Terakhir Kali

1958 Kata
“Sis, ke warung belakang yuk?” Gerry menghadang langkah Sisca saat gadis itu baru saja keluar dari kelas. “Nggak ah,” tolak Sisca. “Gua mau jalan sama Rea, mau beli cemilan buat retreat.” “Yaelah …, bentar doang,” sahut Gerry sedikit merajuk. “Dari warung kan masih bisa pergi, mau ya?” Gerry menatap Sisca sambil menyatukan kedua tangan di depan d**a. “Nggak ya nggak,” ujar Sisca keras kepala. “Yah …, elo kok gitu si-” “Jalan sekarang?” tanya Rea yang baru keluar dari kelas. Dia baru saja membereskan kelas bersama Anton, dan salah seorang teman lainnya karena hari ini adalah jadwal piketnya. Sisca menoleh saat mendengar suara Rea. “Iya, yuk cabut.” Sisca menarik tangan Rea dan berlalu meninggalkan kelas dan juga Gerry yang masih berdiri di sampingnya. Melihat Sisca pergi, Gerry langsung bergegas dan kembali menghadang langkah kedua gadis itu. Namun, dengan cepat Sisca menerobos dan tidak membiarkan pemuda itu menghalangi dirinya dan Rea. Gerry tidak menyerah dan terus mengikuti kedua gadis itu sampai di depan lobi sekolah. Dengan usaha terakhir, Gerry menahan tangan Rea. “Elo nggak pulang sama Robert?” “Nggak, kan aku mau pergi sama Sisca,” “Emang Obet udah tau kalo elo mau pergi sama dia?” sela Gerry sambil menunjuk ke arah Sisca yang cemberut karena langkahnya tertahan. “Emang aku harus ijin kalo mau pergi?! Bukannya hak aku ya mau pergi sama siapa?!” Rea balik bertanya sambil memandang tenang pada Gerry. “Buset dah ini anak?! Omongan lo pedes banget dah. Heran gua sama Obet, kok tahan banget ngadepin cewek model beginian!” Sisca yang sejak tadi hanya diam, menjadi gusar mendengar perkataan Gerry. “Ye …, sirik aja sih!” Sisca berkacak pinggang dan melotot pada Gerry yang menyeringai lebar. “Ngapain pada ribut di sini?” tanya Robert. Melihat penyelamat datang, Gerry langsung berdiri di belakang Robert dan mengadukan tentang rencana Sisca. “Ini nih, Rea mau pergi sama Sisca, dan nggak bilang dulu ke elo.” Gerry menatap kedua gadis sambil meleletkan lidah ke arah Sisca. “Dasar tukang ngadu!” gerutu Sisca sambil melotot pada Gerry. “Biarin,” sahut Gerry sekenanya. “Siapa suruh gua ajakin ke warung nggak mau.” “Dasar bocah nyebelin!” rutuk Sisca benar-benar gusar dengan kelakuan Gerry. Robert tidak mengacuhkan perkataan sahabatnya dan malah menatap Rea. “Kamu mau pergi ke mana?” “Mau temenin Sisca beli jajanan, dan nggak tau apa lagi. Katanya mau dibawa buat besok.” “Ke?” “Nggak tau,” sahut Rea apa adanya. “Aku cuma nemenin doang.” Robert mengalihkan pandangan ke arah Sisca yang masih terus memelototi Gerry seakan ingin memakan pemuda itu. “Sis, ntar elo anterin Rea sampe rumah kan?” Sisca mengalihkan tatapannya ke arah Robert. “Iyalah, masa gue tinggal di pinggir jalan?! Ntar yang ada kena semprot sama elo, ogah banget deh.” Robert tidak menggubris sindiran Sisca. Dia kembali menatap Rea sambil menyentuh hidung gadis itu. “Kalo udah sampe rumah, kabarin aku ya.” “Iya. Aku pergi dulu.” Sisca menggandeng lengan Rea dan berjalan meninggalkan lorong kelas menuju keluar. Setelah tiba di lobi, Sisca terus membawa gadis itu meninggalkan gedung sekolah hingga tiba di mobil. Sisca membuka pintu bagian belakang sebelah kiri. “Ayo naik.” Sisca mendorong pelan bahu Rea. Rea naik ke mobil, diikuti Sisca yang langsung menutup pintu. “Pak, kita jalan sekarang.” “Iya Non.” Joko mengendarai mobil meninggalkan area sekolah dalam diam hingga tiba di jalan raya. “Kita mau ke mana Non?” Joko melihat ke arah Sisca melalui kaca spion tengah. “Ke Square aja Pak. Saya mau sekalian jalan-jalan.” “Oke, siap.” Joko mengarahkan mobil menuju tempat yang diinginkan Sisca. Joko menghentikan mobil di depan lobi masuk dan menunggu hingga Rea dan Sisca turun dari mobil. Kemudian dia mencari tempat parkir, dan bergegas mencari majikannya untuk menemani kedua gadis itu belanja. Begitu memasuki pintu utama, Sisca langsung menarik tangan Rea dan mengajak temannya untuk melihat-lihat. Sisca begitu bersemangat dan berniat membeli beberapa barang untuk dirinya sendiri dan juga Rea. Sudah lama dia ingin melakukan hal itu, akan tetapi baru kali ini niatnya akan menjadi kenyataan. “Kamu mau ke mana?” tanya Rea karena Sisca terus saja berkeliling dan belum membeli apa-apa. “Gue mau cari baju, tapi belum nemu yang bagus dan cocok.” Rea menggeleng tidak percaya mendengar jawaban Sisca. Sejak datang, Sisca hanya melihat sebentar, kemudian bergegas pergi lagi. Terus seperti itu tanpa membeli apapun. Saat mulai lelah berkeliling, tiba-tiba Sisca menarik tangannya dan masuk ke sebuah toko yang menjual pakaian wanita. “Bagus nggak Re?” tanya Sisca sambil memperlihatkan sebuah kaos polo berwarna merah muda. “Bagus.” Sisca berjalan ke sebuah cermin dan mematut dirinya. “Kira-kira cocok nggak kalo gua pake ini?” Rea tersenyum mendengar pertanyaan temannya. “Kamu tuh pake apapun pasti bagus Sis.” Rea mengatakan hal itu dengan tulus, karena memang seperti itulah keadaannya. Dengan tubuh proposional, ditunjang wajah cantik, Sisca akan terlihat pantas mengenakan pakaian apapun. “Beneran? Kalo gitu gua mau ambil dua.” Sisca mengambil kaos berwarna sama dengan yang dipegangnya dan menyerahkan pada pelayan wanita yang berdiri di dekatnya. Kemudian, Sisca berpindah ke bagian celana dan mulai memperhatikan dengan seksama. Dia celana panjang dan pendek. Setelah merasa yakin dengan pilihannya, Rea mengambil celana masing-masing dua dan menyerahkannya pada pelayan. Rea sedikit bingung dengan apa yang dilakukan oleh Sisca, akan tetapi dia memilih diam dan mengikuti saja. Selesai membayar, Sisca memberikan kantong pada Joko dan membiarkan pria itu yang membawakan belanjaannya. Dari toko baju, Sisca beralih ke toko aksesoris perempuan dan melakukan yang sama, selalu mengambil dua untuk setiap barang yang dibeli. Selesai berbelanja, Sisca mengantarkan Rea pulang. Dia sendiri yang turun dan menemani temannya hingga ke rumah. Tanpa sepengetahuan Rea, Sisca sudah memberi instruksi pada Joko untuk membawa belanjaan yang tadi sudah dipisahkan saat menaruh di bagasi mobil. Joko membawa kantong belanjaan dan meletakkan di ruang tamu, seperti permintaan Sisca. Rea tentu saja terkejut dan langsung mengajukan protes saat melihat hal itu. “Kenapa itu ditaruh di sini? Bukannya itu punya Sisca?” “Itu semua punya elo kok, jadi ya dibawa ke sini lah.” “Maksud kamu?” tanya Rea tidak mengerti. Sisca memegang kedua bahu Rea dan menatap temannya sambil tersenyum. “Elo itu temen terbaik yang gua punya. Jadi apapun yang gua punya, elo juga harus punya. Dan gua nggak mau denger penolakan, oke?” “Tapi Sis,” “Nggak ada tapi-tapian!” sela Sisca galak. “Gue mau, besok kita kembaran ya. Nggak boleh nolak!” Sisca pura-pura mengancam Rea dengan mengacungkan jari telunjuk ke wajah temannya. Rea mau tidak mau tersenyum melihat tingkah lucu Sisca, akan tetapi hatinya masih belum dapat menerima perkataan Sisca barusan. Dia tidak ingin membebani sebuah pertemanan dengan hal seperti ini. “Ih …, malah ketawa!” seru Sisca gusar. “Jawab napa?!” “Aku nggak enak Sis. Nanti apa kata orang kalo tau ini semua pemberian kamu? Nanti dibilang aku tuh temenan sama kamu cuma karena harta kamu dan memanfaatkan kamu doang.” “Gua nggak peduli sama omongan orang Re, karena pada kenyataannya elo bukan tipe temen yang suka manfaatin. Elo malah nggak pernah minta apapun dari gua, padahal kalo elo mau, itu pasti dengan mudah udah elo lakuin, iya kan?” Sisca menatap Rea sungguh-sungguh. “Jadi gua mohon, terima ya semua yang udah gua kasih?” Melihat wajah memelas Sisca, Rea jadi merasa sedikit bersalah pada gadis itu. “Iya, iya. Besok aku bakal pake baju yang kamu kasih.” Rea mengambil tangan Sisca dan menggenggamnya hangat. “Sis, makasih ya udah baik sama aku, dan udah banyak ngasih aku hal-hal yang selama ini belum pernah aku dapetin,” “Re, apa yang gua lakuin ke elo, nggak sebanding dengan apa yang udah elo lakuin buat gua. Jadi, gua minta tolong banget jangan nolak apapun yang gua kasih ya. Buat gua, elo bukan cuma temen terbaik Re, tapi juga sodara yang nggak pernah gua punya. Jadi mulai sekarang, apa yang gua punya, itu juga punyanya elo, oke?” Sisca menatap Rea dengan mimik jenaka. “Kecuali pacar, itu punya masing-masing.” *** Robert : aku udah di depan rumah Robert berdiri di depan rumah Rea dan menunggu gadis itu keluar dari rumah. Seperti yang sudah disepakati semalam, Robert akan menjemput Rea dan berangkat ke sekolah bersama. Begitu membaca pesan yang dikirim Robert, Rea bergegas ke kamar, mengambil ransel berisi pakaian dan perlengkapan yang akan dibawa untuk retreat. Rea keluar dari rumah dengan suara perlahan, karena tidak ingin mengganggu Elly yang baru bangun dan masih berada di dalam kamar. Begitu Rea keluar, Robert langsung mengambil ransel dari bahu gadis itu dan menunggu hingga Rea selesai menutup pagar. Bersama, mereka meninggalkan rumah dan berjalan keluar g**g. “Motor kamu mana?” tanya Rea saat tiba di depan g**g dan tidak melihat motor Robert. “Hari ini kita naik mobil,” sahut Robert tenang. “Kenapa?” “Karena sekarang masih subuh, dan barang bawaan kita juga banyak Re. Nggak mungkin kalo pake motor.” Rea tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepala. Dia tetap diam saat dibawa ke mobil dan tetap seperti itu hingga mobil yang dikendarai Robert memasuki halaman sekolah. Saat Robert memarkir mobil, Rea melihat sudah banyak siswa yang datang dan berkumpul di pelataran sekolah. Rea turun dari mobil bersama Robert dan berjalan mendekati siswa yang sudah berkumpul. “REA!” seru Sisca dari kejauhan sambil berlari ke arahnya. Rea tersenyum melihat temannya yang terlihat bersemangat dan mengenakan kaos yang sama dengan dirinya. “Tadinya gua yang mau jemput, tapi nggak boleh sama Robert,” bisik Sisca di telinga Rea setelah berdiri di samping temannya. “Kayak dia sendiri yang boleh milikin elo aja.” “Hush!” sergah Rea pelan. Dia tidak ingin Robert mendengar perkataan Sisca dan akhirnya harus mendengar mereka berdua berdebat. “Kak, gua bawa Rea pergi ya.” Tanpa menunggu jawaban Robert, Sisca menarik tangan Rea dan meninggalkan Robert yang hanya diam. Sisca membawa Rea untuk berkumpul dengan teman-teman yang berkerumun di salah satu sisi lobi sekolah. “Cie …, yang bajunya kembaran …,” ledek Anton saat melihat Rea dan Sisca mendekat. “Keren kan …,” sahut Sisca sambil tertawa lebar. Sementara dari kejauhan, Lydia yang sejak awal melihat Rea berjalan di sisi Robert, tidak melepaskan pandangannya sedetik pun. Dia masih merasa marah melihat kedekatan Robert dan Rea. Namun, dia tidak dapat melakukan apapun setelah kejadian terakhir di mana dirinya kalah dan tidak mampu membalas dendam pada Rea. “Kenapa lo?” tanya Fanny saat melihat raut kebencian di wajah Lydia. “Pengen banget gua bikin mereka berdua nggak bisa senyum lagi!” desis Lydia. “Elo belum kapok juga Lyd?” “Selama bisa ngancurin mereka berdua, apapun akan gua lakukan Fan! Nggak sudi banget gua ngeliat mereka berdua, terutama Rea bahagia, apalagi bisa jadi pacarnya Robert!” Lydia mengepalkan kedua tangannya. Fanny menggelengkan kepala mendengar perkataan Lydia. “Emang elo mau ngapain?” tanyanya hati-hati. Jujur saja, dia sendiri sudah kapok mencoba membantu Lydia untuk mengganggu Rea. Selain karena ternyata Rea mahir beladiri, dia juga sudah melihat sendiri betapa murkanya Robert. Dan Fanny tidak ingin menjadi musuh pemuda itu selama sisa masa sekolahnya di sini. “Belum tau, tapi yang pasti gua masih akan mencoba buat bikin itu cewek kapok. Mungkin ini adalah yang terakhir kalinya. Andai nggak berhasil juga, mungkin gua akan berhenti.” Lydia mengangkat bahunya dengan santai. “Atau gua akan terus mengganggu itu cewek sampe gua puas dan bisa dapetin keinginan gua!” Mata Lydia menyorot tajam penuh dendam ke arah Rea dan Sisca. “Karena Robert itu milik gua!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN