gua, itu bocah pasti mau gangguin kita.” Gerry menunjuk ke arah Aaron yang sedang berjalan ke arah mereka.
“Belum tentu,” sahut Robert. “Tadi dia bilang mau nyiapin api unggun bareng anak OSIS yang lain.”
“Emang elo yakin dia dan yang lain bisa?” tanya Gerry yang meragukan kemampuan Aaron.
“Aaron mungkin nggak bisa, tapi kan masih ada anak yang lain.”
“Mau taruhan nggak? Gua yakin kali ini gua yang bakal menang,” sought Gerry angkuh.
“Terserah elo aja deh.”
Aaron tiba di hadapan Robert dan Gerry sambil memamerkan senyum lebar pada kedua kayak kelasnya.
“Mau ngapain?” tanya Robert santai.
Aaron duduk di sisi lain Robert dan merangkul bahu sepupunya. “Bantuin kita-kita susun kayu buat api unggun, bisa kan?”
“Kan udah ada anak OSIS. Biarin aja mereka yang ngerjain.” Robert masih berusaha melepaskan diri dan menolak permintaan Aaron.
“Kalo mereka bisa juga gua nggak bakal gangguin elo kali!”
“Mereka tuh bisanya ngapain sih?! Dari tadi pagi gua liatin kerjaan nggak ada yang beres di tangan mereka!”
Dongkol mendengar perkataan Robert, Aaron melepaskan rangkulannya dan menonjok pelan bahu sepupunya dengan gemas. “Kenapa nggak elo aja coba yang jadi ketua OSIS?!”
“Gue?! Males banget, enakan juga begini,” sahut Robert seenaknya.
Ingin rasanya Aaron menepuk bibir Robert hingga sepupunya bisa berhenti berkata menyebalkan. Namun, berhubung dia sedang membutuhkan bantuan pemuda itu, mau tidak mau, Aaron berusaha sabar, dan kembali membujuk Robert. Akhirnya, setelah susah payah membujuk dan setengah mengancam, Aaron dapat membawa Robert ke lapangan yang memang khusus disediakan untuk acara api unggun.
“Nih gua bawa anaknya!” seru Aaron sambil mendorong Robert ke tengah, tempat teman-temannya sedang kebingungan menyusun kayu.
“Akhirnya!” seru beberapa siswa laki-laki saat melihat Robert datang.
“Bet, tolong bantuin kita ya,” ujar salah seorang siswa kelas 11-4.
Tanpa mengatakan sepatah katapun, Robert berjalan mendekati mereka dan mengambil alih pekerjaan. Setelah memberikan instruksi, dibantu Aaron dan yang lain, Robert menyusun tumpukan kayu untuk digunakan sebagai api unggun.
“Jam berapa acara api unggunnya?” tanya Robert entah pada siapa.
“Segera setelah beres,” sahut Aaron mewakili teman-temannya.
Robert membereskan pekerjaan menyusun kayu. Setelah itu dia berdiri dan mengambil jerigen berisi minyak tanah dan menyiramkan ke tumpukan kayu di beberapa bagian.
“Ini mau gua nyalain sekarang, apa gimana?” tanya Robert setelah meletakkan jerigen di tempat yang cukup jauh dari kayu.
“Sekarang juga gapapa, sementara yang lain panggil anak-anak buat ngumpul di sini,” ujar Niko, ketua OSIS.
Robert mengambil korek dan menyulut ke selembar koran yang sudah dipilin. Dengan hati-hati, Robert mengarahkan koran ke tumpukan kayu. Begitu api mulai menyala, Robert membalikkan badan dan meninggalkan tempat itu.
Baru saja berjalan, dia melihat Rea tengah menuju ke arahnya. Tampak Sisca dan beberapa anak perempuan di sekita gadis itu. Tanpa permisi, Robert mengambil tangan Rea dan membawa gadis itu menjauh. Dia ingin duduk berdampingan dengan Rea dan menikmati api unggun bersama, seperti waktu acara malam tahun baru kemarin.
“Mau apa?” protes Rea sambil berusaha melepaskan cekalan tangan Robert.
“Cari tempat duduk yang enak,” sahut Robert sambil terus menggandeng tangan Rea.
“Tapi aku mau duduk bareng Sisca dan yang lain.” Rea mencoba protes sambil terus berusaha melepaskan tangannya.
Robert berdecak gusar mendengar perkataan Rea. Namun, dia mencoba mengalah dan menuruti keinginan gadis itu. Robert berjalan ke tempat Sisca yang duduk berdampingan dengan Anton di satu sisi, sementara di sisi lainnya adalah anak-anak perempuan.
Robert menghampiri Sisca dan menatap Anton yang duduk di samping kanan gadis itu. “Geser dikit, gua sama Rea mau duduk di sini.”
Anton menatap gusar pada Robert yang seenaknya saja memberi perintah. Sejak mendengar Robert dan Rea berpacaran, dia menjadi tidak suka dengan Robert yang dianggapnya sudah menutup jalan dirinya untuk mendapatkan Rea.
Anton sengaja duduk di samping Sisca dengan harapan Rea akan duduk di dekatnya. Namun, impiannya menjadi buyar karena ternyata ada Robert. Akhirnya dengan terpaksa, Anton bergeser dan memberikan tempat untuk Rea dan Robert.
Setelah semua siswa berkumpul, acara api unggun pun dimulai. Setiap kelas mempersembahkan sebuah pertunjukan, disusul dengan kuis, dan permainan lainnya. Sepanjang acara, berkali-kali Rea tertawa lepas. Robert yang duduk di sampingnya begitu menikmati suara tawa Rea yang begitu lepas.
Setelah semua acara selesai, tiba saatnya untuk acara bebas sebelum semua siswa beristirahat. Robert berdiri dan berjalan ke arah Gerry yang sedang memeluk gitar sambil mengobrol dengan Donny dan Martin.
“Ger, pinjem gitarnya bentar.”
Gerry mendongak dan menatap heran temannya itu. “Tumben amat lo mau main gitar? Biasanya kalo disuruh nggak pernah mau.”
“Bawel banget dah! Buruan siniin!” Robert mengulurkan tangannya pada Gerry.
Sambil tergelak, Gerry menyerahkan gitar di tangannya pada Robert. Setelah mendapat apa yang diinginkan, Robert kembali ke tempat Rea, dan duduk di samping gadis itu.
“Emang kamu bisa main gitar?” tanya Rea penuh minat setelah Robert duduk.
“Apa sih yang Obet nggak bisa?” celetuk Gerry yang ternyata mengikuti Robert. “Dia tuh segala bisa Re, cuma satu yang dia nggak bisa.”
“Apaan?” tanya Sisca penasaran.
“Bersikap manis sama orang lain.”
Sisca kontan tergelak mendengar jawaban Gerry. “Iya sih, betul juga omongan elo.” Sisca sangat setuju dengan pendapat pemuda itu. “Ke Rea aja biar kata dia bisa baik, cuma ngomongnya masih suka jutek, iya kan Re?”
Rea hanya mengangkat bahu sebagai jawaban. Dia tidak ingin mengomentari pendapat temannya, karena itu mungkin akan membuat Robert menjadi kesal. Robert yang malas menanggapi, mulai memetik senar gitar, menyelaraskan nada hingga pas. Tidak lama kemudian, dia mulai melantunkan sebuah lagu lawas yang menceritakan kerinduan seorang anak pada ayahnya.
Rea dan Sisca langsung terdiam saat mendengar Robert bernyanyi. Tidak mereka sangka jika ternyata pemuda itu memiliki suara yang merdu. Tanpa disadari, Rea mengubah posisi duduk menjadi menghadap pemuda itu dan meresapi setiap lirik yang keluar dari bibir Robert.. Saat Robert mengangkat wajah, dia tersenyum sambil menatap Rea yang menatap lurus ke arahnya.
“Kamu suka?” tanya Robert pelan.
Rea menganggukkan kepala. “Iya, suka banget.”
Merasa senang dengan pujian Rea, Robert kembali memetik gitar dan menyanyikan lagu cinta milik sebuah grup band yang sedang naik daun. Rea menekuk lutut dan meletakkan dagunya di sana. Dia menikmati alunan lagu yang dinyanyikan oleh Robert.
Setelah Robert selesai bernyanyi, dengan sengaja Sisca menarik Rea dan membawa temannya menjauhi area api unggun.
“Kalian mau ke mana?!” tanya Robert yang merasa terganggu dengan ulah Sisca.
“Ada deh,” sahut Sisca sekenanya.
Sisca membawa Rea menjauhi api unggun dan berjalan cepat ke arah toilet umum yang letaknya tidak terlalu jauh dan sedikit gelap karena hanya sedikit lampu yang menyala.
“Kamu mau ngapain?” tanya Rea saat Sisca membawa dirinya ke jalan setapak
“Nggak ngapa-ngapain. Gua cuma mau ngerjain Robert aja. Kira-kira dia bakal ngejar dan nyari elo nggak.”
“Kamu tuh Sis, hobinya gangguin dia terus. Giliran dibales sama Robert langsung marah.”
“Ya habis dia tuh kalo ngomong ketus banget, kan jadi suka sakit hati.”
“Ya resiko dong,” sahut Rea.”Kalo mau ngeganggu, harus terima juga pas dibales. Jangan mau enaknya aja.”
“Cie …, cie …, cie, yang ngebelain pacar,” ledek Sisca sambil terkekeh.
“Bukan mau belain, tapi aku kan ngomong sesuai kenyataan. Kita itu-”
Belum sempat Rea melanjutkan ucapannya, tiba-tiba dari arah belakang, ada seseorang yang menabrak Sisca, sehingga temannya terhuyung dan hilang keseimbangan. Saat akan terjatuh, tanpa sadar dia menarik tangan Rea sehingga gadis itupun ikut terjatuh ke samping kiri dan terguling ke bawah.
“KYAA!” jerit Sisca dengan suara keras.
Teriakan Sisca terdengar oleh anak-anak yang masih berada di sekitar api unggun. Robert yang pertama kali menyadari. Dia meletakkan gitar dan berlari ke arah teriakan.
Robert terpaku saat melihat Rea dan Sisca tergeletak di rerumputan. Tanpa pikir panjang, dia berlari menuruni bukit kecil dan menghampiri Rea yang sedang berusaha duduk.
“Kalian gapapa?” tanya Robert.
“Gapapa,” sahut Rea sambil mengernyit menahan sakit di pergelangan kaki kirinya.
“Sis, elo gapapa?” tanya Aaron dan Gerry bersamaan.
“Badan gua sakit semua,” ujar Sisca sambil terisak pelan.
“Kenapa kalian berdua bisa jatuh?”
“Tadi ada yang nabrak gua dari belakang,” sahut Sisca. “Tapi karena gelap, gua nggak bisa ngenalin siapanya.”
“Ger, mending elo gendong Sisca dan bawa dia ke atas.”
Usai berkata, Robert meletakkan tangan kanan di bawah lutut Rea, sementara tangan kiri di punggung gadis itu. Dengan hati-hati, dia menggendong Rea dan membawa gadis itu naik. Robert meletakkan Rea di rumput dan membiarkan guru memeriksa keadaan gadis itu.
“Kamu gapapa Re?” tanya salah seorang guru sambil memeriksa keadaan Rea.
“Gapapa Bu,” sahut Rea pelan.
“Kamu liat siapa yang ngelakuin ini?”
Rea menggelengkan kepala “Nggak keliatan Bu.”
Robert mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah yang mulai memenuhi hati. Diam-diam, dia meninggalkan kerumunan dan bermaksud untuk mencaritahu siap orang yang sudah berusaha mencelakakan Rea dan Sisca.
“Elo mau ke mana?” tanya Gerry sambil memegang bahu Robert.
“Gua mau nyari biang kerok yang udah bikin Rea dan Sisca luka!”
“Elo yakin Bet?” tanya Aaron yang juga berada bersama Robert dan Gerry.
“Yakin! Gua bakal bikin perhitungan sama orang yang udah sengaja nyakitin dan ngelukain orang yang gua sayang!”