4

1260 Kata
KEYFA Sebetulnya nggak berharap banyak ke temannya Mas Dipo. Toh, cuma settingan belaka. Yang penting mamaku senang, hatiku tenang. Udah cukup kok. Mau dia ganteng kek, menawan kek, itu urusan yang kesekian. Yang paling penting dia mau nggak nih jadi kolegaku. Aku tadinya mau langsung ngajak si cowok ini ngedate. Cielah, entah kapan terakhir kali aku bilang ngadate. Kayaknya semuanya udah basi aja gitu, hanya sebuah kenangan yang kadang terlupakan. Hari sabtu siang, jadwalku ketemuan dengan cowok bernama Wisnu. Titik temu kami di rumah Mas Dipo dan Mbak Rina. Sebab aku malas dengan segala ocehan Mama jika aku memintanya datang langsung ke rumah. Outfit yang aku kenakan tidak beda jauh dari hari-hari sebelumnya, cuma celana jeans dan kaus putih polos dan sedikit kedodoran. Tidak ada dandanan yang spesial. Aku tidak terbiasa memakai make up, kayak blush on, eyeshadow, eyeliners, dan antek-anteknya. Aku cukup memakai sunscreen setiap hari. "Wisnu udah datang," kata Mas Dipo waktu aku dan Mbak Rina curhat di kamar Mika, keponakanku yang usianya tiga tahun. Hatiku tidak karuan antara penasaran dan takut. Takutnya tidak sesuai ekspektasi, alias wajahnya tidak setampan Chris Evans. Di saat aku sudah penasaran setengah mati, eh kampretnya posisi duduk Wisnu membelakangiku. Huh, kubuang napas kasar. Seruan Mas Dipo membuat target bidikan mataku akhirnya bangkit berdiri, seolah sedang berslow motion, kepalanya menengok ke belakang, dan.... Lumayanlah. Standar tampan Indonesia masih ia kantongi. Matanya menatapku dari ujung mata hingga jempol kaki. Aku tidak suka tipe-tipe cowok yang menilai fisik lewat tatapannya. Tapi apa boleh buat, toh aku pun menilai fisiknya. Seperti yang kukatakan barusan, ia tidak terlalu buruk. Kalau kamu menyukai olahraga bulutangkis, kamu pasti tahu Muhammad Ahsan. Nah, ketampanan Wisnu bisa diibaratkan Muhammad Ahsan. Tapi Muhammad Ahsan tampan dan kalem, wajah Wisnu agak tengil. "Nu, kenalin nih adek yang gue ceritain ke lo. Keyfani Priyanka, cantik, imut, manis, berbakat, rajin, dan pastinya jones." Mas Dipo!!! Astaga, diakui sebagai adik tapi bikin harga diriku anjlok. Aku menggeram tertahan, dan laki-laki di depanku ini mengulum bibirnya untuk menahan tawa. "Ketawa aja kali, gak usah ditahan. Takutnya jadi kentut," desisku. Tawanya langsung berhenti. Ia berdeham sambil menegakkan tubuhnya kepalanya yang tadi sempat menunduk. Lalu, tangan kanannya terulur padaku. "Wisnu." Untuk beberapa saat aku hanya menatap tangannya, sebelum kujabat. "Keyfa," jawabku cepat-cepat menarik tanganku lagi. Mbak Rina datang membawa nampan berisi empat gelas jus melon. "Hai, Nu. Long time no see," katanya menyapa Wisnu dengan hangat. "Iya nih, Rin. Makin cantik aja nih bini orang." Mataku terbelalak. Hei, dia tersenyum tengil pada Mbak Rina di depan Mas Dipo. Wah, gak bener ini laki. Calon-calon pebinor. Mas Dipo memajukan tangannya ke arah mata Wisnu dengan gerakan seolah ingin mencolok kedua mata sahabatnya yang sudah lancang itu. "Dilarang muji-muji bini gue. Fokus aja tuh sama cewek yang mandang ilfil di depan lo." Wisnu tertawa pelan. "Just kidding. Gue emang terbiasa bercanda gitu. Gak usah lo masukin hati ya," katanya padaku. Ih, narsis. Ya kali langsung masuk hati. Memang dia siapa? Aku hanya mengangkat bahu sebagai jawaban atas pertanyaannya. "Ngobrolnya sambil duduk biar santai, silakan." Mbak Rina mengajak semuanya untuk duduk. Ngobrol santai diiringi gelak tawa tersaji di ruang tamu kediaman Mas Dipo dan Mbak Rina pada pagi hari menjelang siang itu. Tidak biasanya sih aku langsung in ke dalam obrolan. Biasanya kalau sama orang-orang baru itu kadang suka risih, misalnya suasananya garing, tapi ini justru kebalikannya. Sesekali aku tertawa karena candaan dari Mas Dipo dan Wisnu. "Ajak jalan-jalan gih, Key." Duh, masa aku yang ngajak sih? Gengsi dong. "Pertanyaannya, Keyfa mau gak nih ngajak gue jalannya?" "Tuh, Key, ditanya sama Wisnu?" Mbak Rina menyenggol bahuku yang masih gelagapan. "Ayo aja sih kalau gue," jawabku kikuk. Wisnu berdiri lebih dulu. Oh, cukup gentle rupanya nih cowok. Mau gak mau aku pun ikut berdiri. "Dip, Rin. Gue pinjem dulu ya adek lo berdua?" "Jangan sampai kabur, Nu!" seru Mas Dipo. "Siap!" Wisnu mempersilakan aku untuk berjalan duluan. Aku melangkah agak cepat sampai keluar pintu rumah Mbak Rina. Wisnu ngajak buat makan siang di kafe, aku iyakan saja ajakannya karena memang perutku juga sudah lapar. Tapi aku harus jaim agar tidak ketahuan kalau aku sedang menahan rasa lapar. Raighin kafe, kafe yang cukup terkenal ini menjadi pilihan Wisnu. Dia bilang ini kafe milik istri sahabatnya dan makanan yng disajikan enak-enak. Begitu sampai Raighin kafe, aku melangkah lebih dulu dibanding Wisnu. "Gue bukan bodyguard yang harus lo tinggal di belakang kali," katanya setelah berhasil menyejajarkan langkahnya denganku. "Oh, sori. Jadi langkahnya harus sejajar nih?" "Iya dong. Paskibra aja jalannya sejajar masa kita nggak?" Dan bodohnya, aku sempat melongo dengan pertanyaan konyol itu. Melihat ekspresiku, Wisnu menahan senyumnya. Lantas mengajakku duduk. Kami memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang, aku yang tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya hanya mengutak-atik ponsel tanpa tujuan yang jelas. "Gue denger lo kerja di teve ya?" Bola mataku terangkat. Wisnu sedang memperhatikanku, aku lantas mengalihkan pandangan kembali ke layar ponsel. "Iya. Kalau lo?" "Di perusahaan bokap. Seru ya kerja di teve, banyak ketemu artis." Entah, itu sebuah pertanyaan atau sekadar pernyataan. Aku mengangguk pelan. Pesanan datang di tengah obrolan singkat itu. Aku memesan pasta mozarella dan satu gelas jus lime. Wisnu juga memesan menu yang sama, dia bilang biar cepat saja. Kami fokus menyantap makanan tanpa bersuara. Hanya terdengar alunan musik klasik mengalun di seluruh penjuru kafe. "Mau gue usap,takutnya dibilang so sweet." Aku otomatis mengernyit, heran tiba-tiba Wisnu berkata demikian setelah makanan kami habis. Aku mengerjap sekali, melayangkan tatapan bertanya padanya yang dia jawab lewat kekehan pelan. "Di sudut bibir kanan atas lo ada sisa makanan," katanya. Cepat-cepat aku mengambil tisu dan mengelapnya. Gila! Tengsin habis. "Santai aja sih. Lo kayak gak pernah digodain cowok aja." Dia lagi-lagi tertawa melihatku yang panik karena perkara sisa makanan yang nempel di bibir doang. Ah, sial! "Pernah sih, tapi udah lama. Bener kata Mas Dipo kayaknya gue jones," balasku, tertawa miris. "Lo cantik kok. Cuma kayaknya lo terlalu asik sama dunia lo sendiri. Gak jauh beda sih sama gue. Selama ini gue ngerasa hidup gue fine-fine aja tanpa pasangan, makanya umur udah kepala tiga tapi gue cuek soal nikah." "Yups, sepakat banget. Kadang gue pengin pacaran, pengin punya pasangan, tapi ujung-ujungnya males gitu." "Nikah aja kalau gitu nggak usah pacaran," cetusnya. Kembali mengalihkan pandangan ke jalanan. "Nikah sama siapa? Sama lo?" "Ayo. Tujuan kita kenalan kan buat simbiosis mutualisme ke pernikahan." "Iya juga sih. Tapi biarpun cuma terikat kontrak gak mungkin hari ini kenalan, besok nikah dong. Nikah juga ada prosedurnya kan?" Wisnu mengangguk. "Sebulan cukup gak buat kita saling mengenal?" Dalam waktu sebulan sesuatu bisa saja terjadi bukan? Misalnya, aku bertemu jodohku yang sebenarnya. Terus kalau seandainya memang seperti itu, sia-sia dong aku berkenalan sama Wisnu. "Gak tahu sih," jawabku tak yakin. Wisnu juga tidak langsung menjawab. Dia juga pasti memikirnya semua risiko yang akan terjadi ke depan. "Ya oke, kita coba sebulan aja dulu buat mengenal satu sama lain. Kalau misalnya gue atau lo merasa cocok. Cocok dalam arti menjadi kolega, ya kita bicarain tahap selanjutnya." "Oke." "Selama sebulan itu, lo harus ngenalin gue ke orang tua lo. Dan gue juga sebaliknya. Minggu depan gue ajak lo ketemu orang tua gue." "Oke." "Oke-oke terus dari tadi," kekehnya. "Gak mau pake embel-embel gitu di belakangnya kayak lo manggil Dipo. Mas Wisnu, mungkin." "Jiah, ngarep," cibirku. "Kalau pacarannya beneran sih bisa. Lah ini, cuma settingan." "Kan totalitas," balasnya lagi. "Totalitas atau modus nih?" "Dua-duanya sih," cengirnya. "Dasar. Huh!" Dari obrolan singkatku dengannya, aku belum bisa menilai sifat dan karakter dia. Karena biasanya laki-laki akan semanis gula pada awal perkenalan, dan akan sepahit empedu jika merasa sudah berhasil memiliki sang perempuan. . ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN