Biarkan Mengalir Apa Adanya

1848 Kata
“Re, kamu lagi ngapain?” Rea menoleh ke arah pintu dapur saat mendengar suara Robert. “Siapin bahan-bahan buat bakar-bakaran, kenapa? Mau bantuin?” Robert mendekati Rea dan melihat kalau ternyata Rea sedang mengaduk potongan ayam mentah. “Kenapa nggak nyuruh pelayan aja yang ngerjain?!” “Kenapa juga harus nyuruh kalo bisa ngerjain sendiri? Lagian kan ini buat makan kita sendiri.” Rea menjawab dengan tenang sembari tangannya tetap mengaduk supaya semua bahan tercampur dengan rata. Robert menggelengkan kepala mendengar perkataan Rea. Dia mencuci tangan, kemudian berdiri di hadapan gadis itu. “Mana yang mesti aku kerjain?” Gantian Rea yang memandang Robert, sedikit terkejut saat tahu pemuda itu ingin membantu. “Beneran mau bantuin? Emang kamu nggak takut megang beginian?” Rea sengaja mengangkat sepotong ayam dan menunjukkannya pada Robert. “Kamu lupa ya kalo aku bisa masak, dan pernah bikinin kamu bubur?” Robert menjulurkan badan dan mencubit hidung Rea dengan gemas. Rea tidak sempat mengelak, sehingga tangan Robert berhasil mengenai hidungnya. “Kenapa sih hobi banget nyubit, nyentil, dan ngacak rambut aku?!” Robert terkekeh mendengar gerutuan Rea. “Seneng aja gangguin kamu, dan makin seneng liat kamu cemberut.” Rea mencebik ketika mendengar jawaban konyol Robert. “Dasar aneh,” gerutunya perlahan. “Aku bisa denger loh ….” Robert sengaja memanjangkan ucapannya untuk membuat Rea semakin kesal. “Jadi mau bantuin nggak?!” tanya Rea datar dan tidak mengacuhkan godaan Robert. Sementara di belakang mereka, Sumi tersenyum lebar mendengarkan pembicaraan antara Rea dan Robert. Jelas terlihat pemuda yang sedari bayi sudah diasuhnya begitu sangat memperhatikan Re. Sejak gadis itu datang, sangat jelas bahwa di mata Robert hanya ada Rea seorang. Dan Sumi sangat bahagia akan hal itu. Dia tidak menyangka jika sikap dingin Robert dapat mencair. Pemuda yang selalu kaku, dan sulit untuk tersenyum, berubah drastis saat berhadapan dengan Rea. “Jadi,” sahut Robert gemas. “Emang apa yang mesti aku kerjain?” “Tolong tusukkin daging ayam. Kamu ambil di lemari es, bisa kan?” Robert yang belum puas menggoda Rea, kembali melancarkan aksi menyebalkan untuk gadis itu. “Kenapa nggak kamu aja yang ambilin? Kan kamu yang lebih deket.” Rea mendelik mendengar perkataan Robert. Andai mampu, Rea sangat ingin membalas Robert dengan mengelap tangannya yang kotor di kaos pemuda itu. Namun, karena tahu hanya akan sia-sia, akhirnya sambil mengentakkan kaki, Rea mencuci tangan dan mengambil wadah berisi potongan daging ayam yang sudah diberi bumbu dan membawanya ke meja. “Nih,” ujarnya sambil meletakkan wadah berisi potongan daging ayam di meja. “Mau diambilin juga tusuk satenya juga?!” “Boleh juga.” Robert menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar. Rea mengambil bungkusan berisi tusuk sate dan memberikannya pada Robert. Setelah itu, dia memasukkan wadah berisi ayam ke lemari pendingin, dan mulai mengiris rawit. Dia ingin membuat sambal kecap yang akan dinikmati bersama ayam bakar nanti malam. “Kalian pada ngapain di sini?!” seru Sisca yang masuk ke dapur bersama Gerry. “Berisik!” gumam Robert gusar karena merasa terganggu dengan suara keras Sisca. “Yee …, kenapa jadi elo yang sewot?!” ujar Gerry membela Sisca yang langsung diam seribu bahasa saat mendengar teguran Robert. “Siapa suruh ke sini sambil teriak-teriak kayak Tarzan?! Mestinya itu anak juga ada di sini buat bantuin Rea, bukannya asik main sama elo di depan.” “Ngomongnya jahat banget sih?!” gerutu Sisca dengan suara cukup keras. “Gua ke sini bukan cuma mau liat Rea, tapi juga mau bantuin dia! Kalo ngomong jangan suka ngasal deh!” Mata Sisca berkaca-kaca karena menahan emosi. Melihat hal itu, Rea menghampiri Sisca dan merangkul bahu temannya. “Udah, nggak usah didengerin. Kamu kayak nggak tau aja dia kayak gimana.” Rea membimbing Sisca ke pantry, akan tetapi gadis itu melepaskan tangan Rea. “Mending gua keluar aja! Males banget seruangan sama cowok jutek plus dingin plus nyebelin kayak dia.” Sisca mengentakkan kaki sebelum pergi meninggalkan dapur. Melihat Sisca keluar, Gerry bergegas mengikuti gadis itu. Rea menatap tajam pada Robert yang tetap duduk tenang tanpa sedikitpun merasa bersalah. Sambil mengembuskan napas, Rea menghampiri Robert. “Kenapa sih kamu selalu ngomong kasar ke Sisca?! Memang dia punya salah apa ke kamu?!” Rea bersidekap di sisi Robert. Robert mendongak dan menatap Rea yang sedang menatap tajam padanya. “Nggak ada. Lagian emang begini kan cara bicara aku?!” Rea menarik kursi dan duduk di hadapan Robert. Dia mengetuk meja dengan cukup keras sehingga mau tidak mau Robert melihat ke arahya. “Apaan?! Nggak usah pake ketok meja segala. Tinggal manggil, susah banget sih?!” “Bisa nggak sedikit …, aja kamu coba ubah cara bicara kamu ke orang?!” ujar Rea tenang. Robert mendelik pada Rea karena permintaan gadis itu. Rea melanjutkan perkataannya dan tidak memiliki sedikitpun rasa takut pada Robert. “Kalo nggak bisa, minimal ke Sisca aja. Biar gimana dia itu temen aku, ke mana-mana selalu berdua. Kasian kan kalo selalu kena omongan pedes kamu. Bisa ya ….” Rea menatap Robert sambil tersenyum lembut. Mendapat tatapan seperti itu membuat Robert kehilangan semangat untuk membantah. “Iya, iya! Aku bakal coba ngomong baik ke Sisca. Puas?!” Rea kembali tersenyum manis pada Robert. Setelah itu dia berdiri dan kembali ke pantry untuk melanjutkan pekerjaannya. Robert termangu saat melihat gadis itu pergi. Perlahan dia memegang d**a kirinya dan dapat merasakan jantungnya berdetak sangat cepat seperti habis lomba maraton. Robert menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan selama beberapa kali hingga detak jantungnya kembali normal. *** “BET! Sini lo, bantuin gua dong!” seru Aaron yang sedang mencoba menyalakan api unggun. Robert meletakkan wadah berisi ayam di meja dan bergegas mendatangi Aaron. “Belum bisa juga? Kenapa nggak minta tolong sama Pak Mamat aja sih?!” Aaron menyeringai lebar dan berkata. “Pengen nyoba gua. Kalo ngeliat di tivi kan kayak yang gampang, jadi penasaran.” Robert menggelengkan kepala mendengar jawaban absurd sepupunya. bagaimana mungkin orang yang lebih suka menghabiskan waktu di depan komputer untuk bermain dapat membuat api unggun. Akhirnya, Robert mengambil korek dari tangan Aaron dan berjongkok di hadapan tumpukan kayu. Robert membongkar kayu-kayu yang sudah disusun, kemudian memyusunnya kembali dengan benar. Setelah itu dia menyiram kayu dengan minyak tanah. Robert mengambil kertas koran yang tergeletak di tikar, dan menyulutnya dengan api. Tidak lama kemudian, api mulai menyala dan semakin membesar, sehingga udara di sekitar mereka menjadi hangat. “Wuih …, gua baru tau kalo elo bisa yang beginian.” Aaron bertepuk tangan saat melihat hasil karya Robert berhasil dengan baik. “Emang dulu elo nggak ikut Pramuka? Yang beginian kan diajarin.” “Sori ya, gua nggak minat sama yang begituan. Cape, mana harus panas-panasan. Mending juga main futsal atau kalo nggak main game.” Robertbangkit berdiri dan melempar kotak korek api ke arah Aaron. “Dasar anak manja.” Dia meninggalkan Aaron dan kembali ke meja, serta membawa wadah ke tempat Rea dan Sisca sedang membakar makanan di atas bakaran. Tanpa diminta, Robert mengambil alat penjepit dari tangan Rea dan mulai membalik daging yang sedang dibakar. Rea tidak mengatakan apapun. Dia tetap berdiri di dekat Robert dan membantu pemuda itu serta Donny. Setelah semua sudah selesai dibakar, Rea dan Sisca membawa piring-piring berisi makanan ke meja panjang berkaki pendek yang diletakkan di dekat api unggun. Mereka mengatur makanan, beserta piring, sendok, dan gelas. “Ayo kumpul semua?!” seru Gerry sambil memukul tutup panci dengan sendok. Donny, Aaron, Martin bergegas menghampiri meja dengan mata berbinar-binar saat melihat hidangan yang berlimpah di sepanjang meja. “Rea sama Sisca mana?” tanya Gerry saat tidak melihat kedua gadis itu di sekitar halaman belakang villa Robert. “Mereka bilang mau ke dapur sebentar-” “Mau ngapain?” sela Robert sambil menatap Martin. “Nggak tau, gua nggak tanya,” sahut Martin sambil memandang ke arah rumah “Eh itu mereka dateng. Tapi pada bawa apaan?” Robert menoleh dan melihat Rea memeluk beberapa botol minuman soda, sementara Sisca membawa mangkuk besar di kedua tangannya. Dia bergegas menghampiri Rea dan langsung mengambil barang bawaan gadis itu. Rea mencoba merebut kembali botol-botol dari tangan Robert. “Aku bisa bawa sendiri kok.” “Tau, tapi emang aku mau bawain.” Robert mencoba mengambil kembali botol-botol dari tangan Rea. “Kalo gitu, sekalian bawain yang di tangan Sisca, gapapa kan?” Rea menatap dalam-dalam pada Robert. Robert tidak mampu menolak permintaan Rea, dan hanya menganggukkan kepala. Dia mengambil wadah dari tangan Sisca, kemudian mengambil dua botol minuman dari tangan Rea dan berjalan mendahului kedua gadis itu. Sisca menggeleng tidak percaya melihat sikap Robert barusan. “Gile …, elo pake jurus apaan sampe Robert bisa nurut banget sama elo?” “Ngaco,” gumam Rea sambil melangkah menuju api unggun. Sisca tersenyum-senyum sendiri saat berjalan ke api unggun. Dia merasa salut dengan sikap kalem Rea yang dapat membuat Robert bertekuk lutut tanpa ampun. Malam itu Rea sangat bahagia karena ini pertama kalinya dia dapat merasakan keseruan berkumpul dengan teman-teman. Senyum tidak pernah hilang dari bibirnya, binar di matanya juga terlihat begitu jelas. Robert yang duduk di sedikit menyerong dari tempat Rea dapat melihat hal itu dengan jelas. Tidak sia-sia usahanya untuk membawa Rea ke sini. Semua sangat sepadan dengan hasilnya. “Eh, sebentar lagi mau jam dua belas!” seru Gerry. “Mana kembang apinya Bet?” “Gua taruh di sana.” Robert menunjuk ke arah meja yang berada di teras. “Elo ambil aja sendiri.” Gerry berlari dan mengambil bungkusan berisi kembang api yang dibawa dari Jakarta. Dia kembali mengacungkan bungkusan di tangannya tinggi-tinggi. Setelah itu, dibantu Aaron, Gerry mulai menancapkan ujung kembang api di tanah. Tepat jam dua belas, Gerry dan Aaron mulai menyulut kembang api dengan api. Mereka bersorak gembira melihat langit dihiasi warna-warni dari kembang api yang membentuk berbagai bentuk di langit. Robert menarik tangan Rea yang sedang memandangi kembang api. Dia sengaja ingin menjauhi kerumunan agar dapat berbicara berduaan saja dengan gadis itu. Saat berdiri di hadapan Rea, dia dapat melihat mata gadis itu berkaca-kaca. Perlahan, Robert mengulurkan tangan dan mengusap ujung mata Rea dengan lembut. “Kenapa nangis?” tanyanya lembut. “Gapapa.” Rea menundukkan kepala untuk menghindari tatapan Robert. “Bohong!” bisik Robert. “Kalo nggak ada apa-apa masa nangis?” “Aku cuma seneng aja,” ujar Rea pelan. “Ini pertama kalinya aku bisa liburan dan nikmatin keadaan kayak gini sejak papa meninggal.” Robert menatap langit malam sambil berkata dengan suara pelan. “Kamu inget waktu aku bilang kamu adalah prioritas utama aku? Aku bener-bener pengen nepatin perkataan aku Re. Kamu bebas minta apapun sama aku, dan aku akan berusaha penuhin keinginan kamu.” “Kenapa kamu selalu baik sama aku? Kamu tau kan sampe sekarang aku nggak bisa ngasih perasaan yang lebih buat kamu,” ujar Rea lirih. Robert tersenyum dan berdiri di depan Rea, kemudian memegang bahu gadis itu. “Aku nggak minta kamu jawab sekarang Re. Biarin aja semua mengalir apa adanya. Mungkin, suatu hari kamu akan buka pintu hati dan ijinin aku masuk ke sana. Saat itu akan jadi hal yang paling bahagia buat aku.” “Andai perasaan aku nggak berubah gimana?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN