Sepulang sekolah, Sisca mengajak Rea pergi ke warung Mpok Atik untuk bersantai sejenak, sekaligus menghabiskan waktu sebelum pulang ke rumah. Awalnya Rea menolak, akan tetapi dengan semua bujuk rayu dan sedikit paksaan, akhirnya Rea mengikuti keinginan Sisca.
Tiba di warung, seperti biasa, tampak Robert, dan ketiga temannya, ditambah Aaron. Kelima anak muda itu tentu saja senang melihat kedatangan Rea, dan Sisca, terutama Gerry karena dapat mendekati Sisca. Setelah memesan minuman, Rea dan Sisca duduk di salah satu meja yang melingkari etalase.
“Re, elo libur ke mana?” tanya Sisca.
“Nggak ke mana-mana. Kenapa?”
“Di rumah doang?” Sisca terbelalak saat mendengar jawaban temannya. “Nggak pergi jalan-jalan atau liburan sama nyokap lo?”
“Nggak. Mama kan harus buka toko. Kalo toko tutup berarti nggak ada pemasukan dong.” Rea menjawab dengan tenang tanpa sedikitpun nada kecewa dalam suaranya.
Sisca menggeleng tidak percaya dengan sikap Rea yang tanpa beban itu. Berbanding terbalik dengan dirinya yang selalu merasa tidak betah di rumah, dan inginnya selalu pergi bermain dan berjalan-jalan untuk menghabiskan masa liburan. Sisca bergidik ngeri membayangkan jika berada di posisi Rea. Mungkin dirinya bisa sakit karena terkurung terus di rumah.
Robert yang sejak tadi duduk tidak jauh dari Rea dan Sisca dapat mendengar dengan jelas semua obrolan kedua gadis itu. Dia pun tidak dapat membayangkan bagaimana bosannya hanya berada di dalam rumah. Hari ini adalah hari terakhir sekolah di semester satu. Mulai besok mereka akan memasuki masa libur, termasuk libur Natal dan Tahun Baru.
Rea menoleh ke samping dan menatap Sisca. “Emang kamu liburan mau ke mana?”
“Belum tau,” sahut Sisca sambil mengangkat bahu. “Nyokap bokap sekarang lagi di Belanda, dan nyuruh gua ke sana sih. Cuma kok rasanya males aja, tapi kalo di rumah doang gua juga bingung mau ngapain.” Sisca mengaduk es teh manis dengan cepat. “Eh, gimana kalo elo nginep aja di rumah gua?”
“Nggak mau ah,” tolak Rea cepat tanpa perlu berpikir.
“Kenapa?!” sahut Sisca dengan nada menuntut.
“Nggak enak kali Sis.” Rea mencoba memberi alasan yang masuk akal pada temannya.
“Kenapa mesti nggak enak segala sih? Di rumah tuh gua selalu sendirian, paling yang ada cuma para pelayan doang. Mau ya?” Sisca mencoba membujuk Rea sambil menatap temannya dengan pandangan memelas.
Rea yang memang jarang berpergian, apalagi menginap, merasa segan dengan tawaran Sisca. “Nggak mau ah. Aku beneran nggak enak Sis. Lagian kalo aku pergi, mama sama siapa?”
Sisca merengut mendengar jawaban Rea yang menurutnya sangat tidak menyenangkan.
“Sekali-kali elo juga butuh hiburan kali Re,” celetuk Gerry yang sejak tadi hanya menjadi pendengar. “Emang elo nggak bosen di rumah mulu?!”
Rea terdiam mendengar perkataan Gerry. Kalau ingin jujur, sebenarnya dia merasa bosan di rumah sendirian. Sama seperti anak remaja lainnya, dia juga ingin merasakan liburan dengan pergi bermain keluar, dan menginap. Namun, melihat sikap Elly yang selalu dingin, dan hampir tidak pernah mengajak bicara, kecuali tentang keperluan sekolah, Rea memendam semua keinginannya dalam hati.
“Kok diem?” cecar Gerry. “Jawab dong pertanyaan gua.”
Rea menoleh ke kanan dan menatap Gerry dengan tenang. “Aku mesti jawab apaan?”
Gerry menggaruk kepala yang tidak gatal. “Cape deh,” gerutu Gerry. “Bet, cewek lo lemot amat sih?! Coba tolong elo kondisikan dulu tuh otak Rea.”
Donny dan Martin, serta Sisca terkekeh mendengar gerutuan Gerry. Suatu pemandangan yang menarik melihat perdebatan antara Rea yang selalu kalem dalam menjawab, sementara Gerry adalah orang yang tidak sabaran dan selalu berapi-api dalam berbicara.
Namun, Gerry belum menyerah dalam menghadapi Rea. Dia mencoba sekali lagi untuk membuat Rea menjawab pertanyaan sesuai keinginannya. “Kan tadi gua tanya elo nggak bosen di rumah mulu?!” Gerry mengucapkan perkataannya dengan lebih pelan dan jelas. “Nah, sekarang elo tinggal jawab, bisa kan?! Apa mesti gua ulangi lebih pelan lagi?!”
Rea mengerucutkan bibir dan menatap Gerry cukup lama. Dia bukan tidak mengerti pertanyaan pemuda itu, hanya saja Rea enggan menjawab. Karena dengan memberitahu isi hatinya, berarti Rea akan membiarkan orang lain tahu seperti apa hubungannya dengan Elly. “Kamu maunya aku jawab apa?” tanya Rea polos.
“Cape deh! Gua nyerah deh ngadepin ini anak.” Gerry melotot pada Rea yang tampak tetap tenang dan tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. “Mending elo aja yang ngomong Bet, daripada tensi gua naik.” Gerry menatap pasrah pada Robert.
“Ya udah sih, gitu aja kenapa elo mesti marah Ger,” ujar Robert tenang. “Kalo anaknya nggak mau ya jangan dipaksa.”
Mendengar jawaban Robert, emosi Gerry kembali tersulut. “Tumben amat elo jadi lembek begini?! Masa elo nggak penasaran sih sama Rea?!”
Robert mengangkat bahu sebagai jawaban.
***
“Sis, gua ada di depan rumah lo. Keluar sekarang, ada yang mau gua omongin!”
“Elo?! Di depan rumah gue?!” Tanpa sadar Sisca berteriak saat mendengar suara Robert di telepon.
“Bawel amat sih! Cepet keluar!”
Sisca menutup telepon dan bergegas keluar kamar. Dia berlari menuruni tangga dan keluar dari rumah untuk melihat apakah benar Robert datang ke rumahnya. Sisca tiba di depan gerbang rumah dengan napas terengah-engah. Dari dalam, dia dapat melihat dengan jelas tiga buah motor berjajar rapi.
Dengan rasa tidak percaya, Sisca keluar dan menemui Robert dan yang lain. “Kenapa ke sini?!”
“Mau minta makan,” sahut Gerry seenaknya sambil menyeringai lebar. “Ya mau ketemu elo lah, emangnya mau ngapain lagi.”
“Iya, maksud gue kalian mau ngapain ke sini? Kan nggak mungkin kalian semua nongol di sini kalo nggak ada maksud.”
“Nah itu baru pertanyaan yang bener!” Gerry bertepuk tangan senang mendengar perkataan Sisca. “Semua pertanyaan lo bakal dijawab sama Obet.” Gerry menepuk bahu temannya sambil menyeringai lebar. “Nah, sekarang giliran elo ngomong Bro.”
Robert yang duduk di atas motor, memutuskan turun dan berjalan mendekati Sisca yang tampak bingung. “Gua mau bikin kejutan buat Rea, dan unutk itu gua perlu bantuan elo.”
“Kejutan?! Kan ulang tahun Rea masih jauh.”
“Bukan tentang ulang tahun,” sahut Robert menekan nada suaranya supaya tetap tenang. “Dia kan bilang liburan nggak ke mana-mana, cuma di rumah aja. Nah gua pengen ajak dia seneng-seneng. Elo mau nggak bantuin gua.”
Sisca tersenyum lebar saat mendengar penjelasan Robert. “Mau banget. Elo tinggal bilang aja mau ngapain. Tapi emang kita mau ngapain?”
“Gua mau ngajak dia nginep di villa yang ada di Ban-”
“Elo gila?!” seru Sisca terkejut mendengar perkataan Robert. “Elo mau nginep duaan doang sama Rea?! Elo pikir dia cewek apaan?! Gua nggak mau!”
Seketika Robert dongkol mendengar rentetan tuduhan yang dilontarkan Sisca padanya. “Otak lo isinya ngeres semua ya?! Siapa juga mau nginep duaan doang?! Lagian gua kan ngomongnya belum selesai!”
“Ya maap deh,” ujar Sisca pelan. “Kan gua kaget waktu denger elo mau Rea nginep. Yang ada di otak gua jadinya elo berduaan doang sama Rea.” Sisca meringis sambil “Sekarang kasih tau gua apa rencana elo.”
***
“REA!” Sisca berseru sambil menggedor pintu rumah temannya. “RE!”
Rea yang sedang memasak di dapur, mendnegar suara Sisca. Setelah meletakkan penggorengan, dia bergegas ke depan untuk membukakan pintu. “Kenapa teriak-teriak?” Rea memperhatikan penampilan Sisca yang rapi. “Kamu mau ke mana?”
“Bagus ya?” Sisca memutar diri di depan Rea sambil tersenyum manis. “Gua mau pergi nginep di villa. Dan gua ke sini mau jemput elo. Kita pergi bareng.” Sisca memeluk tangan Rea sambil mempertahankan senyumannya.
“Aku nggak bisa Sis, di rumah nggak ada orang. Lagian aku juga belum ijin sama mama.” Rea berusaha menolak ajakan Sisca.
“Gampang. Elo tinggal telepon nyokap dan minta ijin. Urusan makan dan yang lainnya, itu biar jadi urusan gua aja. Elo tinggal beresin baju dan keperluan lainnya.”
“Tapi Sis ….” Rea masih berusaha menolak, walaupun dengan setengah hati.
Namun, Sisca yang sudah bisa menebak jawaban Rea, bergegas masuk ke dalam rumah untuk mencari ponsel milik temannya. Dia sudah bertekad akan melakukan apapun supaya Rea ikut pergi bersamanya ke Bandung, karena ini adalah misi rahasia yang diberikan Robert padanya. Kalau sampai gagal, dapat dipastikan pemuda itu akan memarahi dirinya.
Sisca masuk ke dalam kamar Rea dan melihat ponsel milik gadis itu tergeletak di tempat tidur. Dia bergerak cepat mengambil ponsel milik Rea, sebelum temannya sadar. Sisca membuka ponsel dan mencari nomor telepon Elly. Setelah ketemu, Sisca langsung menyalin di ponsel miliknya.
Sisca mencoba menghubungi Elly menggunakan ponsel miliknya. “Selamat pagi Tante, saya Sisca, temen sekolah Rea.”
Elly mengerutkan kening mendnegar suara seorang gadis menyapa dan memperkenalkan diri sebagai teman Rea. “Ada apa ya?!” tanya Elly datar.
“Saya mau ijin ajak Rea nginep boleh Tan?”
“Nginep? Memang kamu mau bawa Rea ke mana?!”
“Ke Bandung Tan. Dan pulangnya setelah Tahun Baru. Rencananya saya mau ajak Rea Natalan dan tahun Baruan di sana, boleh ya?”
“Terserah anaknya aja. Saya nggak ikut campur urusan dia!”
Sisca terkejut saat mendengar nada dingin dalam suara Elly. “Makasih Tan.”
Sisca menutup telepon dalam diam. Hatinya bertanya-tanya hubungan seperti apa yang dimiliki Rea dengan ibunya. Mengapa Elly bisa bersikap tak acuh pada anaknya sendiri. Sisca memandang Rea dengan sejuta pertanyaan berkecamuk di benaknya.
“Mama bilang apa?” tanya Rea yang melihat Sisca hanya diam.
“Katanya terserah kamu aja.” Sisca mencoba bersikap biasa di depan Rea. “Berarti boleh kan? Ayo gua bantuin elo beresin baju. Tapi nggak usah juga gapapa sih, elo bisa pake baju gua.”
Rea hanya diam. Dia dapat melihat dengan jelas perubahan raut wajah Sisca. Dia menebak jika Elly berkata dengan nada datar pada temannya itu, sama seperti yang selalu dilakukan ibunya saat dia masih SMP, sehingga akhirnya dia tidak memiliki teman akibat sikap Elly.
Timbul dalam hati Rea untuk sedikit memberontak pada ibunya. Dia juga ingin mengetahui reaksi Elly saat pulang dan tidak mendapati dirinya di rumah. “Aku bawa baju sendiri aja.” Rea berjalan ke lemari, mengambil tas dari atas, dan meletakkan di lantai. Rea mulai membereskan pakaian dan keperluan lain yang akan dibawa menginap.
“Ayo kita berangkat sekarang,” ujar Sisca setelah melihat Rea selesai mengepak barang.
“Tapi aku baru selesai masak. Terus makanannya gimana dong?”
“Emang elo masak apaan?”
“Cumi asin dicampur kemangi.”
“Cumi asin?” ulang Sisca perlahan. “Emang enak?” Sisca baru pernah mendengar masakan seperti itu.
“Enak. Kamu mau coba?”
“Gimana kalo dibawa ke sana aja. Sekarang gua bantuin elo beresin makanan di dapur. Setelah itu kita langsung berangkat. Kalo kelamaan, takut makin malem sampe di sananya.”
Selesai membungkus makanan dan mencuci semua perabotan, akhirnya Rea dan Sisca berangkat ke Bandung, menggunakan mobil Sisca yang dikemudikan oleh Joko yang juga akan ikut menginap.
Tepat seperti dugaan Sisca, jalanan sangat macet. Di jalan tol, mobil hanya dapat bergerak sedikit karena banyaknya mobil yang mengarah ke Bandung untuk liburan. Mereka tiba di Bandung saat matahari mulai terbenam. Joko mengendarai mobil ke arah Lembang, tempat villa milik Robert berada. Joko menghentikan mobil di depan sebuah rumah megah, dengan halaman yang luas. Setelah membunyikan klakson, mobil masuk ke dalam dan berhenti di depan undakan rumah.
“Ini villa kamu?” tanya Rea sambil menatap rumah di hadapannya.
“Bukan.”
“Lah terus punya siapa?”
“Ntar juga tau,” sahut Sisca sambil tersenyum misterius. “Sekarang kita masuk dulu yuk.” Sisca menggandeng tangan Rea dan menarik temannya untuk masuk ke dalam rumah.
Begitu masuk ke dalam, Rea menghentikan langkah saat melihat orang-orang yang duduk di sofa panjang.
“Kalian?!” Rea terbelalak saat melihat orang-orang di dalam rumah.