KEYFA Jam sepuluh pagi, aku baru keluar dari kamar dalam keadaan belum mandi. Kuputar kenop pintu dan menyembulkan kepalaku sedikit ke luar kamar untuk mengintip keberadaan Wisnu. Suasana apartemen sepi, tak ada batang hidung belangnya dan suara kicauannya di sekitar ruang tamu, ruang televisi, dan pantry. Lalu, kulirik kamarnya yang masih tertutup. Apa si Kampret itu belum bangun, ya. “Selamat pagi menjelang siang, Mbak Key.” Bu Nani yang baru saja keluar dari kamar mandi menyapaku dengan hangat namun tersirat sindiran. “Pagi menjelang siang juga, Bu Nani,” balasku, berjalan menuju pantry. “Mbak Key, Mas Wisnu keluar dulu. Ada urusan katanya.” Bu Nani seperti cenayang. Tahu kalau aku memang sempat bertanya-tanya di mana Wisnu berada, si Tengil Kutu Kupret yang hobinya mela

