KEYFA Semuanya berubah sejak siang itu. Tidak ada lagi perjanjian apa pun, bahkan surat perjanjiannya sudah Wisnu bakar. Tidak ada lagi yang namanya pisah kamar, karena di hari itu juga Wisnu langsung memaksaku pindah ke kamarnya. Interaksi kami mulai berubah, terasa lebih in dengan panggilan ‘aku-kamu’ walaupun awalnya agak kaku dan geli juga. Yang tetap sama itu sikap Wisnu. Masih menjadi Wisnu yang tengil, usil, omes, pokoknya yang jelek-jelek ada di dia semua, kecuali mukanya. Wisnu bilang dia tidak marah padaku saat itu, hanya kecewa pada dirinya sendiri. Dia bilang menyesal pernah menjadi lelaki berengsek sampai aku tidak memercayainya. Dia hanya ingin lepas dari kepungan masa lalunya yang buruk. Waktu sepertinya berjalan cukup cepat, perasaan baru kemarin aku menyerahkan semuanya

