KEYFA
Logikaku mungkin membeku saat menyetujui usulan Wisnu untuk nikah kontrak setelah kurang lebih satu bulan kami berdua saling mengenal. Bahkan, yang lebih ekstrem lagi dari keputusanku ... aku sudah memperkenalkan Wisnu pada keluargaku. Mama awalnya curiga, karena setelah bertahun-tahun anaknya jomlo, pada akhirnya aku membawa seorang pria yang aku kenalkan sebagai teman dekatku. Tapi aku berusaha meyakinkan Mama, kalau misalnya aku dan Wisnu memang tengah menjalin kedekatan.
Wisnu juga sudah memperkenalkanku pada keluarganya. Keluarganya seru, kocak, namun tatapan sinis ibunya tampak jelas saat menilai penampilanku setiap kali bertemu. Aku selalu absen memakai dress yang selalu Wisnu belikan, aku lebih nyaman memakai t-shirt yang dibalut dengan kemeja, dan tidak lupa celana jeans yang memang kurang cocok untuk dipakai ke acara pertemuan keluarga.
Di pertengahan malam, kadang aku berpikir cuma karena bosan disuruh nikah aku sampai melakukan hal gila seperti ini. Tapi, apa yang aku lakukan nyatanya tetap tidak sinkron dengan logika. Aku sudah ada di tahap ini—Wisnu sudah melamarku secara resmi, dan kita akan segera menikah dalam jangka waktu sebulan ke depan, tepat seminggu sebelum tahun baru. Wow, secepat itu waktu berputar.
Sebelum benar-benar menjadi suami-istri, kami menyusun perjanjian hitam di atas putih dalam pernikahan yang harus disepakati oleh kedua belah pihak. Sayangnya, Wisnu menyusun perjanjian itu tanpa berdiskusi denganku terlebih dahulu. Dia memperlihatkan hasil perjanjiannya yang sudah dia print out padaku.
10 Peraturan Pernikahan yang disepakati oleh suami dan Istri. Ditandatangani oleh Wisnu Regan Nugraha (Suami) dan Keyfani Priyanka (Istri).
1. Tidur wajib pisah kamar.
2. Dilarang masuk kamar satu sama lain tanpa izin pemiliknya.
3. Pernikahan ini sangat-sangat melarang adanya kontak fisik, peluk, cium, rangkul, apalagi kuda-kudaan harus disetujui oleh kedua belah pihak.
4. Boleh kencan dengan orang lain asalkan tidak ketahuan keluarga.
5. Romantis di depan orang tua.
6. Gak usah ngatur-ngatur soal gaya hidup masing-masing.
7. Jangan sampai peraturan pernikahan ini sampai ke telinga orang tua.
8. Jangan ikutan bahas cucu kalau lagi kumpul keluarga.
9. Uang bulanan akan suami ditransfer satu minggu sebelum akhir bulan.
10. Sepakat.
Kontrak ini berlaku selama satu tahun, jika pada pelaksanaannya terjadi sesuatu hal yang di luar kendali kontrak bisa diperpanjang ataupun dibatalkan.
“Nomor empat gue enggak setuju,” sanggahku. Kalau nomor empat harus ada, itu artinya posisiku terpojok. Sementara itu adalah keuntungan bagi playboy yang hobinya ngebar sambil grepe-grepe sama cewek random seperti Wisnu.
“Why?” Wisnu mengernyit. Tatapannya membantah. Dia jelas tidak suka karena aku menyanggah keinginannya.
“Enak di lo gak enak di gue,” jawabku defensif.
Cinta memang tidak berperan penting dalam keputusan kami untuk menikah. Mendengar kata menikah saja sudah membuat bulu romaku merinding. Kesepakatan ini kami buat hanya untuk simbiosis mutualisme, karena kebetulan kami memiliki problem yang sama ... sama-sama dipaksa untuk cepat menikah. Aku karena usia, sedangkan Wisnu karena harta dan tahta.
Wisnu tertawa. Jenis tawa yang meremehkanku. Kilatan dalam bola matanya yang hitam legam itu mengejekku. Ia tidak berhenti tertawa, bahkan saat mengubah posisi duduknya yang bersandar menjadi tegap, serta menautkan kedua tangannya.
“Lo takut kalah saing karena selama ini lo ngerasa gak ada yang mau sama lo? Iya?”
Jika ada gelas berisi air keras di atas meja, aku tidak akan ragu untuk menghamburkan air keras dalam gelas tersebut, tepat ke wajahnya. Biar dia tahu, fisiknya bukan untuk disombongkan.
“Eh, jaga mulut lo! Mentang-mentang lo bisa gampang nidurin cewek, Nu. Lo belum tahu aja rasanya kalau semua kenikmatan lo dicabut sama Tuhan. Termasuk cinta dan nafsu lo.”
“Wow.” Wisnu bertepuk tangan sambil terus terkekeh. “Kenapa jadi lo bawa-bawa Tuhan?” tanya dia setelah berhasil menguasai diri. Tatapannya berubah menjadi lebih serius dan datar.
“Karena gue berbohong soal pernikahan. Gue tahu ini salah, tapi gue gak punya pilihan lain.”
“Come on, Keyfa. Lo selalu punya pilihan dalam hidup,” katanya yang tidak bisa k****a makna dari kalimatnya. Aku diam.
“Lo bisa jatuh cinta sama gue, dan bikin gue jatuh cinta sama lo. Kita akan hidup bahagia selamanya,” balasnya dengan nada enteng.
“Gak ada jatuh cinta dari hari pertama kita kenalan,” balasku penuh tekanan.
“Oke. Gue pun gak pernah kepikiran buat melibatkan perasaan di sini.”
Aku mendesah lega. Akan rumit jika perasaan lebih tinggi dari logika. Rencana awal pun akan gagal jika di antara aku atau Wisnu melibatkan perasaan, itu sebabnya mencegah dari awal lebih baik daripada menghapus yang sudah terlanjur ada.
“Tapi soal nyokap gue yang agak sentimen sama lo, gue harap lo maklum. Karena nyokap emang pengin sosok menantu yang feminim.”
“Bukan cuma feminim, tapi menantu yang sempurna dari semua aspek. Dan itu jelas bukan gue orangnya,” koreksiku.
Wisnu mengangguk, seolah membenarkan ucapanku. Dan aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Toh, pernikahan ini hanya kepura-puraan semata.
Karakterku tidak akan berubah begitu cepat hanya karena Tante Viona tidak menyukaiku dengan alasan kalau aku ini tomboi. Penampilanku tidak feminim, dan aku cuek.
Ya, membual dengan kata-kata manis di awal perkenalan, namun pada hari-hari berikutnya penampilanku yang katanya amburadul tidak lepas dari sindiran ibunya Wisnu. Katanya celanaku kebanyakan digigit tikus makanya robek-robek di bagian lutut. Perlukah aku kasih tahu kalau itu namanya style anak muda, dan bukan style emak-emak yang kulit wajah pun sudah kedodoran dan keriput.
“Nyokap lo kayaknya kebanyakan baca dongeng yang happy ending. Padahal gak semua cerita yang ditulis itu berakhir bahagia,” imbuhku.
Wisnu menarik napasnya. Ia mengetuk materai yang harus aku bubuhi tanda tangan menggunakan pulpen.
“Jadi, Keyfa, lo tinggal tanda tangan di atas materai ini.”
Aku bergeming. Keputusanku kokoh untuk menolak poin keempat yang dirasa akan sangat menguntungkan bagi Wisnu.
“Gue bilang gak setuju sama nomor empat!” sergahku emosi.
“Terus mau lo apa?” Wisnu membalas emosiku.
Aku mengembuskan napas, menghapus emosi yang tadi sempat naik.
“Tapi kita nikah kontrak, Nu. Seenggaknya lo harus bisa menghargai perempuan. Cuma perempuan g****k yang mau pacaran sama laki-laki beristri.”
“Kita nikah kontrak. Ucapan lo yang gue garisbawahi,” balasnya tidak mau mengalah begitu saja.
“Tapi pernikahan kita nanti sah di mata hukum dan agama,” sahutku menggebu.
Dan Wisnu meredam emosinya lebih dulu. Urat lehernya yang sempat tegang kini mengendur lagi. Ia mengambil kertas kontrak di tanganku dan langsung mencoret nomor empat dengan ekspresi masam.
“Oke. Gue ganti nomor empat jadi ... tidak diperbolehkan mengencani orang lain selama perjanjian ini masih berlaku.” Wisnu mengubahnya langsung dalam dokumen word di Macbook-nya yang sedang menyala.
Aku tersenyum puas melihat wajah masamnya itu.
“Selebihnya gue setuju.” Wisnu pun mengangguk biarpun aku yakin dia masih setengah hati. Aku hanya akan tertawa di atas penderitaannya. “Satu lagi, gue butuh asisten rumah tangga.”
“Gue udah dapat,” jawabnya datar. Wisnu masih kesal padaku rupanya.
“Bagus.”
“Gue print out dulu dokumen yang barunya.” Ia mengambil gelas air putih di atas meja, lalu meneguknya hingga kandas.
“Karena di sini cuma ada dua kamar. Asistennya gak tinggal bareng kita, dia tinggal di paviliun keluarga gue. Jadi, kamar utama itu milik gue, lo kamar sebelahnya.” Dia menunjuk dua kamar yang ada di apartemen mewahnya.
“Loh, gak bisa gitu dong,” protesku sambil melotot. Lagi-lagi dia membuat keputusan yang kontra denganku.
Wisnu melontar senyum sinis. Ia bersedekap dan memajukan wajahnya ke arahku. “Kenapa gak bisa? Ini, kan, apartemen gue.”
Mampus! Argumenku akan kalah jika seperti itu.
“Oke, fine. Gue tidur di kamar lain.”
Dan gue mendadak terpaku saat tangannya terulur untuk mengacak-acak rambutku walau hanya beberapa detik. Dasar buaya!
“Kecuali ... lo mau melayani gue sebagai istri sesungguhnya.”
“Maksud lo?”
“Gak usah pura-pura bego, Beb.”
Wisnu hampir saja membelai wajahku. Namun, aku dengan tangkas menepis tangannya yang usil itu.
“Lo tahu proses terjadinya zigot?”
Dengan bodohnya aku mengangguk. “Proses terjadinya perpaduan antara sel telur dan sperma.”
“Nah.” Seolah mendapat jackpot, Wisnu menepuk kedua tangannya. “Jadi kalau lo mau tidur di kamar utama, lo sama gue harus melakukan proses itu biar zigotnya tumbuh di dalam rahim lo.”
“IH, NAJIS!!!”
Sialan wajahku memerah, sementara Wisnu terbahak-bahak karena sudah berhasil membuatku salah tingkah seperti ini.
*****