Meledaknya Si Gadis Tenang

2132 Kata
“Ron, kamu liat Sisca dan Liana?” tanya Rea pada Aaron. Rea baru kembali dari Ruang Guru, dan tidak melihat kedua temannya, padahal mereka berjanji akan ke kantin bersama. “Nggak tuh,” sahut Aaron yang sedang mengobrol dengan Aldo di mejanya. “Bukannya tadi pada mau ke toilet?” ujar Aldo yang kebetulan mendengar pertanyaan Rea. “Toilet?!” Rea langsung menoleh mendengar perkataan Aldo. “Iya. Tadi kan elo nggak ada, terus Sisca ngajak Liana ke toilet.” Aldo memberi penjelasan pada Rea. “Udah lama?” “Lumayan sih,” ujar Aldo sambil melihat jam tangannya. “Tapi kok pada nggak balik-balik ya?” gumamnya sendirian. “Coba elo liat ke kantin deh, siapa tau pada ke sana.” “Makasih ya.” Rea meninggalkan kelas untuk mencari kedua temannya. Perasaannya langsung tidak enak setelah mendengar perkataan Aldo. Dengan langkah tergesa, Rea mencari kedua temannya ke toilet, akan tetapi hasilnya nihil. Rea segera berlari menyusuri lorong menuju ke kantin, akan tetapi dia tetap tidak dapat menemukan Sisca dan Liana. Akhirnya Rea memutuskan untuk kembali ke kelas. “Mereka ke mana sih? Kok aku jadi nggak tenang begini.” Rea bergumam sendirian sehingga tidak melihat Robert yang sedang menghampiri dirinya. “Aduh!” rea memegang keningnya yang terkena d**a Robert. “Kamu mau ke mana?” tanya Robert yang berdiri tepat di hadapan Rea. Rea menatap Robert dengan gusar. “Kamu kenapa sih selalu muncul diem-diem?! Sakit tau.” “Siapa suruh ngelamun,” ledek Robert sambil menyentuh kening Rea. “Kenapa sendirian? Mana Sisca?” “Justru aku lagi nyari dia sama Liana. Kamu ada liat mereka nggak?” Robert mengernyitkan kening mendengar pertanyaan Rea. “Nggak, mung-” Ucapan Robert terhenti karena melihat Aaron berlari ke arahnya. “Rea!” panggil Aaron dengan suara keras. “Kenapa Ron?” tanya Rea saat pemuda itu tiba di hadapannya. Aaron mengulurkan kertas yang dilipat kecil pada Rea. “Gua disuruh ngasih ini ke elo.” Rea mengambil kertas dari tangan Aaron sambil mengernyitkan kening. “Buat aku? Dari siapa?” Aaron menatap Rea dan Robert sambil menyugar rambutnya. “Elo baca aja sendiri deh.” “Emang elo udah baca?!” tanya Robert datar. “Udah.” Aaron menatap sungkan pada Rea “Sori Re, gua bukan mau lancang, tapi gua ngerasa ada yang nggak beres aja, makanya gua buka dan baca.” Aaron menjelaskan alasannya membaca surat yang ditujukan pada Rea. “Iya gapapa.” Rea tidak ingin mempermasalahkan hal sepele, karena ada yang lebih penting dari itu. Rea membuka lipatan kertas dan membaca pesan yang ditujukan untuknya. Matanya terbelalak dan tubuhnya menjadi kaku seketika setelah mengetahui isi surat. Robert yang sejak tadi memperhatikan Rea, menjadi curiga dengan perubahan sikap gadis itu. “Kenapa?” Robert bertanya sekaligus merebut surat dari tangan Rea. Dia membaca isi pesan yang tertulis dengan cepat. “Terus kamu mau apa?” Robert menatap Rea yang terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya. “Emang ada lagi yang bisa dilakuin selain ke sana?” sahut Rea tenang. “Tapi ini bahaya Re, kamu bisa kenapa-kenapa,” ujar Robert. “Apalagi aku yakin kalo Lydia pasti dapet bantuan dari anak lain. Makanya dia berani kayak gini.” “Aku nggak takut,” sahut Rea dengan sorot mata dingin. “Aku bakal lebih nyesel kalo Sisca dan Liana sampe kenapa-kenapa.” Robert mengembuskan napas gusar mendengar perkataan Rea dan juga sikapnya yang sangat tenang. “Kalo gitu aku sama yang lain juga bakal ikut ke sana.” “Gua ikut!” Aaron pun menyodorkan diri dengan sukarela setelah tahu kalau Rea akan pergi untuk menolong Sisca dan Liana. “Jangan!” cegah Amel. Dia tidak ingin ada yang terkena masalah karena dirinya. “Nanti kalo ketauan sama sekolah bisa bahaya. Aku nggak mau kalian keseret masalah karena aku.” “Tenang aja Re,” sahut Aaron tenang. “Nggak akan ada yang berani ngusik Robert, termasuk guru.” Rea terdiam mendengar perkataan Aaron. Dia menatap bergantian pada kedua pemuda di depannya. “Oke, kalian boleh ikut,” ujar Rea. “Tapi ada syaratnya.” “Apaan lagi deh,” gerutu Robert. “Jangan turun tangan sampe memang mungkin keadaannya udah nggak baik. Biar aku yang coba selesaiin dulu, bisa kan? Karena ini kan urusan aku sama Lydia.” Robert menyilangkan kedua tangan di depan d**a. “Kamu tuh keras kepala banget deh! Kalo kenapa-kenapa gimana?!” “Nggak akan,” sahut Rea tenang dan penuh keyakinan. “Dan aku nggak mau ada yang ikut lagi, kecuali Gerry, karena aku tau kamu ke mana-mana selalu sama dia.” Melihat sikap teguh Rea, akhirnya Robert mengalah. “Oke. Tapi aku akan langsung turun tangan saat liat kamu luka. Dan aku nggak mau denger bantahan lagi. Pulang sekolah aku tunggu di parkiran.” Robert meninggalkan Rea dan kembali ke kelas untuk memberitahu Gerry tentang hal ini. Dia sangat yakin sahabatnya akan ikut, apalagi jika tahu Sisca yang berada di tangan Lydia. Pantas saja hari ini Lydia dan Ria tidak masuk sekolah. Ternyata karena hal ini. Rea berjalan kembali ke kelas ditemani Aaron yang berjalan di sisinya. Dalam perjalanan, dia mengirimkan pesan pada Arya dan meminta bantuan pemuda itu untuk menemani dirinya nanti sepulang sekolah. Dibandingkan Robert, Rea lebih percaya pada Arya. Selain karena sudal lama saling mengenal, Arya juga lebih sabar dan tentu saja kemampuan beladirinya tidak perlu diragukan lagi. *** Aaron menunggu di depan kelas sesuai perintah Robert yang tidak ingin Rea pergi sendirian. Dia berdiri hingga Rea keluar dari kelas. “Ngapain di sini?” tanya Rea. “Nunggu elo lah, emang ngapain lagi.” “Ngapain nunggu aku?” “Disuruh Obet, biar elo nggak kabur sendirian.” Rea mendengkus kasar mendengar perkataan Aaron. Namun, Rea tidak membantah dan berjalan menuju tempat parkir didampingi oleh Aaron. Tiba di tempat parkir, Rea tetap diam dan hanya menatap tajam pada Robert yang sudah duduk di atas motor. Tanpa banyak bicara, Rea mengambil helm dan naik ke motor. Robert mengendarai motor menuju tempat yang diinginkan Lydia dalam surat. Tiba di tempat tujuan yang ternyata adalah sebuah rumah kosong yang kelihatannya sudah lama tidak dihuni. Rumput liar tumbuh dengan subur, jendela dan pintu pun sudah rusak. Rea turun dari motor karena melihat Arya sudah tiba dan berdiri sambil memperhatikan keadaan rumah. Begitu melihat Rea, Arya bergegas menghampiri gadis itu. Robert terdiam dan menatap tajam pada pemuda tidak dikenal, akan tetapi tampak akrab dengan Rea. Dia bahkan mendengar cara bicara Arya yang begitu santai pada Rea. “Kamu yakin Re?” tanya Arya setelah berdiri di hadapan Rea yang masih mengenakan seragam sekolah. “Iya. Aku nggak suka ngeliat orang seenaknya aja kayak gini.” Sorot tajam yang terpancar dari kedua bola mata Rea membuat Arya tersenyum kecil. Dia cukup mengenal Rea, yang pada dasarnya adalah gadis yang tidak suka membuat masalah. Namun, jangan coba-coba untuk mengusik gadis itu, apalagi mengganggu orang-orang yang disayang. “Oke, kalo itu mau kamu. Pesen aku cuma satu, hati-hati dan selalu waspada.” “Iya. Kita masuk sekarang?” Arya menjawab dengan anggukkan kepala dan berjalan memasuki pekarangan rumah dengan tenang. Ditemani Arya, Rea memasuki rumah yang sudah tidak memiliki pintu. Robert yang melihat hal itu, berjalan mengikuti diiringi Gerry dan Aaron. Baru saja melalui melewati sebuah ruangan yang cukup luas, Rea dan Arya dihadang oleh dua orang pemuda yang langsung menyerang mereka. Tidak perlu waktu lama untuk Rea dan Arya menjatuhkan kedua pemuda itu. Setelah itu mereka masuk ke dalam mencari keberadaan Sisca dan Liana. Rea dan Arya tiba di halaman belakang yang luas dan tampak Sisca dan Liana berlutut, sementara Lydia dan Fanny berdiri di belakang kedua temannya. Juga tampak Ria, Mesya dan beberapa pemuda yang tertawa mengejek pada Rea dan Arya. “HAH! akhirnya dateng juga lo!” seru Lydia sambil tersenyum mengejek. “Gua pikir elo takut dan nggak akan dateng buat nolongin mereka!” Rea tidak membalas perkataan Lydia yang terdengar sangat menyebalkan dan angkuh. Rea sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan gadis itu dan menoleh ke arah Arya. “Lumayan banyak juga.” “Iya, kamu yakin?” tanya Arya sambil tersenyum kecil. Dia bukan meragukan kemampuan Rea, akan tetapi sedikit khawatir terhadap mereka semua yang menjadi lawan gadis itu. “Nggak, aku ke sini cuma mau nolongin Sisca dan Liana. Mereka nggak salah, dan aku nggak mau mereka diapa-apain karena kedengkian cewek yang namanya Lydia.” “Memang kamu punya masalah apa sama itu anak?” “Nanti aja ceritanya,” ujar Rea dengan suara pelan. “Sekarang kita tolongin Sisca dan Liana dulu.” Usai berkata, Rea melangkah maju dengan tenang, akan tetapi matanya fokus memperhatikan setiap gerakan dari arah depan. “Lepasin Sisca sama Liana!” “Kalo gue nggak mau?!” sahut Lydia dengan nada menantang. “Kecuali elo bisa ngalahin mereka semua, baru gua akan lepasin temen-temen lo!” Rea mengembuskan napas mendengar perkataan Lydia. “Kenapa harus pake cara kayak gini sih? Memangnya aku bikin salah apa sama kamu? Kenapa kamu segitu nggak sukanya sama aku?” Rea masih mencoba sabar dan berusaha menghindari masalah. “CIH! Dasar cewek munafik! masih pura-pura nggak tau salah lo! Nggak usah berlagak polos dan nggak tau apa-apa deh! Elo itu cewek yang udah ngerebut Robert dari gua, dan gua benci kalo ada yang ngambil milik gua! Jadi ini akibatnya kalo berani ambil milik gua!” Rea terdiam karena bingung dengan perkataan Lydia. Dia sama sekali tidak pernah merebut Robert, bahkan masih berusaha menghindari pemuda itu. Arya sedikit terkejut ketika mengetahui duduk permasalahan yang terjadi. Tidak menyangka semua ini hanya karena cemburu buta seorang gadis pada Rea. Di saat itulah, Lydia memberi kode pada para pemuda untuk maju. Arya yang sudah bersiap langsung menahan mereka. Begitu sadar dari rasa terkejutnya, Rea maju dan membantu temannya. Dengan bantuan Arya, Rea berhasil menghindari para pemuda dan merangsek maju mendatangi Lydia dan ketiga temannya yang sedang tertawa keras menyaksikan hal yang terjadi di depan mereka. Begitu tiba di depan Lydia, Rea langsung dihadang oleh salah satu pemuda yang tidak ikut maju. Dengan mudah Rea mengelak dari tinju yang diarahkan ke wajahnya, dan mengulurkan kaki kanan ke depan sehingga pemuda itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah. Awalnya, Rea masih ingin bersikap baik, akan tetapi saat melihat keadaan Sisca dan Liana, amarah memenuhi hati Rea. Dia tidak habis pikir bagaimana mungkin Lydia melakukan hal yang tidak patut pada kedua temannya. Dia menghampiri Lydia dan ketiga temannya dengan langkah mantap sambil mengepalkan kedua tangannya. Melihat hal itu, Fanny, Ria, dan Mesya maju dan berusaha menjatuhkan Rea secara bersamaan. Namun, dengan mudah Rea menghindari mereka, dan membalas dengan menjatuhkan ketiga gadis itu. Dia sudah tidak mempedulikan teriakan dan rintihan Fanny, Ria, dan Mesya. Rea hanya memberikan sedikit pelajaran untuk semua yang sudah mereka lakukan pada Sisca dan Liana. Melihat ketiga temannya sudah tidak berdaya, dengan langkah sedikit gemetar, Lydia maju mendatangi Rea. Dengan tatapan dingin, Rea menarik tangan Lydia yang berusaha menjambak rambut ,kemudian memelintir tangan gadis itu hingga posisi Lydia membelakangi Rea. “AW! SAKIT! LEPASIN!” Lydia berteriak dengan suara keras sambil menahan sakit di tangan kanannya. “Kalo aku nggak mau?!” bisik Rea tepat di telinga Lydia dengan suara dingin. Lydia membeku saat mendengar suara Rea yang begitu dingin. Selama ini Lydia berpikir Rea hanya berpura-pura mahir beladiri, dan supaya Robert selalu melindungi gadis itu. Ternyata perkiraannya salah. Tanpa bantuan Robert, Rea tetap dapat berdiri sendiri, bahkan mampu menolong Sisca dan Liana tanpa bantuan Robert. “Aku nggak mau berbuat kasar sama kalian semua, tapi karena kalian yang memulai, maka aku nggak bisa diem dan cuma ngeliatin kalian berbuat kasar sama temen-temen aku.” Rea melanjutkan perkataannya sambil memberikan sedikit tekanan di tangan Lydia. “AW! SAKIT TAU!” bentak Lydia “Sakit ya?” ulang Rea dingin. “Dengerin aku baik-baik. Kalo aku tau kamu ngelakuin hal ini lagi sama mereka berdua, atau nyoba nyakitin aku, maka aku akan bertindak lebih keras dari ini, paham?! Satu lagi, aku nggak pernah ambil Robert dari kamu, karena dia bukan milik kamu! Jangan salahin aku kalo dia nggak suka sama kamu!” Rea melepaskan cekalan tangannya dan sedikit mendorong Lydia hingga gadis itu tersungkur. “Asal elo tau ya Lyd, gua nggak pernah suka sama elo, karena sikap elo yang selalu egois dan mau menang sendiri. Elo juga nggak malu pake kekuasaan dan uang bokap lo untuk dapetin semua yang elo mau, walaupun caranya nggak bener!” ujar Robert yang sudah berdiri di sisi Rea. “Mungkin Rea emang nggak punya materi berlimpah kayak elo, tapi dia punya hati yang baik dan tulus. Dia nggak peduli dirinya sendiri dan mau nolongin teman yang kesusahan, nggak kayak elo yang selalu bersikap kasar. Nggak cuma ke orang lain, tapi juga ke temen-temen lo sendiri! Ini peringatan terakhir dari gua, jangan pernah nyentuh Rea dan temen-temennya lagi, karena gua yang akan turun tangan. Ngerti?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN