KEYFA “Keyfa, dasiku lupa! Kayaknya di kasur.” Pagi-pagi sudah memulai keributan. Aku berdecak melihat dasi Wisnu tergeletak di lantai dekat ranjang. Mau ambilnya susah, terhalang perut yang semakin besar. Kuusap perut sebelum berusaha jongkok. “Bapakmu kampret, Nak.” Usia kehamilanku yang sudah menginjak tiga puluh minggu, aku sudah mulai susah gerak, jari-jari kaki dan tangan sudah mulai bengkak. Cincin nikah sampai harus kulepas. Apalagi kalau sudah sembilan bulan nanti, badanku mirip buntel kadut sepertinya. Aku berjalan keluar kamar sambil menenteng dasi Wisnu. Sementara si empunya sudah duduk santai sambil sarapan. Pagi ini pakaian yang dikenakan Wisnu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada kesan kasual yang ditunjukkan setiap pagi, hoodie atau sekadar kaus pendek ia tangg

