"Rea!"
Rea mendongak mendengar namanya dipanggil.
"Elo jadian sama Kak Robert?" Nita bertanya dengan suara keras sambil berjalan cepat ke meja Rea.
"Ah yang bener? Kata siapa?" tanya Sisca pura-pura terkejut.
"Masa elo nggak tau? Kan elo sahabatnya Rea," ujar Nita tidak percaya.
"Dia mana pernah cerita yang begituan ke gue," elak Sisca.
"Anak-anak kelas 10 - 12 lagi pada heboh karena berita ini. Nggak ada yang percaya Gunung Es di sekolah ini bisa takluk sama dia." Nita menunjuk ke arah Rea.
"Serius Re? Elo jadian sama Kak Robert?" tanya Sisca dengan wajah terkejut yang dibuat-buat.
"Dari awal gue pikir Kak Calvin yang bakal jadian sama elo Re. Nggak pernah terlintas di kepala gue kalo akhirnya Kak Robert yang bakalan menang," ujar Nita.
"Udah ah jangan dibahas lagi," ujar Rea jengah.
"Eh, ada Lydia tuh di depan kelas," bisik Nita.
Rea menoleh ke arah luar kelas. Tampak Lydia cs sedang memandang ke arah mereka dengan tatapan penuh kebencian.
Ponsel di saku rok Rea bergetar. Dia mengeluarkan ponselnya. Ada pesan dari Robert.
Robert : Hari ini jangan keluar dari kelas. Istirahat aku anterin makanan buat kamu.
Rea menghela napas panjang setelah membaca pesan dari Robert. Tidak perlu menunggu lama untuk menunggu reaksi Lydia mengenai berita dirinya sekarang adalah pacar Robert. Rea membalas pesan Robert.
Rea : Kalo mau ke kamar mandi masa mesti nunggu kamu???
Robert langsung membaca pesan dari Rea ketika ponselnya bergetar. Bukannya kesal, Robert malah tertawa membaca pesan dari gadis itu.
"Kenapa lo Bet? Ketawa sendirian kaya orgil," ujar Gerry. Saat itu mereka tengah berada di koridor kelas di lantai dua.
"Mau tau aja urusan orang," jawab Robert.
"Halah pake rahasiaan segala. Gue tau itu pasti dari Rea. Cuma itu cewek yang bisa bikin lo kayak gini," gerutu Gerry sebal.
"Udah tau pake nanya," sahut Robert sambil jarinya mengetikkan pesan balasan untuk Rea.
Robert : Iya.
Robert : Kecuali kamu ke kamar mandinya pas jam pelajaran dan bilang dulu ke aku.
Robert tersenyum membaca pesannya sendiri. Dia membayangkan reaksi Rea saat membaca pesannya. Mungkin akan semakin kesal dan itu membuatnya semakin senang.
Seperti dugaan Robert, Rea mendengar kesal ketika membaca pesan dari Robert.
"Nyebelin!" gerutu Rea.
"Kenapa Re?" tanya Nita yang masih duduk di depan meja Rea.
"Gapapa," ujar Rea.
"Itu Lydia mau sampe kapan berdiri di sana?" tanya Sisca yang mulai gerah melihat Lydia.
"Biarin aja. Kalo udah bosen juga pergi sendiri," jawab Rea tidak peduli.
Lydia terus berdiri di depan kelas Rea sampai bel masuk berbunyi.
"Akhirnya pergi juga tuh nenek sihir," ujar Sisca dengan nada sinis.
"Masuk Bet," ujar Gerry ketika bel berbunyi.
"Hm," jawab Robert.
Robert berjalan ke kelas sambil mengirimkan pesan pada Aaron untuk meminta bantuan sepupunya.
Obet : Ron, gue titip Rea ya.
Aaron : Ok
***
Ketika bel pulang berbunyi, Robert bergegas bangkit berdiri dan langsung keluar dari kelas. Gerry mengikuti dari belakang. Sepanjang pelajaran, Robert tidak dapat berkonsentrasi dengan benar. Apalagi setelah tadi Aaron mengirimkan pesan bahwa Lydia hampir saja masuk ke dalam kelas Rea ketika istirahat kedua.
Ketika Robert tiba di depan kelas Rea, dia melihat Rea masih membereskan tasnya. Aaron juga masih di kelas dan melambaikan tangan ketika melihat Robert. Aaron bangkit berdiri dan berjalan keluar kelas.
"Gue udah boleh pulang kan?" gurau Aaron pada Robert.
"Thanks bro," ujar Robert.
"Jangan lupa malam minggu ini traktir gue." Aaron melambaikan tangan dan berlalu dari sana.
Robert menunggu di luar kelas dan dapat mendengar bisik-bisik anak yang lewat.
"Beneran nggak sih Rea pacaran sama Kak Robert?"
"Eh, Kak Robert jemput Rea. Jangan-jangan beritanya bener ya mereka pacaran."
"Gile Rea bisa naklukkin cowok terdingin di sekolah."
"Rea pake pelet apaan ya, sampe cowok sekeren dan tajir kayak Robert mau sama dia?" Beberapa kakak kelas berbisik dengan nada cukup keras dan sinis.
Rea berjalan keluar kelas bersama Sisca, dan terkejut melihat Robert.
"Ngapain ke sini?" tanya Rea.
"Jemput kamu lah, emang mau ngapain lagi?" sahut Robert sambil menyentil pelan kening Rea.
"Cie …, co cuit banget sih kalian," goda Sisca.
"Cerewet deh," ujar Rea pada Sisca.
"Ayo jalan," ujar Robert.
Robert meraih tangan Rea dan menggandengnya.
"Harus pake gandeng tangan ya?" Rea bertanya dengan suara pelan.
"Harus Re, supaya terlihat nyata," goda Sisca.
"Nggak juga. Tapi gue yang pengen gandeng tangan lo," jawab Robert tenang.
Rea terdiam dengan wajah memerah mendengar perkataan Robert.
"Uh, so sweet banget lo Bet," ujar Gerry.
Mereka terus berjalan hingga tiba di depan gedung sekolah. Tampak Joko sudah menunggu Sisca.
"Kamu udah dijemput tuh Sis," ujar Rea.
"Iya, tapi gue males pulang."
"Terus kamu mau apa?" tanya Rea.
"Eng …, gue ke rumah lo aja ya Re."
"Boleh juga tuh usul lo Sis," ujar Gerry. "Dia kan bakal anterin Rea, kita ikut aja ke sana. Gue juga pengen tau rumah Rea."
Rea menghela napas panjang membuang rasa kesal yang muncul.
"Gue kasih tau Pak Joko dulu kalo gitu," ujar Sisca sambil tersenyum senang.
"Yang bilang dia mau anter aku siapa?" tanya Rea pada Gerry sambil menunjuk ke arah Robert.
"Gue. Kan barusan gue yang bilang," jawab Gerry santai. "Gue betul kan Bet?"
"Hm," sahut Robert.
"Tuh denger," sahut Gerry.
"Eh, ngomong-ngomong tuh anak mending sama gue aja kali ya pake motor," ujar Gerry sambil menunjuk ke arah Sisca yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Ih tunggu dulu!" seru Rea. "Aku kan belum bilang kalo kalian boleh ke rumah," gerutu Rea.
"Setuju nggak setuju, kita tetep ke rumah lo," ujar Gerry ngotot.
Rea mengentakkan kaki kemudian berjalan meninggalkan Robert dan Gerry serta Sisca yang baru saja kembali setelah berbicara dengan Joko.
"Rea mau ke mana?" tanya Sisca bingung.
"Entah. Sepertinya ingin melarikan diri dari kita," ujar Gerry jahil.
"Elo bikin dia bete ya?" tanya Sisca curiga.
"Gue kejar Rea dulu." Robert meninggalkan Sisca dan Gerry yang masih berdebat.
Robert berlari menuju keluar gerbang mencari Rea. Dilihatnya Rea berjalan di bawah pepohonan menuju ke halte bis. Robert kembali berlari mengejar Rea.
"Mau ke mana?!" tanya Robert sambil mencengkeram lengan Rea.
"Lepasin!" Rea menyentakkan tangannya.
"Nggak akan!" sahut Robert dingin. “Aku tanya kamu mau ke mana?” Kali ini Robert berbicara dengan suara yang lembut.
“Mau pulang. Emang mau ke mana lagi?” sahut Tata.
“Terus kenapa kamu marah?” tanya Robert.
Rea menghela napas sebelum menjawab. “Aku nggak suka keadaan yang kayak gini. Udah aku bilang dari kemaren, aku nggak setuju dengan ide kamu dan Gerry. Dan terbukti kan aku yang jadi kena getahnya jadi bahan omongan anak-anak, ditambah Lydia cs. Aku nggak suka!” Rea menumpahkan sebagian unek-uneknya pada Robert.
Robert hanya diam dan mendengarkan. Dia dapat mengerti apa yang dikatakan oleh Rea. “Udah puas?” tanya Robert.
Rea menggelengkan kepalanya. “Masih ada? Apa lagi?” Robert mencoba bersabar menghadapi kemarahan Rea.
“Masalah ke rumah. Kenapa kamu diem aja waktu Gerry mau ikut ke rumah aku. Sisca aja nggak aku ijinin ke rumah, apalagi Gerry!”
“Emangnya kenapa kalo mereka tau rumah kamu? Kasih tau alesannya!”
“Aku nggak suka suasana ramai. Buat aku, rumah itu tempat aku merasa tenang, aman, nyaman. Dan rumah adalah hal pribadi yang nggak boleh sembarang orang tau!”
“Berarti aku bukan orang sembarangan dong?” tanya Robert dengan senyum jahil di wajahnya.
“Pede banget,” ejek Rea. “Kalo nggak karena aku sakit, nggak mungkin kamu bisa masuk ke rumah aku.”
“Yakin amat,” ujar Robert. Kemudian Robert mendekatkan bibirnya ke telinga Rea. “Aku selalu dapetin apa yang aku mau. Dan kamu adalah salah satunya!”
Rea terdiam mendengar jawaban Robert. Melihat Rea terdiam, Robert menarik tangan Rea supaya mengikuti dirinya menuju ke area parkir. Sudah ada Gerry dan Sisca yang menunggu di area parkir. Robert berjalan menuju motornya.
“Gue kirain elo udah pulang Re,” ujar Sisca setelah Rea tiba di dekat Sisca dan Gerry.
Robert memberikan helm untuk Rea. Sementara Rea mengenakan jaket yang baru saja dia keluarkan dari tas, Robert memakai helm dan menyalakan motornya.
“Ayo naik,” ujar Robert pada Rea.
Rea menuruti perintah Robert dalam diam. Begitu Rea sudah duduk di motor, Robert menjalankan motor menuju keluar sekolah. Motor yang dikendarai Gerry mengikuti dari belakang. Sedangkan mobil Sisca mengikuti paling belakang.
Setiba di depan rumah, Rea turun dan membuka gerbang rumah dan membiarkan motor Robert dan Gerry masuk. Setelah itu, Rea membuka pintu depan dan melangkah masuk ke dslsm diikuti ketiga orang lainnya.
Sisca langsung merasa betah berada di rumah Rea. Begitu tenang, nyaman dan terasa hangat. Rea berjalan menuju kamar. Dia menaruh tas dan mengganti baju seragamnya dengan baju kaos dan celana kulot hitam kegemarannya.
“Re!” panggil Sisca.
“Apaan?” tanya Rea yang baru saja keluar dari kamar.
“Laper gue. Nggak ada tukang makanan yang lewat ya?” tanya Sisca.
“Biasanya ada.” Rea melihat ke arah jam dinding. “Biasanya jam segini tukang baso dan siomay lewat. Tungguin aja,” ujar Rea.
“Lo tinggal berduaan aja sama nyokap Re?” tanya Gerry yang sedang melihat-lihat foto di dinding.
“Hm.”
“WAH! Pantesan Rea nggak kenal takut!” seru Gerry ketika melihat sebuah foto di dinding. “Ternyata elo jagoan taekwondo.”
“Re, aku ambil minum ya,”ujar Robert sambil beranjak berdiri dan berjalan menuju ke ruang makan.
“Dih, itu anak enak amat di sini. Udah kayak rumahnya sendiri,” ujar Gerry yang melihat Robert nyelonong begitu saja ke ruang makan.
Terdengar suara mangkuk dipukul di luar. “Re, itu tukang baso bukan?” tanya Sisca.
“Iya,” jawab Rea.
Sisca langsung berlari keluar untuk memanggil tukang baso. Setelah itu, Sisca kembali ke dalam rumah untuk memberitahu yang lain.
“Ayo Re ke depan. Kita beli baso. Kan elo belum makan dari pagi,” ujar Sisca.
“Belum makan? Kan tadi gue nyuruh Aaron ngasih makanan buat Rea?” tanya Robert dengan nada dingin.
"Ups! Gue keceplosan," desis Sisca sambil menutupi mulut dengan tangannya.
"Re! Kenapa pertanyaan aku nggak dijawab?" Robert bersidekap menunggu jawaban dari Rea.
Rea berjalan masuk ke dapur. Dia mengambil beberapa mangkuk dan memberikannya pada Sisca. Ketika Rea akan keluar dari dapur, Robert menarik tangannya.
“Kamu nggak boleh pergi kalo belum jawab pertanyaan aku!” desis Robert di telinga Rea.
“Apa yang mesti dijawab?” tanya Rea.
“Kenapa tadi pas istirahat kamu nggak makan?”
“Aku nggak laper,”
“Terus makanan yang tadi aku titipin, kamu kemanain?!” sela Robert
“Oh itu. Tadi aku kasih ke Liana. Kamu tau Liana kan?”
“Kenapa kamu kasih ke dia?” tanya Robert dengan nada menuntut.
“Karena dia hampir nggak sempat sarapan pagi. Dan kalo istirahat juga sangat jarang bawa bekal, dan juga nggak bisa beli makanan karena nggak ada uang.”
“Terus hubungannya sama kamu apa? Ngapain kamu mesti repot-repot ngasih makanan ke dia?”
Rea mendongak memandang wajah Robert dan akhirnya berkata, “Susah ngomong sama anak orang kaya!”
Rea beranjak meninggalkan dapur, tetapi langkahnya tertahan karena Robert kembali mencengkram tangannya.
“Maksud kamu apaan?” tanya Robert dengan nada tidak suka.
“Nggak ada,” elak Rea.
“Jelasin ke aku!” tuntut robert.
Rea menghela napas panjang sebelum menjawab. “Kamu pernah ngerasain yang namanya nggak punya uang? Atau nahan laper karena nggak pegang uang? Atau hanya bisa makan sekali karena orang tua kamu nggak punya uang?”
“Tadi Rea ngasih makanan dari Kak Robert ke Liana, karena dari semalem Liana belum makan,” ujar Sisca yang sengaja datang ke dapur untuk menolong Rea. “Sebenernya kami terkadang suka membawa makanan dari rumah atau sengaja membelikan makanan untuk Liana Kak.”
“Udah nggak usah dibahas lagi. Tapi lain kali kalo mau ngasih buat temen kamu, bilang dulu sama aku.”
Robert berjalan mendekati Rea dan berdiri tepat di hadapan gadis itu. Robert menyentil dahi Rea dengan lembut sambil berkata, “Aku nggak mau liat kamu sakit lagi. Aku beliin kamu makanan karena tau kamu nggak biasa sarapan kalo pagi. Jadi tadi sepanjang sekolah aku ngerasa tenang karena yang ada di otak kamu tuh udah makan. Tapi ternyata aku salah. Coba kamu ada di posisi aku, kesel nggak?”
“Maaf,” ujar Rea.
“Aku begini karena sekarang kamu tuh adalah prioritas utama aku. Jadi tolong kalo ada apa-apa bilang sama aku. Mungkin sekarang kita ini lagi pura-pura pacaran, tapi kan nggak ada yang tau ke depannya.”
Rea terpaku mendengar perkataan Robert, sementara Sisca dan Gerry berusaha menyembunyikan tawa mendengar pengakuan manis yang terlontar dari bibir pemuda yang terkenal dingin pada perempuan.