Sementara itu di kelas, Sisca sedang menahan kantuk mendengarkan guru mengajar Biologi. Rea tersenyum melihat kelakuan Sisca. Dia mengeluarkan kotak kecil berisi permen yang selalu dia bawa. Rea mengeluarkan sebutir permen asam. Kemudian Rea membangunkan Sisca dan memberikan permen tersebut pada Sisca.
"Makan ini dulu Sis."
Rea menyorongkan permen ke arah Sisca yang langsung diambil dan dibuka oleh Sisca.
"Apaan nih!" desis Sisca. "Rasanya ngajak ribut ih!"
Rea tertawa dan menutupi mulutnya supaya tidak terdengar oleh guru.
"Biar kamu seger Sis," ujar Rea masih dengan tawanya.
"Kunyuk," gerutu Sisca pelan.
"Nggak boleh mengumpat, dosa tau." Rea menggoda Sisca.
"Biarin. Sebel ma elo Re."
"Tapi kan kamu jadi nggak ngantuk lagi Sis."
"Andrea!"
"Iya Pak," jawab Rea ketika namanya dipanggil oleh David, guru Biologi.
"Ngobrol sekali lagi, keluar kamu dari kelas!"
"Maaf Pak," ujar Rea.
Rea dan Sisca mengikuti sisa pelajaran dalam diam. Rea mencatat setiap materi yang diberikan sekalian menghafalnya.
Bel istirahat kedua berbunyi. Sebagian anak-anak ada yang keluar, ada juga yang tetap tinggal di kelas.
"Re, jadi mau bikin tugas Mat?" tanya Sisca.
"Males," jawab Rea singkat.
"Terus gimana dong? Ntar kita disuruh lari keliling lapangan. Malesin banget," ujar Sisca.
"Terima nasib aja Sis," ujar Rea.
Saat ini pun Rea sedang memikirkan cara supaya terbebas dari hukuman karena tidak membuat tugas.
Rea terdiam memandangi jendela yang menghadap ke belakang sekolah.
Tiba-tiba melintas sebuah ide di kepalanya. Rea bergegas bangkit berdiri dan menghampiri jendela. Dia mencoba membuka jendela besar dan melongok keluar. Rea pun mulai mengukur ketinggian jendela dengan lantai yang dia pijak. Senyum manis menghiasi wajah Rea.
Dia melihat ke sekeliling kelas. Tidak ada Ivana dan Livia. Senyum Rea semakin lebar.
"Elo kenapa senyum-senyum gitu Re?" tanya Sisca yang bingung melihat Rea.
"Kamu mau supaya nggak dihukum?" tanya Rea.
Sisca mengangguk. "Tapi resikonya lumayan Sis. Kamu berani?" tanya Rea lagi.
"Demi apapun deh, gue rela. Asal nggak disuruh lari keliling lapangan," ujar Sisca. "Emang mesti ngapain Re?"
"Aku mau kabur," ujar Rea.
"Lo gile?!" pekik Sisca."
"Sstt!" desis Rea sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya. "Kalo nggak mau ikut, gapapa. Aku pergi sendiri."
Selesai berkata, Rea membereskan buku dan alat tulis, memasukkan ke dalam tas. Rea melemparkan tasnya keluar jendela.
Anak-anak yang ada di kelas memperhatikan Rea. Rea menempelkan jari telunjuk di bibirnya kepada mereka. Mereka pun mengangguk mengerti.
Rea menggeser meja ke dekat jendela. Anton yang menaruh hati pada Rea, bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu. Dia mengawasi situasi supaya tidak ada yang tahu kepergian Rea.
Rea naik ke atas meja, kemudian naik ke jendela. Setelah posisi nya stabil, Rea melompat turun.
"Yes," ujar Rea setelah mendarat sempurna di lantai. "Kamu mau ikut nggak Sis?" tanya Rea pada Sisca yang melongok dari kelas.
"Mau, tapi gue takut jatuh," ujar Sisca.
"Nggak akan. Aku bantuin," ujar Rea. "Cepetan kalo mau, ntar keburu bel bunyi."
Dengan membulatkan tekad, Sisca mulai mengikuti langkah Rea.
"Bisa kan," ujar Rea pada Sisca yang juga sudah mendarat dengan baik di luar kelas.
Sisca tertawa mendengar ucapan Rea. Rasanya menyenangkan juga bisa melakukan hal seperti ini.
"Ayo kita pergi." Rea menarik tangan Sisca.
Mereka berjalan menuju tembok sekolah bagian ujung yang temboknya tidak terlalu tinggi.
"Rasanya ada yang aneh deh," ujar Rea setelah tiba di tembok ujung sekolah.
"Kenapa?" tanya Sisca.
"Tumpukan batu batanya kok rapi banget, kayak memang sengaja diatur buat kabur," ujar Rea.
"Ah, perasaan elo aja kali Re. Emang begini kan cara menumpuk batu bata," sahut Sisca.
"Ayo buruan, kamu naik duluan. Sampe di atas, kamu jongkok terus lompat ya," Rea mengajari Sisca.
"Kenapa nggak elo duluan yang naik Re?" tanya Sisca.
"Kalo kamu nggak bisa, aku bisa nolongin dari sini," sahut Rea.
Akhirnya Sisca naik duluan dan mengikuti instruksi dari Rea. Setelah Sisca berhasil melompat, barulah Rea yang melompat.
"Sekarang kita ke mana Re?" tanya Sisca.
Rea melihat-lihat keadaan sekitar. Mereka ada di sebuah g**g dan ke arah luar g**g ada sebuah warung.
"Kita ke sana," ujar Rea sambil menunjuk ke arah warung.
"Yakin kita aman Re?" tanya Sisca sangsi.
"Kita di sana aja dulu. Aku cuma pengen menghindari pelajaran Matematika doang," jawab Rea.
Rea berjalan mendahului Sisca menuju warung. Sisca mengikuti di belakang.
"AW!" pekik Sisca ketika keningnya membentur kepala bagian belakang Rea. "Kenapa berhenti sih!" gerutu Sisca sambil memegangi keningnya yang sakit.
Sisca melihat ke depan, dan ikut terkejut. Di dalam warung ada sebuah penampakan yang menakutkan.
Robert sedang berdiri berkacak pinggang dan melotot ke arah mereka. Ada juga Gerry dan dua orang teman Robert.
"Metong kita Re," bisik Sisca. Dia menundukkan kepala dan perlahan membalikkan badan hendak kabur.
"Mau ke mana lo Sis?!" ujar Robert dengan nada dingin.
"Eng …, mau …." Sisca menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sisca menyodok punggung Rea minta pertolongan. "Kita mesti ngapain?"
"Ngapain kamu ke sini Re?!" tanya Robert.
"Kamu? Sejak kapan bahasa lo berubah Bro?" tanya Gerry sambil tertawa jahil.
Kedua teman Robert berusaha menahan tawa mereka mendengar perkataan Gerry.
"Re!" panggil Robert.
"Aku kabur dari kelas. Males ngikutin pelajaran Mat," jawab Rea santai. "Emang nggak boleh?"
Robert menghela napas mendengar jawaban gadis itu.
"Elo ke sini lewat mana? Kok tau warung ini?" cecar Robert.
"Kita kabur lewat jendela kelas Kak," sahut Sisca. "Terus kita lewat belakang sekolah, yang ada tumpukan batu bata."
"Kalian lompat?" tanya Gerry penasaran.
"Iyalah. Masa terbang. Kita kan bukan burung," ujar Sisca.
"Serius?" tanya kedua teman Robert.
"Gue pantang ngebohong," ujar Sisca gemas.
"Beneran Re kamu lompat dari kelas? Dan lompat dari belakang sekolah?" Robert mencoba menegaskan ucapan Sisca.
"Hm." jawab Rea.
Kembali Robert menghela napas sambil mengacak rambutnya. Nekat! Satu kata untuk gadis ini.
Gerry tertawa tanpa suara melihat kelakuan sahabatnya. "Akhirnya, ketemu juga ini anak sama lawan yang seimbang," seloroh Gerry dalam hati.
"Eh, jangan pada berdiri aja. Sini duduk," ajak Gerry pada Rea dan Sisca.
Gerry sengaja memanas-manasi Robert dengan bersikap ramah pada kedua gadis itu. Dia tahu sahabatnya sedang mencoba menahan kesal karena perbuatan Rea yang berani kabur.
Robert mendelik ke arah Gerry yang dibalas Gerry dengan mengangkat bahu.
"Mau minum apa?" tanya Gerry.
"Es teh manis aja," jawab Sisca.
"Mpok Ati!" panggil Gerry. "Kenalan dulu sama pacarnya Robert," ujar Gerry.
Robert menoyor kepala Gerry dari belakang, kemudian dia duduk di samping Rea. Robert senang karena ada Rea, tapi juga kesal membayangkan gadis ini kabur dari kelas ditambah melompati tembok belakang.
"Eleuh …, eleuh cantik banget yak pacarnya elo Bet," ujar Mpok Ati setelah melihat Rea. "Akhirnya punya pacar juga lo Bet. Gue pikir elo mau ngejomblo terus."
"Mpok indomi gue mana?" Robert mengalihkan perkataan Mpok Ati.
"Oh iya. Gue sampe lupe gegara ngeliat pacar elo. Tunggu bentar ye." Mpok Ati bergegas menuju kompor untuk membuatkan pesanan Robert.
"Elo mau minum apa Re?" tanya Robert berbisik di telinga Rea.
"Aku kan bukan pacar kamu," desis Rea kesal.
"Ditanya apa, jawabnya apa," gerutu Robert.
"Udah, jangan pada ribut mulu napa," goda Gerry. "Re mau minum apa?"
"Air mineral aja."
"Mpok, gue ambil air mineral dingin satu," ujar Gerry.
Gerry menyerahkan air mineral dingin pada Rea.
"Ini minum lo."
"Makasih Kak," jawab Rea.
Robert mengambil botol mineral Rea, dan memutar tutup yang masih tersegel. Setelah terbuka, baru dia memberikannya pada Rea.
"Cie …. Cie …, so sweet banget sih Bet. Gue jadi ngiri deh," goda Gerry sambil tertawa keras.
Robert tidak menanggapi godaan Gerry. "Lo udah makan?" tanya Robert pada Rea.
"Rea belum makan Kak," sahut Sisca. "AW! Sakit tau!" jerit Sisca yang kakinya diinjak oleh Rea.
Robert mengeluarkan ponsel dari saku celana. Ada pesan masuk dari Aaron.
Aaron : Bet, Rea nggak ada di kelas.
Aaron : Gue belum tau dia di mana.
Aaron : Temen sebangkunya juga nggak ada.
Robert membalas pesan Aaron dengan singkat.
Obet : Ok. Tq
"Dari siapa Bet?" tanya Gerry.
"Elo pasti dari pagi belum makan kan?" tanya Robert mengacuhkan pertanyaan Gerry.
"Emangnya enak dikacangin," gerutu Gerry dengan suara keras.
"Mpok! Indomi nya satu lagi ya." Robert berkata dengan suara keras pada Mpok Ati.
"Siap!" sahut Mpok dengan suara keras.
"Tapi aku nggak laper," ujar Rea.
"Elo mau sakit lagi?!"
"Udah Re, mending elo nurut. Ntar kalo dia marah, runyam urusan," ujar Gerry. "Oh iya Re, mumpung gue inget. Mengenai masalah pacar, mending elo iyain aja kalo ada yang tanya tentang kalian. Supaya elo nggak diganggu lagi sama Lydia cs."
"Kenapa aku mesti takut sama dia?" tanya Rea. "Kan aku nggak berbuat salah?"
"Lydia itu semacam orang stress. Dia suka nekat dan tega," timpal Donny salah satu teman Robert.
"Andai aku iyain aku pacar dia," ujar Rea sambil menunjuk Robert. "Apa bisa ngejamin kalo dia nggak akan ganggu aku lagi?"
"Yah minimal dia akan mikir kalo mau macem-macem sama elo, karena Lydia takut sama Robert sekaligus suka ma dia." Gerry menunjuk ke arah Robert.
"Apa nggak makin bahaya buat aku kalo aku ngaku pacar dia?"
"Sopan dikit napa? Nunjuk-nunjuk mulu ke gue! Gue kan punya nama!" gerutu Robert.
"Bet, cewek lo keras kepala banget sih? Asli dia mancing emosi gue." Gerry mendumel pada Robert.
Robert hanya tertawa mendengar gerutuan Gerry. Dirinya saja sulit menang kalau sudah bicara dengan Rea, apalagi Gerry.
"Untuk saat ini, lebih aman kalo orang-orang tau elo pacar gue Re. Setidaknya Lydia akan mikir kalo mau nyakitin elo. Iya gue tau elo bisa nanganin dia," ujar Robert saat melihat Rea akan menyela ucapannya. "Masalahnya, orang tua Lydia itu salah satu donatur di sekolah. Baik Kepsek dan guru rada segan kalo mau kasih dia sanksi. Nah, di sekolah itu cuma gue yang posisinya bisa ngalahin dia."
"Mending elo iyain aja Re," timpal Sisca.
"Apa iya cuma ada jalan ini?" tanya Rea.