Peringatan Keras

2042 Kata
"Rea …!" Rea yang sedang berjalan menuju ke kelas, menengok ke belakang ketika Sisca memanggil namanya. Sisca mempercepat langkahnya menuju ke arah Rea. "Rea jahat …! Nggak mau kasih alamat rumah lo. Jadi kan pas elo sakit gue nggak bisa dateng!" "Yang penting kan sekarang aku udah masuk Sis," ujar Rea. "Kenapa sih elo nggak mau gue tau rumah lo?" "Gapapa, nanti juga tau kok," ujar Rea sambil meneruskan langkah menuju kelas. Ketika mereka sampai di kelas, ada beberapa anak yang melihat. "Eh Rea udah masuk!" seru mereka. "Sakit apa lo Re?" tanya teman yang lain. "Sakit rindu …." ujar beberapa anak cowok yang ada di kelas. Rea tersenyum menanggapi kelakar teman-temannya. Sampai di meja, Rea meletakkan tas dan duduk. "Re, udah bikin PR Matematika?" tanya Nita sambil menghampiri meja Rea. "Emang ada PR?" tanya Rea. "Aku belum bikin." "Ah elo Re …. Tadinya gue mau pinjem PR lo," ujar Nita. "Matematika sehabis istirahat kan?" tanya Rea. "Iya," jawab Sisca yang duduk di sebelah Rea. Bel masuk berbunyi. Anak-anak berjalan keluar kelas menuju lapangan luar untuk upacara bendera. Rea berjalan bersama Sisca menuju ke lapangan. "Elo yakin udah sehat Re?" tanya Sisca. "Udah dong. Kalo belum, masa iya aku masuk sekolah." Mereka berdua berjalan memasuki lapangan, dan menuju ke barisan kelas mereka. "Re, baris di belakang aja ya," pinta Sisca. "Hm." Rea mengikuti kemauan Sisca dan mereka menuju ke barisan paling belakang. "Re lihat tuh," ujar Sisca sambil menyodok rusuk Rea. "Liat apaan?" "Itu pemimpin upacara," sahut Sisca. Rea melihat ke arah depan. Ternyata Calvin yang menjadi pemimpin upacara. "Terus kenapa?" tanya Rea. "Keren kan," ujar Sisca. Rea memandangi wajah Sisca. Terlihat semburat merah di pipi temannya itu. "Kamu suka sama dia?" bisik Rea. "Ngaco lo," bantah Sisca tersipu. "Suka juga gapapa kali Sis," bisik Rea. "Mana mungkin dianya suka sama gue," ceplos Sisca. "Jadi bener kamu suka sama Kak Calvin?" cecar Rea. "Nggak lah!" bantah Sisca. Rea diam dan tidak membahas hal itu lagi. Rea tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Beda hal nya kalau Sisca yang bercerita terlebih dahulu. Sedangkan di barisan lain, Gerry sibuk mencari-cari seseorang. "Bet," bisik Gerry. "Hm." "Cewek lo baris di belakang tuh," bisik Gerry usil. "Biarin aja. Gue udah liat kok," jawab Robert kalem. Sejak Rea dan Sisca masuk lapangan, dirinya sudah melihat dan sudah tahu kedua gadis itu ada di barisan belakang. Dan hatinya senang melihat Rea baik-baik saja. "Uh, dasar lo! Kumat deh Gunung Es nya," rutuk Gerry. "Emang gue mesti gimana? Harus teriak-teriak gitu?" tanya Robert dingin. "Susah kalo ngomong sama Gunung Es! Nggak nyambung!" gerutu Gerry gemas dengan dinginnya sikap Robert. Robert sudah menceritakan perasaannya ke Rea pada Gerry beberapa waktu yang lalu. Dan sebagai sahabat, tentu saja dirinya senang karena pada akhirnya Robert mau membuka hati untuk seorang gadis. Apalagi gadis seperti Rea yang mendapat nilai lebih di mata Gerry. "Udahan ngedumelnya. Tuh upacara mau mulai. Ntar ketauan ngomong, poin lo berkurang," ujar Robert. Upacara berjalan dengan lancar, begitu juga saat pembina upacara memberikan nasihat. "Akhirnya selesai juga," desah Sisca lega ketika upacara berakhir. Para siswa dan siswi mulai meninggalkan lapangan sesuai kelas masing-masing menuju kelas mereka. Tanpa Rea dan Sisca sadari, Lydia cs mengikuti mereka dari belakang, menanti kesempatan untuk merudung mereka. Namun, Robert yang sudah melihat gelagat yang tidak baik dari Lydia cs, juga ternyata mengikuti dari belakang. Ketika Rea dan Sisca berjalan menuju ke toilet, Lydia cs saling berpandangan dengan senyum sinis di wajah mereka. “Fan, elo tunggu di luar. Jangan ijinin siapapun buat masuk. Gue dan Ria ada urusan di dalam,” ujar Lydia pada Fanny. “Oke,” ujar Fanny. “Elo berdua hati-hati, dan jangan kasih ampun buat yang di dalam. Biar mereka tahu siapa elo Lyd,” ujar Fanny bersemangat. “Sip.” Lydia dan Ria melangkah masuk ke dalam toilet. Mereka menunggu sampai Rea dan Sisca keluar. “Tuh mereka keluar,” bisik Ria pada Lydia. Sementara itu, Rea yang sudah terlebih dahulu keluar dari kamar kecil sebenarnya sudah melihat Lydia, tetapi dia diam karena tidak ingin membuat masalah. “Re, ada Lydia,” bisik Sisca pada Rea yang saat itu baru saja keluar dari kamar kecil. “Hm.” “Kita nggak akan bisa lewat Re. Pintu dijaga sama mereka,” bisik Sisca lagi. “Kamu takut?” tanya Rea. “Sedikit,” jawab Sisca jujur. “Selama kamu nggak bikin salah, kenapa harus takut?” Lydia yang melihat Rea dan Sisca sedang berbisik, berpikir bahwa mereka takut kepada dirinya, dan itu membuat Lydia merasa di atas angin. “Kenapa elo orang nggak keluar dari sini?! “ tanya Lydia dengan nada suara yang menyebalkan. “Bukan urusan elo kan?!” balas Sisca. “Elo nyari ribut?!” bentak Lydia. “Nggak,” bantah Sisca. “Kan tadi elo duluan yang ngomong. Gue kan cuma menjawab pertanyaan elo.” “Banyak mulut lo!” bentak Lydia. Lydia kemudian berjalan maju menghampiri Rea dan Sisca sambil berkacak pinggang ditemani oleh Ria. Setelah tiba di depan mereka berdua, Lydia mengangkat tangan kanannya ke arah kepala Sisca. Namun, sebelum tangan Lydia menyentuh kening Sisca, tangan Rea terlebih dahulu mencengkram tangan Lydia. “Jangan coba-coba kamu sentuh kepala Sisca,” ujar Rea dengan nada dingin. “Lepasin tangan Gue!” bentak Lydia. Rea menuruti perkataan Lydia. Dia melepaskan tangan Lydia, tetapi matanya tetap mengawasi gerakan Lydia. Lydia yang melihat tangannya dilepaskan oleh Rea, menyambar kerah baju Rea dengan cepat. “Urusan gue sebenernya sama elo! Jadi cewek jangan sok kecakepan deh! Jauhin Robert! Robert itu milik gue!” ujar Lydia penuh emosi. Rea hanya diam dan mendengarkan. “Udah selesai ngomongnya?” tanya Rea dengan tenang. Lydia semakin marah diperlakukan seperti itu oleh Rea. Dia semakin mempererat cengkramannya pada kerah baju Rea. “Ternyata kemampuan elo cuma segini aja?” ledek Lydia dengan nada meremehkan. Rea menatap dalam mata Lydia dan tersenyum dingin. Dengan sekali sentak, Rea berhasil melepaskan tangan Lydia dari kerah bajunya, sekaligus memelintir tangan Lydia. “AW!” jerit Lydia. “LEPASIN TANGAN GUE!” Lydia berkata sambil berteriak menahan sakit. “Kalo aku nggak mau?” sahut Rea. “LEPASIN TANGAN GUE SEKARANG! KALO NGGAK, GUE BAKAL BIKIN ELO NYESEL!” ancam Lydia. “Dengerin omongan aku baik-baik!” Rea berkata dengan suara dingin. “Bukan aku yang ngedeketin Robert! Kalo mau marah, sana marah sama Robert! Dan jangan pernah ngomong kasar sama aku! Oh iya, satu lagi jangan pernah coba-coba sentuh saya dan Sisca lagi! PAHAM?!” Setelah mengatakan semua, Rea melepaskan cengkramannya pada Lydia dan beranjak keluar dari toilet diikuti oleh Sisca. Setiba di luar toilet, Rea terkejut karena ada Robert dan Gerry yang bersandar pada pilar. “Ngapain kalian di sini?” tanya Rea. “Menurut lo?” Gerry balik bertanya. Rea memandang ke arah Robert dengan pandangan bertanya. Ditambah Fanny yang hanya berdiri diam tidak jauh dari tempat Robert berdiri. “Kamu kenapa nggak masuk ke kelas? Apa nggak takut dimarahin sama guru?” tanya Rea pada Robert. Robert menghampiri Rea dan memperhatikan Rea dari ujung rambut sampai kaki. “Elo gapapa?” tanya Robert lembut. Baik Fanny dan Gerry terbengong mendengar Robert berbicara dengan nada yang lembut pada Rea. Begitu juga dengan Lydia dan Ria yang berdiri tidak jauh dari toilet. “Aku gapapa. Kamu balik ke kelas, ntar dimarahin.” Rea mengusir Robert. “Tadi gue liat Lydia cs ngikutin kalian. Jadi gue ikut ke sini pengen tau ulah apa lagi yang bakal dilakuin Lydia ke kalian.” Robert menjelaskan. "Nggak ada kok. Buktinya aku baik-baik aja kan," sahut Rea. Robert tidak percaya dengan omongan Rea. Dia melihat kerah baju kiri Rea sedikit kusut. Namun, karena Rea mengelak berkata jujur, Robert pun memilih diam. “Aku beneran gapapa kok. Jadi mending kalian balik ke kelas. Kami juga mau balik ke kelas,” ujar Rea. “Elo balik duluan sana!” Robert mengusir Rea. “Gue ada perlu sama mereka.” Robert menunjuk ke arah Fanny dan ke arah toilet. “Ya udah. Kalo gitu aku ke kelas dulu ya.” Rea pergi dan menggamit tangan Sisca. “Kak Gerry kami ke kelas dulu,” ujar Rea sebelum berlalu. “Bye ….” Gerry melambaikan tangannya pada Rea dan Sisca. Setelah Rea dan Sisca hilang dari pandangan, sikap Robert berubah menjadi dingin. “LYDIA! KELUAR SEKARANG!” Robert berkata dengan tenang, tapi nada suaranya begitu dingin. Lydia dan Ria berjalan keluar dari toilet dengan langkah perlahan karena mereka takut. Mereka berdua menunduk dan tidak berani memandang Robert. Dengan tenang, Robert berjalan menghampiri Lydia cs. “Jangan pernah lo deketin Rea lagi. Selama gue masih ada di sekolah ini, dia adalah tanggung jawab gue. Kalo elo ganggu dia, maka gue yang akan turun tangan. P-A-H-A-M?!” “Kenapa elo peduli sama itu cewek?! Kenapa elo nggak pernah bersikap seperti itu ke gue?!” tanya Lydia sambil menahan emosi. “Cewek itu punya nama!” sentak Robert. “R-E-A! Itu namanya! Ngerti lo?!” Gerry menahan bahu Robert ketika dia melihat sahabatnya mulai emosi. "Bet, sabar,” bisik Gerry di telinga Robert. Robert seolah tersadar, dan mulai dapat mengendalikan dirinya kembali. “Oh iya. Elo tanya kenapa gue peduli sama Rea?” tanya Robert. “Jawabannya sederhana. Karena gue punya perasaan sama Rea. Dan karena dia selalu memperlakukan gue bukan karena ngeliat harta keluarga gue.” “Percuma elo ngomong ke mereka Bet,” sela Gerry. “Mereka nggak akan ngerti, karena otak mereka itu nggak pernah dipake untuk mikir hal yang lain selain nyusahin orang.” “Inget omongan gue, jangan pernah ganggu Rea lagi! Paham!” Setelah mengatakan itu, Robert dan Gerry pergi meninggalkan Lydia cs dan kembali ke kelas. “Gue baru ini lagi liat elo emosi Bet sama Lydia,” ujar Gerry. “Karena dia mengganggu hal berharga yang gue punya,” ujar Robert. “Gue jadi pengen tau, apa yang dilakuin cewek lo tadi di kamar mandi?” “Menurut lo?” Robert balik bertanya. “Baru ini gue liat ada yang berani ngelawan plus ngalahin Lydia cs.” “Elo mesti kenalan sama Rea. Dan nanti elo akan tau kenapa gadis itu berharga buat gue.” “Dan gue bahagia ngeliat elo bisa seperti sekarang Bet,” ujar Gerry tulus. *** Obet : ron, Rea gimana? Aaron yang sedang mengerjakan ulangan, perlahan mengambil ponsel dari laci meja. "Ngapain ini anak chat gue," gumam Aaron. Dibukanya pesan dari Robert. Aaron tertawa geli membaca pesan Robert. Pelan-pelan, Aaron memiringkan badannya sambil sedikit menelungkup ke arah Rea. Kemudian dia mengambil foto Rea melalui kamera ponsel. Setelah itu dia mengirimkan foto tersebut pada Robert. Kebetulan Sisca melihat perbuatan Aaron. Saat dia akan memberitahu Rea, Aaron meletakkan jari telunjuk di bibirnya. Sisca terpaksa mengangguk. Namun, dia bertekad akan menginterogasi Aaron tentang hal ini. Sedangkan Robert, begitu menerima pesan balasan dari Aaron tersenyum senang melihat foto Rea. Setelah puas memandangi foto Rea, Robert kembali mengirimkan pesan pada Aaron. Obet : ron Obet : andai istirahat gue nggak bisa ke sana, gue titip ya Obet : tadi lydia nyegat dia di toilet "Wah runyam urusannya kalo begini sih," desah Aaron ketika membaca pesan dari Robert. Aaron : oke Bel istirahat pertama berbunyi. Secepat yang Sisca bisa, dia mencegat Aaron yang akan keluar kelas. Sisca menarik seragam belakang Aaron. "Mau ke mana lo?!" desis Sisca. "Eh ini anak ngapain sih?! Lepasin baju gue!" ujar Aaron sengit. "Nggak akan! Ikut gue dulu. Gue ada perlu ma elo!" Sisca mendorong Aaron ke arah toilet. "Gue mau tanya, jawab jujur!" ujar Sisca setelah mereka tiba di dekat toilet. "Apaan sih Sis?!" ujar Aaron tidak suka. "Jangan kayak preman deh!" "Kenapa elo ngambil foto Rea?! Elo suka sama dia?! Atau jangan-jangan elo disuruh orang?!" Aaron tertawa mendengar berondongan pertanyaan Sisca. "Ditanya malah ketawa. Jawab ih!" sentak Sisca kesal. "Tenang aja. Gue nggak suka sama Rea. Dan foto Rea juga udah gue hapus." "Mana? Coba gue liat!" sela Sisca jutek. Aaron menyerahkan ponselnya pada Sisca. Dan benar seperti perkataan Aaron, foto Rea memang sudah tidak ada. "Terus elo foto buat apaan?" "Robert yang minta," jawa Aaron jujur. "Kak Robert? Buat apaan? Ngapain juga nyuruh elo?" cecar Sisca. "Woi! Nanyanya satu-satu," ujar Aaron. "Tinggal jawab aja, susah banget." "Robert itu kakak sepupu gue. Puas?! Kalo emang elo pinter, pikir aja sendiri oke! Gue mau ke kantin." Aaron bergegas meninggalkan Sisca yang masih terbengong mendengar perkataan Aaron.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN