Kejutan Valentine

1896 Kata
Robert menghadang langkah Sisca yang hendak masuk ke dalam kelas. “Sis, Rea mana?” “Gua belum liat, tadi dia pergi sama Liana ke kantin. Kenapa?” “Gapapa, malah bagus,” ujar Robert. “Elo ikut gua sebentar.” Tanpa menunggu persetujuan Sisca, Robert menarik tangan gadis itu dan membawanya meninggalkan kelas. “Eh, eh!” seru Sisca panik. “Gue mau dibawa ke mana?!” Sisca berusaha melepaskan cekalan tangan Robert. Robert membalikkan badan dan mendelik pada Sisca. “Berisik! Tinggal ikut aja, susah amat sih!” Robert terus membawa Sisca hingga tiba di gudang di belakang sekolah. “Mau ngapain bawa gua ke sini?!” Sisca menyentakkan tangannya setelah berada di dalam gudang. “Gua mau beliin hadiah buat Rea,” sahut Robert cepat. “Tapi gua bingung mesti ngasih apa. Gua mau minta tolong elo bantuin gua pilihin hadiah yang bagus buat dia.” Sisca mengembuskan napas lega setelah mendengar perkataan Robert barusan. Tadinya dia mengira pemuda itu akan memarahi dirinya seperti biasa. “Emang rencananya elo mau ngasih apa buat Rea? Dan dalam rangka apaan? Jadi gua bisa tau dan milih hadiah yang bener.” Robert mengusap tengkuk dengan kasar. Sejujurnya dia malu untuk mengatakan keinginannya pada Sisca. Jika gadis itu tahu, dapat dipastikan kalau Sisca akan menertawakan dirinya. Namun, Robert tidak punya pilihan yang lebih baik lagi selain Sisca. “Buat valentine, dan gua mau hadiah yang terbaik buat Rea.” Benar saja dugaan Robert. Sisca terkekeh geli setelah mendengar perkataannya. Sambil terus tertawa, Sisca bertanya pada pemuda itu. “Gue nggak nyangka kalo elo bisa romantis juga. Karena ini buat Rea, gua bakalan bantuin. Kapan elo mau pergi?” “Secepetnya, kan valentine tinggal beberapa hari lagi,” sahut Robert. “Tapi Gerry nggak boleh tau kalo elo perginya sama gua.” “Emang kenapa Gerry nggak boleh tau?” “Gua nggak mau jadi bahan ledekan itu anak. Elo pasti bisa bayangin kan gimana kalo itu anak tau?!” Sisca menganggukkan kepala tanda mengerti. “Gimana kalo ntar habis pulang sekolah?” “Boleh juga,” sahut Robert. “Kita ketemuan di mall aja, biar nggak ada yang tau kalo gua pergi sama elo.” “Masih ada yang mau diomongin nggak? Kalo udah nggak ada, gua boleh balik ke kelas kan?” Tanpa menunggu jawaban Robert, Sisca bergegas meninggalkan gudang. Setelah Sisca pergi, Robert keluar dari gudang dan kembali ke kelas. Selama sisa pelajaran, Robert saling bertukar pesan dengan Sisca, memutuskan akan pergi ke mana untuk mencari kado. Begitu jam pelajaran berakhir, Robert bergegas menuju tempat parkir. “Bet, elo nggak pulang bareng Rea?” tanya Gerry saat melihat sahabatnya sudah berada di atas motor. “Kata siapa?” “Lah?” Gerry menunjuk Robert yang sudah siap pergi. “Gua nyuruh dia nunggu di depan gerbang.” Usai berkata, Robert menjalankan motornya untuk menjemput Rea. Robert menghentikan motor tepat di sisi Rea yang menunggu di pinggir jalan. “Ayo naik, aku anterin kamu ke Dojo.” Rea tidak menjawab dan langsung mengambil helm dari tangan Robert, naik ke motor dan menunggu pemuda itu menjalankan motornya. Sejak tahun baru di Bandung, Rea sedang belajar mencoba membuka hatinya untuk Robert. Namun, sampai dengan hari ini, rasanya sangat sulit. Hatinya seolah ada yang mengunci hingga tidak dapat dibuka. Rea sendiri bingung mengapa bisa seperti ini, padahal dia sudah berusaha dengan keras. Robert selalu bersikap baik dan penuh perhatian padanya. Namun, tidak ada rasa berdebar yang dirasakan oleh Rea, bahkan dia tidak merasakan suatu kerinduan saat tidak bertemu dengan pemuda itu. Robert mengendarai motor hingga tiba di depan gedung tempat Rea berlatih. Dia menunggu hingga Rea turun, barulah mematikan mesin dan membuka helm. Robert mengulurkan tangan pada Rea. “Ayo masuk.” Robert membimbing Rea hingga tiba di depan pintu masuk. “Aku tinggal dulu ya, nanti aku jemput lagi. Kamu pulang jam berapa?” “Belum tau. Kalo cuma latihan doang sih paling lama cuma dua jam. Tapi nggak tau juga.” “Kalo nggak gini aja,” ujar Robert. “Kalo kamu udah selesai, kirim pesen ke aku, biar aku jemput, oke?” “Emang harus ya kamu jemput ke sini?” tanya Rea merasa sedikit risih. “Haruslah!” sahut Robert tegas. “Aku nggak mau kamu pulang sendiri, apalagi udah malam.” Rea mengangkat bahu, merasa percuma mendebat Robert. Dia membalikkan badan dan masuk ke dalam gedung. Setelah Rea menghilang di balik pintu, Robert meninggalkan Dojo dan pergi menuju ke mall untuk bertemu dengan Sisca. *** Rea berdiri di depan pintu kelas dengan mata terbelalak saat melihat mejanya dipenuhi dengan bunga mawar dan juga cokelat. “Itu apaan?” gumamnya dengan tatapan horor. “Itu semua dari penggemar elo tau,” ujar Nita sambil menepuk bahu Rea dari belakang. “Buat apaan?” Aldo yang mendengar perkataan Rea, berjalan menghampiri temannya. “Elo tuh kadang lemot banget deh Re. Hari ini kan Valentine, jadi cowok dan cewek pada ngasih cokelat atau bunga buat orang yang disuka dan disayang. Emang elo nggak pernah ngalamin waktu SMP?” Rea meringis mendengar ledekan Aldo. “Pernah sih, tapi nggak sampe kayak gitu.” Rea menatap Nita, dan Aldo. “Kalian juga dapet?” Nita dan Aldo tertawa mendengar pertanyaan Rea. “Dapet lah, bukan cuma dapet, tapi gua juga ngasih buat yang gua suka,” sahut Nita sambil mengedipkan sebelah matanya dengan ekspresi genit. “MINGGIR, MINGGIR!” Ivana menerobos masuk sambil mendorong punggung Nita yang berdiri menghalangi pintu. “Elo kenapa sih?!” sentak Nita yang hampir tersungkur ke lantai. Untung ada Rea yang dengan cepat menahan tubuhnya. “Siapa suruh ngalangin jalan!” seru Ivana sambil mengibaskan rambut. “Elo mau mulai nyari gara-gara lagi?!” tanya Rea sambil tersenyum manis, akan tetapi matanya menatap tajam pada Ivana. Ivana yang sudah pernah merasakan tangan Rea di rambutnya, seketika nyalinya langsung ciut saat melihat tatapan mata Rea. “Gua kan cuma mau lewat.” Ivana langsung menurunkan nada suaranya. “Siapa suruh kalian berdiri di pintu!” Aldo yang memang tidak menyukai kelakuan Ivana, berdiri di depan gadis itu. “Bilang aja elo ngiri karena nggak ada yang ngasih bunga sama cokelat ke elo, iya kan?!” Ivana mengentakkan kaki dan berjalan ke mejanya. Dia merasa dongkol karena ucapan Aldo yang pedas, akan tetapi memang benar adanya. Rea pun berjalan ke mejanya dan berdiri dengan pasrah melihat mejanya yang dipenuhi bungan mawar dan cokelat. Dia mengembuskan napas, bingung harus melakukan apa dengan semua benda di depannya, hingga tidak menyadari kedatangan Sisca. “Kenapa diem aja?” Sisca yang baru datang memeluk Rea dari samping. Rea menoleh dan menatap Sisca. “Aku bingung Sis. Ini semua mau diapain?” “Ya disimpen dan dibawa pulang lah,” sahut Sisca sambil terkekeh. “Nggak mungkin juga kan kalo dibuang, elo bisa diamuk sama fans.” “Mulai ngaco kan ngomongnya.” Rea mengumpulkan bungan dan cokelat, kemudian meletakkan semua di kolong meja. Nanti dia akan mencari tempat untuk membawa semuanya itu. Sepanjang hari itu Rea tidak keluar dari kelas. Dia memilih diam di mejanya, dan meminta tolong pada Sisca untuk mencarikan wadah yang dapat menyimpan semua barang di kolong meja. Begitu bel pulang berbunyi, dia bergegas meninggalkan kelas sambil membawa paper bag di tangan kanan. Namun, langkahnya terhenti karena langkahnya dihadang oleh Robert. “Kamu mau ke mana?” “Mau pulang, emang mau ke mana lagi?” “Itu apaan?” Robert menunjuk bungkusan di tangan Rea. Rea menyembunyikan tangan kanan di belakang punggung. “Bukan apa-apa,” sahutnya. “Biarin aku pulang sekarang ya,” pintanya dengan suara memelas. Robert tidak memperpanjang tentang bungkusan yang disembunyikan Rea, karena dia sudah tahu isinya. Tadi Aaron memberitahu jika gadis itu menerima banyak bunga dan cokelat. Robert meraih tangan Rea yang kosong dan menggandengnya keluar dari gedung sekolah. “Kita mau ke mana?” tanya Rea saat melihat Robert tidak berjalan ke arah parkiran. “Kan kamu bilang mau pulang,” sahut Robert lembut. “Iya, tapi ini kan bukan ke parkiran motor.” Rea menghentikan langkah dan menatap Robert dengan bingung. Robert tersenyum dan mengusap rambut Rea. “Untuk hari ini kita nggak naik motor.” “Terus?” “Bisa nggak jangan banyak tanya dan ikutin aku aja? Bisa ya?” Rea tidak tega menolak permintaan Robert. “Iya.” Robert membawa Rea keluar dari sekolah, dan berjalan hingga cukup jauh dari area sekolah. Robert berhenti di depan sebuah mobil sport berwarna hitam dan membuka pintunya. “Masuk.” “Ini mobil siapa?” Robert melangkah ke belakang Rea dan memegang lembut bahu gadis itu, serta mendorong Rea untuk masuk. “Jangan banyak tanya.” Setelah Rea duduk, Robert menutup pintu, kemudian bergegas memutari bagian depan mobil. Dia mengendarai mobil menuju rumah Rea, dan berhenti tepat di depan g**g. “Kamu masuk duluan, aku mau cari tempat buat parkir mobil dulu.” “Iya.” Rea turun dari mobil dan berjalan memasuki g**g yang menuju ke rumahnya. Begitu Rea pergi, Robert segera menghubungi Sisca dan memberitahu gadis itu jika Rea akan segera tiba. Setelah itu Robert memarkir mobil dan menunggu di dalam hingga mendapat kabar dari Sisca. “REA!” seru Sisca sambil melambaikan tangan dari arah teras rumah temannya. “Kok kamu bisa masuk?” tanya Rea terkejut melihat Sisca bisa masuk. “Gua tadi ngelompatin pager, habis nunggu elo lama banget. Gua kepanasan, terus kebetulan tetangga elo bilang gua suruh nunggu di sini. Jadi tadi gua masuk aja, dan tetangga elo liat kok.” Rea menggelengkan kepala mendengar jawaban Sisca. Tanpa banyak bicara, dia membuka pintu rumah dan masuk ke dalam diikuti Sisca yang langsung menarik tangannya ke arah dapur. “Kamu kenapa sih?” “Haus, boleh minta air dingin kan?” Sambil mengembuskan napas, Rea mengambil gelas dan menuangkan air untuk Sisca. Sementara Rea sibuk, Sisca mengirimkan pesan pada Robert dan memberitahu jika dia akan menahan Rea di dapur, dan memberi kesempatan pada Robert untuk masuk ke dalam rumah. Begitu membaca pesan dari Sisca, Robert turun dari mobil dan berjalan ke bagasi. Dia mengeluarkan boneka besar yang masih terbungkus dan buket bunga mawar. Robert berjalan menuju rumah Rea dan langsung masuk ke ruang tamu. Dia meletakkan hadiah di sofa dan menatanya supaya terlihat cantik. Saat itulah dia mendengar suara protes Rea dari dapur. “Sis, apa-apaan sih?! Kenapa mata aku pake ditutup segala sih?! “Sabar napa, ntaran lagi juga tau. Sekarang ikutin gua aja.” Tidak lama kemudian, tampak Rea keluar dengan mata ditutup oleh tanga Sisca yang berdiri di belakangnya. Sisca membimbing Rea hingga tiba di depan sofa, kemudian dengan perlahan, dia melepaskan tangannya dari wajah Rea. Rea berdiri terpaku saat melihat sebuah boneka beruang besar berwarna putih sedang memegang sebuah hati merah di kedua tangannya, juga buket besar bunga mawar merah di samping boneka. “Happy Valentine Re,” bisik Robert dari belakang tubuh Rea. Rea langsung menoleh dan terkejut saat menyadari wajah Robert begitu dekat dengannya. Refleks Rea mundur, akan tetapi Robert menahan tangannya dengan cepat. “Kamu mau ke mana?” “K-kamu ngapain di belakang aku?! Kan kaget.” Robert terkekeh melihat wajah Rea yang merona merah dan tampak menggemaskan. Dia mengelus rambut Rea dengan lembut. “Kamu ngapain bawa-bawa begituan segala?” tanya Rea setelah rasa terkejutnya hilang. “Itu hadiah valentine buat kamu. Dan aku mau boneka itu selalu nemenin kamu di kamar, anggep aja dia itu aku, sampe nantinya aku sendiri yang nemenin kamu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN