WISNU
Keyfani Priyanka. Sama seperti namanya yang cantik, wajahnya juga cantik. Penampilan tomboi dia justru bikin dia semakin terlihat menarik. Rambut sebahunya enggak selalu diikat rapi, kadang anak rambutnya suka beterbangan tertiup angin. Hazel di bola matanya menjadi poin tambahan lainnya. Tinggi badannya sebatas leher gue, tidak terlalu jomplang seperti Nana yang hanya sebatas dadanya Galih.
Dia ekspresif. Saat gue mengajaknya ngobrol sambil gue selipin candaan sedikit, dia nyambung. Dan gue suka, walaupun Keyfa kelihatan malas dalam menanggapi candaan gue. Minggu berikutnya setelah pertemuan pertama, gue ngajak dia ke apartemen gue. Awalnya dia nolak, karena dikira gue bakal berbuat m***m. Gue having s*x saat gue butuh, dan si ceweknya enggak nolak alias sama-sama enak. Kalau ceweknya nolak, yang terjadi di atas kasur hanya kehambaran semata.
Gue biarkan Keyfa menyisir ruangan dan melihat-lihat beberapa bingkai foto serta beberapa lukisan yang menempel di dinding. Di saat kebanyakan pria pengin dinding apartemennya bersih, gue justru sebaliknya. Banyak foto-foto yang gue pajang di setiap dinding ruangan, dan biar enggak boring gue selang-seling dengan lukisan.
“Apartemen lo bersih juga.” Pujian pertama yang dilontarkan Keyfa buat gue setelah satu minggu kenal. Gue menghampirinya sembari membawa dua gelas orange juice.
“Asisten rumah tangga nyokap gue suka bersih-bersih di sini. Tapi, gue juga gak jorok-jorok amat, kok.” Gue nyengir, lalu menyodorkan segelas jus jeruk padanya.
Keyfa mengambil gelas tersebut dari tangan gue dan kembali menyusuri dinding untuk melihat-lihat foto yang menempel di sana, sampai langkahnya terhenti pada bingkai yang berisi foto gue bersama anak-anak Seven Squad pas kelulusan SMA. di foto itu, muka gue enggak banget, tapi masih tampak ganteng.
“Wih, Seven Squad.”
“Pas zaman lagi dekil banget. Selain Dipo, lo kenal gak siapa nama-nama anggota Seven Squad?”
Dia mengangguk, lalu meneguk jus, sementara matanya tidak lepas dari foto. “Gue pernah dikasih tahu Mas Dipo, cuma foto pas kalian udah kuliah kayaknya. Tapi, wajahnya gak beda-beda amat, sih. Coba gue tebak, ya.”
“Oke. Harus dimulai dari gue dulu,” sahut gue, dan Keyfa langsung menoleh heran ke arah gue.
“Kenapa harus dari lo?”
“Gue yang paling ganteng.”
“Pede gila lo!” ejeknya sadis. Gue suka cewek yang galak-galak semriwing kayak dia. Tanpa sadar sudut bibir gue tersenyum miring. “Menurut gue yang paling ganteng tuh ... yang ini ... Dokter Galih, kan?”
Mata cewek-cewek itu aneh, kebanyakan pilih Galih yang paling cakep. “Si Galih bisa makin sombong tau lo lebih muji dia dibanding gue.”
“Gue bicara fakta. Terus, nih, sebelah kiri Dokter Galih ... lo bukan, sih?”
“Lah, gak yakin gitu jawabannya.” Gue ketawa.
“Iya, fix, ini lo. Dari dulu muka lo tengil.”
“Tengil, tengil, tapi gemesin, kan?”
“Gemes minta dicakar!”
Dia menunjukkan gaya mencakar harimau tepat ke wajah gue. Astaga! Nih, cewek bener-bener, ya. Pantesan dia suka pakai celana jeans yang robek-robek lututnya, barangkali itu bekas cakaran kukunya sendiri.
“Ini gaya rambut apaan coba? Berponi kayak sapu ijuk gini mirip Andika Kangen Band.” Keyfa menertawakan muka dan style rambut gue pas SMA.
Gue mendengkus. “Muka lo kalem, mulut lo dalem banget ngeledek orang.”
Dia mengedikkan bahunya tak acuh, lantas kembali meneguk jusnya. Kemudian, dia memutar badan dan kembali ke ruang tamu. Duduk di salah satu sofa tanpa gue persilakan lebih dulu.
“Gue pernah nanya Mas Dipo, gak bosen apa temenan dari SMA. Gue aja gak pernah punya temen yang bener-bener selama itu buat bisa tetep temenan akrab.”
“Kita gak ketemu tiap hari juga. Kalau ketemu tiap hari pasti bakal boring abis.”
Dia manggut-manggut.
“Ngomong-ngomong, lo bisa masak gak, sih?”
“Kalau belajar pasti bisa. Berhubung gue belum belajar, jadi belum bisa.” Senyum tanpa dosa dengan sengaja Keyfa pertontonkan. Gue harus mengakui kalau senyumnya benar-benar manis dan kelihatan cantiknya, biarpun penampilannya tomboi begini.
“Keliatan, sih, dari penampilan lo yang urakan gini,” komentar gue, dan Keyfa tampak enggak peduli. Sampai akhirnya mulut gue gatel buat enggak tanya, “Lo sebenernya cewek tulen gak, sih?”
“Tulenlah, anjir!” sergahnya cepat, lantas menatap gue aneh. Jenis tatapan yang sering gue dapatkan dari dia, enggak mungkin kalau secepat itu dia ilfeel sama gue. “Tapi, mana mau gue di-unboxing sama lo.” Ekspresinya berubah jijik.
Astaga! Bahkan dia sampai mikir ke arah sana.
“Nanti aja, ya, habis nikah,” cetus gue, mengerlingkan mata.
“Dih, ogah!” Keyfa bergidik, seolah gue ini makhluk paling menyeramkan. Gue merasa harga diri gue sedikit ternodai oleh perempuan ini.
Gue berdeham, suasana menjadi lebih canggung dari sebelumnya. “Eh, gue pesen makan. Lo mau apa?”
“Bebas. Samain kayak lo juga boleh. Gue gak pilih-pilih soal makanan.” Keyfa sibuk─atau pura-pura sibuk dengan ponselnya sampai ogah melirik gue.
“Oke, gue pesenin.”
Obrolan berakhir sampai di situ, Keyfa masih berkutat dengan ponsel di tangannya, sedangkan mulut gue beneran gatal pengin ngobrol lagi sama dia. Gue belum bisa mengorek lebih banyak informasi tentang dia, sementara dia sendiri kayak enggak mau inisiatif buat tanya-tanya tentang kehidupan gue.
“Kata Dipo lo masuk komunitas motor mini gitu, ya?”
Bola mata Keyfa melirik gue sekilas, sebelum ia fokuskan lagi ke layar ponsel. “Itu dulu, sebelum nyokap gue bertindak kayak penjajah.”
Gue mengernyit, ada nada kesal dari suara Keyfa. Makanya, gue langsung tanya, “Kenapa nyokap lo?”
“Nyokap jual motor mini gue dan gue enggak tahu sama sekali. Sebel banget gue sama nyokap, sampai enggak gue tanya selama tiga hari, karena kalau lebih dari tiga hari katanya dosa. Gue enggak mau dikutuk jadi batu.”
Gue ketawa ngakak. Ada, ya, perempuan yang sebel cuma karena motornya dijual. Keyfa sangat menggebu-gebu jika membicarakan hobinya yang cukup anti-mainstream dilakukan oleh perempuan. Gue akui, perempuan ini memang menarik, ditambah sifat galak yang kayaknya terjadi secara alamiah karena didukung oleh wajahnya yang bisa sewaktu-waktu berubah judes.
“Ya, gue tahu, sih, dananya sebagian dari bokap juga,” sambungnya, masih dengan raut sebal.
“Berarti bokap lo baik banget sampai beliin lo motor mini gitu.”
“Baik banget.”
“Kalo gitu, gue bakal dapet papa mertua yang baik dong?”
Keyfa tertawa pelan. “Kalau jadi,” balasnya sedikit menghapus semangat gue. “Tapi … dia bukan bokap kandung gue.”
“Are you sure?”
Keyfa mengangguk dengan yakin.
“Maksud lo dia ayah sambung atau ayah angkat lo?”
“Ayah sambung,” jawabnya cepat. “Enak aja ayah angkat. Waktu nikah sama Papa, Mama udah punya gue.”
“Dan ayah kandung lo?” Gue nanya agak hati-hati, dan agak speechless juga, sih.
“Ada.” Keyfa meringis, namun tatapannya berubah kosong. “Dia kabur setelah pas gue masih tujuh bulan dalam kandungan nyokap.”
Anjing tuh laki.
“Gue speechless.”
Keyfa tersenyum miris. “Mama maksa nikah sama dia karena embel-embel cinta. Orang tua Mama gak kasih restu gara-gara ekonomi keluarga Mama lebih tinggi, sementara waktu itu bokap yang cuma lulusan SMA dan kerja di konveksi pakaian.”
Oke, gue mulai paham.
“Entah gimana ceritanya bokap sampai kabur. Gue juga cuma tahu ceritanya dari nyokap. Waktu gue udah lahir, nyokap bilang bokap datang lagi. Dia nengokin gue dan ngasih surat cerai. Setelah itu dia gak pernah muncul lagi,” Keyfa menutup ceritanya.
Atensi gue sejak tadi enggak pernah berpindah ke lain arah, selalu ke arahnya sejak dia bercerita. Ada kesedihan yang terus berusaha ia tahan.
“Gue gak pernah tahu sosok ayah kandung gue kayak gimana. Karena dari bayi, cuma Papa Arbi yang gue tahu. Dan beruntungnya gue, Papa gak pernah mandang gue sebagai anak tirinya. Mungkin karena dia juga gak punya anak kali, ya, makanya sayang banget sama gue.”
“Lo gak pernah nyari tahu keberadaan bokap kandung lo? Maksud gue … lo, kan, perempuan. Nikah butuh wali.”
“Gak pernah. Ngapain? Dia aja gak pernah nyari gue.”
Gue aja yang dengar dia cerita sakit banget rasanya. Apalagi dia yang mengalami.
“Gue gak tahu kalau kisah hidup lo sedih,” ujar gue. Ingin sekali merengkuh atau sekadar menyentuh bahunya, tapi kayaknya itu belum jadi kapasitas gue.
Keyfa melirik gue, lalu mendengkus. “Gue gak suka dipandang iba kayak gitu. Gue happy kok jadi anaknya Papa.”
Gila nih cewek, hidupnya bisa kelihatan tegar dan ceria. Padahal di belakangnya, dia menyimpan kisah pahit. Pagi ini, untuk pertama kalinya gue kagum sama yang namanya makhluk perempuan.
“Anyway, udah pernah touring ke mana aja lo sama komunitas motor mini itu?”
“Gue paling jauh, sih, ke Bogor, tapi yang lain pernah sampai ke Jogja.”
“Dengan motor sekerdil itu bisa nyampe Jogja?” tanya gue, enggak percaya.
Dia mengangguk. kini ponselnya ia taruh di atas meja. Itu yang sebenarnya gue mau dari dia. Ngobrol sambil sesekali bisa memandang bola mata, siapa tahu gue menemukan sebuah chemistry dengannya. Chemistry dalam arti untuk bekerja sama menjadi sepasang kekasih yang berpura-pura.
“Bisa. Tapi enggak bisa langsung 24 jam. Harus istirahat dulu karena mau gimana pun tetap aja enggak sama kayak motor pada umumnya.”
Setelah itu, pesanan makanan datang. Gue pesan ayam bakar dan vanilla latte doang karena takut dia tidak suka menu lain, biarpun tadi dia bilang enggak rewel kalau soal makanan. Kami makan berdua di ruang makan. Posisi duduk Keyfa berada di depan gue, gue mau bilang dia sering curi-curi pandang takut dibilang kegeeran.
“Lo sejak kapan tinggal sendiri?” tanya Keyfa.
“Dari kuliah. Gue benci dikekang terus sama bokap makanya gue kabur. Gue sempet tidur di kos-kosan temen gue cuma gak enak kalau kelamaan, sampai akhirnya nyokap beliin gue apartemen buat tempat tinggal gue tanpa sepengetahuan bokap.”
“Terus hubungan lo sama bokap lo gimana?”
Keyfa sudah mulai penasaran saudara-saudara!
“Gue bukan tipe orang yang bisa marah lama-lama, kok. Begitu sadar kalau gue salah, gue langsung minta maaf. Tapi gue ogah balik ke rumah. Udah nyaman tinggal sendiri, lebih bebas bawa temen perempuan juga.”
“Enggak salah Mas Dipo bilang lo penjahat kelamin.”
Gue mendengkus. Sialan si Dipo! Penting banget poin negatif gue diceritakan ke gebetan gue gitu. “Dipo gak usah lo percaya.”
“Sayangnya, gue udah percaya.”
Gue embuskan napas kasar, raut wajah Keyfa benar-benar menandakan kalau dia ingin gue menjelaskannya secara lebih rinci. “Gue lagi berusaha buat keluar dari lingkaran setan itu. Mau lo percaya atau enggak, tapi gue udah enggak pernah pergi ke kelab dan coba berhenti main cewek, biarpun sesekali gue masih minum.”
“Coba berhenti, berarti baru niatnya doang, kan?”
Sembarangan!
“Ikhtiar juga dong. Gue udah janji sama anggota Seven Squad kalau gue bakal tobat begitu gue nikah. Tapi, semua harus ada prosesnya, kan? Makanya gue jalani proses itu dari sekarang. Siapa tahu lo nanti mau gue ajak nikah.”
Keyfa cuma menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyum kecil yang cukup terpaksa.
***
“Makan, Nu.”
Gue tiba di rumah selepas Magrib, karena jalanan macet apalagi di akhir pekan seperti ini. Tiap malam Minggu, gue wajib pulang ke rumah. Padahal malam Minggu itu waktunya gue bebas, ini malah disuruh pulang ke rumah sama nyokap.
“Udah makan, Mi.”
“Gak pa-pa. Duduk aja sini.”
Gue duduk di sebelah Gibran, adik gue. Pandangan nyokap, bokap, dan Gibran langsung tertuju ke gue saat itu juga.
“Bang, buruan nyari calon bini, dah. Gue gak bisa nikah kalau gak lo nikah duluan. Papi kolot pikirannya, dia takut lo gak laku kalo gue nikah duluan,” celoteh Gibran.
“Ya, emang siapa yang mau lo langkahin, Entong? Kalau gue gak bisa nikah tahun sekarang, lo juga dilarang buat nikah duluan.”
Gibran menatap gue horor. “Wah, parah. Lo menghalangi orang yang mau ibadah, Bang.”
“Selow, Tomat Busuk. Sabtu depan gue bawa pacar gue ke hadapan lo.”
Gibran tersedak. “Pacar?” ulangnya dengan raut tidak percaya. “Emang punya?”
Harusnya gue toyor kepalanya. Tapi di depan gue ada mata nyokap sama bokap yang lagi mengawasi. “Sembarangan lo. Punyalah. Kalau ketemu dia, lo ngeces entar.”
“Ah, yang bener, Nu? Cewek atau cowok pacarnya?” Kali ini nyokap ikut bersuara. Namun sekalinya ngomong, pertanyaannya menusuk.
“Kembarannya Lucinta Luna,” jawab gue asal.
“Astaghfirullah, Wisnu. Istigfar, Nak.” Kemudian nyokap mengguncang-guncang bahu bokap. “Pi, Papi. Itu anaknya harus dirukiah, Pi. Masa pacarnya kembaran Lucinta Luna.”
“Lucinta Luna siapa, Mi?” Bokap mengernyit bingung, sementara Gue dan Gibran terkikik, berusaha menahan tawa.
“Papi juga gak tahu Lucinta Luna?”
“Gak tahu. Emang siapa? Artis?”
“Mi, Pi, penting, ya, ngurusin Lucinta Luna pas lagi makan?” Gibran menginterupsi.
Perdebatan tentang Lucinta Luna antara bokap dan nyokap pun selesai tanpa penyelesaian.
“Cewek, Mi. Tulen. Punya rahim. Bisa punya anak nanti kalau aku buahi,” kata gue.
“Syukurlah. Tapi nikah dulu, baru dibuahi.” Nyokap mewanti-wanti.
“Iya, Mamiku sayang.”
“Namanya siapa?”
“Keyfa.”
“Bawa ke rumah dong. Tapi jangan Sabtu depan. Kalau mau minggu depannya lagi.”
“Loh, kenapa? Bukannya jadwal Mama arisan itu udah minggu ini, ya?”
Gue tahu jadwal arisan nyokap dengan ibu-ibu sosialita dua minggu sekali. Sabtu-Minggu ini nyokap arisan, berarti Sabtu depan libur.
“Mami dan Papi mau honeymoon sekalian liburan ke Swiss.”
“Honeymoon?”
“Honeymoon?”
Gue dan Gibran sama-sama melongo.
“Iya, dong. Mami-Papi juga butuh honeymoon biar menjaga hubungan tetap intim dan harmonis. Kata dokter Boyke, di usia menjelang senja seperti Mami ini juga butuh yang namanya honeymoon biar gak jenuh.” Penjelasan bokap beneran bikin gue speechless.
“Papimu juga butuh kesegaran biar gak gila kerja terus,” timpal nyokap.
“Terus rumah gimana?” tanya Gibran memelas.
“Ada kamu, ada si mbak, ada security,” jawab nyokap sebelum menoleh padaku. Dari tatapannya, gue tahu apa yang akan nyokap katakan. “Kamu juga tidur di rumah, Nu. Jangan di apartemen terus.”
Nah, dugaan gue tepat. “Ini, kan, tidur di rumah.”
“Tiap hari, Wisnu. Jangan seminggu sekali,” kata nyokap dengan volume lebih tinggi.
“Udah nyaman di apartemen, Mi.”
“Ya udah, terserah. Tapi, nanti bawa pacarmu ke sini. Kalau perlu kita dinner bareng sama Gibran dan pacarnya juga.”
“Oke.”
*****